Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Bab 6- Berusaha menjadi istri yang baik


__ADS_3

Hari ini merupakan hari yang dinanti orang tua Freeya dan orang tua Axel. Karena hari ini mereka akan menikah.


Pernikahannya pun tidak meriah hanya dihadiri keluarga dekat dan sahabat dari keduanya. Ini merupakan permintaan dari Axel.


Di lain sisi Freeya yang masih belum selesai di make-up tidak bisa berhenti mengeluarkan air matanya.


"Kak maaf tapi kalau kakak menangis terus makeupnya akan luntur dan nggak akan bisa selesai".


"Eh maaf, Saya tidak sadar". Freeya pun menghapus air matanya dengan cepat. Ia berfikir setelah ini mungkin hubungan dengan keluarganya akan semakin jauh, ditambah lagi bagaimana nanti ia bisa menghadapi Axel.


Terdengar suara sah dari lantai bawah tandanya ia telah resmi menjadi seorang istri. Dunianya berubah, harapannya pun berubah.


Tak lama ibunya datang menjemput Freeya.


"Freeya ayo turun kamu sudah resmi milik Axel. Ingat ya apa kata ibu ikuti semua yang Axel katakan. Sekarang hidup kamu sudah enak nggak perlu kerja, suami kamu udah kaya. Kamu harus berterima kasih sama ibu karena berkat ayah dan ibu kamu mendapatkan laki laki seperti dia".


"Iya Bu makasih. Bu, MMM boleh tidak Freeya peluk ibu sebelum turun ke bawah". Pinta Freeya dengan tatapan mengibah.


" Udahlah nggak usah waktu kita mepet, ayo turun".


Menghela nafas panjang perlahan Freeya bangkit turun dibantu ibu dan Jennie yang sedari tadi menunggu di depan pintu.


Semua orang yang berada di bawah terperangah melihat betapa anggunnya sang pengantin. Bahkan Axel pun tidak sadar ikut mengagumi sosok Freeya.


Setelah saling bertukar cincin dan menandatangani buku nikah. Mereka kemudian naik ke panggung untuk mendapatkan ucapan selamat dari keluarganya.


"Hari pertama jadi ratu heh, atau hari menuju neraka". Bisik Axel kepada Freeya.


Satu hal yang membuat Freeya baik ketika ia melihat sahabatnya ada di sana memperhatikan panggung.


Rasanya ia ingin turun dari panggung menghampiri sahabat-sahabatnya agar bisa menangis di sana


"Selamat ya bro, keren juga Lo pacaran sama yang ono nikahnya sama yang ini". Ucap Brayen sahabat Axel diikuti Kai yang juga ikut di undang walaupun Kai tidak terlalu dekat hanya teman di club' malam .


Tak lama setelah itu sahabat freeya juga naik ke panggung.


"Selamat menempuh hidup baru, Tolong jaga sahabat saya pak. Saya tau anda sangat professional dalam bekerja dan saya berharap anda juga bijak dalam berumah tangga ". Ucap Lio yang hanya diangguki Axel. Ia tidak mengira Freeya bisa berteman dengan seorang seperti Lio yang kinerjanya sebagai CEO terkenal oleh perusahaan lain walaupun baru mulai bekerja.


Kemudian Lio beralih ke sahabatnya. Melihat mata Freeya yang berkaca-kaca ia langsung memeluknya.

__ADS_1


"Selamat ya, kamu harus bisa ambil hatinya. Kalau ada apa-apa ingat masih ada kita di sini. Jangan ragu buat cerita". Yang hanya di angguki Freeya.


Setelahnya ia beralih ke Adel yang dari tadi menunduk di belakang Lio tanpa mengucapkan selamat kepada Axel.


"Del kamu nggak mau peluk aku?" Dan tanpa dikomando Adel langsung memeluk Freya dan terisak lirik.


"Maafin aku Fre, aku udah ngomong jahat sama kamu".


"Nggak kok kamu gitu karena khawatir sama aku"


"Hiks hiks Fre kok suami kamu ganteng".


Seketika suasana sedih itu langsung berubah memunculkan sedikit tawa dari Freeya.


"Kalau nggak ganteng mana mau aku".Jawab Freeya dengan bercanda.


Sindi pun ikut memeluk Freeya.


Setelah acara selesai Freeya langsung dibawah Axel ke rumah yang baru saja ia beli dengan alasan ingin mandiri. Tentu saja orang tua Axel langsung menyetujui hal itu.


Rumah dua tingkat dengan gaya sederhana namun terlihat nyaman. Entah bagaimana nanti dengan yang menghuninya nyaman atau justru sebaliknya.


"Lo tidur di lantai bawah, jangan sekali-kali Lo coba masuk ke kamar gue dan ingat pernikahan ini nggak pernah gue anggap serius jadi telan mentah-mentah semua rencana Lo yang ingin menguasai gue".


Freeya hanya bisa menarik nafas.


"Semangat Fre, ini baru hari pertama. Kamu masih punya waktu untuk membuatnya melunak".


Hari-hari berlalu dan sudah satu Minggu berjalannya pernikahan mereka namun tidak ada kemajuan sama sekali.


Freeya yang berusaha menjadi istri yang baik dengan selalu membuatkan sarapan dan makan malam untuk Axel tapi tidak pernah di makan. Dan Freeya yang dengan setia menunggu Axel pulang bekerja tapi tak pernah dihiraukan.


Rasa capek akan harapan perlahan menyingkap hatinya. Apakah selamanya mereka akan seperti ini. Sama halnya hari ini.


"Xel sarapan dulu"


"Lo nggak capek nawarin gue, makanan murahan Lo itu. Berapa kali pun Lo nawarin nggak bakalan sudij gue makan. Dengan lo yang seperti ini membuat gue semakin yakin tentang tujuan Lo nikah sama gue. Dan lagi gue nggak pernah sudih berhadapan dengan apapun yang berkaitan dengan lo. Semua yang ada di Lo sangat amat murahan".


Freeya hanya diam meremas ujung bajunya. Mau menjawab Axel semakin jadi. Mau sekeras apapun Freeya mengatakan tidak, nyatanya kebenaran hanya di Axel.

__ADS_1


Tentang orang tua setelah ia menikah belum pernah ia mendapat telepon dari orang tuanya. Atau sekedar bertanya bagaimana kabarnya.


Dengan sahabatnya pun sekarang ia sulit bertukar kabar dikarenakan Freeya pun sibuk menulis beberapa novel sebagai pemasukannya. Karena sejujurnya ia tidak pernah mendapatkan nafkah dari Axel. Freeya berusaha untuk meminimalisir pengeluaran dapur, namun Axel yang dengan seenaknya tidak pernah memakan yang dibuat Freeya.


Semakin hari kondisi rumah tangga mereka semakin memanas. Bagaimana tidak seorang Axel yang pernikahannya belum sampai sebulan sudah dengan berani membawa pacarnya ke rumah mereka. Rumah yang menjadi saksi direndahkannya seorang istri.


"Axel kamu apa-apaan bawah di ke rumah ini?"


"Lo keberatan, ini rumah gue hak gue mau bawa siapapun ke sini terlebih itu pacar gue sendiri".


"Ya aku keberatan, karena aku lebih berhak daripada ****** sialan yang kamu bawah itu".Ucap Freeya dengan emosi. Ia tidak terima harga dirinya semakin hancur di hadapan pacar Axel.


Plak


"Ngomong apa Lo barusan, sadar Lo ngomong begitu sama pacar gue". Axel tanpa perasaan menjambak rambut Freeya dan mencengkeram dagunya.


"Lo nggak ada apa-apanya di banding Kristal pacar gue. Ingat Lo itu cuma sampah yang dibuang keluarga Lo . Jadi jangan bersikap seakan lo itu sesuatu yang berharga di rumah ini *****. Cih"


Air mata Freeya hampir saja jatuh , namun sekuat tenaga masih ditahan. Tidak akan dia menangis dihadapan kekasih Axel.


"Axel udah, dia istri kamu. Dia benar aku seharusnya nggak di sini. Ucap Kristal dengan wajah semenyedihkan mungkin.


"Ia pergi dari sini , apakah kamu tidak malu. Bersama dengan orang yang sudah memiliki istri bahkan dengan gampang diajak ke rumahnya. Ucap Freeya dengan muka sinis seakan mengejek Kristal.


Mendengar hal itu membuat Kristal meremas bajunya, seandainya Axel tidak ada ia akan merobek mulut Freeya.


Plak plak


Freeya kembali mendapat tamparan dari Axel bahkan sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah. Axel semakin menarik kuat rambutnya. Bahkan Freeya yakin beberapa rambutnya telah rontok.


" he wanita tidak tau diri, siapa Lo berani ngusir dia. Apa perlu gue ingatin lagi siapa sebenarnya yang menjadi orang ketiga di sini. Jadi ****** sebenarnya itu siapa".


"Aku nggak peduli Xel kalau menurut kamu aku orang ketiga tapi yang aku pedulikan aku istri sah kamu bukan dia".


Hahahaha Axel tertawa keras dengan seringaian yang menakutkan.


"Wah wah wah tidak ku sangka ****** ini semakin berani saja. Dimana sikap patuh Lo itu."


"Kamu usir dia atau kamu akan melihat ayah kamu yang mengusir dia sendiri Xel." Balas Freeya tak kalah tajam

__ADS_1


Deg


Dengan emosi yang menguasai hatinya Axel menyuruh Kristal untuk pulang dengan alasan dia akan menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu.


__ADS_2