
Kadang sesuatu yang berat itu hanya bisa diungkapkan lewat air mata
Hari ini ibu Hamidah dan Jeno akan berkunjung ke kediaman ibu Masita yang merupakan saudara dari ibu Hamidah seperti janjinya Minggu lalu.
"Nak"
"Iya Bu"
"Katanya Hamidah dan Jeno sudah diperjalanan menuju ke sini"
"Alhamdulillah semoga mereka sampai dengan selamat ya Bu". Ucap Freeya dengan tersenyum tipis.
Setelah kejadian malam itu, dimana ia menerima kenyataan dari ibu Rosma, Freeya berubah menjadi sosok yang sangat pendiam. Tidak akan berbicara apabila tidak ada hal yang penting. Bahkan nafsu makannya memburuk, padahal ada calon anaknya yang harus menerima nutrisi darinya.
Bebannya seakan berkali-kali lipat, ia tidak menyalahkan sesuatu yang telah terjadi di kehidupannya, ia hanya belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri, dengan hidupnya, tetapi kenyataan lain kembali menghantamnya.
"Nak makan dulu, kamu belum sarapan Lo, ini udh jam sepuluh"
"Nanti aja Bu, sekalian nunggu Bu Hamidah, Freeya juga udah makan buah tadi"
"Huffft baiklah, tapi kalau kamu lapar langsung makan ya, ingat kamu tidak sendiri sekarang ada anak yang butuh nutrisi dari kamu"
"Iya Bu"
Ditempat lain
Drttt drrrt
"Hmmm"
"Hallo tuan, saya ada informasi "
"Saya harap itu sesuatu yang penting "
"Ibu Hamidah dan anaknya melakukan perjalanan ke Bandung tuan"
Mendengar laporan dari anak buahnya Kai seketika berdiri dari duduknya
"Apakah mereka akan menemui Freeya?"
"Saya belum tau pasti tuan, tapi saya sempat mendengar katanya ia akan mengunjungi keluarganya di sana"
"Apakah anak buahmu masih mengikutinya?"
"Iya tuan"
"Bagus pastikan kamu memberi informasi secepat mungkin setelah mereka sampai di sana"
"Baik tuan"
Kai kemudian mematikan sambungan teleponnya.
"Aku berharap mereka mengunjungi kamu Free. Aku sungguh ingin melihatmu dan melihat anak kita yang kamu kandung ".Ucap Kai dengan wajah yang senduh, wajah yang beberapa bulan ini selalu ia sembunyikan dengan sifat dinginnya.
****
Mobil berhenti dipelataran kecil ibu Masita.
"Jeno, kamu turunin semua barang untuk Masita sama Freeya ya"
"Iya Bu, ibu duluan aja"
Tok tok tok
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, sebentar"
__ADS_1
Ceklek
"MasyaAllah, kalian udah sampai".Ucap ibu Masita memeluk ibu Hamidah
Mereka berdua asyik bercerita di depan pintu hingga Jeno datang.
"Hmmm, Assalamualaikum Tante"
"eh, Waalaikumsalam Jeno, astaga makin ganteng aja keponakan Tante ini"
"Hehehe, Tante bisa aja"
"Yaudah yok kita masuk, Freeya mungkin udah bangun. Tadi ia sempat ketiduran saat menunggu kalian"
"Gimana kabar Freeya selama di sini?" Tanya ibu Hamidah
"Huffft dia baik, kalian bisa bertanya langsung nanti"
Mereka kemudian masuk dan duduk di ruang tamu.
"Kalian mau simpan barang ke kamar dulu atau langsung ketemu Freeya?"
"hmm, simpan barang aja tenta iyakan Bu?"
"Iya"
"Oh ya Tante ini ada oleh-oleh untuk Tante ".Ucap Jeno
"Aduh repot-repot padahal dari tadi Tante udah nunggu Lo". Ucap ibu Masita cengengesan
Setelah Jeno dan ibunya selesai menyimpan barang, mereka langsung kembali ke ruang tamu.
"Freeyanya mana Tante?"
"Kamu udah nggak sabar ketemu Freeya ya?" Ucap Masita yang bermaksud menggoda Jeno, seketika telinga Jeno langsung berubah warna
Tok tok tok
Tidak ada sahutan. Ibu Masita akhirnya membuka kamar Freeya yang tidak terkunci.
Dan ternyata Freeya masih tidur. Ibu Masita mendekat bermaksud membangunkan Freeya tapi tanpa sengaja ia melihat bekas air mata di wajah Freeya.
Ibu Masita hanya bisa menghela nafas melihat keadaan Freeya sekarang.
"Nak, Freeya".Ucap ibu Masita, yang mengguncang sedikit bahu Freeya
"Hmmm"
"Yuk bangun, Jeno sama ibunya udah sampai"
Seketika Freeya langsung bangun.
"Maaf Bu, Freeya ketiduran bukannya menyambut mereka"
"Nggak papa, ayo mereka sudah tidak sabar bertemu dengan kamu terutama Jeno"
"hmmm"
Ibu Masit dan Freeya kemudian melangkah menuju ruang tamu
"Freeya" Ucap ibu Hamidah yang langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Freeya dan memeluknya
"Kamu gimana kabarnya nak, ibu rindu tau sama kamu"
Freeya juga memeluk ibu Hamidah semakin erat
"Freeya baik Bu, Freeya juga rindu sama ibu". Ucap Freeya dengan air mata yang sudah keluar. Entah kenapa bertemu dengan ibu Hamidah membuat perasaanya campur aduk.
__ADS_1
Mendengar isakan lirih dari Freeya membuat ibu Hamidah melepaskan pelukannya.
"Kamu kenapa,kok nangis gini".Ucap ibu Hamidah dengan menghapus air mata Freeya dengan ibu jarinya.
"Nggak pa-pa hiks Freeya hanya rindu dengan ibu"
"Kan ibu sudah ada di sini jadi berhenti nangis ya, kasihan calon cucu ini kalau kamu menangis gini, nanti dia juga ikut sedih".
Jeno mendekat ke arah ibunya dan Freeya.
"Fre". Panggil Jeno yang dibalas senyum dari Freeya
Jeno kemudian merentangkan tangannya, dan Freeya langsung memeluknya "
"Kamu baik-baik ajakan?" Yang hanya dibalas anggukan oleh Freeya. Ia sudah tidak bisa berbicara karena semakin berbicara air matanya semakin deras keluar.
"Yasudah ayo kita makan dulu, nanti lanjut lagi" Ucap ibu Masita
Mereka kemudian menuju ke meja makan, dengan ibu Hamidah yang terus memegang tangan Freeya.
ia sangat ingin menangis melihat keadaan Freeya sekarang, tapi ia tidak ingin membuat Freeya kembali bersedih. Bagaimana tidak sedih kondisi Freeya sekarang terlihat sangat kurus, dengan muka pucat dan perut yang semakin buncit.
****
Drrrt drttt
"Hallo, Bagai-mana?" Tanya KAI yang tanpa sadar meremas bolpoin yang sedang digenggam, ia sangat berharap jawaban anak buahnya tidak membuatnya kecewa
"Hallo tuan, saya punya kabar baik"
"Cepat katakan"
"Ibu Hamidah dan anaknya ternyata..... memang mengunjungi seseorang ke Bandung dan orangnya adalah yang selalu tuan cari-cari selama ini"
Deg deg
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu Kai datang juga.
"Baiklah perketat pengawasan kamu, saya tidak ingin Freeya kembali menghilang karena kalian tidak becus mengawasinya.
"Baik Tuan"
"Kirimkan saya alamatnya, saya akan segera ke sana"
"Bain tuan "
Kai Kemudian menutup sambungannya, ia keluar dari ruang kerjanya dengan senyum yang sangat lebar, membuat karyawannya bertanya-tanya tentang perubahan sikap seorang Kai.
Di sisi lain, sahabat Freeya juga mendapat informasi. Ia memang sudah tidak mencari Freeya seperti keinginan Freeya, tapi ia memata-matai setiap pergerakan Kai.
"Permisi Bos, orang suruhan anda ingin bertemu" Ucap Asisten Lio
"Suruh dia masuk"
"Ada apa? Apa ada yang mencurigakan dari Kai?"
"Ini tuan, rekaman dari ruang kerja tuan Kai". Anak buah Lio memang pernah menyamar sebagai cleaning servis di kantor Kai hanya untuk memasang kamera pengintai di ruang kerja Kai.
Lio mengambil ponsel itu dan mendengar apa yang Kai ucapakan.
"Jadi Kai sudah mengetahui keberadaan Freeya dan ia sedang menuju ke sana?"
"Ia tuan"
"Lacak posisinya sekarang, saya akan ikut ke sana"
Setelah mengatakan itu Lio bergegas keluar untuk menjemput istrinya dan kembarannya untuk pergi ke sana.
__ADS_1