Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Terbongkar 2


__ADS_3

...Jika memang kali ini aku egois. Sanggupkah telinga ini kembali mendapat kata-kata makian itu....


Freeya memeluk erat Sindi, Adel pun bangkit ikut memeluk sahabatnya.


"Hiks hiks aku sakit, aku capek bahkan tidak ada lagi yang tersisa jika mereka ingin lebih dalam menyakitiku. Hiks hiks mereka jahat sama aku. Mereka bahkan nggak tau bagaimana aku memaksa jiwaku untuk terus bertahan. Tapi hiks hiks mereka... mereka terus nyalahin aku. "


Freeya mengeluarkan semua unek-unek di depan sahabatnya bahkan Lio menunduk menitikan air mata. Ia gagal menjaga sahabatnya yang telah terlalu jauh merasakan sakit ini".


Sedangkan Adel dan Sindi sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memeluk erat sahabatnya.


"Mereka nuntut aku untuk terus merendahkan harga diriku didepan Axel, padahal harga diriku pun sudah tidak ada. Hikss hiks mereka nggak tau gimana aku kalau malam. Mereka nggak tau gimana dinginnya aku sendiri mencoba bertahan demi mereka. Hiks hiks bahkan mereka nggak tau anak yang mereka anggap tidak berguna ini beberapa kali ingin mengakhiri hidupnya. Mereka nggak tau semua itu. Mereka hanya mau bagaimana pun Freeya harus bertahan sebelum memberi keuntungan kepada mereka".


Pada akhirnya beban yang dipikulnya sendiri keluar bersamaan dengan semakin eratnya pelukan seorang sahabat.


Setelah mereka dapat menguasai diri masing-masing mereka akhirnya kembali ke tempat duduk masing-masing.


"Freeya maaf, kalau selama ini ternyata kamu belum menjadi teman yang baik , bahkan ketika kamu butuh kami tidak datang".Ucap Sindi


"Nggak kok, aku yang salah. Kalian nggak perlu merasa bersalah begitu karen memang aku yang nggak pernah cerita".


"Setelah hari ini aku harap kamu bisa membagi apa yang menjadi bebanmu, walaupun kami tidak bisa membantu setidaknya kami akan mendengar apapun itu Fre." Ucap Adel yang hanya diangguki Freeya.


"Apa selama ini kamu mendapatkan kekerasan dari Axel?" Tanya Lio


"Nggak kok, dia cuma mengenalkan kekasihnya tidak sampai melukai fisik aku".


Freeya masih mencoba menyembunyikan aib rumah tangganya.


"Cih ,bahkan dengan entengnya dia mengenalkan pacarnya padamu. Manusia bodoh".


"Kalau dilihat dari sisi lain , emang aku yang salah. Sebelum pernikahan ini terjadi mereka bahkan telah merencanakan masa depan berdua. Namun, harus hancur karena aku yang mengiyakan keinginan orang tua aku".


"Bahkan laki-laki buaya sekalipun akan mampu menempatkan posisinya ketiga sudah beristri". Ucap Lio lagi


"Jadi bagaimana keputusanmu kedepannya?"


Hufff Freeya menarik nafas panjang. Keputusan yang akan ia buat ini jelas semakin menyakiti dirinya namun, ia akan mencoba mencari peruntungan sekali lagi.


"Aku akan mencoba bertahan satu kali lagi".Ucap Freeya tegas.


"Bagaimana jika tidak ada yang berubah?" Tanya Lio

__ADS_1


"Maka seperti yang dikatakan Sindi aku akan menjadi egois".


"Bagaimana dengan keluarga kamu?" Tanya Lio


"Aku yakin mereka tidak akan mungkin mengusirku. Setidak bergunanya aku dimata mereka. Mereka tidak dapat menampik bahwa aku adalah anak sulung mereka".


"Baiklah semua keputusan ada padamu. Tapi ingat Freeya jika aku mendapati Axel dan kekasihnya lagi, maka lepaskan dia dan aku akan membuatnya hancur. Bahkan sampai ke keluarganya sekalipun.


"Ayah dan mama Axel bahkan sangat menyayangiku". Bagaimana aku bisa menghancurkan harapan mereka.


"Mama Axel bahkan selalu bahagia melihat sifat anaknya yang melembut ketika sedang bersamaku. Bagaimana aku bisa menghancurkan hati seorang ibu dengan mengatakan bahwa itu semua sandiwara.


Bagaimana bisa aku mengabulkan keinginannya untuk memiliki seorang cucu sedangkan aku dan Axel sendiri dibatasi duri tajam". Ucap Freeya kembali bersedih mengingat segala harapan mama mertuanya.


"Itu urusan Axel dan keluarganya nanti, tapi semoga bertahanmu ini membawa sedikit perubahan. Dan ingat jangan lagi mencoba menyembunyikan keadaanmu". Ucap Lio


Setelah mengutarakan apa yang mengganggu pikirannya, kini Freeya merasa lebih tenang. Ternyata ketakutannya untuk membebani sahabatnya hanya ketakutan dalam dirinya. Ia sangat bersyukur masih ada yang merengkuhnya disaat keluarganya tidak lagi peduli.


Hampir jam 8 malam, Freeya berpamitan untuk pulang. Awalnya Lio bersikeras ingin mengantarnya, tapi Freeya selalu menolak. Lio terpaksa memesankan Taksi, dengan alasan Freeya hanya ingin sendiri dalam perjalanannya tanpa orang yang mengenalnya.


"Ingat kalau ada apa-apa telpon kita. Ucap Adel


"Iya"


Sebenarnya alasan Freeya menolak ajakan Lio karena, ia takut Lio akan bertemu dengan Axel. Freeya merasa malam ini Axel pasti berada di rumah menunggunya. Hatinya gelisah, ia cukup trauma dengan pertengkarannya beberapa kali.


Setengah jam kemudian Freeya sudah sampai didepan.


"Makasih pak".Ucap Freeya kepada sopir taksi


"Sama-sama neng".


Rumahnya sangat gelap, tapi entah kenapa hatinya mengatakan akan ada sesuatu besar yang sedang menunggunya.


Semakin dekat dengan pintu, detak jantungnya semakin berdetak kencang.


"Ya Tuhan, kuatkan aku sekali lagi".


Freeya memutar gagang pintu dan ceklek, pintunya tidak terkunci.


Ia kemudian melangkah masuk , namun setelah sampai diruang tamu. Lampu langsung menyala. Dan disanalah sosok Axel menunggunya.

__ADS_1


Axel berdiri menghampiri Freeya, membuat Freeya reflek mundur.


Ia terus mundur dan bahunya bertabrakan dengan tembok. Sedangkan Axel hanya berjarak tiga jengkal darinya.


"Ka ...kamu udah dari tadi pulangnya mas? Tanya Freeya meskipun sekarang dahinya sudah berkeringat, bahkan badannya sangat kelihatan bergetar.


" Hmm, aku tidak sabar menghukummu, karenanya aku cepat-cepat pulang. Tapi karena istri aku ini belum pulang. Jadi aku akhirnya punya banyak waktu untuk memikirkan hukuman apa yang pantas diberikan kepada istri yang mempermalukan suaminya didepan umum".


Deg


"Maksud kamu apaan. Aku nggak pernah permaluin kamu ya mas".


"hohoho berpura-pura bodoh hmm. Axel mencengkram dagu Freeya.


"Sepertinya istri aku ini ingin ditambah hukuman".


"Aku nggak pernah permaluin kamu mas, kamu aja yang nggak tau malu. Makan ditempat umum dengan selingkuhan kamu itu".


Plak plak


Tamparan itu sangat keras mendarat di wajah Freeya.


"Mau berapa tamparan diwajah jelek lo ini ?"


Axel menarik kuat rambutnya, membuat Freeya harus mendongak ke arah Axel.


"Mas lepasin sakit"


"Hohoho tidak bisa, karena Lo hubungan gue dan Kristal bahkan hampir tersorot media. Dan karena Lo sahabat kurang ajar Lo itu bahkan sampai berani ngancam gue di depan umum." "Jadi ayo sayang kita mulai hukumannya ". Kamu mau yang ringan dulu atau yang berat sayang?" Tanya Axel dengan senyum yang menakutkan


"Hiks lepasin Xel, aku nggak mau, aku nggak salah"


Axel tidak mendengar rengekan Freeya ia menyeret Freeya ke arah dapur.


"Kamu tau nggak sayang, hukuman pertama kamu dimulai dari sini ya. Kamu pasti udah nggak sabarkan".


"Hiks Xel lepasin. Aku minta maaf. Iya aku salah. Tolong lepasin rambut aku sakit hiks hiks".


Melewati dapur Axel membawa Freeya ke WC yang ada di sana.


"AYO KITA MULAI HUKUMANNYA ISTRIKU".

__ADS_1


"JANGAN XEL, HMMMM"


__ADS_2