
Satu Minggu telah berlalu setelah kejadian yang dialami Freeya. Lio sangat bersemangat untuk membantu Freeya bercerai. Bahkan ia telah mengancam Axel untuk tetap diam saat proses perceraian berlangsung.
Sedangkan Freeya sampai saat ini masih tinggal di rumah Adel dan Lio. Sebenarnya ia ingin mencari tempat tinggal sementara tapi kedua sahabatnya tidak ingin Freeya tinggal sendiri. Terlebih Adel memiliki ketakutan kalau Freeya akan berbuat yang dapat membahayakan nyawanya.
Untuk kedua orang tuanya, Freeya belum punya keberanian untuk bertemu mereka setelah Freeya diusir langsung dari rumahnya. Karenanya ia akan menunggu ia resmi bercerai dengan Axel untuk kembali menemui orang tuanya. Sekedar melihat respon mereka. Apakah sudah tidak ada tempat untuknya pulang atau masih ada.
...****************...
Satu bulan berlalu dan hari ini Freeya dan Axel sudah resmi bercerai. Ada rasa tenang saat ia mengetahui sekarang ia tidak lagi terikat dengan hubungan toxic namun juga ada rasa sesak mengingat pernikahan yang dulu didambakan hanya berlangsung satu kali hancur dalam sekejap mata.
Freeya menyusun kembali bajunya kedalam koper hari ini berencana untuk pergi dari rumah Adel.
Saat ini hari libur ,jadi Adel dan Lio masih Santai di rumah.
Freeya kemudian turun ke ruang tamu dimana Lio dan Adel sedang berebutan remot.
"Hmmm".
"Ehh Freeya, sini sini duduk di samping aku".Ucap Adel
"Kamu udah merasa lebih baik setelah resmi pisahkan".Tanya Lio
"Iya, aku merasa beban ku sedikit berkurang. Makasih Lio. Berkat kamu semuanya bisa berjalan dengan lancar".
"Kamu nggak perlu selalu berterima kasih, aku udah anggap kamu saudara dan yang aku lakuin itu wajar bagi seorang saudara"
"HM, Del, Lio. Aku mau pamit"
"Pamit?" Tanya Adel bingung
"Iya. Aku udah mutusin buat nggak tinggal lagi di rumah kalian"
"Kenapa, kamu nggak nyaman ya?"Tanya Adel lagi
"Bukan gitu, aku merasa bahagia sekali bisa tinggal bareng kalian, tapi aku juga butuh waktu untuk menata kembali hidup aku kedepannya. Kalian tenang aja aku nggak pergi kok ,aku cuma mau balik ke rumah orang tua aku"
Namun dalam hati Freeya berkata tapi aku yakin mereka nggak akan Sudi menerima aku sebagai bagian dari keluarganya lagi.
"Hah, aku nggak salah dengar. Apa ketika mereka mendengar kamu udah berpisah dengan Axel mereka akan tenang-tenang saja. Fre sedikit banyaknya aku sedikit mengerti tabiat orang tua kamu. Mereka bahkan rela menyakiti anaknya untuk kesalahan yang sepele". Ucap Lio
"Aku tau mereka emang keras tapi bagaimana pun aku tetaplah keluarga mereka. Aku bisa kok hadapin ini. Kalian tenang saja. Kalian hanya perlu dukung apapun yang aku lakuin nantinya."
"Baiklah, selama menurutmu keputusan itu benar, kamu akan dukung".Jadwal Lio
"Jadi kapan kamu akan ke rumah orang tua kamu?" Tanya Adel
"Sekarang "
"HAH, kok mendadak banget sih"
"HEHEHE aku udah rencanain dari tadi malam kok"
"Yaudah kamu tunggu sini, kami siap-siap dulu untuk nganterin kamu"
__ADS_1
"Eh, nggak perlu aku bisa pesan taksi"
"Kalau kamu mau pulang ke rumah orang tua kamu, kita yang akan nganterin langsung. Kalau kamu nggak mau yaudah kamu lebih baik tinggal di sini saja". Ucap Lio
"Hmmm baiklah "
Saat ini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah orang tua Freeya.
"Ingat ya Fre, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku, Sindi atau Lio. Jangan pernah merasa kamu nggak punya siapa-siapa ". Ucap Adel yang diangguki oleh Freeya
Tiga puluh menit kemudian mobil Lio berhenti di depan rumah Freeya.
"Makasih ya kalian udah nganterin".
"Yaudah ayo aku temani kamu masuk".Ucap Lio
"Eh, nggak perlu. Kalian bisa langsung pulang". Ucap Freeya. Freeya khawatir kalau Lio dan Adel lama di sini, orang tuanya akan keluar dan sahabatnya bisa saja mengetahui permasalahannya.
"Serius kamu masuk sendiri?" Ucap Adel
"Hahahaha iyalah inikan juga rumah aku, jadi aku nggak perlu takut"
"Hmmm yaudah. Tapi cepat hubungi kami kalau terjadi sesuatu ". Ucap Lio
"iya . Kalian hati-hati ya "
Setelah mobil Lio sudah tidak terlihat Freeya menuju ke post satpam untuk menitip kopernya.
"Pak saya mohon ya untuk terakhir kalinya izinin saya ketemu orang tua saya".
Hufff
"Kamu bisa Freeya, ayo semangat"
Tok tok tok
"Iya sebentar "
"Non Freeya "
"Iya bi, ibu sama ayah ada di dalam kan"
"eh, ada kok non, silahkan masuk"
"Makasih bi"
Freeya berjalan keruangan tempat keluarganya selalu berkumpul.
Di sana terlihat ibunya yang sibuk mengupaskan buah untuk Jennie dan ayahnya yang terlihat fokus menonton.
"Permisi Tuan nyonya , non Freeya ada di sini"
Mendengar ucapan dari pembantunya mereka langsung menatap ke arah Freeya yang sudah ada didepannya.
__ADS_1
"Apa kabar ayah, ibu Jennie".
"Kamu ngapain lagi ke sini. Nggak jelas apa yang pernah saya bilang dulu".Ucap ibunya
"Freeya ke sini hanya ingin pamit kok. Juga mau bilang kalau Freeya udah resmi bercerai dengan Axel".
"Ohh iya hampir saja saya lupa. Karena tingkah jal*ngmu itu suami saya kembali diturunkan jabatannya" Ucap ibunya
"Maaf yah kalau Freeya kembali buat keputusan yang salah tapi menurut Freeya ini yang terbaik "
"Jelas salah anak SIA*AN, karena tingkah murahan mu itu kami bahkan tidak punya muka lagi di depan orang tua Axel. Apasih yang ada di otak sempit mu itu. Apa Axel tidak cukup untukmu, sampai-sampai kamu harus mencari mangsa baru. Atau bahkan kamu memang terbiasa Gonta ganti pasangan, tapi sifatmu baru terbongkar saat ini. Dasar wanita mura*an, anak tidak tau diri. NYESAL SAYA BESARIN KAMU ".Ucap Ibunya
"Bu sudah".Ucap ayahnya
"Ayah ngebela Ja*ang ini lagi?" Ucap ibunya
"AKU BUKAN JA*ANG BU".Ucap Freeya menutup telinga
"Terus apa namanya , orang yang dengan mudah ditiduri orang lain kalau bukan ja*ang, pelacur "
"AKU BUKAN JA*ANG, SEMUA YANG KALIAN DENGAR ITU SALAH. SAMPAI KAPAN SIH KALIAN MAU RENDAHIN AKU, AKU ANAK KALIAN KALAU KALIAN LUPA. SEJA*ANGNYA AKUPUN AKU TETAP ANAK KALIAN "
"FREEYA jaga omongan Lo, ngapain teriak di depan ayah ibu"
"Kamu juga sama aja Jen, bahkan kamu nggak pernah nanya kakak gimana. Dari tatapan kamu kakak tau kamu bahkan jijik dengan kakak"
"IYA AKU JIJIK PUNYA SAUDARA KAYAK LO. YANG BISANYA KASIH MALU KELUARGA. BAHKAN KETIKA LO DIKASIH SUAMI YANG BAIK, LO JUSTRU SEMAKIN MEMPERLIHATKAN BETAPA MUR*HANNYA LO ITU".
"CUKUP AYAH BILANG CUKUP. JANGAN ADA YANG BICARA LAGI".
Mendengar teriakan ayahnya mereka langsung diam.
"Freeya ayah jelas kecewa melihat pernikahan kamu seperti ini. Bahkan ayah sudah tidak punya muka bertemu dengan atasan ayah atau mantan mertua kamu setelah perbuatan menjijikan kamu itu"
Mendengar suara lirih ayahnya. Freeya mulai menangis bukan karena kekecewaan yang terlontar dari mulut ayahnya tapi karena ayahnya yang tidak mempercayai dirinya dan tidak memberi Freeya kesempatan untuk berbicara.
"Maaf yah". Hanya itu yang bisa Freeya ucapkan.
"Sekarang saya bebasin kamu, pergi kemanapun kamu ingin. Tidak ada halangan lagi untukmu, berbuatlah sesukamu "
Deg
Inilah pengusiran yang nyata bagi Freeya.
"Sudah jelaskan pergi dari rumah ini ,jangan pernah kembali lagi. Seandainya dulu saya tidak menerima kedatanganmu mungkin keluarga kami akan baik-baik saja".Ucap ibunya
"IBU". Teriak ayahnya
"Kenapa emang benarkan, seandainya Ayah nggak bawah dia ke rumah ini. Keluarga kita mungkin tidak sekacau ini"
Deg deg
Apalagi ini Tuhan, tidak cukupkah semua yang telah berlalu.
__ADS_1
"Mak-sud ibu a-pa, Freeya dibawah?"
Setelah ini Freeya harus kembali mendengar satu kenyataan lain. Seperti inilah sakit yang tak biasa. terus menerus menerima kepahitan.