Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Mengadu kepada orang tua


__ADS_3

...Ibu, bila memang pelukanmu sehangat matahari pagi. Maka satu kali saja izinkan aku merasakannya....


...Ayah, cinta pertamaku sampai saat ini masih bertahtakan namamu, jadi tolong rengkuhlah cinta ini baik-baik sebelum ia semakin remuk...


Freeya telah sampai dirumah orang tuanya. Sebelum ia masuk ke dalam, ia menatap rumah itu. Rumah yang menjadi tempatnya tumbuh, rumah yang didalamnya membuatnya bahagia ketika belum beranjak dewasa.


Tok tok tok


Pintu terbuka namun bukan ibunya yang membuka.


"Maaf siapa ya?"


"Saya Freeya Bu, anak pertama pemilik rumah ini. Ibu siapa?"


"Ehhh saya pembantu baru di rumah ini nona, maaf sebelumnya saya tidak tau kalau non Jennie punya kakak"


"Nggak papa bi"


"Silahkan masuk non"


"Ibu ,ayah sama Jennie dimana bi?"


"Bapak masih di kantor mungkin non, kalau non Jennie emang jam segini belum di rumah mungkin masih di kampus, kalau ibu tadi katanya ke arisan. Mungkin sebentar lagi sampai".


"Mau minum apa Non?"


" Nggak usah bi, saya mau ke kamar saya aja".


Sesampainya di kamar, ia melihat kamarnya yang mulai berdebu, kentara sekali tidak pernah dibersihkan setelah ia tinggal di rumah Axel. Freeya kemudian membersihkan kamarnya sembari menunggu orang tuanya. Setelah bersih ia merebahkan diri di kasur dan hanya menatap dinding kamarnya berharap semua yang terjadi sebelumnya hanyalah mimpi. Freeya kemudian tertidur ia baru bangun ketika mendengar suara ketukan dari luar kamarnya.


Tok tok tok


"Non ibu sudah datang, katanya di suruh kebawah"


"Hmm iya ni, sebentar Freeya kebawah".


Freeya kemudian menuju ke kamar untuk sekedar mencuci wajahnya sebelum bertemu orang tuanya.


"Ternyata udah jam 5 sore lama juga ya aku tidur". Ucap Freeya


Setelah sampai di bawah, ternyata ayahnya juga sudah pulang bekerja, begitupun dengan Jennie yang sekarang asik tertawa bersama ayah.


"Sini duduk Fre". Panggil ayahnya


"Kamu ngapain ke sini, nggak dicariin suami kamu?"


"Mas Axel lagi sibuk Bu"


"Itu tau suami mu sibuk, bukannya nungguin di rumah, ini justru keluyuran diluar".

__ADS_1


"Mas Axel nggak pulang kok Bu, makanya aku ke sini"


"Ayah ,ibu Jennie ke kamar ya mau istirahat"


"Iya sayang, nanti ibu panggil kalau udah mau makan". Balas ibunya


"Ayah, ibu sebenarnya Freeya ke sini mau ngomongin hal yang penting".


"Ngomong hal penting apa nak?" Tanya ayahnya, ibunya hanya diam menyimak.


"Freeya... Freeya ingin berpisah dengan mas Axel". Ucap Freeya menunduk sambil meremas tangannya


Brak


Ibu Freeya membuang majalah yang tadi sempat ia pegang.


"Apa -apaan kamu ngomong gitu"


"Freeya udah putusin Bu , mau cerai dengan mas Axel".


"Tidak. Tidak ada perceraian. Ingat Freeya kamu harusnya bersyukur punya suami kayak Axel, udah kaya, pintar ganteng baik sama ibu. Pokoknya ibu nggak mau tau pulang dari sini kamu harus perbaiki hubungan kamu dengan Axel. Tidak akan ada perceraian. Camkan itu".


"Tapi Bu, Freeya udah nggak cocok sama mas Axel. Dari awal harusnya pernikahan ini emang nggak terjadi". Balas Freeya


Plak


" Kamu kira pernikahan itu mainan Freeya?"


"Karena Freeya nggak mau pernikahan ini hanya jadi permainan, jadi Freeya mutusin untuk berhenti Bu"


"Kenapa?" Tanya ayahnya yang dari tadi diam


" Mas Axel nggak cinta sama Freeya"


"Cih, cinta. Mau apa kamu kalau cuma mau hidup dengan cinta. Dengar baik-baik ya, sekarang ini orang hidup itu hanya satu punya uang. Bodoh amat dengan siapa dia menikah. Beruntung kamu ibu tidak nikahkan dengan orang yang lebih tua Freeya".


Freeya hanya diam mendengar ucapan sang ibu, ia sudah menduga hal ini akan terjadi.


"Freeya akan tetap bercerai tanpa persetujuan dari ibu maupun ayah". Putus Freeya


"Kalau kamu emang mau cerai silahkan. Tapi ingat jangan pernah menginjakan kakimu lagi kesini setelah surat cerai kalian keluar. Karena detik itu juga kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini".


Hati Freeya kembali diremas. Hanya karena Axel ibunya bahkan ingin membuangnya.


"Ibu sudah, biar ayah yang bicara".


"Urus anak kesayangan ayah itu yang tidak tau diri. Tidak pernah memberikan keuntungan sekarang mau bikin masalah lagi".


Seketika air mata Freeya luruh, bukan karena masalahnya sekarang tapi karena ibunya sendiri. Segitu tidak bergunanya kah Freeya sampai-sampai kata seperti itu keluar dengan lancarnya dari mulut seorang ibu.

__ADS_1


"Kamu dan Axel lagi ada masalah?" Tanya ayah Freeya yang hanya diangguki Freeya


"Masalahnya apa, coba cerita supaya ayah bisa cari jalan keluarnya tanpa harus berpisah".


"Hiks hiks, Axel dia... hiks dia udah punya pacar".


Ayahnya terdiam mendengar perkataan Freeya. Dia memang mengetahui bahwa sebelum menikah Axel memiliki pacar, tapi ia kira setelah menikah dengan anaknya, maka Axel dan pacarnya juga mengakhiri hubungan.


"Kamu tau darimana?"


"Mas Axel yang bilang hiks hiks bahkan ia bawah cewek itu kerumah".


Ayah Freeya menghela nafas, ternyata bukan cuma Perkara Axel yang tidak membalas perasaannya tetapi karena masih ada orang ketiga didalamnya.


"Freeya, kamu hanya perlu ambil hati Axel. Apalagi kalian hanya tinggal berdua. Kamu sebagai istri harusnya lebih menarik perhatian Axel, agar ia bisa berpisah dengan pacarnya. Tidak perlu sampai berpisah". Ucap ayahnya


" Hiks hiks, Freeya kira setelah menjelaskan ke ayah, ayah bisa beri dukungan ke Freeya tapi semuanya sama saja".


"Freeya kamu jangan egois. Ingat posisi jabatan ayah kalau kamu harus berpisah dengan Axel. Ingat masih ada Adek kamu yang harus ayah kuliahkan. Bagaimana bisa hanya masalah seperti ini membuat kamu dengan cepat ingin berpisah".


"Hahahaha egois. Kata ayah aku egois. Lantas kalau Freeya yang egois terus kalian apa namanya. Hiks hiks bahkan Freeya udah ikutin semua keinginan kalian, tapi sekarang yang egois kembali Freeya ".


Ayahnya kembali terdiam, kini kembali ibunya yang angkat bicara.


"Heh Freeya, kamu mau mempermalukan keluarga ini sejauh mana, bilang sama ibu?"


"Apa kata teman-teman ibu ,kalau anaknya menikah bahkan belum sampai satu tahun. Apa nanti kamu mertua kamu terhadap keluarga ini". Kalau mau ngambil keputusan itu yang benar dikit Freeya. Pokoknya ibu nggak mau tau selesaikan semua ini segera mungkin. Kalau memang Axel belum berpisah dengan kekasihnya, itu kesalahan kamu yang tidak bisa memberi perhatian sama suami kamu".


"Nggak Freeya nggak mau. Pokoknya Freeya tetap akan bercerai".


Ibunya mendekat ke arah Freeya dan mencengkeram wajah Freeya.


"Dasar anak tidak tau di untung, jika sampai kamu benar bercerai dengannya, maka ucapkan juga selamat tinggal terhadap keluarga kamu ini".


"Hiks hiks sakit Bu. Disini anak ibu aku atau Axel. Kenapa selalu Axel yang benar dimata ibu, kenapa ibu nggak lihat bagaimana perasaan aku sebagai istri yang diselingkuhi bahkan di depan mata ". Ucap Freeya


" Ohhh, Freeya sadar. Pada akhirnya semua kata-kata mas Axel emang benar". Sebelum melanjutkan kata-katanya ia menatap tajam ibunya dan tersenyum mengejek.


" Ibu takutkan harta Axel nggak bisa kalian nikmati kalau kamu bercerai. Seperti itu alasan yang sebenarnya kan Bu"


"FREEYA ". Ucap ayahnya dengan suara menggelegar bahkan Jennie yang sedari tadi berdiam diri di dalam kamar, seketika keluar menyaksikan apa yang terjadi .


"Kenapa yah, Freeya benarkan. KALIAN ORANG TUA YANG GILA HARTA ,BAHKAN MENUKAR KEBAHAGIAAN ANAK KALIAN SENDIRI DEMI UANG". Sembur Freeya


Plak plak


Entah bagaimana bentuk wajah Freeya sekarang. Yang sedari tadi selalu kena tampar.


" Ayah tidak pernah mengajarkan kamu berkata seperti itu kepada orang tua kamu Freeya. Bukannya kamu menjadi lebih baik, sekarang bahkan kamu pun tidak memiliki tata Krama. Percuma saja ayah menyekolahkanmu. Berpisahlah jika memang ingin berpisah, tidak usah mengkhawatirkan orang tua yang gila harta ini Freeya. Setelah mengucapkan itu ayahnya pergi meninggalkan istri dan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2