
Setelah kepergian Kristal. Axel kembali memasuki rumah dengan emosi yang belum meluap.
Tanpa aba-aba ia menarik Freeya ke wc dapur dan mencelupkan kepala Freeya ke dalam bak mandi beberapa kali.
"Masih kurang ******. Inikan yang Lo mau . Neraka yang kita ciptain. Jadi jangan bosan melawan karena semua tingkah Lo itu sangat membuat gue semangat untuk semakin menghancurkan Lo".
"Hiks hiks pertahanan Freeya akhirnya luruh. Xel kenapa harus aku. AKU JUGA NGGAK PERNAH MAU DI POSISI INI. APA AKU SALAH MENGUSIR DIA SEDANGKAN AKU ADALAH ISTRI KAMU"
"Lo yang sedari awal emang salah, HARUSNYA LO NOLAK LAMARAN ITU, GUE CINTA SAMA KRISTAL, TAPI LO YANG ORANG NGGAK PERNAH GUE KENAL SEBELUMNYA DENGAN BEGITU GAMPANG HANCURIN SEMUA RENCANA GUA SAMA DIA YANG PERLAHAN GUE TATA.
Ucap Axel dengan nafas memburu. Memang benar tidak seharusnya ia memperlakukan Freeya seperti ini tapi dia pun tidak mungkin menyalahkan orang tuanya. Salahkan Freeya yang sudah berjanji tidak menerima perjodohan tapi justru menerimanya.
Freeya luruh ke lantai. Kakinya lemas, kepalanya sakit hatinya semakin hancur. Ia harus kembali disalahkan. Tidak ada yang bisa mengerti posisinya.
"Terus bagaimana dengan kamu Xel, kenapa bukan kamu yang kekeh untuk menolak, kenapa cuma aku yang kamu salahin."lirih Freeya tapi masih bisa di dengar Axel
Tanpa menjawab Axel berlalu ke kamarnya meninggalkan Freeya yang berantakan.
Beberapa hari setelah itu. Ibu menghubungi Freeya. Dengan hari yang berbunga-bunga ia mengangkatnya.
"Assalamualaikum ibu"
"Hmm waalaikumsalam".
"Ibu apa kabar, kok nggak pernah ngabarin Freeya".
"Saya, Jennie dan Ayah kamu baik. Ohh ya kamu lagi dimana sekarang".
"Di rumah Bu"
"Enak ya kamu, tinggal di rumah nunggu duit"
Freeya menarik nafas mendengar penuturan ibunya tanpa menjawab.
__ADS_1
"Fre ibu belum bayar arisan, kebetulan uang ibu dipake untuk Jennie. Kamu kan sekarang udah punya suami. Kirimkan uang ibu untuk bayar arisan ibu dong".
"Hmmm, maaf Bu, bukannya Freeya tidak ingin cuma emang sekarang Fre lagi nggak ada uang Bu".
"Cih, pelit sekali kamu terhadap ibu sendiri. Tidak ingat berapa uang yang kamu habiskan untuk sekolah kamu itu".
Sakit tidak berdarah. Ternyata drama balas Budi tidak berhenti juga.
"Bu, Freeya serius emang nggak ada pegangan".
"Emang kamu nggak dapat jatah bulanan".
"Dapat Bu cuma sekarang udah habis buat keperluan dapur". Tidak mungkin dia jujur dengan ibunya
" He, kentara sekali kamu tidak ingin membagi uangmu kan. Dasar anak tidak tau di untung. Kamu pergi dari rumah pun masih tidak tau mengungkapkan rasa terima kasih. Kalau kamu tidak mau memberikan uang ibu, ibu yang akan minta sendiri sama suami kamu".
Belum juga menjawab ibunya sudah mematikan sambungan telepon. Matilah aku kalau ibu minta uang sama Axel. Semakin dinilai gila hartalah keluarga kami.
Freeya bingung bukannya keluarganya juga keluarga berada. Untuk uang arisan ibu bahkan dengan mudah didapatkan kenapa harus meminta ke Axel. Apa ibu ingin melihat sejauh mana loyalitas Axel terhadap mertuanya.
Namun, di luar perkiraan setelah Axel kembali dari bekerja. Ia tidak sedikitpun membahas tentang Ibunya. Freeya bertanya dalam hati apa ibunya tidak jadi meminta uang.
Namun, di selah kebingungannya Axel tiba-tiba muncul di depannya dengan senyum tulus.
"Kamu lagi nonton apa?". Bahasanya pun berubah. Freeya hanya melongo melihat Axel.
"Ehh aku aku lagi nonton". Tanpa aba-aba Axel duduk di sampingnya membuat Freeya semakin canggung.
"Kamu udah makan belum". Tanya Axel
"Belum"
"Kita makan yu".
__ADS_1
"Ehh". Lagi lagi Freeya kaget mendengar ucapan Axel
"Kamu kenapa kaget, sorry tentang beberapa Minggu lalu. Kamu benar tidak seharusnya aku memperlakukanmu seperti itu. Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Apakah aku masih punya kesempatan Fre?" Tanya Axel dengan tatapan yang tulus.
Ded deg
Ini bukan mimpikan. Seorang batu seperti Axel dengan mudahnya berkata seperti itu. Freeya semakin menatap bimbang Axel.
Melihat tatapan curiga dari Freeya membuat Axel kembali meyakinkan nya.
"Fre aku serius, maaf kalau beberapa Minggu ini aku nyakitin kamu. Tapi sekarang aku sadar ayah tidak mungkin salah memilih orang untukku.
"Bagaimana dengan kristal?"
"Hmmm, maaf untuk itu aku akan berpisah dengannya tapi mungkin secara perlahan. Tapi aku janji tidak akan membawanya ke sini lagi. Aku akan berpisah dengannya nanti".
Freeya hanya diam.
"Ohh ya tadi ibu menelpon aku, katanya ingin membayar arisan dan ingin anak menantunya ini yang membayarkannya".
Freeya reflek menghadap ke arah Axel. Yang ditakutkan akhirnya terjadi ibunya memang meminta uang.
"Maaf, Xel. Nanti aku ganti uangnya."
"Hehehe ngapain di ganti aku juga cuma kirim 100 juta kok, terus itu udah kewajiban aku dia kan ibuku juga".Jawab Axel sembari mengusap rambut Freeya.
Mendengar hal itu Freeya kembali diam. apa memang Axel sudah berubah ya, tapi kenapa secepat ini. Belum selesai dari lamunannya Axel kembali mengagetkannya.
"Ini kartu untuk kamu belanja. Maaf aku baru memberikannya".
"Ehhh nggak perlu Xel, aku masih punya uang kok".
"Nggak papa itu memang hak kamu sebagai istri".
__ADS_1
Mendengar kata istri dari mulut Axel membuat Freeya merasa telah di akui. Perlahan tapi pasti pertahanan Freeya pun runtuh untuk memulai kembali dengan Axel.
Beberapa hari setelah berbaikan Axel sudah mulai sarapan bersama Freeya walaupun tidak setiap hari. Tapi itu lebih baik. Suasana nyaman dan perhatian kecil yang telah diberikan Axel kepada Freeya nyatanya mampu membuat kehangatan di hati Freeya. Dan meyakini bahwa Axel memang telah menjadi miliknya. Menjadi manusia yang polos dalam dunia percintaan. Membuatnya dengan mudah menerima Axel tanpa bertanya perubahan yang terjadi secepat itu.