
Sudah 3 jam Yuda dan Ayu berada di rumah Tiara. Lalu, Ayu memutuskan untuk pulang karena ia ada janji dengan seseorang.
Karena tidak enak berduaan di kamar, akhirnya Tiara mengajak Yuda ke ruang tengah.
"Oh iya, Yud! jaket kamu ada di aku"
"Iya aku tahu"
"Nanti aku kembalikan ya kalau jaketnya udah dicuci"
"Gak apa-apa kali gak dicuci juga"
"Kan aku pinjem, jadi harus dicuci"
"Ya udah deh terserah kamu aja"
Ibu datang menghampiri Tiara dan Yuda. "Ra, kamu dah makan obat belum?"
"Belum, bu"
"Makan dulu dong, biar cepet sembuh"
"Yud, tunggu disini ya. Aku mau makan obat dulu"
"Iya" kata Yuda.
Tiara pergi ke kamarnya untuk memakan obat.
Sesudah memakan obat, ia kembali lagi menghampiri Yuda di ruang tengah.
"Ra, ibu mau pergi ke supermarket dulu ya" kata ibu.
"Iya, bu"
"Yud, tolong jagain Tiara ya" perintah ibu.
"Iya, bu" kata Yuda.
Lalu ibu pergi meninggalkan Tiara dan Yuda.
Tiara menyalakan televisi agar suasana tidak canggung.
"Yud, tadi ibu aku ngomong apa?"
"Maksudnya ibu kandung kamu?"
"Iya. Dia ngomong apa?"
"Dia pingin bawa kamu, tapi tadi ibu sambung kamu ngelarang. Terus ibu kandung kamu pergi"
"Aku tadi denger kok kayak berantem gitu"
"Iya, mereka emang berantem. Tapi karena ada pak RT datang, akhirnya ibu kamu pergi"
"Kenapa ya hidup aku kayak gini"
Yuda mendekat ke Tiara. "Ra, kamu hidup seperti itu karena Tuhan tahu kalau kamu wanita yang kuat dan sabar dalam menghadapi cobaan"
"Kalau misalnya aku udah capek, aku boleh nyerah gak?"
"Maksudnya?"
Tiara hanya diam saja. Sejujurnya ia capek hidup seperti ini. Ia ingin hidup dengan kebahagiaan.
"Aku jadi pingin mati"
Yuda terkejut mendengar ucapan Tiara. "Jangan ngomong kayak gitu, Ra"
"Tahu gak? masih banyak loh orang-orang yang sayang sama kamu. Contohnya ibu sambung kamu, aku, Ayu, Randy, Putri dan Amanda. Kita itu peduli sama kamu, Ra. Masa kamu pingin mati sih" Yuda tak habis pikir dengan Tiara yang bicara seperti itu.
"Kalau capek, bukan berarti harus nyerah. Kamu cuma butuh waktu untuk bisa berdamai dengan masa lalu kamu"
"Tapi aku belum bisa berdamai dengan masa lalu aku, Yud. Aku udah terlalu sakit hati sama ibu dan saudara-saudaranya ayah"
"Iya aku ngerti, pasti kamu susah banget berdamai dengan mereka. Tapi setidaknya kamu harus berdamai dengan diri kamu sendiri, jangan sampai bilang pingin mati segala"
__ADS_1
Tiara terdiam saat Yuda berkata seperti itu.
Yuda menatap Tiara dengan tulus. "Aku sayang sama kamu dan aku gak mau kehilangan kamu"
Tanpa sadar, Tiara meneteskan air matanya karena mendengar ucapan Yuda tadi.
"Ra, mau ke psikiater gak?" tanya Yuda karena ia ingin Tiara sembuh dari traumanya.
Tidak menggelengkan kepalanya seraya menjawab tidak.
Sebenarnya ia ingin sekali, tapi sayangnya ia tidak punya uang banyak untuk ke psikiater.
"Ke psikiater aja yuk! biar kamu bisa sembuh dari trauma kamu"
"Kalau soal biaya, nanti biar aku aja yang bayar"
"Gak usah, Yud"
"Ra, daripada traumanya gak sembuh-sembuh, lebih baik ke psikiater aja"
"Ke psikiater juga belum tentu bisa ngilangin trauma aku"
"Tapi dengan kamu datang ke psikiater, bisa aja kamu sembuh"
"Yud, makasih udah peduli sama aku. Tapi aku gak mau terima tawaran kamu untuk datang ke psikiater"
"Kenapa gak mau?"
"Aku gak mau aja"
Selama ini Tiara berpikir bahwa Yuda selalu membantunya. Sedangkan Tiara, ia gak pernah membantu Yuda. Maka dari itu Tiara tidak ingin merepotkan Yuda.
Trining...trining
Ponsel Yuda berdering. Lalu Yuda segera mengangkat ponselnya.
Tiara melihat kearah Yuda yang sedang teleponan. Ia tidak menyangka ternyata ada orang baik seperti Yuda. Padahal kalau dipikir-pikir Yuda itu orang baru baginya, bahkan ia baru beberapa bulan kenal dengan Yuda.
"Ra, mamah bicara sama kamu" ujar Yuda sambil memberikan ponselnya kepada Tiara.
Tiara mengambil ponsel milik Yuda. "Hallo, mah"
"Gak apa-apa kok, mah"
"Katanya kamu sakit ya, Ra?"
"Iya, mah. Tiara lagi gak enak badan"
"Katanya kamu sakit gara-gara diajak ke pantai malam-malam ya sama Yuda"
"Iya, mungkin karena angin pantai. Makanya Tiara jadi masuk angin"
"Emang ada-ada aja ya itu Yuda. Ngapain coba ngajak ke pantai malam-malam"
Tiara hanya tersenyum.
"Oh iya, Ra. Nanti kalau udah sembuh, kamu main ke rumah ya"
"Iya, nanti Tiara main ke rumah mamah"
"Ra, mamah mau pergi keluar. Jadi teleponnya nanti lagi ya"
"Iya, mah"
Lalu mamah Yuda mematikan teleponnya.
Tiara mengembalikan ponsel milik Yuda.
"Mamah nyuruh kamu buat main ke rumah ya?" ujar Yuda.
"Iya"
"Lihat kan, Ra? banyak loh orang yang sayang sama kamu. Jadi aku harap kamu jangan berpikiran untuk mati lagi ya"
Tiara hanya mengangguk mengiyakan ucapan Yuda.
__ADS_1
"Oh iya! waktu kamu hilang, papah aku juga khawatir sama kamu. Papah bahkan sampai nyuruh karyawan-karyawan kantor buat nyari kamu"
Tiara sampai tidak percaya dengan sikap orang tua Yuda. Mereka sebegitu pedulinya dengan Tiara.
"Makasih ya, kamu sama keluarga kamu udah peduli sama aku"
"Udah semestinya aku peduli sama kamu, kan kamu itu pacar aku"
"Kalau udah gak jadi pacar, kamu bakal peduli gak?"
"Kamu ada niatan putus ya sama aku?"
"Enggak ada"
"Terus kenapa ngomong kayak gitu?"
"Gak kenapa-napa, aku cuma nanya doang"
"Tahu ah! aku kesel sama kamu" Yuda pura-pura ngambek.
"Kok jadi marah sih"
"Habisnya kamu bilang seolah-olah kita bakal putus"
"Ya kan kita gak tahu gimana kedepannya. Siapa tahu kan nanti kamu udah gak sayang lagi sama aku, terus kamu putusin aku"
"Kebalik kali, kamu yang gak sayang sama aku" ujar Yuda.
"Aku sayang kok, Yud"
"Coba buktiin dong kalau kamu sayang aku, soalnya aku lihat kamu kayaknya gak terlalu sayang sama aku"
Tiara kebingungan karena jujur dari kecil ia tidak bisa mengekspresikan rasa sayangnya. Mungkin karena Tiara juga kurang mendapatkan kasih sayang, jadi ia sulit mengungkapkan rasa sayang kepada seseorang.
"Kok diem" kata Yuda.
"Aku harus gimana?"
"Ya tunjukan rasa sayang kamu ke aku"
"Gimana caranya?"
Yuda hanya menatap datar kearah pacarnya.
Lalu Yuda memeluk Tiara sambil mengelus rambutnya. "Aku sayang sama kamu"
"Masa gitu juga gak tahu sih" kesal Yuda sambil melepaskan pelukannya.
"Oh jadi gitu" Tiara hanya cengengesan.
"Iya kayak gitu"
"Terus selain itu apa lagi?"
"Kalau pasangan lain biasanya suka ciuman buat nunjukin rasa sayangnya" iseng Yuda, padahal ia berharap Tiara menciumnya.
"Ciuman?"
"Iya"
"Ya udah ayo kita ciuman"
Yuda membulatkan matanya, ia sedikit syok dengan Tiara yang berbicara seperti itu. Ia pikir Tiara akan menolak, tapi ternyata tidak.
"Jangan deh, peluk aja" ujar Yuda, karena bahaya juga kalau ciuman. Nanti bisa-bisa Yuda hilang kendali, apalagi saat ini hanya ada mereka berdua di rumah.
"Peluk aja?"
"Iya peluk aja"
"Kenapa gak cium?"
"Jangan, soalnya kita masih kecil"
"Tapi kemarin kamu cium aku"
__ADS_1
"Aku kan cium kening, bukan cium bibir"
"Ya udah deh peluk aja" Tiara memeluk Yuda, lalu Yuda membalas pelukan Tiara.