
Satu persatu rasa sakit itu akan saya bayar secara langsung
Tiga bulan berlalu setelah ibu Rosma mendengar cerita Freeya dari ibu Masita. Bahkan hubungan mereka sekarang sangat dekat layaknya sebuah keluarga walaupun Freeya belum mengetahui siapa Ibu Rosma sebenarnya.
Kandungan Freeya bahkan telah keliatan menonjol. Namun, kabar baiknya , lingkungan kerja sekaligus tetangga - tetangga Freeya tidak ada yang mengusik kehamilannya. Dan tanpa sepengetahuan Freeya, itu semua berasal dari campur tangan ibu Rosma yang lebih dulu mengancam orang-orang di sana.
Selama tiga bulan ini anak buah ibu Rosma lebih banyak berdiam diri di kota J asal tempat tinggal ibu Rosma sebelum beliau memutuskan untuk pindah ke Bandung.
Anak buahnya mencari tau tentang kehidupan almarhum anaknya serta kehidupan Freeya.
Drttt drrrt
"Hallo nyonya"
"Ya, bagaimana Halik? Bukankah waktu tiga bulan sangat lama untuk mengumpulkan semuanya."
"Kami sudah mengumpulkan semua informasinya nyonya, saya juga telah mengirimkan bukti-bukti ke email anda"
"Baiklah saya akan membacanya tapi tolong katakan saja inti dari apa yang kamu dapat dari penyelidikanmu selama ini. Saya sudah tidak sabar mendengarnya langsung "
"Baiklah nyonya "
"Setelah saya dan anak buah saya menyelidiki kehidupan anak anda dan kehidupan nona Freeya, saya dapat menyimpulkan bahwa nona Freeya memang cucu anda.
"Saya berhasil menemukan kediaman dokter yang pernah menangani penyakit nona Sari. Beliau mengatakan nona Sari memang memiliki balita perempuan, kerap kali ia membawanya ke rumah sakit , namun kerap kali bayi dari nona Sari ini juga dijaga oleh salah satu tetangga yang baik kepada nona Sari.
"Lanjutkan "
"Nona Sari meninggal karena kanker otak stadium akhir"
Deg
"A-PA?" Teriak ini Rosma
"Bukankah anak ku meninggal karena sakit biasa namun, ia tidak mampu membayar rumah sakit hingga nyawanya melayang?"
__ADS_1
"Kenyataannya Nona Sari meninggal karena kanker otak yang sudah tidak bisa ia lawan lagi"
"Bagai-mana bisa anakku semenderita itu hiks hiks". Penyesalan ibu Rosma kali ini pun tidak akan merubah apa-apa
"Maaf nyonya, tapi saya harus menyampaikan ini. Dokter nona Sari mengatakan penyakit itu telah dia rasakan jauh sebelum mengandung anaknya. Dan saya bisa simpulkan bahwa saat nona Sari masih tinggal dikediaman anda ia ternyata telah mengidap penyakit itu".
Lagi-lagi kenyataan menghantam dirinya dan menyadarkan ibu Rosma bahwa ia telah gagal menjadi sosok ibu. Bahkan ketika Sari masih tinggal bersama orang tuanya. Ia tetap menikmati rasa sakit itu sendiri tanpa kepekaan dari orang tuanya.
Ibu Rosma kembali mengingat saat ia sering kali melihat Sari memukul kepalanya sendiri. Namun saat di tanya Sari hanya menjawab bahwa ia sedang berfikir untuk skripsinya. Dan ibu Rosma hanya mengangguk tanpa rasa curiga.
"Sebenarnya saat masih tinggal bersama dengan nyonya, nona Sari sangat rutin memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit, namun saat ia telah keluar dari rumah. Ia sangat jarang berkunjung ke rumah sakit. Nona Sari hanya mengandalkan obat warung untuk membantu meringankan rasa sakitnya. Hal ini jugalah yang membuat perkembangan sel kanker itu semakin cepat.
Nona Rosma sudah tidak sanggup menopang dirinya. Kakinya seperti jeli , tangannya bahkan sudah tidak kuat memegang handphone, wajah yang sudah terlihat keriput itu kini terlihat pucat.
Ia akhirnya jatuh terduduk ke lantai. Menangisi semua dosa terhadap anak satu-satunya.
Hiks hiks
"Bagaimana ini ayah, kita telah gagal menjadi orang tua. Kita membiarkan putri yang kita sayangi merasakan sakit di luar seorang diri. Hanya karena masalah sepele itu ,nyawa anak kita jadi taruhannya, hiks hiks bahkan cucu kita yang menjadi korbannya ya. Hiks hiks kita pembunuh ayah , kita membunuh anak kita sendiri, kita menghancurkan kehidupan cucu kita . Hiks hiks cucu kita Freeya harus merasakan hidup tanpa pelukan hangat sang ibu, hiks karena kita telah membunuh ibunya.
Setelah mendengar sedikit informasi dari anak buahnya, Ibu rosma langsung menyalahkan diri, seandainya saja ia dan suaminya tidak mengusir Sari saat itu, maka Sari akan tetap rutin ke rumah sakit karena ia masih memiliki black card dari orang tuanya. Ia tidak akan kesakitan sendiri. Ibu Rosma bahkan tidak sanggup membayangkan saat anaknya yang hamil harus berusaha melawan penyakitnya, sekaligus mencari kerja untuk kehidupannya.
Suami ini Rosma terkena serangan jantung, dan saat masih di perjalanan untuk ke rumah sakit beliau lebih dulu meninggal, mengikuti anaknya.
Itulah salah satu alasan yang membuat ini Rosma meninggal kediamannya dan memilih tempat baru. Karena tempat itu hanya menyisakan penyesalan yang teramat dalam.
...****************...
"Bagaimana apakah sudah ada kabar baik?"
"Belum Tuan"
"Hmmm"
"Beberapa bulan ini, kami selalu memantau keluarga itu tetapi mereka tidak pergi kemanapun, kecuali keluar untuk membeli barang untuk keperluan tokonya"
__ADS_1
"Awasi terus, karena cepat atau lambat mereka pasti akan pergi menemuinya"
"Baik tuan"
Seperti itulah hidup yang Kai jalani selama ini, terus menanti kabar tentang Freeya. Ia memang telah kembali bekerja di perusahaannya, tetapi sifatnya telah jauh berbeda. Sosok Kai yang sekarang semakin dingin, mudah emosi. Bahkan ia menuntut kesempurnaan dari kerja pegawainya. Dan kebiasaan buruk yang tidak pernah hilang setelah kepergian Kai yakni meminum alkohol tiap malam. Ia menenggak minuman itu seperti meminum air biasa hanya karena minuman itu yang bisa membuatnya lupa akan rasa rindunya terhadap Freeya.
Sedangkan berbicara tentang sahabat Freeya. Ketiganya memilih untuk memberikan waktu seperti yang Freeya bilang. Bukan karena sudah menyerah dan tidak ingin mencari. Apalagi dengan kekuasaan Lio yang akan lebih muda menemukan Freeya. Mereka hanya berfikir Freeya memang butuh suasana baru setelah mereka mengetahui banyak hal yang membuatnya pergi. Terlebih mereka tidak ingin kejadian saat Lio menemui Freeya kembali terulang yang akan membuat Freeya kembali pergi dan semakin jauh.
...****************...
Setelah ibu Rosma sudah mulai tenang , ia kemudian mengambil hpnya yang sedari tadi dibiarkan tergeletak di lantai .
Ia membuka file yang dikirim anak buahnya dan mulai membacanya satu persatu
Semakin banyak yang ia baca semakin banyak luka yang ia ketahui
Salah satu dokumen yang membuatnya shock ialah tentang anaknya Sari yang ternyata hanya menikah siri. Ia tau anaknya telah menikah setelah diusir dari rumah tapi ia tidak tau bahwa anaknya hanya menikah secara sirih.
Ibu Rosma hanya bisa tersenyum kecut.
Ia masih sangat ingat sebelum pertengkaran hebat di rumahnya. Laki-laki itu hampir tiap hari datang menjemput Sari untuk berangkat ke kampus bersama. Bahkan tidak jarang mereka sarapan bersama orang tua Sari. Ibu Rosma bahkan teramat mempercayainya sebagai sahabat yang akan melindungi anaknya.
Namun, ia salah tidak ada sahabat antar jenis kelamin yang berbeda.
Puncak kekecewaan itu ibu Rosma rasa saat ia tidak sengaja melihat tespack yang tersimpan dilaci anaknya.
SEMAKIN BANYAK YANG IA BACA , SEMAKIN KUAT BALAS DENDAM YANG AKAN DIRENCANAKAN NENEK DARI FREEYA.
ibu Rosma kembali menghubungi anak buahnya
"Hallo nyonya"
"Ada tugas baru untukmu, cari tau dimana sekarang suami dari anak saya bekerja"
"Siap nyonya, tapi apakah anda sudah membaca semua dokumen yang saya kirim?"
__ADS_1
"Belum, tapi saya berjanji akan menghancurkan mereka yang membuat anak serta cucu saya menderita termasuk diri saya sendiri "
"Baik nyonya, saya akan selalu siap membantu anda"