Love Yourself

Love Yourself
Episode 79


__ADS_3

Setelah sampai, Tiara dan Yuda melihat Alvin yang sedang menekan bel rumah Tiara. Lalu, keduanya turun dari motor.


"Ngapain lo kesini?" ujar Yuda.


"Eh, Yud. Apa kabar?" ujar Alvin.


"Lo ngapain kesini?" ulang Yuda.


"Gue cuma mau ngasih kue ke Tiara sama mamahnya"


"Tiara gak mau makan makanan sampah kayak gitu"


Tiara terkejut saat mendengar perkataan Yuda. Ia tidak menyangka bahwa Yuda akan berkata seperti itu kepada Alvin.


Alvin pergi meninggalkan Tiara dan Yuda, mungkin ia sakit hati dengan ucapan Yuda.


"Kamu jahat banget sih, Yud! harusnya kamu gak bilang kayak gitu ke dia"


"Aku pulang dulu" ujar Yuda sambil pergi dengan mengendarai motornya.


Tiara tahu bahwa Yuda sedih karena Tiara tidak membelanya. Tapi Tiara juga memang sudah seharusnya menasehati Yuda agar tidak berbicara sepeti itu. Walaupun memang orang itu pernah jahat, tapi siapa tahu sekarang dia sudah baik.


Skip


Sore hari


Walaupun Tiara tidak bersalah, tapi ia merasa tidak enak kepada Yuda maupun Alvin. Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Alvin dan Yuda. Meskipun rumah Alvin dekat, tetapi Tiara pergi ke rumahnya dengan mengendarai motor. Sebab setelah dari rumah Alvin, Tiara akan pergi ke rumah Yuda.


Ketika sampai didepan rumah Alvin, Tiara langsung menekan bel rumahnya. Tak lama, Alvin keluar dan langsung menghampiri Tiara.


"Ada apa?" ujar Alvin.


"Aku minta maaf ya soal kejadian siang"


"Iya gak apa-apa kok. Lagipula wajar kalau Yuda masih marah sama aku"


"Sekali lagi aku minta maaf ya"


"Iya"


"Ngomong-ngomong nama kamu Alfi atau Alvin sih?" tanya Tiara karena ia sangat penasaran. Ia takut kalau telinganya bermasalah, sebab Alvin waktu itu menyebut bahwa dirinya Alfi.


"Sebenarnya nama aku Rifal. Aku sengaja mengubah nama aku, karena aku takut kalau Yuda tahu aku. Aku sebenarnya sangat merasa bersalah sama Yuda, maka dari itu aku pingin menebus kesalahan aku dengan cara berbuat baik kepada kamu, karena aku tahu kalau kamu itu pacar Yuda"


Tiara terharu mendengarnya, ia tahu kalau Rifal benar-benar sudah berubah. Terlihat dari ekspresi wajahnya, Rifal sepertinya sangat menyesal karena telah berbuat jahat kepada Yuda.


"Ya udah kalau gitu aku pergi dulu ya"


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau pergi ke rumah Yuda"


"Kalau gitu hati-hati ya"


"Iya"


Tiara menaiki motornya dan ia segera pergi menuju rumah Yuda.


...****...


Sesampainya di rumah Yuda, Tiara turun dari motornya dan ia langsung menekan bel rumah Yuda.


Kebetulan sekali, Yuda yang langsung datang menghampiri Tiara.


"Kamu ada perlu apa kesini?" ujar Yuda sambil membukakan pagar.


"Aku kesini karena aku mau minta maaf sama kamu"


"Minta maaf soal apa, Ra?"


"Soal kejadian tadi siang. Harusnya tadi aku gak berhak menasehati kamu"


"Kamu berhak dong nasehatin aku, tadi kan aku emang salah. Harusnya aku gak ngomong kayak gitu"


"Yud, aku gak disuruh masuk gitu?"


"Ya ampun, aku lupa. Ya udah ayo masuk"


Akhirnya Tiara masuk kedalam rumah Yuda.


"Bibi!" teriak Yuda.


Tak lama, bibi datang ke ruang tamu.


"Ada apa, den?"


"Tolong bikinan minuman yang manis buat Tiara, bi" suruh Yuda.


"Mau teh manis atau jus, neng?"


"Air putih aja, bi"


"Kok air putih sih, Ra"


"Emang gak boleh kalau aku minta air putih?"


"Ya boleh sih"


"Ya udah bibi ambilin dulu ya, neng" ujar bibi, lalu ia pergi menuju dapur.


"Oh iya, Yud! aku pingin bicara sesuatu sama kamu"


"Bicara apa?"


"Tapi kamu jadi marah ya, soalnya aku mau ngomongin soal Rifal"


"Oh iya! nama asli orang itu Rifal kan?"


"Iya, namanya Rifal"


"Emang kamu mau ngomongin apa soal dia?"


Tiara menceritakan tentang apa yang tadi Rifal bicarakan kepadanya.


"Kamu mau kan maafin dia? dia kayaknya udah berubah deh, Yud"


Yuda terdiam sejenak. "Kalau aku tanya ke kamu, apa kamu mau maafin ibu kandung kamu?"


"Tapi itu masalahnya beda, Yud" ujar Tiara sambil menunduk.


"Beda apanya? kita berdua sama-sama dendam kan? aku dendam sama dia karena waktu itu dia udah masukin obat terlarang ke tas aku, sedangkan kamu dendam ke ibu kamu karena ibu kamu selingkuh. Kita sama-sama dendam, Ra"


Tanpa sadar, mata Tiara mulai berkaca-kaca.


"Siapa yang selingkuh, den?" ujar bibi, lalu Yuda hanya diam saja.


"Ini, neng minumnya" ucap bibi sambil menaruh air minum di meja.


"Makasih, bi" ujar Tiara dengan suara gemetar.


"Neng, kenapa suaranya kayak yang mau nangis gitu?" ujar bibi.


"Tiara enggak mau nangis kok, bi" ucap Tiara, lalu ia segera menghabiskan air minum yang dibawa oleh bibi.


Sesudah menghabiskan air minum, Tiara pamit kepada Yuda. Ia tidak mau berlama-lama di rumah Yuda, karena kalau terlalu lama pasti ia akan menangis.


Selama diperjalanan, Tiara hanya menangis. Ia tidak menduga kalau Yuda akan berbicara seperti itu. Baru kali ini Tiara menangis karena perkataan Yuda. Memang benar bahwa Tiara dendam, tapi Tiara dendam karena ibunya selingkuh. Sedangkan Yuda, dia hanya dendam cuma gara-gara Rifal memasukan obat kedalam tas Yuda dan itupun Yuda tidak disalahkan, malah Rifal yang dikeluarkan dari sekolah. Selain itu Rifal juga telah menyesal atas perbuatannya. Sedangkan ibu Tiara, ibunya sama sekali tidak pernah tulus untuk mengakui kesalahannya. Tiara bukan dendam, hanya saja ia akan memaafkan jika ibu kandungnya benar-benar tulus mengakui bahwa ia telah salah.


Tin...tin


Tiba-tiba ada pengendara motor yang mendekati Tiara. Pengendara itu terus saja mengklason motornya. Spontan Tiara melihat kearah spion motor ya, lalu Tiara melajukan motornya dengan cepat karena ia takut kalau orang itu adalah anak tiri ibu kandungnya. Saking cepatnya, alhasil dia menabrak mobil.


BRUKK!


Tiara beserta motornya terjatuh, lalu pengendara mobil juga berhenti. Selain itu pengendara motor yang mengejar Tiara juga berhenti.


"Kamu gak apa-apa?" tanya pengendara mobil.


"Bu, maafin saya. Saya tadi dikejar-kejar sama-" Tiara berhenti berbicara saat pengendara motor membuka helmnya. Ia pikir orang itu adalah anak tiri ibu kandungnya, tapi ternyata dia adalah Daffa.


"Ra, kamu gak apa-apa kan?" ujar Daffa sambil mengangkat motor Tiara.


"Aku gak apa-apa kok" padahal sebenarnya siku tangannya berdarah.


"Lain kali hati-hati ya" ujar ibu pengendara mobil.


"Bu, boleh minta nomer rekening ibu gak? soalnya saya mau ganti rugi"


"Gak usah, lagian cuma lecet dikit" ujar ibu pengendara mobil.


"Bu, sekali lagi maafin temen saya ya, bu. Dia tadi ngebut karena dia kira saya penjahat" kata Daffa.


"Iya gak apa-apa. Lain kali jangan ngebut-ngebut ya, bahaya soalnya" ucap ibu pengendara mobil.


"Iya, bu"


Lalu, ibu itu kembali masuk kedalam mobilnya dan ia segera pergi.


"Ayo kesana dulu, soalnya siku kamu berdarah" tunjuk Dafa ke sebuah warung.


Pada saat Tiara mau menaiki motornya, Daffa melarangnya. "Biar aku yang bawa"


Akhirnya Tiara pergi ke warung dan ia duduk didepan warung itu sambil meniup-niup lukanya.


"Sorry ya, tadi aku klakson biar kamu ngenalin"


"Iya gak apa-apa, lagian yang salah aku. Harusnya aku gak ngebut"


"Pasti kamu kira aku perampok ya?"


"Bukan"


"Terus kenapa ngebut?"


"Aku kira kamu anak tirinya ibu aku"

__ADS_1


"Emang dia jahat ya sama kamu? sampai-sampai kamu ketakutan kayak gitu"


Tiara hanya mengangguk.


"Saking ketakutannya sampai nangis" ujar Daffa karena mata Tiara sembab, padahal ia menangis karena Yuda.


Lalu Daffa segera membelikan plester dan air minum untuk Tiara.


"Daff, besok aku ganti ya. Soalnya aku gak bawa uang sama sekali"


"Ya ampun, Ra. Ini kan murah, jadi gak usah diganti"


"Makasih"


"Iya sama-sama"


"Sini biar sama aku aja"


"Gak usah, biar aku aja" ujar Daffa sambil menempelkan plester pada luka sisiku Tiara.


"Daff, boleh aku minum gak?"


"Ya boleh lah, kan itu buat kamu"


Tiara meminum air mineral yang telah dibelikan oleh Daffa.


"Kamu rumahnya disekitar sini, Ra?"


"Enggak"


"Terus kamu ngapain disekitar sini?"


"Aku habis dari rumah Yuda"


"Masa cewek yang nyamperin sih" heran Daffa.


"Soalnya ada yang perlu aku omongin ke dia"


"Kenapa gak ngasih tahu lewat chat atau telepon?"


"Karena aku gak enak kalau minta maafnya lewat chat atau telepon, makanya aku ke rumah Yuda"


"Emang kamu salah apa ke Yuda?"


"Maaf ya, Daf. Aku gak bisa jelasin"


"Oh iya, gak apa-apa kok"


"Ya udah kalau gitu aku pulang dulu ya"


"Mau aku anter gak?"


"Gak usah, kan aku bawa motor"


"Maksudnya ikutin kamu dari belakang, takutnya kamu lemes terus jatuh"


"Aku gak lemes kok, aku kuat"


"Ya udah hati-hati ya"


"Iya" ujar Tiara sambil menaiki motornya. Lalu setelah itu ia segera pergi.


...****...


Ibu terlihat panik saat melihat siku Tiara yang diplester. "Kamu kenapa, Ra?"


"Tadi Tiara jatuh dari motor, bu"


"Pasti ngebut ya bawanya?"


"Iya"


"Nabrak sesuatu atau jatuh doang?


"Nabrak mobil"


"Ya ampun, terus pengendara mobilnya minta ganti rugi berapa?"


"Untungnya dia gak minta ganti rugi, bu. Ibu-ibu pengendara mobilnya malah nanya kalau Tiara baik-baik aja atau enggak"


"Oh iya, bu! ini kunci motornya"


"Besok kamu mau berangkat sama Yuda gak?"


Tiara berpikir sejenak. "Enggak, bu. Tiara mau berangkat sendiri"


"Ya udah pakai aja motornya, soalnya besok ibu gak akan ke sekolah"


"Kenapa gak sekolah?"


"Soalnya ibu gak enak badan"


"Ibu udah beli obat belum?"


"Udah tadi waktu pulang sekolah"


Padahal waktu itu Yuda selalu bilang wajar kalau Tiara bersikap seperti itu, karena dulu ibunya berselingkuh. Tapi sekarang, Yuda malah menyamakan tentang dirinya dan Tiara yang dendam kepada seseorang.


...****************...


Keesokan harinya...


Tiara masuk kedalam kelas dan tentunya kelas masih kosong, sebab Tiara datang pagi-pagi. Ia sengaja datang pagi, karena ia ingin tidur di kelas.


Semalam Tiara sulit tidur karena ia banyak memikirkan hal-hal yang membuat mentalnya semakin down.


Sejujurnya Tiara sangat takut berada di kelas, tapi untung saja ada tukang bersih-bersih yang berada di luar kelasnya, jadi Tiara merasa tidak terlalu.


Karena Tiara sangat lelah, akhirnya ia memutuskan untuk tidur saat ini juga.


Skip


Tiara terbangun karena mendengar suara berisik dari teman-temannya.


Ia melihat ke kursi sebelahnya, namun Yuda belum juga datang.


"Tiara!" panggil Randy.


Tiara menoleh kearah Randy. Ia melihat tas Yuda berada dimeja Ayu.


"Yuda katanya mau duduk sama aku. Kamu gak apa-apa kan duduk sendiri? soalnya kan Ayu lagi ijin"


"Iya gak apa-apa"


"Lagi berantem ya?" tanya Randy, lalu Tiara hanya menggelengkan kepalanya.


Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Tiara. "Ra, aku boleh duduk disini?" ujar Daffa, lalu Tiara hanya mengangguk.


"Kamu berantem ya sama Yuda?"


Tiara hanya menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.


"Kalau gak berantem, kenapa duduknya gak bareng?"


"Daf, aku ke toilet dulu ya" ujar Tiara sambil keluar dari kelas.


Saat keluar dari kelas, Tiara melihat Yuda yang sedang melamun. Tadinya Tiara ingin menghampirinya, tapi karena sepertinya Yuda sedang marah kepadanya, jadinya ia tidak jadi menghampiri Yuda.


Tiara berjalan kearah lapangan sepakbola, lalu ia duduk dipinggir lapangan. Tadi ia berbohong kepada Daffa soal dirinya yang akan ke toilet, padahal sebenarnya Tiara ingin pergi dari Daffa sebab Tiara tidak mau menjawab pertanyaannya.


Tiara menoleh saat ada orang yang duduk disebelahnya. Ia terkejut saat mengetahui bahwa itu adalah Yuda.


"Maafin aku ya, harusnya kemarin aku gak ngomong itu" ujar Yuda.


"Iya gak apa-apa"


Tiba-tiba Yuda memeluk Tiara dari samping. "Aku nyesel banget, maafin aku ya"


"Iya, Yud"


"Kalau kamu mau pukul aku, pukul aja. Aku gak apa-apa kok"


"Enggak, Yud. Aku gak akan pukul kamu"


"Semalam aku telepon kamu, tadinya aku mau minta maaf. Tapi setelah ditelepon, kamunya gak angkat"


"Semalam handphone aku baterainya habis, makanya telepon kamu gak keangkat"


"Aku kira kamu marah banget sama aku"


"Bukannya kamu ya yang marah, sampai-sampai kamu pindah ke kursinya Ayu"


"Aku pindah karena aku kira kamu marah, makanya aku lebih baik pindah"


Trining! Trining!


Karena bel masuk telah berbunyi, akhirnya Tiara dan Yuda pergi menuju kelasnya.


Sesampainya di kelas, Tiara duduk di kursinya.


"Daff, cepet pindah!" usir Yuda.


Akhirnya Yuda duduk di kursinya. Sedangkan Daffa duduk dikursi Ayu.


Yuda baru sadar kalau tangan Tiara luka-luka. "Ra, tangan kamu kenapa? kok banyak plester nya"


"Aku kemarin nabrak mobil, terus aku jatuh deh"


"Kejadiannya sehabis dari rumah aku?" ujar Yuda, lalu Tiara mengangguk.


Yuda menatap Tiara dengan penuh kekhawatiran.


"Tapi gak sakit kok, Yud" ujar Tiara agar Yuda tidak cemas.


"Itu sakit, Ra. Aku juga kan pernah jatuh dari motor waktu itu"

__ADS_1


"Tapi waktu itu kamu bilang gak sakit"


"Kan aku sok kuat, biar gak dianggap lemah sama kamu"


"Baikan, berantem, baikan, eh berantem lagi" sindir Randy pada Yuda dan Tiara.


"Kayak yang gak pernah berantem aja sama Putri" Yuda menyindir balik.


Tiara tersenyum saat mendengar Yuda dan Randy yang saling menyindir.


"Tiara!" panggil Daffa.


Spontan Tiara, Yuda dan Randy menoleh kearah Daffa.


"Iya, kenapa?"


"Maafin aku ya, Ra" ujar Daffa.


"Minta maaf? emang Daffa salah apa sama kamu?" tanya Yuda.


"Hmm...kemarin Daffa gak sengaja ngedorong aku"


"Oh kirain kenapa" kata Yuda.


Guru masuk kedalam kelas, sontak semuanya langsung terdiam. "Selamat pagi anak-anakku"


"Selamat pagi, bu" ucap semuanya sambil menahan tawanya.


"Kok anak-anakku sih, Ra" bisik Yuda, lalu Tiara menggigit bibirnya agar tidak tertawa.


"Randy, Ayu, jangan ngobrol!" ujar Bu Ismi.


Semuanya bingung karena Ayu tidak masuk sekolah.


"Bu, saya gak ngobrol loh. Dari tadi saya diem aja" ujar Randy dengan ekspresi kebingungan.


"Maksudnya saya, dia dan temen yang disampingnya" tunjuk Bu Ismi pada Yuda dan Tiara.


"Dia bukan temen saya, bu. Tapi dia pacar saya" jelas Yuda.


"Jadi kalian berdua berpacaran?" ujar bu Ismi.


"Iya, bu" ucap Yuda dengan bangganya.


"Ya sudah salah satunya silahkan pindah kebelakang! saya tidak mau melihat Siwa dan siswi berpacaran dipelajaran saya" kata bu Ismi.


Tiara dan Yuda saling bertatapan, mereka bingung siapa yang akan pindah.


"Cepetan!" ujar Bu Ismi.


Akhirnya Yuda segera duduk dikursi Daffa, karena Daffa hari ini duduk dikursi Ayu.


...****...


Kringgg! Kringgg!


Ketika bel istirahat berbunyi, Yuda menghampiri Tiara, karena tadi ia duduk dikursi Daffa.


"Ra, istirahat yuk!" ajak Yuda.


"Aku gak akan istirahat, Yud"


"Kenapa gak istirahat?"


"Soalnya aku pingin tidur"


"Perasaan tadi pagi-pagi kamu tidur, masa sekarang tidur lagi"


"Soalnya aku masih ngantuk"


"Tapi kamu mau nitip makanan atau minuman gak?"


"Enggak usah"


"Ya udah kalau gitu aku, Randy sama Daffa ke kantin dulu ya"


"Iya"


Lalu Yuda dan teman-temannya pergi.


Sebenarnya Tiara bukan ingin tidur, ia tidak mau makan di kantin bersama laki-laki. Kalau ada Ayu sih gak apa-apa. Tapi karena cowoknya bertiga, jadi Tiara tidak mau. Nanti kalau ia makan bersama tiga cowok, takutnya orang-orang berpikir yang tidak-tidak.


Memeng sih belum tentu orang-orang berpikir seperti itu, tapi kalau yang tidak tahu kenal akan menganggap Tiara cewek genit karena makan bersama tiga cowok.


Tiara melihat kesekitar, ia hanya melihat Dinda yang sedang menikmati bekalnya.


Tiara jadi berpikir, apakah Dinda yang memberitahu Kezia tentang Revan yang menyukai Tiara? karena kan yang mengetahui Revan menyukai Tiara hanya Tiara, Yuda, Ayu dan Dinda.


*Sepertinya memang begitu. Lagipula Ayu dan Yuda tidak akan memberitahu Kezia karena Tiara percaya kepada mereka.


Tadinya Tiara ingin menghampiri Dinda tapi karena ia takut mengganggunya, jadi Tiara memutuskan untuk tidak berbicara soal itu. Lagian Tiara dan Kezia juga sudah berdamai*.


"Tiara!" panggil Dinda.


"Iya, ada apa?"


"Kamu kenapa gak jajan ke kantin?"


"Gak kenapa-napa"


"Kamu mau ini gak?" Dinda menawarkan makanan kepada Tiara.


"Enggak, makasih"


Tiara berpikir kembali, tapi mana mungkin Dinda yang memberitahu Kezia. Secara Dinda juga sepertinya tidak mau dekat-dekat lagi dengan Kezia.


Apa jangan-jangan Revan sudah memberitahu seseorang bahwa dia menyukai Tiara? sepertinya begitu, karena diantara Yuda, Ayu dan Dinda kelihatannya tidak memberitahu Kezia tentang hal itu.


Apakah Tiara harus bertanya kepada Revan? tapi sepertinya jika ia berdekatan dengannya, nanti yang ada Yuda akan cemburu, begitupun dengan Kezia.


...****...


Pada saat bel pulang sekolah berbunyi, Tiara bergegas menuju parkiran. Ia ingin cepat-cepat pulang karena ia khawatir dengan ibunya.


Perasaan Tiara selalu tidak tenang saat ibunya sedang sakit. Bukannya mendoakan, tapi Tiara takut ibu sambungnya meninggalkannya sama seperti ayahnya yang meninggalkannya.


Tiara tidak ingin kejadian itu terulang. Jika kejadian itu terulang, Tiara tidak ada tempat untuk berlindung. Tiara tidak mau jika sampai tinggal bersama ibu kandungnya. Apabila ibu sambungnya tidak ada, Tiara tidak tahu lagi harus bagaimana.


Karena asik melamun, tidak terasa Tiara sudah sampai di rumah. Tiara juga bingung kenapa dia baik-baik saja walaupun saat berkendara ia selalu melamun. Apakah Tiara ditakdirkan untuk panjang umur? entahlah, tapi Tiara tidak ingin itu terjadi. Tiara lebih baik mati saja daripada harus hidup seperti ini.


Tiara buru-buru masuk kedalam rumah dan pergi menuju kamar ibu untuk mengecek keadaan ibu.


Saat berada di kamar ibunya, Tiara melihat ibu sedang tertidur. Karena sepertinya ibu belum makan siang, akhirnya Tiara pergi keluar untuk membeli bubur ayam. Tiara pergi dengan berjalan kaki karena penjual bubur ayamnya tidak begitu jauh dari rumah.


Setelah sampai, Tiara langsung memesan bubur ayam untuk ibunya.


"Tiara!" panggil seseorang.


Tiara menengok kebelakang dan ternyata ada Rifal yang sedang menikmati bubur ayam.


"Eh hai"


"Kamu sakit ya?"


"Enggak, yang sakit ibu"


"Oh gitu"


"Kalau kamu sakit?" ujar Tiara karena Rifal memakai jaket.


"Iya"


"Kenapa makannya gak di rumah?"


"Soalnya kalau di rumah bosen"


"Lebih baik di rumah, kalau diluar dingin"


"Iya sih"


Setelah selesai membeli bubur ayam, Tiara segera pergi menuju rumahnya untuk memberikan bubur ayam kepada ibu.


Ketika sampai di kamar ibu, ternyata ibu sudah bangun.


"Bu, ini Ara beliin bubur buat ibu"


"Makasih ya"


"Iya sama-sama"


"Oh iya, bu. Mau Ara suapin gak?"


"Gak usah, lagian ibu bisa makan sendiri"


"Ya udah ini bubur ayamnya, bu" Tiara memberikan bubur ayam kepada ibu.


"Ra, boleh tolong ambilin minum gak?"


"Boleh. Tunggu sebentar ya"


Tiara pergi menuju dapur untuk mengambilkan air minum untuk ibu. Sesudah mengambil air minum, Tiara kembali ke kamar ibunya.


"Ini air minumnya, bu" Tiara meletakkan air minum tersebut di meja.


"Ya udah kalau gitu Ara ke kamar dulu ya, soalnya mau ganti baju"


"Iya"


Lalu, Tiara segera pergi menuju kamarnya.


Tiba di kamar, Tiara langsung berganti pakaian.


Trining! Trining!


Tiara melihat ke layar ponselnya dan ternyata ada panggilan telepon dari nomer telepon yang tidak dikenal. Akhirnya Tiara menolak panggilan teleponannya. Ia heran mengapa banyak sekali nomer tidak dikenal yang menelponnya.

__ADS_1


Ia sendiri sering kali mengganti nomer teleponnya, karena memang ia tidak suka kalau nomer asing menelponnya. Dan nomer asing itu pasti seorang penipu.


Dulu ia juga pernah hampir tertipu saat ada orang yang mengaku-ngaku teman sekelasnya dan dia minta tolong ke Tiara agar mengirimkan sejumlah uang karena katanya dia ditilang dan sedang berada di kantor polisi. Untung saja Tiara tidak punya uang, jadi ia ada alasan untuk menolaknya. Kadang juga penipu itu mengatakan kalau Tiara memenangkan beratus-ratus juta karena katanya Tiara memenangkan undian, tapi kalau penipu yang ini, Tiara langsung tidak menanggapinya karena memang ia sudah tahu kalau orang itu menipu. Sedangkan penipu yang mengaku dirinya ditilang, memang Tiara hampir percaya sebab suara dia mirip dengan suara temannya.


__ADS_2