
Hiks
Hiks
Ayah, Ibu
"Sekarang Freeya benar-benar sendiri"
"Kenapa"
Hiks
"KENAPA YAH"
Freeya menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya yang saling memeluk
Seperti inikah rasanya dibuang.
"Apa salah Freeya Bu, meskipun Freeya anak yang tidak berguna, Freeya masih tetap anak ibu".
"Freeya bahkan selalu salah dimata ibu, bahkan sampai sekarang "
"Bukankah ibu yang harusnya paling tau perasaan Freeya tapi kenapa justru ibu yang selalu menjatuhkan Freeya "
"Freeya bahkan jauh lebih sakit Bu ketika impian Freeya untuk menikah satu kali seumur hidup Freeya harus kandas begitu saja"
"Tapi Bu, Freeya capek
Hiks capek banget Bu, Freeya hanya butuh dukungan tapi itu nggak Freeya dapatkan dari kalian"
"Dan sekarang ibu dengan gampangnya ngusir Freeya, terus bagaimana lagi jiwa yang hancur ini harus kembali Bu "
Malam ini di rumah pohon tempat kenangan indah dulu, sekarang menjadi saksi bagaimana seorang anak yang dibuang hanya karena ingin mencari kebahagiaannya.
Ia akhirnya tidur dengan rasa sepih yang nanti akan menjadi hari-harinya.
Sedangkan di sisi lain ketiga sahabatnya belum juga bisa tidur. Bagaimana tidak, Freeya yang tiba-tiba saja mengatakan menyerah namun langsung hilang kabar.
Adel, Sindi,dan Adelio masih berkeliling mencari Freeya. Mereka sempat ke rumah orang tua Freeya tapi justru pengusiran yang mereka dapatkan, kemudian ke rumah tempat tinggal Freeya sekarang namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Beberapa kali Lio mencoba menghubungi Axel namun, nomornya tidak aktif.
"****" Ucap Lio memukul mobilnya.
"Adel, gimana nomornya udah bisa dihubungi belum".
"Hiks belum Lio"
"Gimana kalau terjadi apa-apa sama Freeya" Ucap Adel
"Kita tau Freeya, dia tidak akan mengambil tindakan yang gegabah. Lebih baik sekarang kita pulang istirahat sembari nunggu kabar Freeya. Kalau besok pagi belum ada aku akan datangi kantor Axel"
"Lo apain lagi sahabat gue bangs*t. Jangan harap kali ini Lo bisa lolos Axel". Ucap Lio dalam hati yang sangat mengkhawatirkan sahabatnya.
...****************...
Freeya terbangun dengan badan yang lumayan pegal akibat tidur dengan cara duduk.
Udah jam 6 pagi ternyata. Freeya menatap ke sekelilingnya kemudian ia tersenyum pahit.
"Ternyata bukan mimpi ya".
Ia kemudian mengaktifkan hpnya dan terlihat ratusan panggilan dari ketiga sahabatnya serta chat yang beruntun dari ketiganya.
__ADS_1
Hati Freeya kembali menghangat, ia sadar masih ada ketiga temannya yang selalu ada selama ini. Ia kemudian memutuskan untuk menelpon Adel.
"Hallo,Fre kamu dimana,kamu nggak papakan? tanya Adel beruntung
"Aku nggak papa kok"
"hiks hiks, kamu jahat tau nggak kenapa hilang gitu aja, kamu nggak tau apa kita ini khawatir ".
"Maaf Del, aku cuma butuh waktu untuk menyendiri kemarin, aku nggak bermaksud bikin kalian khawatir "
"Ya udah sekarang kamu dimana biar aku jemput "
"Aku agak jauh dari kota, nanti aku balik sendiri aja"
"Nggak pokoknya kamu di situ aja, nanti aku sama Lio yang jemput "
"Yaudah, aku didanau*** aku tunggu ya"
"iya aku siap-siap ke situ sekarang "
Freeya menunggu satu jam lebih hingga akhirnya ia mendengar teriakan sahabatnya
"Freeya ".Ucap Sindi dan Adel berlari memeluk Freeya.
"Kamu nggak papakan? Nggak ada yang lukakan?"
"Aku baik-baik aja kok, maaf udah buat kalian khawatir "
"Kamu tidur dimana tadi malam?"Tanya Lio
"Di sana". Freeya menunjuk rumah pohon itu
"ASTAGA FREEYA, KAMU GILA YA GIMANA KALAU ADA BINATANG BUAS ATAU ORANG YANG JAHATIN KAMU".Ucap Lio meremas rambutnya. Ia tidak habis pikir dengan sahabatnya ini
"Sudah-sudah yang penting Freeya sudah aman. Sebaiknya kita pulang pasti dia udah kelaparan"
Mereka kemudian singgah di salah satu restoran untuk makan sebelum lanjut pulang
"Fre kamu balik ke rumah kita aja ya".Ucap Adel
"Nggak del aku mau langsung pulang aja. Aku mau nyiapin berkas cerai aku , aku juga mau ke rumah mertua aku"
"Kalau Axel nyakitin dan nggak mau lepasin kamu bilang sama aku, biar aku yang turun tangan".Ucap Lio
"Iya makasih ya".
Setelah makan mereka kemudian mengantar Freeya untuk pulang.
Tiba di rumah Freeya langsung mencari berkas-berkas yang dibutuhkan dalam perceraian. Untung Freeya masih menyimpan bukti chat dengan Kristal apabila nanti Axel tidak setuju untuk berpisah.
Drttt drttt
"Hallo"
"Hallo Freeya,ini aku Kai"
"Iya, kenapa Kai"
"Kamu lagi dimana?"
"Di rumah"
__ADS_1
"Kamu bisa ke sini nggak ke club' yang dulu"
"Ngapain aku ke situ KAI?"
"Hmmm aku liat Axel disini, tapi sama cewek mereka kelihatan akrab banget "
"hmmm biarin aja, mungkin temannya "
"Maksud kamu, mau biarin suami kamu gitu aja sama cewek lain mesra mesraan gitu. Sedangkan kamu sebagai istrinya cuma gini responnya "
"Hmmm Kai aku rasa kamu nggak perlu ikut campur rumah tangga aku deh. Kamu cuma orang lain di sini, kita emang udah menjadi teman tapi aku nggak suka kalau kamu terlalu jauh masuk ikut campur ".
"Sorry, aku hanya nggak mau liat kamu sedih lagi"
"Sedih atau nggaknya aku pun itu bukan urusan kamu ".
"Yaudah Fre kalau gitu aku tutup dulu. Sorry kalau aku terlalu ikut campur "
Setelah Kai mematikan sambungan teleponnya. Hp Freeya kembali mendapat pesan dari seorang Kristal
"Suami kamu nempel muluk sama aku gimana dong". Isi pesan yang dikirim Kristal beserta Poto Axel yang wajahnya ada di leher Kristal
"Cih sama-sama mur*han"
"Kalau kamu mau aku lepasin Axel ke sini sekarang juga. Aku tunggu keberanian kamu sebagai istri yang ingin menjemput suaminya". Ucap Kristal lagi
Freeya tidak merespon chat dari Kristal
"Ada angin apa dia mau lepasin Axel".
Namun hampir satu jam Freeya kembali berpikir. Orang tua Axel belum mengetahui keinginannya untuk berpisah. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Axel dan ia kembali disalahkan
"Oke Freeya ini terakhir kalinya kamu berurusan dengan mereka. Anggap saja ini pengabdian terakhir kamu sebagai istri Axel".
Freeya pun menuju ke club' yang pernah ia datangi. Ia sebenarnya ingin menghubungi Kai tapi Freeya merasa tidak enak karena sudah memarahi Kai. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk sendiri.
Dari jauh Freeya sudah melihat Kristal dan Axel yang kelihatan sudah mabok di pojok sana.
"hmm, mau ngapain Lo manggil gue ke sini".Tanya Freeya tanpa menatap Axel
"Santai dong, sini duduk liat nih suami Lo manja banget kan".
"Gue nggak ke sini buat dengar kata-kata yang gak berguna dari mulut Lo. Jadi cepat bilang Lo mau apa dari gue".
"oke-oke gue akan lepasin Axe karena gue sadar dia memang tidak seharusnya masih menjadi kekasih gue. Tapi gue punya syarat".Ucap Kristal
"Lo nggak perlu repot-repot kembaliin dia kayak bareng, karena gue udah mutusin buat pisah"
Mendengar hal itu Kristal tersenyum dalam hati. Sepertinya tanpa rencana yang sudah dia rencanakan, Freeya akan pergi dengan sendirinya.
"Terserah Lo mau pisah atau nggak karena gue juga udah mutusin untuk pisah. Jadi kalau Lo mau Lo hanya perlu minum yang ada di depan Lo itu. Lo tenang aja gue nggak naroh racun di situ. Gue cuma mau tau sekuat apasih istri Axel ini. Itupun kalau Lo mau, gue nggak maksa sih cuma mungkin gue akan kirim sesuatu yang Wow buat mertua Lo"
Freeya meremas bajunya, bahkan ketika ia sudah ingin bercerai. Hatinya masih saja mengkhawatirkan perasaan orang lain.
Dan tanpa aba-aba Freeya langsung meminum alkohol dengan sekali tenggak.
Di sisi lain Kai yang menyadari keberadaan Freeya,terus memperhatikannya.
Namun, ketika ia melihat gerak gerik Freeya yang mencurigakan ia langsung mengikuti Freeya yang berlari ke arah kamar mandi.
"ssss kenapa badan aku panas sekali"
__ADS_1
Freeya membasuh wajahnya namun rasa panas itu justru semakin bertambah.