
Sekarang Freeya telah tiba dirumah keluarganya. Belum terlalu banyak orang tapi teman-teman kampus Jennie sudah mulai berdatangan. Tak lama setelah kedatangan Freeya, ibu mertuanya juga tiba bersama ayah mertuanya yang telah kembali dari luar kota. Melihat kedua mertuanya Freeya langsung berdiri dari sofa dan menemui keduanya.
"Assalamualaikum Ma,yah".Ucap Freeya sembari mencium kedua tangan mertuanya.
"Waalaikumsalam sayang".Jawab ibu Axel
"Waalaikumsalam nak".Jawab ayah Axel.
"Axel mana nak kok nggak keliatan?"
"Axel belum datang ma. Tadi dia nyuruh aku duluan ke sini. Katanya masih sibuk sama kerjaannya".
"Loh kok gitu, kan kerjaan bisa besok dilanjutin".Balas mama Axel yang hanya ditanggapi senyuman dari Freeya karena ia bingung harus jawab apa.
"Yah, emang kerjaan Axel banyak banget".Tanya ibu Axel kepada suaminya.
"Setau ayah sih nggak terlalu. Kayak kerjaan biasa tiap harinya".
Mendengar hal itu pikiran buruk bertambah lagi di benak Freeya. Lantas jika tidak sibuk, alasannya sibuknya tiap hari untuk apa.
"Ya udah sayang mungkin memang lagi ada kesibukan lain. Kita tunggu Axel di sana aja. Mama sama ayah juga belum sempat menyapa Ade dan kedua orang tua kamu".
Beberapa saat setelah mereka duduk di sofa kedua orang tua Freeya datang menyapa
"Hai jeng, udah dari tadi datangnya"
"Hehehe baru aja kok jeng, emang tadi kalian kemana"
"Iya , maaf jeng tadi kami sibuk dibelakang biasa acaranya bentar lagi mau dimulai".
Mengetahui Freeya ada diantara besannya ibunya langsung menyapa
"Hallo nak, kamu udah dari tadi ya sampainya atau bareng mertua kamu"
"Hmm baru aja ibu, Freeya datang sendiri kok"
"Suami kamu mana Fre?" Tanya ayahnya
"Katanya nanti mas Axel nyusul yah, lagi ada kesibukan "
Setelah lama berbincang akhirnya acara pun dimulai dengan panduan dari seorang MC.
Bahkan ketika acara hampir dimulai batang hidung Axel belum juga kelihatan. Freeya telah berulang kali menghubunginya tapi tidak pernah diangkat.
Melihat acara yang akan dimulai. Freeya berjalan mendekat kedepan, sedangkan mertuanya duduk di kursi pojok menyaksikan dari sana .
Semakin dekat ke arah sang ratu malam ini , hati Freeya mulai kembali sakit.
Di panggung itu, Jennie diapit kedua orangtuanya. Dengan rangkulan dari sang ibu, dan usapan dari sang ayah. Itu ialah mimpi yang telah menancap sebagai duri yang tidak harus digapai.
Mendengar arahan dari MC untuk bernyanyi mengiringi Jennie yang akan memotong kuenya, membuat acara puncaknya semakin meriah. Dan detik inilah ketika ketiga orang itu berangkulan meminta doa. Freeya yang berada di depan, tanpa seseorang disampingnya pun turut berdoa
"Tuhan, hari ini Jennie bertambah umurnya. Di depan orang tuaku aku ingin berdoa lebih dulu sebelum hari ulang tahunku. Anggap saja hari ini juga aku berganti usia. Tuhan jika bahagiamu adalah duri yang harus kuratakan habis, maka kuatkan aku dan tunjukkan sebanyak apalagi duri yang harus ku lalui. Tuhan jika hangat peluk ayah ibu tak juga bisa kugapai, kirimkan aku hangat dari orang lain, Tuhan jika caci maki masih akan terus mengalun ditelingaku, berikan aku satu bahu tempatku bersandar menerima caci maki itu. Tuhan perlahan suka ini tumbuh terhadapnya, tapi aku takut ia akan lebih dulu layu sebelum berbunga. Jadi Tuhan tolong perkuat lagi diriku"
__ADS_1
Freeya selesai berdoa begitupun sang pemilik pesta. Tiga senyuman di depan sana akhirnya berhasil menjatuhkan satu tetes air mata seorang kakak yang tak pernah dirangkul dalam hangatnya pelukan .
Tanpa mau berlama-lama ia kemudian memutuskan untuk kembali kedalam rumah. Acaranya memang diadakan di taman belakang.
Acara hampir saja selesai namun Axel pun belum juga datang. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang. Tadi ketika mertuanya akan pulang,ia ditawari untuk pulang bersama tapi Freeya masih ingin menunggu Axel.
Freeya kemudian ketaman untuk berpamitan. Sebenarnya ia sangat ingin bermalam di kamarnya, namun ia juga khawatir dengan Axel yang sampai sekarang belum ada kabarnya.
"Hmm, Jennie"
"Iya"
"Selamat ulang tahun ya, ini ada kado untuk kamu"
"Ih kok kadonya kecil sih kak, kan kakak punya suami kaya, masa ngasih kado adeknya kecil banget".
"Maaf Jen, tapi itu harganya lumayan mahal kok walau memang barang kecil". Ingin sekali ia menarik kembali kado tersebut melihat raut muka tidak bahagia Jennie
"Dia emang pelin Jen, udah sombong dia, nggak tau terima kasih. Coba aja nggak ada ayah sama ibu yang jodohin mana punya uang dia sekarang. Bahkan ibu cuma minta uang arisan aja dia nggak mau. Untung suaminya langsung ngirim ke ibu". Balas ibu dengan muka julid dan sinisnya.
"Ibu udah nggak malu diliat teman Jennie yang masih ada".
"Ngapain malu, kan emang benar. Sekarang dia pelitnya minta ampun".
"Bu Freeya emang saat itu nggak punya uang. Fre pun malu mau minta sama mas Axel".
"Alah banyak alasan. Udah pulang sana, acaranya juga udah selesai. Ibu ngundang kamu kesini karena mau ketemu Axel , tapi dianya nggak datang. Ibu jadi curiga kamukan yang nggak mau kalau Axel datang".
"Cih, pembohong bilang aja kamu takut ibu minta uang lagikan makanya kamu larang dia datang".
"Terserah ibu, Freeya izin pulang ".
"Hati-hati nak".Kata ayahnya
Ketika Freeya beranjak ia masih mendengar ibunya berbicara semakin emosi.
"Semakin tidak tau diri, bahkan dia pergi ketika orang tua masih belum selesai bicara. Kasihan sekali suaminya itu".
***
Sesampainya di rumah, Freeya buruh-buruh masuk mencari keberadaan Axel. Namun, ternyata ia belum juga datang.
"Mas Axel kemana sih, kok belum pulang juga inikan udah tengah malam banget"
Freeya kemudian mencoba menghubunginya tapi tidak pernah diangkat. Mau menghubungi temannya tapi ia tidak mengenal siapa saja teman Axel.
Udah mau jam 1 malam lagi.
Saat ia Freeya ingin tidur sambil menunggu Axel, ponselnya berdering panggilan masuk dari nomor Axel.
"Hallo mas, kamu kemana aja sih?"
"Hallo maaf ini bukan Axel"
__ADS_1
"Ehh, anda siapa kok hp mas Axel ada sama anda?"
"Gue teman Axel, ini Lo bisa ke club'*** nggak. Suho Axel udah teler tapi gue nggak bisa nganterin ada urusan"
Freeya kaget mendengar Axel minum di club'. Apa ia emang sering minum ya tapi kok dia nggak bilang. Tanpa berlama lama ia berganti pakaian untuk segera ke sana. Diperjalanan ia merasa sangat deg degan karena belum pernah memasuki tempat yang akan ia tujuh. Tuhan semoga semuanya aman sampai aku keluar. Ucapanya dalam hati.
Hampir 30 menit akhirnya ia sampai di sana. Ketika memasuki ruangan telinga langsung disambut dengan musik yang luar biasa kencang ditemani manusia yang sibuk berlenggak lenggok.
Semakin masuk, musiknya semakin menjadi-jadi. Ia semakin gugup.
Matanya sibuk mencari dimana Axel berada. Sial sekali ia juga lupa membawa hpnya.
Setelah cukup lama mencari ia melihat Axel di sofa pojok dengan pakaian yang sudah berantakan. Tangannya seketika terkepal melihat dua orang di samping kiri dan kanannya dengan pakaian seperti jala yang tidak dapat menyembunyikan lekuk tubuh mereka.
"Permisi bisa minggir dari samping suami saya".
Mendengar kata suami dua cewek itu perlahan pergi.
Hufff
"Mas" Panggil Freeya
"Mas". Freeya terus memanggil suaminya dan menggoyang tubuh suaminya tapi tidak direspon
"Hmm". Mendengar suara seseorang ia langsung menghadap belakang
"Ehh Kai".
"Hai Freeya"
"Iya, kamu yang tadi nelpon aku ya"
"Bukan, tadi Brayen yang nelpon cuma udah pulang katanya ada urusan. Dia nitip Axel sama aku tapi tadi aku ke WC."
"Ohh, emang mas Axel udah dari tadi di sini"
"Nggak tau juga soalnya dia udah di sini pas aku sampai, mungkin udah hampir tiga jam". Freeya kembali menghela nafas.
"Emang mas Axel sering ke sini KAI".
"Mungkin kalau lagi suntuk aja atau kalau nggak ajakan dari temannya, baru dia ke sini". Yang kembali diangguki Freeya
"Hmmm Kai bisa minta tolong nggak, bantu angkatin mas Axel ke mobil , aku nggak kuat soalnya.
" Hhm bisa ayo"
Mereka berdua kemudian menggotong Axel.
"Kai makasih banyak yah, udah bantuin. Aku pulang dulu soalnya udah makan banget".
"Santai aja".
Setelah kepergian Freeya,Kai akhirnya tersenyum ,tapi bukan senyuman yang biasa ia perlihatkan. Entah apa maksud dari senyuman tersebut.
__ADS_1