Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Hamil


__ADS_3

"Jadi kamu ke sini mau beli bahan-bahan buat usaha ya". Ucap Bu Hamidah


"Iya Bu, ini aku udah list yang mau aku beli"


"Mana biar ibu cariin"


Bahan yang dibeli Freeya tidak banyak hanya dua kantong plastik karena dia membeli bahan hanya untuk usaha pertamanya besok. Namun, ketika Freeya ingin berpamitan tiba-tiba ia merasa pusing dan itu tidak luput dari penglihatan ibu Hamidah


"Nak kamu nggak papa?"


"Nggak Bu, Freeya cuma merasa sedikit pusing aja"


"Yaudah kamu duduk di sini dulu, bentar ibu ambilin air minum"


Setelah selesai minum, rasa pusing Freeya semakin bertambah.


"Nak Freeya udah sarapan belum, itu mukanya kenapa pucat banget "


"Udah kok Bu"


Tidak lama setelah itu Freeya merasa apa yang dilihatnya berputar dan akhirnya ia tidak sadarkan diri


"Astaga nak Freeya, bangun.Ya Allah kamu kenapa nak"


"JENO, BAPAK KE SINI SEBENTAR " Teriak ibu Hamidah


Jeno yang berada di belakang tokoh mendengar teriakkan ibunya langsung tergopoh-gopoh memasuki tokoh.


"Ibu, ibu kenapa?"


"Ini nak Freeya tiba-tiba pingsan mana mukanya pucat banget lagi, tangannya juga dingin ini".


"Yaudah, ayo kita bawah aja ke puskesmas"


"Naik apa, kita kan nggak bawah mobil ke sini".


"Ya udah ibu yang tenang dulu, aku ke depan dulu liat angkot ada tau tidak"


Jeno kemudian keluar untuk mencari kendaraan yang bisa digunakan ke puskesmas. Untung saja tokohnya ada di sekitaran pasar jadi tidak susah untuk mencari angkot


"Mang mang, anterin teman saya ke puskesmas yuk"


"Emang teman kamu kenapa"


"Dia pingsan di tokoh mang"


"Astaga yaudah kamu ke sana dulu, nanti saya nyusul"


"Yaudah, makasih mang"


Jeni kembali berlari ke toko dan mencari ayahnya yang tadi juga sedang beristirahat dibelakang.


"Pak"


"Iya"


"Bapak jaga tokoh sendiri dulu ya, aku sama ibu mau ke puskesmas "


"Ibu kamu sakit".Tanya bapak Jeno sembari berdiri


"Bukan itu Freeya pingsan dalam tokoh "


"Kenapa bisa pingsan, ayo masuk nanti biar bapak aja yang jaga tokoh".


Tidak lama setelah mereka masuk angkot datang.


"Ayo Bu angkotnya udah datang" Ucap Jeno sembari mengangkat Freeya dan membawanya ke angkot


"Iya, bapak jaga tokoh aja ya"


"Iya Bu, kalian hati-hati"


Sekarang Freeya sedang diperiksa oleh bidan yang ada di puskesmas.


"Bu Hamidah, ini keluarganya ya. Kok saya baru liat?" Tanya bidan yang sedang memeriksa"


"Hmmm iya, dia keponakan saya dari kota"


"Bagaimana dengan keadaannya Bu bidan?"

__ADS_1


"Hmmm, apa dia udah berkeluarga Bu?"


"Maksudnya bagaimana ibu bidan?"


"Apa keponakan ibu ini sudah bersuami?"


"Hmmm, kalau boleh tau hubungannya dengan memiliki suami apa ya Bu?" Tanya ibu Hamidah yang mulai menduga-duga


"Begini, ketika saya memeriksa ibu Freeya tadi kemungkinan dia sedang hamil mudah, dan untuk lebih jelasnya silahkan cek menggunakan testpack "Ucap ibu Bidan


Deg


"Nak Freeya ha-miil ?"


"Iya Bu kemungkinan dia hamil"


Jeno yang menunggu diluar, jelas tidak mengetahui situasi di dalam sekarang


Sedangkan ibu Hamidah menatap Freeya dengan perasaan yang berkecamuk.


Setelah ibu bidan keluar dari ruangan Jeno akhirnya masuk menghampiri ibunya


"Ibu, gimana keadaan Freeya?"


Ibu Jeno hanya menatap wajah pucat Freeya yang belum sadar


"Ibu?"


"Nanti saja di rumah ibu cerita "


Tidak lama setelah itu terdengar gumaman dari Freeya.


"Ummh "


"Freeya, nak kamu udah sadar"


Freeya kemudian membuka matanya


"Sssst"


"Kepalamu masih sakit nak"


"Sedikit Bu".Ucap Freeya lemah


"Kita lgi di puskesmas, tadi kamu pingsan di tokoh"


"Bu,Jeno maaf Freeya ngerepotin lagi"


"Nggak papa kok, yang penting sekarang kamu udah baik-baik aja. Sekarang kamu istirahat dulu, nanti kalau udah baikan kita balik ke rumah "


"Freeya udah ngerasa lebih baik kok Bu. Kita bisa langsung pulang aja"


"Nggak usah dipaksain kalau emang lagi sakit". Ucap Jeno cuek tapi tersirat kata perhatian


"Aku emang udah merasa lebih baik kok Jeno, jadi lebih baik kita pulang sekarang"


"Yaudah ayo kita pulang supaya kamu bis langsung beristirahat ".


Mereka kemudian pulang dengan angkot yang masih menunggu di depan.


Sesampainya di kos Freeya yang ingin membayar ongkosnya langsung ditahan oleh Jeno


"Nggak perlu ini udah bayar tadi"


"Tapikan Freeya yang dianterin ke puskesmas"


Nggak papa nak, ibu ikhlas kok, ayo masuk. Jeno ke tokoh aja ya bantuin bapak. Ibu mau masih mau di sini"


"Yaudah, Jeno pamit "


Freeya kemudian membuka pintu dan mempersilahkan ibu Hamidah untuk masuk.


"Ayo Bu masuk"


"Nak Freeya kita ke kamar aja ya, ibu ada mau ngomong sama kamu. Pintunya di kunci aja"


"Hmmm baik Bu"


Mereka berdua kemudian masuk dan duduk di kasur kapuk di kamar itu

__ADS_1


"Ibu mau ngomong apa?"Tanya Freeya


"Maaf ya kalau nanti pertanyaan ibu membuat kamu tersinggung"


"Iya Bu, emang mau nanya apa sih kok ibu serius banget"


"Hmmm sebelum ke sini nak Freeya bilang udah nggak punya keluargakan?"


"Iya Bu"


"Apa sebelumnya kamu udah pernah menikah?"


Deg


Freeya sudah tahu bahwa akan ada saatnya ia mendapat pertanyaan tentang kehidupan sebelumnya tapi kenapa harus secepat ini.


"Emang kenapa Bu?"


"Kamu hanya perlu jawab pertanyaan ibu, iya atau tidak"


Hufff


"Iya Freeya udah pernah menikah. Maaf nggak jujur sama ibu"


"Nggak masalah itu hak kamu kalau emang nggak bisa cerita tapi sekarang kamu harus cerita sama ibu untuk kebaikan kamu kedepannya"


"Emang aku kenapa Bu?"


"Tadi saat kamu pingsan, terus diperiksa kamu sebenarnya sedang mengandung"


"Hah?Ibu ngomong apa Freeya nggak dengar?"


"Kata bidan kemungkinan kamu hamil nak"


"Ha-miil, aku hamil?" Yang hanya diangguki ibu Hamidah


"Nggak Bu, nggak mungkin aku hamil, yang periksa aku itu pasti salah"


"Tapi kalau seandainya itu benar bagaimana nak?"


"Nggak mungkin buk, Freeya nggak mau hamil hiks hiks"


"Nak tenang, itu juga belum jelas. Sekarang kamu tenang dan jelasin ke ibu secara perlahan ya, biar ibu bisa bantuin"


"Suami kamu sekarang dimana?"


"A-ku udah cerai Bu".Jawab Freeya menunduk sembari meremas kedua tangannya. Tidak mudah untuk kembali menceritakan sesuatu yang menyakitkan. Tapi tampaknya hari ini ia harus kembali mengorek luka itu


"Jadi kamu udah cerai, bagaimana bisa. Maaf maksud ibu kamu masih sangat mudah dan seandainya kamu sudah menikah ibu bisa perkiraan pernikahan kamu belum terlalu lama"


"Iya Bu, pernikahan aku bahkan nggak sampai setahun"


"Maaf nak ibu nggak bermaksud"


"Nggak masalah kok Bu, itu juga udah berlalu"


Ibu Hamidah kemudian merogoh tasnya dan mengambil barang didalamnya.


"Nak ini testpack. Ibu tadi beli di puskesmas. Besok pagi kamu coba ya. Semoga pemeriksaan tadi salah . Tapi jika seandainya benar kamu harus menerimanya nak. Biar bagaimanapun juga dia adalah titipan dari Tuhan yang harus kamu jaga"


Dengan tangan bergetar Freeya mengambil testpack tersebut.


"Sekarang ibu pamit dulu ya, kamu nggak usah terlalu banyak pikiran. Kamu istirahat aja. Untuk usaha kamu juga nanti setelah sehat baru kamu jalanin"


"Iya Bu ,makasih ya ibu selalu bantu aku. Seandainya aku nggak ketemu sama ibu, sekarang mungkin aku udah terlunta-lunta di jalanan "


"Iya sama-sama nak"


...****************...


Keesokan paginya Freeya langsung membawa tespack itu ke dalam kamar mandi. Untung saja ini masih sangat pagi jadi penghuni kost yang lain tidak ada yang mengantri.


Freeya mencelupkan tespack itu kedalam air kencing yang telah dia tampung diwadah kecil.


"Ya Tuhan, semoga apa yang ku khawatirkan tidak terjadi. Aku belum sanggup menerima caci maki dari lingkungan baru aku. Aku bahkan tidak siap mengandung anak orang itu Tuhan"


Setelah cukup lama menunggu Freeya kemudian mengambil tespack tersebut dengan tangan bergetar ia melihat hasilnya


Terlihat satu garis dan satu garis lagi terlihat buram namun semakin lama garisnya semakin jelas.

__ADS_1


Nggak mungkin, ini pasti masih salah aku nggak mungkin secepat itu mengandung".


Ya tespack itu menunjukkan dua garis merah artinya Freeya benar-benar mengandung anak Kai.


__ADS_2