
Tidak sampai 30 menit Freeya akhirnya sampai ke rumah mertuanya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam sayang, ayo masuk mama udah dari tadi nungguin kamu Lo"
"Maaf ya ma, soalnya tadi agak macet"
"Nggak papa"
"Kamu udah makan siang belum"
"Udah ma, ayah kemana ma?"
"Katanya lagi ada rapat jadi tadi pagi buruh-buruh ke kantor"
"Ya udah yuk,kita langsung ke dapur. Mama tu mau ngajarin kamu kue bolu kesukaan Axel, biar kamu gampang bikinnya kalau tiba-tiba Axel ke pengen".
Belum apa-apa pembahasan udah tentang mas Axel. Pikir Freeya.
"Hmmm, emang mas Axel suka banget ya sama kue bolu"
"Iya dia paling suka, katanya enak empuk- empuk gitu".
Mereka berdua sibuk di dapur hampir satu jam hanya untuk membuat kue kesukaan Axel.
"Nanti kuenya kamu bawah pulang sebagian ya, atau kamu suruh aja Axel ke sini. Tuh anak semenjak menikah udah lupa punya rumah orang tua . hahahaha"
"Hmm aku bawain aja ma, soalnya mas Axel lagi keluar ketemu sama temannya ".
"Lo kok kamu nggak sekalian ikut?"
"Nggak enak ma, mereka juga pasti butuh waktu untuk ngobrol setelah capek kerja"
"Hmmm, ya juga sih. Toh kamu kan juga tiap Axel pulang kerja udah sama kamu terus".
Boro-boro punya waktu ma, orangnya sok sibuk begitu. Ingin sekali ia menimpali perkataan mertuanya tapi itu hanya sampai dikerongkongan.
Setelah semuanya beres, Freeya dan mama Axel beranjak keruang tengah untuk sekedar mengobrol sembari menunggu ayah Axel yang mungkin sebentar lagi sampai di rumah.
"Oh ya sayang bagaimana?"
"Bagaimana apanya ma?" Tanya Freeya bingung.
"Ituloh udah ngisi belum".
Freeya yang memang belum mengerti hanya diam dengan tampang polosnya membuat mama Axel tertawa
__ADS_1
"Hahaha sayang masa kamu nggak ngerti". Freeya hanya mengangguk
"Freeya udah hamil cucu mama belum?" Tanya mama Axel kembali
Deg deg
Ia harus jawab apa kali ini, biasanya kalau ada Axel ,Axel yang menjawab semuanya.
"Hmmm belum ma, doain aja"
"Belum ya, ya udah inikan juga belum sampai 6bulan Usia pernikahan kalian. Tapi mama mohon kalian jangan nunda ya, soalnya mama udah kepengen gendong cucu. Mama takut belum bisa liat cucu mama setelah mama meninggal ". Ucapnya dengan wajah lesu
"Mama nggak boleh ngomong gitu, mama harus sehat terus. Doain ya biar aku cepat dikasih sama Allah".
Doain juga ma supaya anak mama terbuka hatinya. Lanjut Freeya dalam hati.
Sekitar jam 5 sore Freeya memutuskan untuk pulang ke rumah dengan alasan nanti Axel nyariin.
Ketika ia keluar, ayah mertuanya juga baru sampai
"Baru pulang ya"
"Iya nak, Lo kamu udah mau pulang?"
"Iya yah, kasian mas Axel nanti di rumah nggak ada yang temanin".
"Hahahaha Axel udah besar na, suruh aja di ke sini menjemput mu".
"Ya sudah kamu hati-hati di jalan"
"Iya ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam".
Diperjalanan Freeya terus memikirkan harapan kedua orang tua Axel. Bagaimana harapan itu akan terwujud, sedangkan rumah tangga mereka yang seumur jagung itu bahkan selalu memanas.
Hufff maaf ma, aku belum bisa ngabulin keinginan mama, Doain mas Axel hatinya melembut, agar mama bisa secepatnya memiliki cucu. Tidak mungkin juga aku menyerahkan diriku dengan si seseorang yang bahkan tidak ingin aku berada dalam alur hidupnya. Meskipun itu suamiku sendiri.
Tes
Air mata Freeya kembali jatuh. Setelah kejadian itu Freeya menjadi sosok yang gampang menjatuhkan air matanya. Ingin mengadu agar bebannya berkurang tapi ia tidak ingin membuat sahabatnya kepikiran.
Apa aku cerita sama ayah dan ibu aja ya, tapi nanti gimana respon mereka.
***
Setelah sampai dirumah, mobil Axel belum ada di garasi. Tandanya Axel belum pulang atau mungkin tidak akan pulang.
Dan Freeya tidak ingin memikirkan hal tersebut.
__ADS_1
Ia kemudian beranjak ke dapur untuk menyimpan kue yang ia bawah dari rumah mertuanya kemudian menuju ke kamar untuk membersihkan diri.
Tepat pukul 10 malam, Freeya yang masih berkutat dengan tulisannya mendengar suara mobil.
Mas Axel pulang. Aku sambut nggak ya, tapi nanti dia marah lagi.
Yaudah deh, pura-pura nggak dengar aja ,kan aku lagi sibuk.
Tapi hampir 10 menit setelah mendengar suara mobil berhenti, Axel tidak muncul ke kamar. Akhirnya Freeya keluar untuk mengecek. Semakin dekat dengan tangga, semakin jelas Freeya mendengar suara tawa cewek.
Deg deg
Apa sekarang harga dirinya akan kembali dijatuhkan. Di sana di ruang tamu suami dan kekasihnya asyik bercengkrama dan tertawa, tanpa peduli penghuni lain di rumah ini.
Tak tak tak
Freeya turun menghampiri keduanya
"Wah wah wah, kejutan apa lagi ini".
Kedua manusia yang sebelumnya tidak menyadari kehadiran Freeya langsung berhenti tertawa.
Melihat Freeya yang berdiri di depannya sekarang, membuat senyum Axel kian lebar.
"Bagaimana Freeya, suka dengan kejutan yang suamimu ini berikan. Hm?" Sedangkan Kristal hanya duduk di sofa sembari meniup kukunya seakan sedang menonton sebuah drama. Muka polos yang pertama kali Freeya temui kini sudah tidak ada lagi. Kristal jelas kini dengan terang-terangan menantangnya.
"Kamu nggak lupakan apa yang aku pernah bilang, kamu bawah dia ke sini orang tua kamu akan mengetahuinya".
"Ckckck ancaman Lo itu nggak mempan. Lo harusnya berterimakasih karena gue dengan senang hati mengenalkan orang yang gue cinta sama Lo, nggak selingkuh dibelakang Lo. Benar bukan".
"DASAR GILA". Sembur Freeya
"Kamu Kristal, apa diluaran kamu udah nggak laku, sampai-sampai suami orang pun kamu rayu".Ucap Freeya menatap bengis Kristal.
Mendengar hal itu Kristal yang sedari tadi hanya menjadi penonton, berdiri dan menatap penampilan Freeya.
"Lo sadar ngomong gitu ke gue. Wajarsih Lo ngomong gitu , penampilan urakan Lo ini pasti nggak beda jauh sama otak Lo yang hanya berisi obsesi untuk memiliki harta Axel". "Dengar baik-baik ya sedari awal yang salah di sini itu elo . Lo yang udah buat hubungan gue sama Axel kayak gini. Terus Lo tiba-tiba nyalahin gue. Sini gue bisikin yang jadi penghancur itu elo. Tiba-tiba muncul menerima perjodohan itu, padahal Lo udah tau gue sama Axel udah jauh hari merancang masa depan kamu.Ucap Kristal
"Bagaimana Freeya udah ngerti posisi Lo sekarang, apa perlu gue ulangi. Mau tau sesuatu yang lebih luar biasa lagi Freeya".
Kristal pun kembali mendekat ke samping telinga Freeya.
"Bahkan gue dan Axel udah ngelakuin hal layaknya pasangan dan gue yakin Lo bahkan nggak bisa sampai ditahap itukan".
Mendengar hal itu membuat Freeya mematung. Ia direndahkan sebagai seorang istri. Tangannya bergetar, bibirnya memucat. Bahkan mata itu berkaca-kaca. Freeya menatap Axel yang menyeringai.
Plak
Freeya menampar Axel dengan sisa kekuatannya. Sudah cukup, ini menjadi akhirnya.
__ADS_1
"CERAIKAN AKU".