
... Aku akhirnya menyerah pada kesempatan yang ingin aku pertahankan. Aku menerima semua konsekuensinya, namun aku tidak pernah membayangkan bahwa rasa sakitnya berkali-kali lipat ...
Setelah sampai di rumah Freeya langsung membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya yang sudah terlalu lelah.
Huffft
"Mungkin kesempatan untuk memperbaiki semuanya emang udah nggak ada. Kebencian Axel bahkan sudah mendarah daging. Bahkan selama apapun aku bertahan, dimata mereka aku tetap akan menjadi sosok yang salah. Mungkin yang dibilang Sindi emang benar, aku harusnya bisa menjadi egois sesekali untuk kebahagiaan diri aku sendiri ".
Huffft
"Baiklah besok aku akan mencoba kembali berbicara dengan ayah,ibu. Padahal dari awal aku sudah yakin untuk bertahan, tapi ternyata semakin mencoba, semakin banyak sakit yang aku tanggung.Dan kini aku lelah dan memilih menyerah".
Setelah lama bergelut dengan pikirannya Freeya kemudian memilih untuk tidur.
Sementara di sisi lain, Axel baru sampai di tempat Kristal.
"Yang kok kamu baru datang sih, lama banget" Ucap Kristal sambil memeluk lengan Axel
"Maaf yang, aku nggak bisa cepat pulang soalnya disana banyak rekan kerja aku. Dan itu kesempatan untuk cari relasi yang"
"Ohh gitu, yaudah yuk kamu ganti baju dulu"
Axel kemudian menuju ke kamar yang dia tempati.
Ya mereka memang tinggal bersama tapi memiliki kamar yang berbeda, walaupun terkadang memilih tidur bersama.
...****************...
Pagi ini Freeya sangat semangat, apapun yang terjadi nanti apabila keputusannya di tentang orang tuanya, ia tetap akan teguh pada keputusan awalnya.
Sebelum keluar ia menyempatkan diri untuk membersihkan seluruh ruangan, menatap satu persatu ruangan. Setelah ini mungkin aku sudah tidak akan lagi menginjakkan kaki dirumah ini.
"Rumah dengan segala kesepiannya.
Rumah dengan kisah sepasang suami istri yang terpaksa bersama, yang akhirnya melahirkan sakit dalam hati ,fisik bahkan mental.
Rumah ini adalah tempat lukaku bertambah namun, ia juga tempatku berkeluh kesah tiap malamnya.
Jika suatu saat nanti aku kembali menemui rumah baru, aku harap ia sederhana, namun menjadi obat dari rasa sakitku ini". Ucap Freeya dalam hati sembari terus menatap seluruh ruangan yang menjadi saksi berantakannya rumah tangga yang waktunya hanya sesaat.
Setelah membersihkan diri, ia kemudian beranjak untuk ke rumah orang tuanya, tapi sebelum itu ia memutuskan untuk singgah di cafe seperti biasa.
"Sekarang masih jam 11 otomatis ayah belum di rumah. Jadi lebih baik aku disini saja dulu"
Sembari menunggu hingga sore, waktu dimana orang kantor kembali kerumah, Freeya berkutat dengan laptopnya. Ia menulis cerita baru tentang sebuah rasa yang menciptakan beberapa luka. Jika orang -orang yang mengetahui kehidupan Freeya sebenarnya, mereka akan langsung mengatakan bahwa itu bukanlah cerita semata, tapi kisah yang nyata.
"Hufff udah mau jam 4, aku ke rumah deh sekarang ".
Freeya kemudian membereskan barang-barangnya dan melangkah keluar menuju rumah orang tuanya.
Setelah sampai di sana ia langsung id sambut sama pembantu yang kebetulan sedang berada diluar
"Sore non"
"Sore bi, ayah udah pulanh belum?"
"Belum non, mungkin sebentar lagi "
__ADS_1
"Kalau ibu , ada di dalam nggak bi?"
"Ohh iya ada non, non masuk aja. Tadi bibi liat nyonya lagi diruang tamu
"Oke bi makasih ya"
"Iya non"
Freeya kemudian segera masuk kedalam rumah
"Baik banget non Freeya, udah cantik, sopan lagi beda banget sama adeknya".Ucap sang bibi
"Assalamualaikum" Ucap Freeya
"Waalaikumsalam" .Jawab ibunya
"Kamu ngapain ke sini?"
"Ibu apa kabar?"
"Hmm saya baik, kamu belum jawab pertanyaan saya, kamu ngapain ke sini?"
"Ada yang mau Freeya omongin Bu".
"Apalagi, kamu buat masalah lagi ya?" Tanya ibunya
"Nggak kok Bu, tapi tunggu ayah dulu ya"
"Hmmm ya sudah ibu mau ke kamar dulu, panggil saja kalau ayah kamu sudah datang"
Setelah ibunya pergi, Freeya tetap dalam sofa dengan mata yang menatap ke arah kamar orang tuanya
Tidak lama terdengar deru mobil dari luar menandakan ayahnya sudah tiba
"Assalamualaikum"Ucap sang ayah
"Waalaikumsalam yah".Ucap Freeya
"Freeya kok kamu disini, udah dari tadi?" Ucap ayahnya tersenyum kearah Freeya
"Baru aja kok yah, Freeya ke sini karena ada yang mau Fre omongin sama ayah ibu".
"Terus ibu kamu mana?"
"Ibu tadi ke kamar ya"
"Ya sudah kamu tunggu saja, ayah ke kamar sebentar untuk ganti baju ya sebelum kita bicara"
"iya ayah"
Setelah menunggu hampir 10 menit, terlihat ayah dan ibunya sudah turun ke lantai satu.
Mereka kemudian duduk di depan Freeya
Hufff
"Ayo Fre, kamu bisa cari kebahagiaan kamu sendiri ".Ucap Freeya dalam hati
__ADS_1
"Ohh ya Fre, jadi kamu mau ngomong apa? Tanya ayahnya
Freeya kemudian menatap orang tuanya
"Ibu ayah, maafin Freeya kalau kembali ngecewain kalian"
"Maksuda kamu?" Tanya ayahnya lagi
"Freeya udah nggak bisa bertahan sama mas Axel. Ini udah jadi keputusan Freeya"
Plak
Mendengar itu ibunya langsung berdiri menuju Freeya dan menamparnya
"Jadi kamu emang nggak pernah mau denger orang tua ya, udah siap dengan konsekuensinya?"Tanya ibunya tajam
"Freeya udah mikirin bu, apapun itu Freeya akan tetap berpisah dengan Axel".
Plak plak
Ibunya kembali menamparnya , sedangkan ayahnya hanya menatap iba Freeya
"Pergi kamu dari rumah ini,detik ini kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini, seperti yang pernah saya katakan dulu. Apabila kamu berpisah dari Axel, maka kamu bukan lagi bagian dari keluarga ini"
Deg deg
Freeya memang sia menerima konsekuensinya tapi ketika ia mendengar ibu mengusirnya, ia serasa kehilangan pijakannya.
"Ma-af maafin Freeya kalau udah buat kalian kecewa. Dan Freeya akan keluar dari rumah ini. Makasih karena udah rawat Freeya selama ini, ayah dan ibu hanya perlu tahu satu hal kalau sampai detik ini rasa sayang Freeya masih ada untuk ayah dan ibu.
Titip salam untuk Jennie, Freeya pamit pergi semoga setelah kepergian anak tidak berguna ini, kalian bisa bisa bahagia".
Setelah mengatakan itu Freeya melangkah keluar dari rumah.
Namun, setelah sampai diluar kakinya serasa tak memiliki tenaga lagi, bahkan untuk tetap bisa berdiri ia harus mencari pegangan
"Hiks hiks aku kembali kehilangan rumah, dimana lagi aku bisa berteduh".
Freeya berharap ayahnya keluar dan menghentikan langkahnya namun, ternyata harapannya tidak sesuai.
Ia memang telah diusir, tidak lagi memiliki keluarga.
"Hiks hiks inikan Fre yang kamu mau, sekarang kamu bebas cari kebahagiaan itu. Kamu hanya menyelesaikan dengan mertua dan Axel kemudian kamu bebas".
"Hiks hiks tapi kepada sakit sekali, aku harus kemana, jika ayah dan ibu saja tidak menginginkan aku lagi"
Freeya melangkah keluar untuk mencari taksi. Ia kembali menghadap kebelakang untuk melihat rumah yang telah membesarkannya.
Banyak kenangan indah antara ia dan Jennie dimasa kecil di rumah itu
Banyak rasa iri yang tumbuh dirumah itu
Dan ada ruang yang pernah ingin ia isi dengan kebahagiaan antara ayah dan ibunya dalam hati, tapi sebelum itu terisi ia sudah bukan lagi menjadi anak mereka.
Setelah ia berada didalam taksi, Freeya mengirimkan pesan kepada sahabatnya digrup WhatsApp mereka
AKU MEMILIH MENYERAH, KESEMPATAN UNTUK MEMPERBAIKI HUBUNGANKU DAN AXEL MUNGKIN SUDAH TIDAK ADA LAGI. HEHEHE AKU AKHIRNYA SADAR BAHWA BERTAHAN SEORANG DIRI ITU JAUH LEBIH MELELAHKAN.
__ADS_1
TERIMAKASIH GUYS UDAH NASEHATIN AKU SELAMA INI.
setelah mengirim pesan itu Freeya mematikan hpnya. Untuk sementara ia ingin menenangkan pikiran sebelum bertemu dengan orang-orang terdekatnya dan orang-orang yang nanti akan dia kecewakan.