
Mendengar jawaban Freeya mama Axel langsung memeluk Freya dengan sangat erat bahkan ia meneteskan air mata. Entah apa yang membuat ia dan suaminya sangat menginginkan seorang Freeya yang bahkan di keluarganya sendiri tidak terlalu di anggap.
Mendapat pelukan sehangat itu. Rasanya Freeya ingin sekali menangis. Mengapa bukan ibunya, mengapa tidak ibunya yang memeluknya. Ibunya bahkan keliatan bahagia sekali mendengar jawaban Freeya. Ia hanya melirik Freeya dan tersenyum kepadanya kemudian mencium jidat Jennie yang masih kaget mendengar jawaban kakaknya.
Sakit memang berharap mendapatkan pelukan tapi justru pelukan itu untuk adiknya tapi setidaknya ibunya tersenyum padanya. Kalian lihat kan ibu senyum kepadaku.
Setelah acara pelukan itu usai, Axel berkata ingin berbicara dengan Freeya.
Mereka kemudian melangkah ke taman belakang rumah.
Sesampainya di sana Axel kemudian membalik badannya dan menahan bahu Freeya hingga bersandar di gazebo yang ada di sana.
"Cih, murahan sekali cara mainmu Freeya, sengaja membuatku berharap nyatanya begini cara baru menggaet mangsa ya"
"Maaf,Axel bukannya aku ingkar cuma memang aku nggak punya pilihan lain. Ini permintaan orang tua aku. Sama seperti kamu, aku juga nggak bisa nolak permintaan mereka".
"Ya,jelas Lo nggak akan mungkin bisa nolak. Secara orang tua Lo emang nyarinya harta doang. Kasihan banget loh, di tukar dengan uang yang nggak seberapa bagi gue".
Mendengar kata-kata Axel yang di rasa sudah melampaui batas wajar. Tangan Freeya tanpa sengaja mendarat sempurna di wajah Axel.
Plak
"Kamu boleh ngomong sesuka hati kamu tentang aku, tetapi jangan sekali-kali kamu jatuhkan harga diri orang tua aku. Sekuat tenaga Freeya berusaha untuk tidak menjatuhkan air matanya.
Mendengar perkataan yang sama dengan Minggu lalu dari Axel membuat ketakutan dalam diri Freeya perlahan muncul. Apakah memang orang tuanya menjodohkan hanya karena di iming-imingi uang. Atau dengan kata lain ia ditukar dengan bisnis atau mungkin saja jabatan ayahnya.
Mendapat tamparan dari Freeya semakin membuat amarah Axel meningkat. Tanpa belas kasih ia mencengkram dagu Freeya.
"Berani sekali Lo nampar gue, punya hak apa lo dasar gadis murahan tidak tau diri". Melihat tatapan mata Freeya yang berkaca-kaca tapi tidak menangis membuatnya semakin mencengkram dagu Freeya.
"Ingat Freeya ini baru permulaan, Lo sendiri yang menerima takdir ini. Jadi gue ucapin selamat datang di dunia yang tidak seharusnya Lo rasa, selamat menikmati hari-hari kedepannya".
Setelah mengatakan itu Axel kembali ke rumah, meninggalkan Freeya yang masih terpaku dan mencerna apa yang terjadi. "Apakah aku salah memilih. Terus seperti apa pilihan yang tidak membuatku di salahkan".
Air mata yang sedari tadi di tahan akhirnya luruh. Menangis dalam diam hanya bahu yang bergerak rasanya berkali-kali lipat sakitnya. Namun, meraung pun tidak akan mungkin memberikan jalan sesuai keinginannya bukan.
Setelah memperbaiki perasaannya Freeya kemudian masuk ke rumah. Dan ternyata keluarga Axel sudah menyiapkan kejutan lain. Malam ini Axel dan Freeya resmi bertukar cincin dan resmi lamaran. Jari manis itu telah menemui pemiliknya tapi rasanya menyakitkan. Tanggal pernikahan mereka pun ternyata telah ditentukan oleh orang tua mereka. Tepatnya 2 Minggu setelah lamaran malam ini.
Freeya hanya bergumam iya, tidak ada lagi alasan untuk sekedar bertanya. Semua telah diatur tanpa melibatkannya.
***
Pagi ini mendung menghiasi wajah Freeya, berharap kejadian tadi malam hanya mimpi nyatanya itu sebuah kenyataan.
__ADS_1
Hufff
"Drrt,drttt"
"Hallo Fre,kok tumben kamu nelpon biasanya aku yang nelpon duluan"
"Heheheh aku lagi suntuk nih, keluar yu"
"Ha, ada angin apa kamu ngajakin keluar biasanya dipaksa kamu baru mau keluar"
"Ya ,karena hari ini aku bosan makanya, inisiatif ajakin kamu"
"Kamu nggak papa kan Fre, kamu aneh de"
"Aman, aku nggak papa cuma emang ada yang mau aku omongin. Kalau Lio nggak sibuk ajakin juga ya"
"Oke"
Disinilah Freeya sekarang, di cafe tempat mereka kerap kali ngumpul.
" Fre, sorry ya lama, Lio ni cari ayangnya dulu"
" Orang jomblo diam aja, duduk sini yang". Jawab Lio sembari menarik kursi untuk Sindi pacarnya.
"Iyanih Sin, gara-gara pacar kamu nempel muluk nggak ada waktu untuk kita bertiga".
Sedangkan orang yang di singgung anteng dengan gaya coolnya.
"Kalian pesan sana". Perintah Freeya . Setelah pesanan datang dan waktu berbincang dan bercanda cukup lama. Freeya akhirnya memutuskan untuk jujur.
"Guys, sebenarnya aku ngumpulin kalian di sini karena mau ngomong sesuka".
Mereka diam tidak biasanya seorang Freeya seserius ini kecuali perkara keluarganya batin mereka. Ya, mereka memang tau bagaimana Freeya dalam keluarga itu.
"Masalah keluarga lagi Fre?" Tanya Adel
" Bisa jadi,tapi ini lebih dari itu?"
Mereka terdiam apalagi melihat Freeya yang menarik nafas seakan masalahnya memang sangat berat.
"Jadi sebenarnya dua Minggu lagi aku akan menikah".
Krik krik krik. Diam beberapa saat dan tiba-tiba suara gelak tawa yang cukup keras bersahutan bersama dari mulut ketiga teman laknatnya itu.
__ADS_1
Melihat Freeya yang masih saja serius membuat mereka perlahan diam.
" Fre jangan bercanda dong, masa mau nikah wong aku sama Sindi yang udah lengket gini belum nikah gimana kamu yang dari sononya udah jomblo".
"Mendengar ucapan Lio, membuat mata Freya semakin tajam". Lio meneguk ludahnya. Nggak mungkin kan dia nikah. Tanya Lio dalam hati
Sedangkan Adel dan Sindi masih saja diam memperhatikan raut wajah Freeya dan akhirnya mereka sadar tidak ada kata bercanda yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa bisa,kamu hamil?".
Mendengar ucapan frontal Adel membuat Lio seketika menjitak kepalanya".
"Kalau ngomong yang benar Adel, jaga ucapan kamu".
"Maaf"
"Aku dijodohin "
"Hah, lagi -lagi mereka dibuat kaget dengan pernyataan Freeya "
Mendengar hal itu Adel berfikir mungkin saja Freeya dipaksa. Tidak mungkin seorang Freeya yang menggebu-gebu tidak ingin menikah muda karena ingin berkarir menerima perjodohan itu begitu saja.
"Kamu dipaksa?" Tanya Adel.
"Nggak mungkinkan Del aku nolak. Aku nggak pernah diberi pilihan untuk nolak".
"Terus kamu mau jalanin hubungan yang bahkan arahnya nggak kamu tau. Fre gini ya aku tau kamu ingin dianggap berguna dimata mereka, tapi Fre yang jalani ini kamu bukan mereka, yang sakit nantinya kamu bukan mereka. Nggak papa kok egois untuk diri kita sendiri sekali-kali. Kamu nggak perlu nyari perhatian mereka Fre untuk bisa dianggap".
"Kamu nggak tau gimana jadi aku Del"
"Ya,karena aku nggak tau jadi kamu, makanya aku ingin kamu jangan jadi kamu yang sekarang ini Fre, berhenti nyari sesuatu apa yang mereka selalu mau dari kamu, kamu terlalu haus untuk mendapat perhatian dari mereka. Ayolah kejar kebahagiaan kamu yang lain"
"Adel cukup". Bentak Lio. Merasa Adel sudah sangat keterlaluan.
" Gampang banget kamu ngomong gitu sama aku Del, dengan kamu ngomong gitu aku semakin yakin kalau aku ini memang semenyedihkan itu. Ya, kamu benar aku bahkan meminta belas kasih dari orang tuaki sendiri karena terlalu haus perhatian. "
Mata itu senduh, kosong dan dialiri air mata.
Bukannya merasa tenang membagi bebannya, ia merasa kembali dihakimi oleh sahabatnya. Adel tidak salah ia hanya khawatir tapi hati Freeya menolak rasa khawatir itu .
"Karena yang mau aku omongin udah kalian dengar, aku pamit duluan ya. Kalau kalian berkenan untuk datang dipernikahan aku. Aku akan sangat senang".
Setelah kepergian Freeya, Adel menangis merasa bersalah. Bukannya menenangkan sahabatnya ia justru menambah beban untuk Freeya. Ingin mengejar Lio menahannya agar Freeya bisa menenangkan diri.
__ADS_1