Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Kai menemukan Freeya


__ADS_3

Aku hanya butuh berdamai dengan keadaan


Tapi kenapa tidak ada kesempatan untuk itu


"Jadi kita betul akan bertemu dengan Freeya kan?" Tanya Adel antusias.


"Iya semoga saja"


Lio dan Adel telah menuju ke Bandung sesuai arahan bawahannya, sedangkan Sindi tidak jadi ikut karena saat ini ia sedang hamil muda.


"Kenapa kamu bisa tau kalau Freeya di sana, bukannya kamu udah menghentikan pencarian?" Tanya Adel


"hmm, aku emang menghentikan pencarian tapi aku masih mengawasi Kai. Aku tidak ingin ia nekat mencari Freeya sedangkan Freeya sendiri masih sibuk menata hatinya."


"Berarti kamu dapat informasi dari anak buahmu yang memata-matai KAI?"


"hmmm"


"Jadi sekarang Kai juga sedang menuju ke sana?"


"Hmmm"


"Huffft semoga saja, tidak terjadi sesuatu kepada Freeya sebelum kita sampai di sana" Ucap Adel


...****************...


Saat ini Jeno , Freeya dan ibu Hamidah sedang


"Jadi bagaimana dengan kandungan kamu nak, dia sehatkan?"Tanya ibu Hamidah


"Iya Bu, kandungan Freeya baik kok"


"Kamu udah pernah ke dokter kandungan untuk periksa kan?"


Freeya hanya menggeleng


"Lo, kenapa nggak periksa?"Tanya Jeno


"Freeya merasa kandungan Freeya baik-baik aja kok jadi nggak perlu sampai ke dokter "


"Jadi kamu belum tau jenis kelamin anak kamu?"


"Belum Bu , lagian Freeya juga nggak masalah mau itu perempuan atau laki-laki, bagi Freeya semua sama aja"


"Tapi nak, ada baiknya kamu harus periksa kandungan kamu ini. Kamu mau ibu temani mumpung ibu masih di sini?"


"nggak bu, nanti kalau bulan depan Freeya usahakan ke dokter kandungan "

__ADS_1


"Baiklah"


"Oh ya, kabar bapak gimana kok nggak di ajak ke sini?"


"Bapak sehat, dia titip salam sama kamu. Sebenarnya bapak juga ingin ikut tapikan nggak ada yang jaga tokoh "


"Iya juga sih Bu. Freeya juga titip salam sama bapak ya Bu"


"Iya nak"


"Oh ya, ibu sama Jeno masih lama kan di sini?"


Ibu Hamida tersenyum dan mengelus rambut Freeya.


"Ibu sama Jeno rencana akan pulang dua hari lagi"


"Kok cepat banget sih".Ucap Freeya yang kembali berkaca-kaca. Entah kenapa keberadaan Jeno dan ibu Hamidah membuatnya merasa lebih tenang


"Kan bapak juga di sana sendiri nak, nanti siapa yang masakin kalau ibu nggak pulang"


Saat ini Freeya dan ibu Hamidah sedang berada di kamar Freeya. Freeya beralasan ingin tidur memeluk ibu Hamidah karena itu permintaan anaknya.


"Nak, ada apa ingin bercerita?" Ucap ibu Hamidah yang mengelus perut Freeya.


"Ibu tau dari mata kamu, sekarang kamu sedang gelisah. Kamu tau ibu akan sangat bahagia bila kamu mau berbagi kesedihan dengan ibu. Kamu udah ibu anggap anak sendiri. Jadi kalau ada sesuatu jangan sungkan dengan ibu".


"Ada apa nak? Ada yang menggangumu di sini?"


Dibalas gelengan oleh Freeya


"Terus?"


"Hiks hiks Freeya nggak pa-pa Bu"


"Baiklah sekarang menangis dipelukan ibu. Agar hati kamu lega"


Setelah cukup lama menangis, Freeya kembali membuka suara


"Bu, kalau ada seseorang yang tiba-tiba mengaku keluarga, tapi dia datang terlambat ibu akan Bagai-mana?" Tanya Freeya


"Ibu akan bersyukur, walaupun terlambat tapi setidaknya ibu tau, masih ada seseorang yang satu darah dengan ibu"


"Kalau kita sudah tidak membutuhkannya lagi bagaimana Bu?" Tanya Freeya lagi


"Tidak, kita pasti akan membutuhkannya suatu saat nanti. Keluarga adalah tempat kita kembali saat kita merasa dunia tidak adil. Keluarga adalah senjata yang akan maju menyerang pertama kali saat kita dijatuhkan orang lain. Jadi apa kamu menemukan keluargamu, apa ini yang membuatmu gelisah seperti ini?" Tanya ibu Hamidah yang dibalas anggukan oleh Freeya


"Ada seseorang yang datang mengaku sebagai nenek kandung Freeya, tapi Freeya tidak senang sama sekali Bu. Freeya justru merasa sakit berkali-kali lipat saat mengetahui hal itu. Freeya bahkan tiap malam berdoa agar Freeya bangun keesokan harinya itu semua hanya mimpi ".

__ADS_1


Ibu Hamidah hanya bisa memeluk erat Freeya, ia tidak tau apa yang terjadi karena Masita tidak pernah bercerita sebelumnya.


"Bukankah kamu dulu sangat ingin memiliki keluarga, kenapa sekarang saat dia datang kamu justru seperti ini nak"


"Hiks hiks Freeya udah nyaman dengan sendiri seperti ini. Freeya tidak bisa menampik, ada rasa benci saat ia tidak mencari Freeya sedari dulu. Hiks dia tidak tau bagaimana kehidupan Freeya sebelum ini. Dia tidak tau saat Freeya harus dipermalukan di depan umum, dia tidak tau saat orang yang Freeya anggap keluarga justru memperlakukan Freeya seperti sampah tidak berguna. Hiks hiks Freeya masih merasa sakit saat mengingat semua itu. Freeya benci kenyataan bahwa masih ada satu keluarga yang Freeya punya, tapi ia justru membiarkan Freeya hidup terombang-ambing selama ini. Freeya benci itu Bu hiks hiks. "


"Nak, ibu tau semua luka dan trauma yang kamu alami tidak semudah itu untuk hilang. Sangat sulit berdamai dengan diri sendiri. Tapi, coba liat dari sisi lain. Ini bukan kebetulan, ini takdir. Kamu tidak pernah mengira akan bertemu keluarga mu di sini setelah di usir dari tempat ibu kan. Ada banyak kesalahan yang setiap orang lakukan di masa lalu. Nenekmu bersalah karena tidak mencarimu dari awal, tapi kita tidak tau, mungkin saja dia juga memiliki luka dan penyesalan sebelum ini.


Kalau ibu bisa memberi saran. Bicaralah dari hati ke hati dengannya. Tanyakan semua padanya. Jangan sampai ada penyesalan nantinya saat kalian hanya membiarkan seperti ini saja.


"Tapi Freeya belum siap dengan kenyataan Bu"


"Hadapi, kamu kuat ibu tau itu".


"Huffft Freeya usahakan. Makasih Bu, Freeya merasa lega hari ini "


"Sama-sama nak, ingat apapun yang terjadi nantinya akan ada ibu, ibu Masita Jeno yang akan selalu ada untuk kamu"


...****************...


"Sekitar 500 meter dari sini Bos hanya rumah itu yang memiliki pagar warna biru".


"Baiklah, saya akan ke sana sendiri. Kalian tunggu saja di sini"


"Baik bos"


Akhirnya Kai melihat rumah tempat Freeya tinggal, bukan hanya rumah,tapi Kai bisa melihat Freeya dan Jeno yang bercengkrama di beranda rumah.


Tatapan Kai menuju ke perut Freeya.


Meski jaraknya masih lumayan jauh tapi Kai bisa melihat perut yang berisi anaknya itu .


Deg


Air mata Kai luruh begitu saja. Ia mencengkram kuat setir mobilnya sebagai pelampiasan emosinya.


"Hiks ayah datang nak".Ucap Kai lirih


Ia memegang kaca mobilnya seperti sedang mengelus perut Freeya.


"Sebentar lagi kita akan ketemu, tolong kuatkan ayah nak, ayah ingin meminta maaf dengan ibumu, tetapi sepertinya ayah kembali kalah dengan ketakutan ".


Setelah lumayan lama menenangkan hatinya. Kai kemudian turun dari mobilnya dan berjalan ke arah rumah ibu Masita. Saat itu Jeno dan Freeya sudah berdiri hendak masuk kedalam rumah.


"FREEYA " Panggil Kai


BRAK

__ADS_1


__ADS_2