
Pagi -pagi sekali Freeya mendapat telepon dari sang ibu untuk datang ke rumah karena nanti malam akan diadakan pesta perayaan ulang tahun Jennie. Freeya senang sekali karena akan menginjakan kakinya ke rumah keluarganya lagi. Ia sangat merindukan kamarnya yang tidak terlalu luas, tapi menjadi saksi segala yang dilakukan Freeya.
Namun, di sisi lain perasaan iri dari dalam hatinya kembali muncul. Selama ini ia tidak pernah merayakan hari ulang tahun kecuali bersama sahabatnya. Jangankan merayakan, mendapat ucapan pun tidak pernah dia dengar keluar dari ibunya. Hanya ayah dan Jennie yang mengucapkan sebatas kata selamat bertambah usia.
Ia masih ingat jelas ketika itu ia masih berusia 13 tahun. Melihat teman -teman satu kelasnya yang selalu mengadakan pesta ulang tahun, membuat ia meminta kepada ibunya untuk dirayakan juga hari ulang tahunnya. Hanya untuk tahun itu saja. Ia hanya ingin merasakan bagaimana ketika meniup lilin dengan diapit orang tua dan disaksikan teman-temannya. Ia ingin merasakan bagaimana dipeluk dan dicium dihadapan orang ketika hari ulang tahunnya. Namun, sampai usianya menginjak dewasa ia tak pernah mendapatkan hal tersebut.
Bahkan kata-kata ibunya setelah permintaan tersebut masih di ingatnya. Kata-kata itulah yang membuatnya tidak ingin lagi merayakan ulang tahunnya.
***
Flashback ke usia tiga belas tahun
Setelah pulang dari sekolah, Freeya yang saat itu duduk di bangku kelas 2 SMP langsung menemui ibunya yang sedang menonton di ruang tamu.
"Ibu, Fre udah pulang". lapornya dengan senyum yang lebar.
"Hmm langsung ganti baju sana".
Freeya kemudian naik ke kamarnya untuk berganti baju, tidak lama setelah itu tanpa makan siang ia langsung menemui ibunya dan duduk disampingnya.
Freeya memegang tangan ibunya tapi tidak mendapat respon.Ibunya hanya melirik sekilas kemudian lanjut menonton.
"Ibu, Minggu depan Freeya ulang tahun. Boleh nggak Freeya rayain kayak ulang tahunnya Jennie dan teman-teman Freeya".
Mendengar hal itu ibunya langsung menatap Freeya kemudian menghela nafas perlahan.
"Tahun depan aja ya, Freeya".
"Emang kenapa kalau tahun ini Bu, kan Freeya bulan lalu juga ngerayain. Masa aku di tunda sampai tahun depan. Kan aku juga nggak pernah ngerayain sebelumnya" .
"Ya udah kita rayain ulang tahun kamu,emang tanggal berapa sih ?"
Mendengar itu raut bahagia Freeya berganti mendung.
"Ibu nggak ingat ulang tahun Freeya?"
" Nggak, ibu cuma ingat ulang tahun Jennie. Kan ibu udah tua susah ingatnya".
Lagi-lagi hanya Jennie yang diingat. Kan ulang tahun aku sama Jennie beda satu bulan doang itupun tanggal ny hampir sama. Jennie 12 aku 22. Masa ibu sama ayah nggak pernah bisa ingat ulang tahunku. Apa karena ini ya mereka nggak pernah rayain ulang tahun aku. Pokoknya tiap tahun aku harus ingatin ibu supaya ulang tahunku juga dirayain kayak Jennie. Ucap Freeya kecil dalam hati.
__ADS_1
"Ulang tahun Freeya tanggal 22 Minggu depan Bu. Jadi Minggu depan kita rayain"
"Iya kita rayain". Mendengar hal itu dengan spontan ia memeluk ibunya erat.
"Udah-udah ibu belum selesai ngomongnya, kamu asal langsung peluk aja". Freeya kemudian melepas pelukan itu walaupun tidak rela karena jarang-jarang ia punya kesempatan untuk hal itu .
"Kita rayain ulang tahun kamu, tapi..tapi kita rayainnya di rumah aja . Ibu akan masak kesukaan kamu dan kita makan bersama ayah,ibu dan Jennie".
Senyum itu hilang seketika, harapan itu terbang bersama angan yang tak pernah bisa menjadi nyata.
"Kok ibu gitu sih, aku kan juga mau ngundang teman -teman aku, soalnya mereka nanyain kapan aku ngerayain". Rengek Freeya ke ibunya
Mendengar rengekan Freeya, ibunya yang memang hanya memiliki stok kesabaran setipis kapas langsung saja berdiri menatap tajam Freeya. Bahkan hanya melihat tatapan itu membuat Freeya tanpa sadar menangis.
"Kamu udah besar Freeya ngapain masih mau rayain ulang tahun kamu itu, apa bedanya di rayain atau tidak, sama ajakan".
"Hiks hiks tapi Jennie dirayain Bu".Ucap Freeya dengan nada lirih
" Jennie masih kecil wajar kalau dirayain".
"Tapi aku malu sama teman-teman mereka terus nanyain ulang tahun aku".
"Ya udah tahun depan nggak usah, tahun ini aja Bu".
"KAMU NGERTI NGGAK SIH APA YANG DARI TADI IBU BILANG. kita akan rayain tapi cuma sama ayah sama Jennie. Kamu tau nggak rayain ulang tahun itu biayanya nggak sedikit. Punya uang kamu Freeya sok-sokan mau ngerayain segala. Mau minta uang dari ayah, gitu maksud kamu. DENGAR YA, PASANG TELINGA KAMU ITU BAIK-BAIK, PIKIR SEMUA YANG IBU KATAKAN
TANPA KAMU NGERAYAIN ULANG TAHUN KAMU PUN UANG YANG KAMU GUNAKAN SELAMA INI UDAH BANYAK
KAMU PIKIR UANG SEKOLAH KAMU NGGAK BANYAK
KAMU PIKIR UANG JAJAN KAMU NGGAK BANYAK
KALAU MAU RAYAIN ULANG TAHUN TUNGGU KAMU KERJA RAYAIN SENDIRI
RASAIN GIMANA CAPEKNYA NYARI DUIT JANGAN CUMA MAU ENAKNYA AJA. Kamu jadi anak pertama itu harusnya bisa berpikiran dewasa, jangan selalu lihat dan mau apa yang Jennie lakuin, dia adik kamu ,dia masih kecil wajar kali dia rayain ulang tahunnya.
Setelah mengatakan itu ibunya pergi dari ruang tamu. Freeya masih menunduk, apa segitu banyak yang ia gunakan selama ini.
"Jangan lupa setelah makan cuci semua piring kotor".Ucap ibunya sebelum benar-benar hilang.
__ADS_1
***
Bahkan Jennie udah dewasa tapi ibu masih ngerayain ulang tahunnya. Katanya ia dirayain karena masih kecil tapi nyatanya memang memang nggak berhak dapat hal seperti itu bu.
Ternyata ia belum sembuh. Masih banyak kekecewaan dan luka yang terpendam dalam diri Freeya.
"Mas nanti malam ibu ngundang kerumah ngerayain ulang tahun Jennie, mas bisakan ke sana?"
"Hmm ,bisa kok cuma agak lambat jadi kamu ke sana sendiri aja ya, terus kamu cari kadonya juga sendiri aja. Mas sibuk soalnya"
"Nggak bisa ya temanin aku nyari kado sebentar aja mas?" Mohon Freeya.
Axel menghela nafas
"Nggak bisa Freeya, mas memang sibuk".
"Ya udah mas" pasrah Freeya
Kemudian Axel berdiri hendak ke kantor
"Eh mas nggak sarapan dulu, udah aku siapin kok di bawah".
" Nggak usah nanti aja di kantor, mas masih mau mampir ke apartemen teman mas mau bahas rencana selanjutnya di proyek ini".
Setelah kepergian Axel, Freeya kembali kamar dan berdiam diri memikirkan hal yang terjadi belakangan. Axel yang membencinya, namun kemudian ingin kembali memulai dengannya tapi setelah Freeya memberi ruang untuknya, Axel justru menjadi orang yang sangat sibuk. Meskipun ia memberikan perhatian kecil kepada istrinya yang memunculkan harapan bagi Freeya. Tapi tidak menutup kemungkinan masih ada ruang kecewa di hati Freeya melihat segitu pentingnya sebuah pekerjaan dibanding dirinya. Bukankah jika ingin memulai keduanya harus saling berusaha.
Disela lamunannya. Nama kristal tiba-tiba muncul dibenak Freeya.
Bagaimana dengannya. Apakah mas Axel telah memutuskan hubungan mereka. Tapi bukankah seseorang seperti Kristal susah untuk berhenti ketika sudah menganggap sesuatu itu miliknya.
Deg
Kemana saja pikiran Freeya selama ini. Apakah karena rasa itu sudah tumbuh hingga membuatnya lupa akan bunga lain diluar rumah
Banyak pikiran Negatif yang perlahan muncul di otaknya
Apakah memang mas Axel selama ini lembur
Apakah ia tidak pernah bertemu lagi dengan Kristal
__ADS_1
Arghhh disisi lain ia harus menanam rasa percaya terhadap suaminya tapi gelisah dihatinya terus saja muncul. Apalagi ia mengingat Axel tidak pernah melakukan hal - hak romantis kepadanya kecuali perhatian kecil tentang apakah ia sudah makan atau belum.