
Aku bahkan berharap saja fisikku yang dipukul semau mereka , karena jika hatiku yang dibenturkan, aku mungkin akan kehilangan kewarasanku.
"FREEYA"
DEG
Walaupun sudah lama tidak bertemu tapi Freeya teramat sangat mengingat suara yang memanggil namanya. Ia ingin menghadap ke belakang tapi tubuhnya seakan tidak bisa digerakkan
"Freeya" Panggilnya lagi
Freeya terhuyung ke belakang untung saja ada Jeno yang memegang bahunya.
"Fre? Kamu nggak papa?" Tanya Jeno khawatir
Sedangkan Freeya hanya menatap Jeno dengan bibir yang bergetar.
Jeno kemudian menarik nafas, kemudian menatap ke arah Kai.
"Lo tunggu di situ, jangan berani mendekat"
Sedangkan KAI masih terpaku di tempatnya
"Ayo, Fre aku antar kamu masuk "
Bukannya masuk Freeya justru masih tetap berdiri di tempatnya.
"Huffft, a-ku nggak papa Jeno". Ucap Freeya dengan senyum
Freeya kemudian memutar tubuhnya untuk melihat ke sosok yang memanggilnya tadi
Deg
deg
Susah paya, Freeya mempertahankan dirinya, tapi ternyata kehadiran Kai secara tiba-tiba membuat dirinya limbung, bahkan seakan kehilangan nafas sementara.
"Fre, ayo masuk kamu nggak usah memaksakan diri begini". Ujar Jeno lagi yang terlihat khawatir apalagi saat melihat keringat yang muncul di kening Freeya.
"Jeno kenapa dia bisa ada di sini.?" Ucap Freeya lirih
"Aku nggak tau Fre"
__ADS_1
Sementara Kai menguatkan hatinya untuk mendekat ke arah Kai
"STOP". Teriak Freeya ketika KAI tinggal beberapa langkah di depannya. Dan seketika langkah Kai terhenti.
"Fre".Ucap Kai lirih
"Ngapain kamu di sini, aku udah pergi jauh seperti yang kamu bilang".Ucap Freeya sembari meremas tangan Jeno yang masih setia menggenggam tangannya.
"Ma-af".Ucap Kai dengan tatapan yang menuju ke perut Freeya.
Freeya yang melihat tatapan Kai , berusaha menutup perutnya.
"Untuk apa?"
"Un-tuk semua luka yang aku berikan kepada kamu, untuk semua kata-kata kasar yang terucap dari mulut aku, dan untuk semua kesalahan yang harusnya nggak aku tujukan kepada kamu"
Mendengar hal itu Freeya justru tertawa. Tapi siapapun yang tau jalan hidupnya Freeya, akan langsung tau bahwa itu adalah tawa penuh kepiluan.
"Hahaha, ke-napa harus repot-repot minta maaf? Bukankah hal seperti itu memang cocoknya untuk aku, dilimpahi semua kesalahan, dan diperlakuan seperti manusia yang tidak pantas membela dirinya"
"Fre"Ucap Kai hampir saja kembali melangkah
"Aku bilang STOP, berhenti di situ, jangan berani mendekat ". Ucap Freeya. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian KAI dan Jeno, tapi reaksi tubuh Freeya, yang terlihat gemetar, bahkan Jeno yang berada di sampingnya merasakan hal itu.
"Jeno, su-ruh dia pergi, aku mohon "
"Fre". Kai semakin mendekat ke arah Freeya
"AKU BILANG JANGAN MENDEKAT " Teriak Freeya
Bugh
"Dia udah bilang jangan mendekat, Lo nggak liat gimana keadaan dia sekarang ?" Ucap Jeno setelah memukul Kai
Bugh
"Lo yang minggir, gue nggak ada urusan sama Lo Anj*Ng".Ucap Kai
Mendengar keributan diluar rumah Ibu Hamidah dan Masita, berlari keluar.
"Ada apa ini?" Tanya ibu Masita
__ADS_1
"Kai?" Kamu Kai kan?" Tanya ibu Hamidah yang diangguki oleh Kai. Pandangan ibu Hamidah kemudian tertuju ke arah Freeya yang keadaannya tampak memprihatinkan
"Nak, kamu kenapa? " Ucap ibu Hamidah yang memeluk Freeya
"Hiks hiks ibu suruh dia pergi , Freeya nggak mau ke-temu dia, hiks mereka orang jahat hiks"
"Nak, kamu tenang dulu ya, ingat kamu sedang mengandung"
"Kai, saya harap sekarang kamu pergi dari sini. Kondisi Freeya tidak memungkinkan untuk membicarakan masalah kalian."
"Tapi bu saya ...."
"Saya mohon, liat Freeya sekarang, bukan hanya luka fisik yang ia alami selama ini,tapi batin juga. Kamu liat dia sekarang, Bagai-mana gemetarnya dia , dia trauma nak, itu sudah cukup membuktikan betapa rapuhnya dia selama ini. Jadi tolong beri dia waktu menenangkan dirinya ". Ucap ibu Hamidah
"Tapi Bu, saya, saya takut Freeya pergi lagi " Ucap Kai lirih.
"Saya yang jamin , ia tidak akan pergi kemanapun, jadi sekarang kamu pulang dulu ".
Namun, saat Kai ingin pergi sejauh mobil memasuki pekarangan.
"Freeya "
Jantung Freeya kembali berdetak. Dan seseorang yang memanggilnya adalah salah satu orang yang paling dirindukan. Air matanya semakin deras keluar, bukan karena takut tapi karena sedikit ketenangan saat mendengar suara itu.
Freeya kemudian menatap ke arah sosok yang memanggilnya.
"Adel".lirih Freeya
Adel berlari ke arah Freeya, dan ia langsung memeluk Freeya, walaupun dibatasi oleh perut Freeya yang besar.
"hik hiks Freeya aku kangen Hiks".Ucap Adel sedangkan Freeya hanya bisa menangis dan mengeratkan pelukannya.
"Kami jahat Fre, hiks hiks"
Dan mereka yang berada di sana juga ikut terhanyut melihat Adel dan Freeya yang memeluk dengan tangis yang pecah.
"Fre"
"Lio" Ucap Freeya
"Iya, are you ok?"
__ADS_1
Freeya mengangguk dengan senyum yang tidak lepas dari wajahnya.