
Jam 22.00 WIB.
Biasanya pada pukul segini orang-orang sudah tertidur dengan pulas. Beda lagi dengan Tiara, ia malah duduk diteras depan sambil menikmati udara di malam hari.
"Kenapa belum tidur?" ujar ibu.
"Ara belum ngantuk, bu"
Ibu duduk di kursi kosong disebelah Tiara. "Enak ya udara malam hari. Tapi sayang, gak baik untuk kesehatan"
"Iya enak, makanya Ara diem disini"
"Kangen ayah ya, Ra" ujar ibu.
Tiara tersenyum. "Iya, kangen banget"
Tiara menahan air matanya agar tidak terjatuh. Karena jika ia menangis saat ini, pasti ibu juga akan menangis.
Jujur saja ia tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, sebab jika ia berlarut dalam kesedihan, ia tahu pasti mendiang ayahnya akan sedih.
Dulu ayah pernah bilang, jika ia meninggal lebih baik didoakan, bukan malah ditangisi.
Namun perkataan itu sulit sekali dilakukan. Tiara tidak semudah itu untuk menahan tangisannya. Apalagi sejak dulu ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama ayahnya.
Jika anak yang lainnya kebanyakan menghabiskan waktu dengan ibunya, justru Tiara malah sebaliknya. Dan juga saat anak-anak lain makan disuapi oleh ibunya, Tiara malah makan sendiri tanpa disuapi oleh kedua orang tuanya.
Sebenarnya waktu dulu Tiara sering iri terhadap teman-temannya. Misalnya saat ada kegiatan sekolah yang mengharuskan orang tua untuk datang, orang tua teman-temannya pada datang ke sekolah, sedang orang tua Tiara selalu tidak hadir.
Kalau ayah, Tiara masih memakluminya karena ayah sedang bekerja. Sedangkan ibu, ia tidak tahu kenapa ibu selalu berhalangan hadir, padahal sebenarnya ia tidak kerja apa-apa, ia hanya mengurus rumah saja.
Hmm mungkin juga ibu sedang teleponan dengan selingkuhannya. Entahlah, mungkin itu tebakan Tiara saja.
Kalau dipikir, kenapa ya ibu lebih memilih cinta pertamanya? padahal kalau dari segi ketampanan, menurutku lebih tampan ayah dibandingkan selingkuhannya itu. Dari segi pekerjaan juga lebih baik ayah, dia PNS. Sedangkan selingkuhannya, aku tidak tahu dia kerja apa.
Kalau mengingat tentang kejadian waktu itu, aku selalu muak. Melihat ibu kandung ku yang senyum-senyum setiap membaca pesan, yang aku yakin bahwa pesan tersebut dari orang itu.
Waktu dulu aku hanya bisa diam saja, tanpa memberitahu ayah. Sebab aku tidak mau mereka bercerai. Tapi beberapa bulan kemudian, ayah mengetahuinya. Dan pada saat itu ayah maupun ibu tidak saling berkomunikasi satu sama lain.
Pada saat itu entah kenapa aku selalu berada disamping ayah. Mungkin karena aku memilih jalan yang benar.
Sejujurnya aku juga merasa bersalah terhadap ayah, karena harusnya aku mengatakan dari awal bahwa ibu berselingkuh. Namun aku tidak mengatakannya karena aku takut ibu akan dipukul seperti yang dilakukan di film-film.
Tapi kenyataannya tidak, ayah hanya memilih diam. Bahkan ayah meminta solusi kepada saudaranya.
Disaat ayah meminta solusi, ibu malah meminta cerai. Mungkin karena sudah ketahuan juga ia berselingkuh.
"Ara" ucapan ibu membuyarkan lamunan Tiara.
"Iya ada apa, bu?"
"Tidur sana! nanti kalau kelamaan diluar, kamu bisa masuk angin"
"Ya udah kalau gitu Ara ke kamar dulu ya, bu"
"Iya"
Tiara masuk kedalam dan ia bergegas menuju kamarnya.
Pada saat membuka pintu kamar, ia mendengar teleponnya berdering.
Sudah ditebak bahwa yang menelponnya adalah pacarnya.
Tiara mengambil ponselnya dan menjawab panggilan telepon dari Yuda.
"Hallo, Yud"
"Ra, temenin aku telepon ya. Soalnya aku bosen banget"
"Kamu telepon aku cuma karena bosan doang ya?"
"Bukan gitu. Aku telepon kamu karena kangen"
__ADS_1
"Tadi katanya bosan"
"Bosan plus kangen"
"Alesan"
"Ra, video call yuk!"
"Udah aku bilang, kalau aku gak suka video call"
"Sekali aja, please"
"Emang kenapa sih pingin video call?"
"Soalnya pingin lihat muka kamu"
"Sering ketemu juga, masih aja pingin lihat muka aku"
"Please, sekali aja" mohon Yuda.
"Ya udah tapi ada satu syarat"
"Apa syaratnya?"
"Kamu harus nyanyi dulu"
"Oke"
"Ya udah cepet nyanyi"
"Mau dinyanyikan lagu apa?"
"Terserah kamu aja"
Yuda menyanyikan lagu Kahitna yang judulnya cantik.
Tiara senyum-senyum sendiri saat mendengar nyanyian Yuda. Mungkin kalau orang melihatnya, orang itu akan mengatakan bahwa Tiara sedang tidak waras.
Tiara semakin salah tingkah mendengarnya. Ia rasa, Yuda telah membuatnya semakin jatuh cinta.
"Tiara, kamu gak tidur kan?"
"Gak, aku gak tidur"
"Ya udah kalau gitu video call ya"
"Iya"
Yuda mematikan teleponnya, lalu ia mengalihkannya ke video call.
Sebelum mengangkat panggilannya, Tiara mencoba terlihat biasa saja. Karena ia tidak mau kalau Yuda tahu bahwa dirinya sedang salah tingkah.
Lalu ia menjawab panggilan video call dari Yuda.
Saat dijawab, Yuda menampilkan senyum manisnya dan itu membuat Tiara semakin berusaha untuk terlihat biasa saja.
"Kamu kenapa senyum?"
"Emang aku gak boleh senyum?"
"Boleh sih"
"Kok aku jadi gugup ya" heran Yuda.
"Gugup kenapa?"
"Soalnya kamu terlalu cantik sih"
Kali ini Tiara tidak bisa menahan senyumnya lagi. "Udah pro godain cewek ya kayaknya"
"Kebiasaan nih, pasti nanti ujung-ujungnya bilang playboy lagi" kata Yuda.
__ADS_1
"Tapi kan itu fakta"
"Enggak" kata Yuda.
"Ra, aku mau curhat"
"Tumben curhat. Emang kamu mau curhat apa?"
"Tadi sekitar jam 7 kan aku ke cafe, terus ada cewek yang minta telepon aku"
"Terus kamu kasih nomer telepon kamu gak?"
"Iya, aku kasih" bohong Yuda.
"Kenapa dikasih?" ucap Tiara dengan nada kesal.
"Waktu itu juga kamu kan pernah ngasih nomer kamu ke cowok"
"Kapan?"
"Waktu di cafe"
"Tapi kan gak jadi"
"Tapi tetap aja kan kamu mau ngasih nomer kamu"
"Aku kan udah jelasin kalau aku takut nanti dia gak datang lagi ke cafe"
Yuda terkejut dengan ucapan Tiara. "Kamu takut dia gak datang lagi ke cafe?"
"Maksudnya sebagai pelanggan. Kan takut pelanggannya berkurang"
"Alasan"
"Jadi beneran kamu kasih nomer kamu ke cewek itu?"
"Iya"
"Mau tahu gak dia chat apa ke aku?" kata Yuda.
"Nge-chat apa dia?"
"Dia bilang katanya dia suka aku"
Tiara semakin kesal mendengarnya. "Terus kamu jawab apa?"
"Gak jawab apa-apa. Soalnya aku ngarang" ucap Yuda sambil tertawa.
"Gak lucu" kesal Tiara.
"Akhirnya bisa lihat kamu cemburu"
Tiara menyangkal. "Aku gak cemburu"
"Yang bener?"
"Aku gak cemburu sama sekali"
Yuda tertawa kecil. "Iya deh si paling gak cemburu" ledeknya.
"Tapi tadi beneran kok ada yang minta nomer, tapi aku gak kasih. Soalnya kan aku udah punya kamu"
"Alah! paling dikasih nomernya"
"Serius, aku gak kasih nomer telepon aku kok"
"Kalau dikasih juga gak apa-apa kok"
"Aku gak kasih. Kalau gak percaya tanya aja bang Tegar sama bang Teguh"
"Iya...iya, aku percaya kok"
__ADS_1