Love Yourself

Love Yourself
Episode 86


__ADS_3

Pada saat aku menulis, tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh ibu.


Tok! Tok! Tok!


Aku membuka pintu kamarku. "Ada apa, bu?."


"Kita ke rumah sakit ya. Soalnya kata Yuda, kamu masih sakit."


"Yuda bohong, bu. Tiara gak apa-apa kok."


"Ra, kalau kamu sakit bilang aja. Nanti kalau gak bilang, takutnya sakitnya makin parah."


"Bu, maafin Tiara ya. Tiara sering banget nyusahin ibu."


"Kamu sama sekali gak nyusahin ibu kok."


Aku memeluk ibu sambil menangis. "Bu, umur Tiara gak akan lama." sontak ibu terdiam.


"Maksud kamu apa, Ra?."


Ku jelaskan tentang apa yang waktu kemarin dokter bilang kepadaku. Dan pada saat aku bercerita, sudah kuduga bahwa ibu akan menangis.


...****...


Yuda POV


Dari tadi aku terus memikirkan Tiara. Aku khawatir kepadanya. Terlebih lagi Tiara sepertinya kesal kepadaku karena aku terus menyuruhnya ke rumah sakit.


Cklek


Pintu kamar dibuka oleh seseorang dan orang itu adalah Randy. Memang tadi waktu di sekolah, Randy bilang akan ke rumahku.


"Yud, ini buat loh." ujar Randy sambil memberikan kotak yang sepertinya isi kotak itu adalah kue.


"Simpan aja dimeja, Ran"


Lalu, Randy menyimpan kotak tersebut di meja.


"Ran, anterin gue dong."


"Anterin kemana?."


"Ke rumah Tiara."


"Gue udah kesini, masa lo nya ke Tiara."


"Soalnya gue khawatir sama dia. Tadi di sekolah dia mimisan."


"Emang Tiara sakit apa sih?."


"Gue gak tahu."


"Ya udah deh ayo berangkat."


Akhirnya keduanya pergi menuju rumah Tiara.


Skip


Sesampainya di rumah Tiara, aku buru-buru turun dari motor Randy. Dan kebetulan sekali, Tiara dan ibunya keluar.


"Yuda" gumam Tiara.


Terlihat dari wajah Tiara bahwa dia sangat terkejut saat melihatku.


Aku dan Randy salam kepada ibu Tiara. "Mau pada kemana, bu?."


Ibu Tiara menoleh kearah Tiara. "Hmm..."


"Kita mau ke rumah saudara, Yud."


"Oh gitu ya, padahal tadinya aku sama Randy mau main kesini."

__ADS_1


"Mainnya nanti aja ya, Yud." ujar ibu Tiara.


"Oh iya, bu. Ya udah kalau gitu kita pamit ya"


"Iya."


Lalu, aku dan Randy segera pergi.


"Ran, berhenti dulu disana." tunjukku. Kemudian, Randy menuruti perintahku.


"Ada apa sih?."


"Udah diam aja."


Tak lama, Yuda melihat Tiara dan ibunya yang keluar dari gang.


"Ran, cepet ikutin!."


"Ikutin Tiara sama ibunya?."


"Iya."


"Mau ngapain sih ngikutin mereka? udah tahu mereka mau ke rumah saudara."


"Udah cepet ikutin!."


Dengan terpaksa, Randy melajukan motornya mengikuti Tiara dan ibunya.


Setelah diikuti, ternyata Tiara menghentikan motornya di rumah sakit. Akhirnya Randy menghentikan motornya. Aku dan Randy buru-buru turun dan mengikuti Tiara dan ibunya dari belakang. Pada saat diikuti, ternyata mereka berdua pergi ke spesialis onkologi.


"Yud, ini kan khusus pasien kanker." ujar Randy.


Aku menghela nafas. Sejujurnya aku ingin menghampiri Tiara dan memeluknya sekarang juga. Tapi karena sepertinya Tiara tidak ingin memberitahuku, akhirnya aku hanya bisa melihat dia dari kejauhan.


"Yud, siapa yang sakit?."


"Tiara." ujarku, lalu Randy terdiam.


...****...


Keesokan harinya, aku tidak berangkat sekolah dikarenakan aku sedang menjalani pengobatan di rumah sakit. Sebenarnya aku tidak ingin menjalani pengobatan ini, karena aku tidak ingin merepotkan ibu. Tapi karena ibu terus memaksaku untuk menjalani pengobatan ini, akhirnya aku menuruti kemauan ibu.


Karena penyakitku masih di stadium awal, aku harap aku dapat sembuh. Sebab, aku tidak mau melihat ibu dan orang-orang terdekatku jadi sedih.


Oh iya, aku baru ingat bahwa dari semalam aku tidak chat atau telepon Yuda. Aku tahu pasti banyak sekali panggilan telepon dari Yuda saat ini.


"Ra, ibu mau beli makanan dulu ya. Nanti ibu kesini lagi."


"Iya, bu."


Lalu, ibu segera pergi.


Beberapa menit kemudian, seseorang masuk kedalam ruangan. Aku terkejut saat melihatnya, bagaimana bisa dia bisa datang kesini.


Yuda menghampiriku dan ia tersenyum sambil menaruh buah-buahan di rak samping ranjang yang aku tiduri.


"Kamu tahu dari siapa kalau aku ada disini?."


Yuda hanya diam saja. Kulihat matanya, dia seperti merasa kasihan kepadaku.


"Cepet sembuh ya." ujarnya sambil mengelus kepalaku. Spontan mataku berkaca-kaca.


"Aku tahu kamu kuat, jadi pasti kamu bakal sembuh."


"Kamu kesini sama siapa?."


"Aku sama Randy, tapi aku suruh Randy buat tunggu diluar. Soalnya aku tahu pasti kalau masuk kesini, dia bakal berisik."


Aku menghela nafas, tadinya aku ingin merahasiakan penyakitku dari orang-orang. Karena aku tidak mau jika semuanya khawatir kepadaku.


"Yud, kamu mau gak turutin permintaan aku."

__ADS_1


Yuda mengangguk. "Kamu mau apa?."


"Aku pingin kita putus. Soalnya umur aku kayaknya gak lama lagi."


"Shuttt! jangan ngomong gitu. Kamu pasti sembuh, Ra."


"Kalau aku udah gak ada, kamu harus tetap bahagia ya."


"Udah, jangan ngomong gitu, Ra. Aku gak suka dengernya."


Aku mengalihkan pandanganku, karena aku tak ingin menangis saat ini.


"Ra, kamu udah makan belum?."


"Udah kok." ucapku sambil kembali menatap Yuda.


"Nanti malam aku nginep disini ya."


"Jangan!."


Aku tak mau jika Yuda menginap disini, sebab aku tidak mau merepotkannya. Lagipula sudah ada ibu yang menemaniku.


"Kenapa gak boleh?."


"Soalnya yang boleh nginep cuma keluarga doang."


"Kata siapa? waktu anak kecelakaan, kamu juga nginep."


"Yud, aku gak mau ngerepotin kamu."


"Aku sama sekali gak repot kok."


Tok! Tok!


Seseorang masuk kedalam ruangan. "Permisi, ini ada obat yang harus ditebus." ujar perawat sambil memberikan kertas. Lalu, Yuda mengambil kertas tersebut. Setelah itu, perawat tersebut keluar lagi.


"Yud, sini. Biar nanti aku kasih ke ibu."


"Biar aku yang ambil obatnya." ujar Yuda sambil pergi.


Aku sudah tahu akan begini akhirnya. Dari awal aku tidak mau memberitahu Yuda karena aku tahu pasti Yuda akan terus membantuku.


Cklek


Ibu masuk dan ia langsung menghampiriku. "Bu, tadi kata perawat ada obat yang harus ditebus."


"Oh ya udah kalau gitu ibu ambil obatnya dulu ya."


"Gak usah, bu. Soalnya tadi Yuda udah pergi buat ambil obatnya."


"Yuda?."


"Iya, Yuda kesini."


"Kok dia bisa tahu kalau kamu disini."


"Ara juga gak tahu kenapa dia bisa tahu kalau Ara ada disini."


Beberapa menit kemudian, Yuda dan Randy masuk kedalam ruangan Tiara.


"Tante, ini obatnya." ujar Yuda sambil memberikan obat tersebut kepada ibu.


"Semuanya berapa, Yud?." ujar ibu.


"Gak usah, tante. Biar Yuda aja yang bayar."


"Jangan gitu dong, Yud. Tante jadi gak enak."


"Gak apa-apa, tante. Lagian Yuda ikhlas kok bantu Tiara."


"Ra, cepet sembuh ya. Biar nanti bisa main bareng-bareng lagi." ujar Randy. Lalu Tiara hanya mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2