
Hari ini semua kelas heboh karena ada berita duka dari Dinda. Dinda meninggal dunia pada pukul 6 pagi tadi. Kini semua anak-anak kelas pergi menuju pemakamannya.
Tidak ada satupun dari kami yang mengetahui penyebab kematian Dinda. Tapi katanya sih dia sering sakit-sakitan, jadi orang-orang mengira pasti dia terkena penyakit yang berbahaya.
Seusai pemakaman selesai, semua anak-anak kelas XI MIPA 1 kembali menuju sekolah. Karena wali kelas kami menyuruh agar kami tidak berlama-lama, sebab kami harus belajar.
...****...
Di kelas, siswa dan siswi duduk sambil melamun. Bahkan ada yang berkumpul dan membahas tentang penyakit Dinda.
"Dinda sakit apa sih, Yud?"
"Aku juga gak tahu, Ra" ujar Yuda.
"Kasihan banget ya, padahal dia masih muda"
"Iya kasihan banget"
Tiara ingat saat kemarin Dinda menawarkannya makanan. Kemarin Dinda terlihat baik-baik saja, tapi ternyata hari ini dia tutup usia. Memang benar ya bahwa kematian bisa datang kapan saja.
Tiara memikirkan bagaimana jadinya jika dirinya meninggal. Apakah ibu sambungnya akan kesepian kalau tidak ada Tiara? Tiara juga memikirkan bagaimana reaksi ibu kandungnya, pasti ibunya juga akan sangat sedih kalau tahu Tiara meninggal.
Tetapi Tiara juga memikirkan bagaimana jika kedua ibunya meninggal. Bahkan Tiara sepertinya akan menyesal jika ibu kandungnya meninggal, sebab ia belum meminta maaf kepada ibunya.
"Yud!"
"Ada apa, Ra?"
"Pulang sekolah anterin aku ke rumah ibu kandung aku yuk!"
"Ke rumah ibu kandung kamu?" tanya Yuda memastikan.
"Iya"
"Mau ngapain kesana?"
"Aku mau minta maaf ke ibu"
Yuda tersenyum. "Ya udah nanti aku antar kamu kesana"
"Tapi aku boleh minta tolong ke kamu gak?"
"Minta tolong apa?"
"Tolong bilangin ke ibu kandung aku, supaya ibu aku jangan terus-terusan ngajak aku buat tinggal bareng. Aku pinginnya tinggal bareng ibu sambung aku, Yud"
"Kenapa kamu gak bilang sendiri?"
"Soalnya setiap kali aku ngomong sama ibu kandung aku, aku selalu pingin nangis"
"Ya udah nanti aku bilangin"
"Tapi gimana ya kalau ada anak tirinya?"
"Ya udah kalau gitu ketemuannya jangan di rumahnya"
"Terus ketemuannya dimana?"
"Gimana kalau ketemuannya di cafe mamah aku?" usul Yuda.
"Masalahnya aku gak punya nomer telepon ibu. Terus gimana mau ngasih tahunya?"
"Gini aja, aku anterin kamu ke cafe dulu. Nanti setelah itu aku jemput ibu kamu"
"Kamu capek dong kalau harus bolak-balik kayak gitu"
"Gak apa-apa. Ini kan demi kamu"
Tiara berharap semoga nanti setelah bertemu ibu ia bisa berdamai. Walaupun ibu belum meminta maaf dengan tulus, tapi Tiara akan berusaha memaafkannya.
Ia begitu karena takut jika suatu saat ibunya telah tiada dan ia belum sempat meminta maaf kepadanya. Tiara takut itu terjadi, ia takut menyesal seumur hidupnya.
"Yud, aku takut nangis deh nanti waktu minta maafnya"
"Ya gak apa-apa lah, wajar kalau kamu nangis"
"Gimana ya caranya agar kejadian itu bisa aku lupain?"
"Ya gak akan bisa kamu lupain lah. Itu kan trauma, jadi bakal susah hilang"
"Ada gak sih obat yang bisa bikin hilang ingatan?"
"Ya aku gak tahu, aku kan bukan dokter"
"Kalau ada, aku kayaknya mau beli deh"
"Jangan dong! nanti kalau kamu makan obat itu, bisa-bisa kamu jadi gak inget aku"
"Iya juga ya"
Tiara berpikir, jika dirinya hilang ingatan, apakah ia akan lupa dengan segalanya? atau ia hanya melupakan beberapa kejadian saja? Selain itu, jika hilang ingatan apakah ia masih bisa membaca tulisan atau tidak? dan juga apakah sifat dia sama seperti sebelumnya atau berubah?
Yuda menepuk pundak Tiara. "Beneran mau ketemu gak? kalau ragu-ragu lebih baik jangan deh"
"Aku mau ketemu kok"
...****...
Skip
Sekarang Tiara berada di cafe sambil menunggu Yuda dan ibu kandungnya.
Pada saat menunggu mereka, Tiara melihat mamahnya Yuda yang baru datang ke cafe.
"Mamah" Tiara melambaikan tangan kearah mamahnya Yuda. Lalu, mamahnya Yuda datang menghampiri Tiara.
"Kamu sendirian disini?"
"Enggak kok, mah. Tadi ada Yuda juga, cuma sekarang dia lagi pergi"
"Pergi kemana?"
"Ke rumahnya ibu kandung Tiara"
Tiara menjelaskan kepada mamahnya Yuda tentang dirinya yang akan bertemu ibu kandungnya di cafe. Dan juga Tiara memberitahu bahwa dirinya bertemu disini karena ia tidak ingin bertemu dengan suami dan anak tiri ibu.
"Kamu mau pesen makanan atau minuman gak?"
"Tiara tadi udah pesen minuman kok"
"Nanti gak usah dibayar aja ya"
"Jangan gitu, mah. Tiara jadi gak enak"
"Gak apa-apa"
"Kalau gitu makasih ya, mah" ujar Tiara karena ia tidak enak menolaknya, sebab ini mamahnya Yuda.
"Iya sama-sama"
"Oh iya, mah. Maafin Tiara ya"
"Maaf soal apa?"
Tiara merasa bersalah tentang Yuda yang mengambil uang cafe. Karena ia tahu pasti uang itu dipakai untuk menjajani Tiara.
"Oh soal itu...iya gak apa-apa. Lagipula mamah gak marah kok"
"Kata Yuda katanya mamah marah"
"Enggak, mamah gak marah kok"
Tiara menghela nafasnya, ternyata waktu itu Yuda berbohong kepadanya.
Tak lama, Yuda datang bersama ibu kandung Tiara.
__ADS_1
Spontan Tiara langsung berdiri.
Ibu memeluk Tiara. "Ra, ibu kangen"
Begitupun Tiara, ia sangat merindukan ibunya. Tetapi Tiara susah untuk mengungkapkannya, sebab sekarang ia terus meneteskan air matanya.
Ibu melepaskan pelukannya. "Ra, kamu kangen gak sama ibu?" ujarnya, lalu Tiara hanya mengangguk mengiyakan bahwa dirinya sangat merindukan ibunya.
"Bu, maafin Tiara ya"
"Kamu gak salah. Tapi ibu yang salah" ujar ibu.
Disisi lain Yuda dan mamahnya hanya terharu melihat Tiara dan ibunya.
...****...
Sepanjang perjalanan, Tiara sangat lega karena telah bermaaf-maafan dengan ibunya. Dendam yang selama ini dirasakan Tiara mulai memudar. Tiara sadar semakin dewasa seharusnya ia seperti ini, memaafkan seseorang yang sudah berbuat salah kepadanya. Lain kali, Tiara juga ingin meminta maaf kepada saudara-saudara ayah. Ia tak apa jika menjual rumah ayahnya dan membagikan kepada kakak dan adiknya ayah. Sepertinya Tiara memang harus membagikan harta ayah kepada saudara-saudaranya, karena ia tidak ingin saudara-saudara ayah membencinya cuma perkara warisan.
"Ra, udah lega kan sekarang?"
"Udah. Hati aku jauh lebih tenang"
"Sekarang udah dewasa ya pacar aku"
"Enggak kok. Aku masih remaja"
"Maksudnya pemikirannya"
"Pemikirannya juga masih polos, gak dewasa"
"Iya deh terserah kamu aja"
"Oh iya, Yud! kamu bohong ya sama aku?" tuduh Tiara.
"Bohong apa?" bingung Yuda.
"Soal mamah kamu yang marah sama kamu. Tadi aku bilang ke mamah kamu, tapi mamah kamu katanya gak marahin kamu"
Yuda hanya diam saja.
"Tuh kan! kamu bohong!"
"Maaf"
"Terus yang waktu itu kamu omongin sama Randy apa?"
"Aku gak ngomong apa-apa"
"Tahu ah! kamu gak jujur sama aku" keluh Tiara.
"Aku cuma ngomong ke Randy agar Randy jangan ngomong itu ke kamu"
"Maksudnya ngomong tentang aku yang akan putusin kamu?"
"Iya"
"Emang kamu ngira aku bakal putusin kamu?"
"Iya"
"Kenapa ngira kayak gitu?"
"Aku malu kalau jelasin ini ke kamu"
"Ya udah jelasin, gak usah malu"
Yuda menjelaskan kepada Tiara kalau dirinya mengira Tiara akan memutuskannya karena mulut Yuda bau saat berciuman dengan Tiara.
Pada saat Yuda menjelaskan itu, Tiara langsung tertawa sekencang-kencangnya. Ia heran kenapa Yuda mengira bahwa Tiara akan memutuskannya karena perkara itu. Padahal sebenarnya pada saat dicium oleh Yuda, ia tidak mencium apapun, sebab ia menahan nafasnya.
"Tuh kan! kamu malah ngetawain aku" keluh Yuda.
"Habisnya kamu lucu, masa gara-gara itu aku putusin kamu"
"Jangan-jangan waktu kamu bawa permen banyak, karena kamu takut mulut kamu bu ya?"
"Iya"
Tiara semakin tertawa saat mengetahui bahwa tebakannya benar.
"Yud, aku sama sekali gak nafas waktu dicium kamu. Jadi aku gak nyium bau mulut kamu"
"Serius?"
"Iya, serius. Sejujurnya aku gak mau kamu nyium aku lagi itu karena aku takut kamu melewati batas"
"Beneran karena itu?"
"Iya, sayang"
"Loh! tumben-tumbenan panggil sayang"
"Kan katanya pingin dipanggil sayang"
"Iya, aku emang pingin. Tapi panggil sayangnya sering-sering ya"
"Kalau inget" Tiara menahan tawanya.
Skip
Tiara turun dari motor Yuda. "Makasih ya"
"Iya sama-sama, sayang"
"Ya udah sana pergi!"
"Kok kayak yang ngusir gitu"
"Gak ngusir kok"
"Tapi nadanya kayak lagi ngusir orang"
"Enggak kok, perasaan aku cara ngomongnya biasa aja"
"Ya udah deh kalau gitu aku pulang ya"
"Tunggu, Yud!"
"Kenapa?"
"Besok jangan lupa bawa permen" sindir Tiara.
Yuda turun dari motornya, spontan Tiara buru-buru membuka pagarnya.
Grep!
Yuda menarik tas Tiara, hingga membuat tubuh Tiara terbentur dada Yuda.
Tangan Yuda memeluk leher Tiara. "Ngomong apa tadi?"
"Yud, lepasin" Tiara tertawa karena ia lucu melihat reaksi Yuda.
"Ngomong apa tadi?" Yuda juga ikut tertawa.
"Jangan lupa bawa permen" teriak Tiara.
"Ini bocah makin kesini makin ngeselin ya" ujar Yuda sambil menggelitik Tiara.
Tiara tak henti-hentinya tertawa karena Yuda menggelitiknya.
"Yud, udah geli" Tiara berjongkok karena ia ingin buang air kecil.
"Awas ya kalau kamu ngomong kayak gitu lagi" ancam Yuda.
"Kalau aku ngomong kayak gitu emang kenapa?"
__ADS_1
"Kalau kamu ngomong gitu lagi aku bakal bocorin rahasia kita ke Ayu sama Randy"
Tiara berdiri. "Rahasia apa sih?"
Yuda berbisik ditelinga Tiara. "Rahasia kalau kita udah pernah ciuman"
"Jangan disebar dong! itu kan privasi"
"Makanya jangan bilang permen-permen lagi"
"Ya udah gak akan bilang lagi deh"
"Nah gitu dong" Yuda mengacak-acak rambut Tiara, setelah itu ia segera pergi dengan melajukan motornya.
Sehabis Yuda pergi, Tiara masuk kedalam rumahnya.
"Kok baru pulang"
"Iya, soalnya tadi Ara ketemu ibu. Ara habis minta maaf ke ibu"
"Kamu ke rumah ibu kamu sendirian?"
"Enggak. Tadi Ara ketemu ibu di cafenya mamahnya Yuda"
"Hmm...kalau kalau udah baikan sama ibu kamu, berarti kamu bakal pergi ninggalin ibu dong"
"Enggak kok, bu. Ara bakal tetap tinggal sama ibu"
"Serius?"
"Iya. Tadi juga ibu Ara bilang sesuatu untuk ibu, katanya makasih udah rawat Ara dari umur sepuluh tahun sampai sekarang"
"Iya sama-sama"
...****...
Yuda POV
Yuda hanya melamun karena ia sangat malu. Harusnya tadi ia tidak menjelaskan kepada Tiara. Tapi disisi lain, ia jadi tahu bahwa Tiara tidak ingin dicium karena Tiara takut Yuda melewati batasan, bukan karena Yuda bau mulut.
Lucu memang, cuma gara-gara hal itu, Yuda menjadi insecure dan mengira bahwa Tiara akan memutuskannya.
"Bodoh banget sih" gumam Yuda.
Bibi yang sedang menyapu spontan melihat kearah Yuda. "Siapa yang bodoh, den?"
"Yuda, bi"
"Pasti diremedial ya ulangannya?"
Yuda hanya menatap datar kearah pembantunya.
"Den, neng Tiara kemarin kenapa nangis?"
"Bibi kepo deh"
"Den Yuda selingkuh ya?"
"Enggak lah, bi!"
"Terus kemarin kenapa bahas-bahas selingkuh segala"
"Udah jangan kepo, bi. Ini privasi soalnya" ujar Yuda sambil pergi menuju kamarnya.
Saat berada di kamar, Yuda terus menyesali perbuatannya. Ingin sekali Yuda mengulang waktu agar ia tidak membocorkan kepada Tiara tentang apa yang ada dipikiran Yuda.
Baru kali ini Yuda benar-benar malu. Sampai-sampai ingin menjauhkan diri dari Tiara untuk sementara waktu.
Trining! Trining!
Yuda mengambil ponselnya dan ia langsung menjawab panggilan telepon tersebut.
"Hallo, Yud" ujar Tiara sambil tertawa.
"Kenapa?" sewot Yuda karena ia tahu kalau Tiara masih menertawakan kejadian tadi.
"Kalau permen yang kemarin beli dimana ya?"
"Terus aja ngeledek"
"Aku gak ngeledek, aku cuma pingin tahu itu beli dimana"
"Alah! bilang aja pingin ngeledek"
"Yuda...Yuda, lucu banget sih"
"Baru kali ini loh aku dibilang lucu, biasanya juga dibilang ganteng"
"Siapa yang bilang kamu ganteng?"
"Orang tua aku lah"
"Kirain cewek yang waktu itu"
Yuda mengerutkan keningnya. "Cewek yang mana?"
"Cewek yang namanya Zahra"
"Perasaan dia gak pernah muji aku ganteng"
"Yud, aku gak suka loh sama cewek itu"
"Kenapa gak suka?"
Tiara menceritakan kepada Yuda bahwa Zahra sangat sombong, karena waktu itu dia seperti menghina liptint Tiara murah.
"Jangan diambil hati, lagipula kamu mau pakai liptint yang murah juga akan tetap cantik dimata aku"
"Masa?"
"Ya iyalah! orang cantik kalau pakai barang murah pun akan kelihatan cantik"
"Gak jadi insecure deh kalau gitu"
"Nah gitu dong! kan makin nambah kecantikannya kalau kamunya jadi percaya diri"
"Berarti kalau insecure, cantiknya jadi kurang?"
"Iya. Soalnya kalau cantik tapi insecure, jadi kurang menarik. Coba kalau percaya diri, pasti banyak tuh orang yang makin insecure sama kamu"
"Denger kata insecure jadi inget kamu"
"Aku udah muji-muji kamu, eh kamunya malah bikin aku insecure"
"Tapi kan itu lucu. Aku baru pertama kali lihat kamu insecure"
"Untungnya kamu pacar aku. Kalau kamu Randy, mungkin aku akan baku hantam kamu"
"Berantem maksudnya?"
"Iya"
"Ya udah ayo berantem sama aku. Lagian aku bisa bela diri"
Yuda tertawa dengan keras. "Aku gak percaya"
"Serius! aku pernah ikutan pencak silat waktu SMP"
"Buktinya apa?"
"Aku punya baju silatnya"
"Coba foto, terus kirimin ke aku"
Tak lama ada chat dari Tiara. Dan benar saja bahwa Tiara memang memiliki baju pencak silat.
__ADS_1