Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Ternyata aku masih yang kedua


__ADS_3

Sesampainya di depan rumah. Freeya berusaha membawa Axel keruang tamu. Biarkan malam ini Axel tidur di sofa , Freeya tidak kuat bila harus menggotong sampai ke atas.


Setelah Axel berada di sofa dengan nyaman, Freeya kemudian melepas sepatu dan dasi Axel. Setelah selesai Freeya hanya diam memandangi Axel. Entah kenapa semakin lama ia pandangi, ia seakan sulit bernafas. Ada rasa sakit yang tidak tahu muncul dari mana.


"Kamu hari ini kenapa sih mas".


"Bahkan kamu semakin membuat namaku hancur di depan ibu karena kamu nggak datangnya".


"Kirain kamu kerja mas, saking sibuknya sampai nggak bisa di ganggu, ternyata kamu asyik sama dunia kamu sendiri"


"Kamu tahu nggak mas, di dalam sini nama kamu perlahan tumbuh, jadi tolong jangan kecewain aku. Kamu yang sekarang jadi suami aku. Dan berharap kamu bisa perhatian ke aku. Bukan hanya perhatian seperti ABG yang lagi pacaran mas. Aku sebenarnya nggak butuh itu semua".


Setelah puas mengeluarkan isi hatinya,ia mengelus lembut wajah Axel, kemudian beranjak mengambil selimut ke kamar agar Axel tidak kedinginan.


Namun, belum melangkah tangannya sudah di cekal Axel.


Sepertinya ia mengigau


"Semuanya kacau". Ucap Axel dengan suara kecil


"Kacau hahaha kacau". Ucap Axel lagi


"Mas Axel kayaknya lagi ada masalah kerjaan, tapi kata ayah kan kerjaan kayak biasanya".


"Dasar murahan".


Deg


"Mas, mas bangun kamu ngigau ya". Freeya mencoba membangunkan Axel.


Perlahan mata Axel terbuka dan menatap Freeya dengan bingung.


"Kok kamu mirip dia"


"Mas ngomongin apasih, makanya kalau nggak bisa minum itu jangan minum mas".


"Tuh kan mirip,apa memang semua gadis murahan itu mukanya mirip-mirip ya".Racau Axel membuat Freeya semakin bingung.


"Suaranya bahkan sama. Sama-sama menjijikkan".


Deg


" Sudahlah kepalamu ada dua". Setelah mengatakan itu Axel kembali tertidur menyisakan tanya dibenak Freeya.


***


Pagi-pagi sekali Freeya sudah bangun menyiapkan sarapan minuman herbal untuk Axel agar kepalanya tidak terlalu pusing.


Hampir jam 7 pagi Axel akhirnya bangun.


"Mas udah bangun, ini minum dulu supaya nggak terlalu pusing kepalanya".


Axel menatap Freeya dengan tangan yang memijat kepalanya. Bukannya tadi malam gue di club' sama si Brayen. Tanya Axel dalam hati


"Mas minum dulu"


Axel pun meminumnya dan lumayan kepalanya mulai terasa ringan.


"Mas mandi dulu ya, baru kita sarapan. Inikan hari Minggu jadi mas nggak kerja"

__ADS_1


",Hmmmm"


Setelah menunggu hampir setengah jam, Axel akhirnya keruang makan


"Silahkan mas,maaf hanya nasi goreng. Soalnya aku belum isi kulkas"


"Hmm"


Mungkin mas Axel masih mabuk kali makanya nggak mood. Ucap Freeya dalam hatinya.


Setelah selesai, Axel ingin kembali istirahat tapi dicegah istrinya.


"Mas , boleh bicara sebentar nggak?"


"Mau ngomong apa, mas mau lanjut tidur"


"Di ruang tamu aja supaya lebih enak, tapi aku beresin ini dulu ya. Mas duluan aja. Nanti aku bawain kopi sekalian"


"Hmmm"


Setelah selesai cuci piring, Freeya kemudian membuat kopi dan segera menuju ke Axel


"Ini mas kopinya "


"HM, mau ngomong apa ". Tanya Axel dengan mata yang tak lepas dari hp nya.


"Tadi malam mas kemana kok nggak hadir di ulang tahun Jennie. Semuanya nyariin mas tadi malam"


"Hmm, maaf mas lagi sibuk ngurus proyek, jadi nggak sempat hadir. Kan udah ada kamu di sana yang wakilin"


"Tapi kata ayah, kerjaan mas nggak sibuk-sibuk amat"


"Kamu ngomong yang nggak-nggak ya sama orang tua aku?"


"Nggak kok mas kebetulan aja mereka nanyain, kok kita nggak datang bareng. Ya aku jawab kamu lagi sibuk".


"Kamu kan bisa ngasih alasan lain. Bilang kek aku lagi nggak enak badan, atau lagi keluar sama teman aku".


Nih orang maunya apa sih. Apa emang lagi ada masalah ya.Omel Freeya dalam hati


"Yaudah,ia aku salah mas".


Cukup lama terdiam, Freeya terus saja memperhatikan tingkah Axel yang tidak pernah lepas dari hpnya dan kadang tersenyum.


"Mas lagi chatan sama siapa sih? Dari tadi aku di sini tapi sibuk sama hp aja".


"Hmm, ini teman nanyain aku dimana. Dia ngajakin keluar".


"Mas masa mau keluar lagi. Kita bahkan nggak pernah keluar bareng. Kerumah mama yu mas. Jalan sama temannya kapan-kapan aja".


"Aku udah bilang sama mereka mau nyusul. Kapan-kapan aja kita ke rumah mama".


"Mas lagi nggak nyembunyiin sesuatu dari aku kan atau jangan-jangan kesibukan yang mas maksud tiap hari itu cuma ketemuan sama teman mas yang gak jelas itu".


Brak


Axel membanting hpnya ke lantai.


"Maksud kamu apaan, kamu mulai curiga sama aku?"

__ADS_1


"Nggak gitu,tapi mas yang buat aku berasumsi kayak gini. Mas selalu aja pergi padahal kita harusnya punya waktu berdua".


Prok prok prok


"Udah berani banget ya kamu sama aku, apa karena kebaikan aku beberapa bulan ini buat kamu udah mulai ngelunjak".


"Apasih mas, bahasnya sampai jauh ke sana".


"Ya terus aku harus bahas apa. Kamu kan yang mancing aku. Seolah-olah aku diluar sana emang nggak ada kerjaan. Kamu kira uang yang aku kirimin ke ibu kamu itu, bukan hasil kesibukan aku".


"Kok mas bahas itu lagi sih, atau nggak ikhlas. Kalau nggak ikhlas bilang nanti aku ganti".


"Ckckck masih nggak tau malu banget kamu ya, punya apa kamu emang. Kalau sekarang aku bilang ganti, punya uang kamu".


Mendengar hal itu Freeya terdiam


"Nggak bisakan. Makanya jadi orang jangan sok iya. Udah untung aku mulai peduli sama kamu, tapi semakin ke sini kamu semakin ngelunjak".


Setelah mengatakan itu Axel mengambil hpnya yang sempat ia banting tadi dan berjalan ke arah kamar tapi belum sampai Freeya kembali bertanya dan kembali menyulut emosi Axel.


"Mas bagaimana dengan Kristal ". Seketika Axel menoleh ke arah Freeya


"Maksud kamu?"


"Mas udah mutusin dia kan?"


Lama terdiam membuat Freeya kembali bertanya.


"Mas udah mutusin dia kan?"


"Belum sempat".


Mendengar jawaban santai dari Axel seketika juga menyulut emosi Freeya.


"Kenapa belum, masih nggak rela kamu lepasin pelacur itu".


Axel kemudian kembali kedepan Freeya dan mencengkeram dagu Freeya


"Maksud Lo apaan nyebut dia ******, hmm. Mau lanjutin drama lagi"


"Ya kalau bukan ****** apa namanya, pelacur sama ajakan. Sama-sama suka godain suami orang".


Plak Plak


Tidak hanya sekali tapi tamparan keras dari Axel tepat mendarat di wajah mulus Freeya bahkan meninggalkan jejak merah


"Wow ****** kecil ini semakin berani rupanya"


Seringai Axel sangat menakutkan bagi Freeya, tapi untuk memperlihatkan kelemahannya sekarang, justru akan semakin membuat Axel puas.


Tidak hanya tamparan, kini rambut Freeya ditarik kebelakang oleh Axel.


"Mau bermain-main ****** kecil. Mau tahu sesuatu yang luar biasa? Hmm"


"Lepasin aku Xel"


"Ohh tidak semudah itu, mana keberanian yang muncul dari mulut lacurmu itu? Berani sekali kau mengatai kekasihku".


Mendengar hal itu Freeya justru tertawa, tapi siapa yang bisa menebak bagaimana perasaannya sekarang.

__ADS_1


"Xel, apa kamu juga ingin tau sesuatu yang luar biasa suamiku?"


__ADS_2