Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Kembali mencoba bertahan


__ADS_3

...Aku akan mencoba bertahan untuk beberapa hati yang masih utuh. Dan biarkan hati yang telah hancur ini dipukul habis hingga serpihannya pun tak ditemui lagi....


...Mendengar perkataan ayahnya seketika hati Freeya tercubit. Ia kembali mengecewakan orang tuanya....


"Pergilah dan jangan kembali ke sini lagi, bahkan untuk sekedar mengikuti keinginan ayah dan ibu membuatmu menjadi sejahat ini".Ucap Jennie dari atas tangga.


"Pulang, temui Axel. Ibu tetap tidak akan setuju jika kamu berpisah. Berbuat baiklah sedikit sebagai anak sulung Freeya. Bahkan untuk kebaikanmu pun kamu masih menyalahkan ayah ibu. Bahkan ketika ibu meminta uang kepada Axel kamu sudah menganggapnya sebagai ibu yang gila harta, Cih. Ketika kamu sekolah pun ibu tidak pernah mengatakan gila harta kepadamu meskipun kamu yang selalu menghabiskan uang ibu".


Jennie dan Ibunya pergi meninggalkan Freeya yang semakin gemetar menahan segala sesak di dadanya. Hiks hiks dia bahkan bingung sedang menangisi yang mana. Semuanya menyakitkan. Di anggap tidak berguna bahkan jauh menyakitkan. Mentalnya bahkan telah sakit. Apalagi yang harus ia pertahankan dalam dirinya.


Ia tidak berguna, ia egois, ia tidak bisa mempertahankan pernikahannya. Sehancur itu kehidupannya. Tidak ada yang bisa ia pertahankan. Dan semua itu menjadi salahnya.


Akhirnya Freeya kembali ke rumah Axel dengan rasa sakit yang kian bertambah. Untung saja taxi yang ia tumpangi tidak bertanya ketika melihat penampilan Freeya yang sangat menyedihkan.


Setelah sampai di rumah, yang terdengar hanya suara jangkrik. Rumah yang gelap pertanda Axel belum juga pulang ke rumah. Mungkin saja ia menikmati waktunya bersama sang kekasih.


Memasuki rumah, Freeya beberapa kali menabrak tembok dan meja. Bahkan untuk menghidupkan lampu, ia sudah tidak memiliki tenaga.


Hiks hiks Arghhh


Freeya bersandar tepat di bawah tempat tidur dikamarnya.


"Aku nggak berguna hikss hiks"


"Aku egois"


"Aku anak tidak tau di untung"


"Hiks hiks aku nggak berguna"


Freeya terus mengulang kata-kata itu bahkan rambutnya bisa dipastikan telah rontok karena terlalu keras ia tarik


"Hiks ibu bilang aku nggak berguna"


"hiks hiks Tuhan sakit, susah nafasnya, sesak tuhan". Gumamnya seraya terus memukul kuat dadanya tapi rasa sesak itu bahkan semakin bertambah.


"Freeya lelah. Sejauh mana lagi Tuhan".


Malam ini ia kembali menikmati rasa sakitnya dengan kesendirian dan gelap yang mencekam.


Lama ia bersandar meratapi kehidupannya, sekitar jam 1 malam ia bangkit menyalakan lampu kemudian lanjut ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah rasa sakit dan lelah yang selalu ia lontarkan, nyatanya beban itu masih sanggup ia pikul.


Ia membasuh wajahnya, dan bercermin.


Ia kasihan melihat wajahnya yang sekarang

__ADS_1


"Wajah ini, bahkan belum pernah tersenyum selepas Jennie, tapi sudah sering menikmati lebam disetiap sudut"


"Wajah ini bahkan belum mendapatkan ciuman hangat dari orang tua atau Axel, tapi wajah ini telah kenyang mendapat sumpah serapa "


"Tapi wajah ini akan kembali mencoba bertahan besok sampai ia kembali lebam".


Pandangan Freeya yang tadinya berada di cermin seketika berpindah ke salah satu objek. Ada rasa senang melihat benda tersebut. Seakan itu adalah ada salah satu obat penyembuh lukanya. Ia melangkah dan mengambil benda tersebut.


Prang


Ya benda yang ia jatuhkan itu ialah cermin kecil yang entah sejak kapan berada di dalam WC. Freeya mengambil salah satu pecahan yang agak besar.


Ia tersenyum dan mulai menyingkap rok yang ia kenakan tadi.


Perlahan tapi pasti pecahan itu menggores pahanya. Paha yang awalnya indah itu kemudian mengeluarkan sedikit darah.


" Hahahaha bahkan ini tidak terasa menyakitkan, tapi kenapa perkataan mereka sangat membuatku ingin mengakhiri hidup".


Tidak cukup satu kali, Freeya kembali melukai paha yang sama dengan goresan yang agak panjang.


"Hmmm nikmat sekali, serasa disalju darah yang keluar terasa dingin, membuat aku merasa nyaman".


Freeya terus menikmati rasa sakit yang justru menyenangkan menurutnya.


setelah cukup lama memandangi kakinya. Ia kemudian bangkit untuk mandi. Ia melepas seluruh bajunya dan turun ke bathtub untuk melepas lelahnya. Goresan dipahanya tidak ia rasa sama sekali.


...****************...


Keesokan harinya Freeya bangun dengan wajah pucat dan badan yang lumayan menggigil. Mungkin ini akibat ia terlalu lama mandi tadi malam.


Ia sangat lapar tapi tidak memiliki tenaga untuk beranjak. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali tidur.


Ia bangun hampir jam 11 siang dan badannya pun mulai terasa lebih nyaman.


Belum sempat ia beranjak dari tempat tidur hpnya mendapat panggilan.


Drrrt drttt


Adel. Freeya pun segera mengangkatnya.


"Hallo Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam Fre, huaaa aku tu kangen sekebun sama kamu"


"Hahaha aku nggak tuh"


"Kamu mah gitu sama sahabat sendiri" Sahut Adel sok ngambek

__ADS_1


"Ahhaha iya aku juga kangen tau. Kemana aja sih dikurung sama di Lio ya".


"Iya ni, si Lio kurang Asem banget jadi CEO . Dia cuma angkat-angkat kaki di kursi aku yang di suruh kerja semua"


"Hahaha itu udah resiko kamu tau"


"Iya sih, tapi Free kok suara kamu agak serak ya. Apa emang aku udah mulai lupa sama suara kamu"


"Ehhh oon, aku emang agak kurang enak badan"


"Capek bertempur ya tiap malam sama Axel, hehehehe ". Ucap Adel dengan muka polos tapi otak yang tidak polos lagi.


"Apaan sih, aku nggak ngerti "


"Alah tai , sok nggak ngerti lagi, . Aku yakin nih kamu udah pro banget "


"Ngapa bahasnya yang gituan sih Del"


"Hehehe, Fre besok nongki yu, mumpung lagi hari libur"


"Iya deh, aku juga udah kangen Ama kalian bertiga. Kamu ajak Sindi sama Lio ya"


"Nggak di ajak pun mereka pasti ngekor"


Setelah berbincang dengan Adel Freeya kemudian ke dapur untuk memasak bubur. Hari ini ia berencana untuk menghubungi Axel. Ia kembali mengalah untuk kedua orang tuanya. Walaupun pasti Axel akan menertawakannya tapi bahkan harga dirinya sudah jatuh di mata Axel jadi tidak ada yang perlu ia khawatirkan.


Freeya menghela nafas sebelum menghubungi Axel. Panggilan pertama Axel tidak menerima panggilannya, begitupun dengan panggilan kedua dan ketiga. Akhirnya ia mengirimkan pesan ke Axel


"Mas lagi dimana?"


"Bisa pulang?"


Setelah pesannya terkirim, Freeya menaruh hpnya di meja sofa kemudian menghidupkan laptopnya untuk kembali menyelesaikan tulisannya yang beberapa hari ini tidak pernah ia sentuh.


Dua jam kemudian ia mematikan laptopnya, ia kemudian membuka aplikasi chat di hpnya dan ternyata Axel belum membaca pesannya.


Freeya kembali menghubungi Axel. Dipanggilan kedua akhirnya Axel mengangkat telponnya.


" Hallo"


Kristal, ini suara Kristal berarti mereka selalu bersama. Ucap Freeya dalam hati. Bagaimana ia akan memulai jika ia selalu bersama Kristal.


"Hpnya bisa kamu kasih ke suami aku?"


"Hmmm, Axel masih tidur tu, nggak bisa diganggu soalnya kecapean tadi malam" .Jawab Kristal dengan suara yang menyebalkan ditelinga Freeya.


"Dasar murahan".Ucap Freeya dan langsung mematikan hpnya.

__ADS_1


__ADS_2