
Maaf,
Aku memilih menutup pintu
Seandainya keyakinan itu masih ada barang secuil
Pasti dengan sukarela aku membukanya
"Hei anak bunda lagi ngapain". Ucap Freeya sembari mengelus perut buncitnya.
"Sehat terus ya di dalam perut bunda, bunda sayang sama kamu nak. Semoga nanti saat kamu merasa berbeda dengan anak yang lain, kamu bisa memaklumi kehidupan bunda". Ucap Freeya lagi
tok tok tok
"Nak udah tidur belum?" Tanya ibu Masita
"Belum Bu, masuk aja"
Ibu Masita kemudian masuk ke kamar Freeya.
"Kenapa belum tidur nak ini udah jam 10 malam loh"
"hehehe belum ngantuk Bu, ibu ada perlu sesuatu?"
"Nggak. Ibu cuma mau nyampein Minggu depan Jeno dan ibunya katanya mau ke sini"
"Wah Serius Bu?" Tanya Freeya antusias yang diangguki ibu Masita
"Akhirnya Freeya bisa ketemu ibu Hamidah juga, Freeya udah kangen banget"
"Kalau Jeno kamu kangen nggak sama dia?" Ucap Ibu Masita menggoda Freeya.
"Ya kangen juga, kan dia teman Freeya. Ibu ngapain sih liat aku kayak gitu".
"Kirain ibu, dia bukan hanya sekedar teman ".Ucap ibu Masita tersenyum
"Ih ibu apaan sih. Orang Jeno cuma teman nggak lebih"
Sebenarnya dalam hati Freeya sangat senang akan bertemu dengan ibu Hamidah, tetapi dia juga merasa belum siap bertemu dengan Jeno setelah mengetahui perasaan Jeno terhadapnya.
"Ya nggak papa sekarang cuma teman, kan teman juga bisa jadi pasangan kan". Ucap ibu Masita
Seketika raut wajah Freeya berubah menjadi senduh dan itu tidak luput dari penglihatan ibu Masita.
Ibu Masita kemudian duduk ke kasur Freeya dan mengelus rambut Freeya
"Nak ibu salah bicara ya?"
"Ehh nggak kok Bu".
__ADS_1
"Terus kenapa murung lagi?"
"Freeya cuma merasa mungkin selamanya Freeya nggak akan punya hubungan serius lagi sama lawan jenis Freeya. Freeya sudah cukup bahagia dengan kehadiran ibu dan calon anak Freeya"
"Nak ibu tau kamu terlalu takut untuk dikecewakan lagi. Tapi ibu yakin di luar sana pasti ada sosok yang akan menerima kamu apa adanya. Akan menjadi obat dari setiap lukamu. Jadi jangan lagi merasa sendiri ya nak"
"Iya Bu"
"Sekarang kamu istirahat ya, besok kan kamu harus kerja "
"Iya Bu"
Mengenai pekerjaan, sekarang Freeya tidak memetik daun teh lagi seperti ibunya, ia sekarang bekerja hanya mengabsen buruh yang bekerja.
Dan itu semua tidak luput dari campur tangan ibu Rosma yang tidak ingin cucunya terlalu bekerja keras saat sedang hamil.
...****************...
"Yang gimana kamu kapan nikahin aku?" Tanya Kristal
"Tunggu ya, kamu kan tau keadaan aku kayak gimana sekarang" Ucap Axel
"Tapi aku udah nunggu kamu lama banget. Kamu bahkan udah janji sama aku, setelah wanita mura*an itu pergi dari hidup kamu, kita akan langsung menikah. Tapi ini udah hampir setengah tahun kalian pisah. Kamu belum juga nikahin aku". Ucap Kristal berkaca-kaca"
Axel memijit kepalanya.
Saat ini mereka sedang berada di apartemen Kristal yang Axel belikan dulu saat masih menjadi CEO diperusahaan ayahnya.
"Emang kamu siap hidup sama aku dengan hidup yang jauh berbeda dari sebelumnya?" Tanya Axel dan Kristal mengangguk bertanda siap.
"Tanpa harus belanja barang-barang mewah seperti kebiasaan kamu?" Tanya Axel lagi
"Iya sayang aku siap, aku juga sadar hidup aku sebelumnya terlalu boros dan aku akan mengurangi itu semua. Aku hanya ingin hidup sama kamu". Ucap Kristal memeluk Axel
Axel merasa terharu dengan ucapan Kristal. Mengingat kebiasaan yang terlalu hidup mewah dan sekarang ia siap hidup sederhana hanya agar bersama Axel.
"Baiklah Minggu ini kita akan menikah "
"Terimakasih sayang, tapi tetap akan ada pesta kan?" Tanya Kristal
"Huffft, Kristal "
"Baiklah tanpa pesta pun tidak masalah".
Lagi pula Kristal merasa lebih aman tanpa ada pesta pernikahannya dengan Axel.
Entah kenapa Kristal sangat mendesak Axel untuk menikahinya sedangkan mereka kerap kali bertengkar karena keuangan Axel tidak seperti dulu lagi.
Demi memenuhi keinginan Kristal. Di sinilah Axel sekarang. Di depan gerbang rumah kedua orang tuanya yang telah lama tidak ia kunjungi. Bukan karena tidak ingin,tapi ia yang telah dibuang kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Permisi pak" Sapa Axel pada satpam
"Eh tu-an Axel"
"Ayah sama mama ada di dalam pak?"
"A-da tuan "
"Saya ingin bertemu pak"
"Mohon maaf tu-an, tapi nyonya dan tuan besar tidak ingin anda masuk ke dalam rumah ".Ucap Satpam yang merasa kasihan kepada Axel tapi juga tidak ingin mengabaikan perintah tuan rumahnya.
"Sebentar aja pak"
"Maaf Tu-an"
Karena tidak mendapat izin untuk masuk ke dalam rumah. Axel kemudian menunggu didepan gerbang, berharap kedua orang tuanya merasa kasihan dan mengizinkan dia untuk masuk.
Selang dua jam, Axel kemudian diperintahkan untuk masuk ke rumah
"Buat apalagi kamu datang ke rumah ini?" Tanya ayah Axel setelah Axel duduk di sofa
"Axel ke sini ingin minta restu dari ayah dan mama" Uca Axel dengan menunduk
"Kenapa kami harus memberi restu. Bukankah saya dan istri saya sudah pernah mengatakan lakukan apapun yang ingin kamu lakukan. Bahkan ketika ingin menikahi wanita pilihan kamu itu. Itu bukan urusan kamu lagi"
"Tapi Axel butuh restu dari ayah sama mama, agar pernikahan Axel bahagia"
"Bukankah saya dan istri saya pernah merestui pernikahan kamu, tapi karena restu kami pernikahan mu justru hancur bukan. Jadi sekarang pulanglah dan menikah karena kamu tidak butuh restu dari kami". Setelah mengatakan itu ayah Axel langsung pergi menuju ke kamarnya menyisakan ibu dan anak.
"Ma".Ucap Axel dengan memegang tangan mamanya tapi langsung ditepis
"Axel harap mama bersama ayah datang di pernikahan Axel akhir Minggu ini"
"Maaf saya dan suami saya sibuk"
"Ma, apa tidak ada lagi maaf untuk Axel, apa Axel terlalu breng*ek jadi anak mama". Ucap Axel menatap ke arah mamanya, tapi mamanya justru menatap ke arah lain dengan tatapan yang kosong. Tapi dari tatapan itu Axel dapat melihat luka dan kecewa yang terpendam dan itu semua karena Axel sendiri.
Axel kembali memberanikan diri untuk memegang tangan mamanya. Dan beruntungnya tangan itu sudah tidak di tepis lagi.
Axel kemudian mencium tangan mamanya berkali-kali hingga ia tidak sadar bahwa air matanya telah jatuh ketangan mamanya.
"Axel minta maaf, telah menorehkan luka yang teramat dalam sama mama dan ayah. Padahal Axel pernah janji nggak akan membiarkan air mata mama menetes karena kesedihan. Nyatanya janji itu nggak bisa Axel penuhi. Ma, Axel minta maaf udah ngecewain mama tapi Axel nggak bisa berhenti sampai di sini. Axel tunggu mama ya di pernikahan Axel nanti. "
Setelah mengatakan itu ia kembali mencium tangan mamanya.
"Axel pamit ya, mama sama ayah harus jaga kesehatan. Terimakasih udah ngizinin Axel masuk ke rumah ini".
Setelah mengatakan itu Axel kembali ke rumahnya.
__ADS_1
Sedangkan mama Axel menangis tersedu. Ia memang sangat kecewa terhadap Axel dan dirinya sendiri, tetapi saat melihat anaknya yang terlihat kurus dan tidak terurus lagi, hati seorang ibu membuatnya merasa kasihan terhadap Axel.
Ia juga tidak tau apa yang akan ia lakukan. Semuanya terasa serba salah.