Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Kram Perut


__ADS_3

Tuhan aku baik-baik aja kok, matanya aja yang cengeng


"Gimana keadaan teman saya dok?" Tanya Adel.


"Kandungan ibu Freeya Alhamdulillah baik-baik saja, tadi perutnya mengalami kram karena emosinya. Untung saja kandungannya sudah kuat. "


"Alhamdulillah" Ucap Adel, Lio, Jeno, dan ibu Hamidah yg berdiri di depan ruangan tempat Freeya berada. Sedangkan Kai jaraknya lumayan jauh dari sana jadi ia tidak bisa mendengar apa yang dokter katakan.


"Kalau boleh tau suami ibu Freeya yang mana, saya ingin membicarakan beberapa hal". Ucap Dokter


"Hmm, saya ibunya dok, suaminya sedang berada di kota lain. Saya saja yang wakili". Ucap ibu Hamidah


"Baiklah, silahkan ikut ke ruangan saya". Ucap sang dokter


"Kalian berdua jaga Freeya dulu, ayo Adel temani ibu".


"Jadi ada apa dok, anak saya kenapa?" Tanya ibu Hamidah dengan raut wajah gelisah


"Begini Bu, walaupun kandungan ibu Freeya sudah cukup kuat, tapi saya sebagai dokter menyarankan agar kondisi mentalnya tetap di jaga. Usahakan agar ibu Freeya tidak sendiri. Kecemasan yang berlebihan, emosi yang tidak terkontrol bahkan strees yang dialami ibu Freeya bisa mengganggu perkembangan janinnya Bu. Jadi tolong sebagai keluarga, anda pantau kondisi ibu Freeya. Moodnya harus tetap baik untuk kesehatan janin yang dikandungnya".


"Baik dok, beberapa waktu ini Freeya memang sedikit lebih emosional, saya dan keluarga saya sebisa mungkin akan berupaya agar moodnya tetap membaik"


"Kalau memang ada hal yang dia pendam, anda bisa membawanya ke psikiater ". Ucap sang dokter


"Tapi anak saya nggak gila dok"


"Mohon maaf Bu, ke psikiater tidak menunjukkan bahwa seseorang itu gila. Orang yang kadang kala tidak bisa membagi kesedihannya juga bisa ke sana. Sekedar untuk meringankan bebannya, atau mencari cara agar ia bisa kembali menjadi baik-baik saja".


"Huf baiklah dok, nanti akan saya bicarakan dengan Freeya"


Ceklek


Adel dan ibu Hamidah masuk ke dalam ruangan tempat Freeya di rawat


"Freeya masih tidur?" Tnya Adel

__ADS_1


"iya, biarin aja agar tenaganya kembali pulih"


Adel dan ibu Hamidah ikut bergabung dengan Lio dan Jeno di sofa , kebetulan ruangan yang Lio pilih untuk Freeya VIP jadi perabotannya lumayan lengkap.


"Bagaimana kata dokter Bu, Freeya baik-baik aja kan?" Tanya Jeno


Ibu Hamidah hanya terdiam memandang Freeya tanpa menjawab pertanyaan Jeno


"Huft, Freeya baik, yang nggak baik itu mentalnya. Dokter bahkan menyarankan agar dia konsultasi ke psikiater karena emosinya dapat membahayakan perkembangan janinnya."


...****************...


Toktoktok


"Assalamualaikum "Ucap ibu Rosma


"Waalaikumsalam "


Ceklek


"Silahkan masuk Bu". Ucap ibu Hamidah


"Maaf saya terlambat datang, tadi saat Freeya dibawah ke sini, saya memiliki urusan yang sangat penting "


"Cih, katanya keluarga, tapi masih ad yang lebih penting dari seseorang yang katanya cucunya ". Ucap Lio lirih.


Memang saat Freeya akan dibawah ke rumah sakit tadi ibu Rosma juga pergi entah kemana.


Tiga jam berlalu, Freeya akhirnya terbangun. Di ruangan itu ibu Masita juga telah datang , setelah ditelpon ibu Hamidah.


"Sttt"


Ringis Freeya memegang kepalanya.


Jeno yang pertama kali menyadari kalau Freeya sudah sadar segera beranjak ke hadapan Freeya.

__ADS_1


"Free, kamu udah bangun? Bagian mana yang sakit?" Tanya Jeno


"Minum".Pinta Freeya dengan suara serak


Adel yang sudah berada di samping Jeno langsung mengambil air minum untuk Freeya.


"Nih, pelan-pelan aja" Ucap Adel.


Satu persatu mereka sudah mengerubungi kasur Freeya.


"Nak kamu udah nggak papa? Ada yang sakit biar ibu panggilkan dokter?" Tanya ibu Masita yang dibalas gelengan oleh Freeya.


"Bu, anak Freeya baik-baik ajakan?"


"Iya anak kamu kuat seperti ibunya, tapi kata dokter kamu jangan terlalu banyak pikiran ya. Kasian kamunya juga anak kamu".Ucap ibu Hamidah


Lagi -lagi Freeya hanya mengangguk sembari mengelus perutnya.


Freeya mengedarkan pandangannya dan matanya bertemu dengan ibu Rosma.


"Maaf, bisa tinggalin Freeya sendiri dulu, Freeya lagi pengen sendiri"


"Tapi, kamukan baru bangun, kalau kita semua keluar kalau butuh apa-apa nggak ada yang bantu kamu".Ucap Adel


"Aku nggak butuh apa-apa kok, aku hanya ingin menyendiri sebentar aja"


"Tapi....."


"Freeya janji nggak bakal lakuin hal yang bisa membuat Freeya dalam bahaya"


"Baiklah ayo, semuanya kita keluar" Ucap Lio


Mereka semua keluar, dan yang terakhir keluar adalah ibu Rosma, ia hendak mengelus pundak Freeya, tapi Freeya langsung memalingkan muka.


Setelah suasana sepih, Freeya mencoba menarik nafas beberapa kali untuk menghalau air matanya. Tapi justru semakin deras.

__ADS_1


Freeya hanya memandang kosong ke arah tembok dengan air mata yang terus turun dan tangan yang meremas kuat selimutnya.


Taukan gimana sakitnya, saat kita menangis dengan suara tertahan.


__ADS_2