
... Jika menaruh rasa pada manusia itu ialah luka yang tak kasat, sedari awal aku tidak akan membuka ruang untuk kau gores. Bahkan semua luka sebelum bertemu dengan mu masih saja basah, dan justru sekarang ia berdarah -darah...
"CERAIKAN AKU". Ucap Freeya
Mendengar hal itu terselip perasaan yang tidak enak di hati Axel ,tapi segera ditepisnya.
"Hahaha lo mau cerai "?
Axel menunduk menatap mata wajah Freeya yang mendung itu.
Ia kemudian mencengkram kedua bahu Freeya
"Nggak semudah itu Freeya, karena Lo hubungan gue dan Kristal harus gue sembunyiin sekarang. Dan yang harus Lo ingat, nerakanya bahkan belum panas jadi harusnya Lo masih bisa bertahan kan".
Setelah mengatakan itu Axel menepuk pipi Freeya, Freeya langsung menepis tangan Axel.
"Ayo sayang kita ke kamar"
Seketika Freeya emosi mendengar hal itu
"Jangan pernah kamu berani bawah wanita lain ke kamar kita mas, kalau tidak ingin aku membunuhnya". "Kalau kalian sangat ingin maka tidurlah diluar".
Namun, mereka tidak mendengar perkataan Freeya. Freeya yang melihat guci di sampingnya langsung memecahkan guci tersebut dan mengambil pecahan yang tajam. Bahkan saking kuatnya Freeya memegang pecahan tersebut, darah mulai keluar dari celah tangannya.
Freeya menghampiri Kristal dan menarik rambutnya.
Pecahan itu, sekarang tepat di leher Kristal. Axel yang ingin memegang tangan Kristal langsung berhenti ketika melihat sedikit darah dan ringisan dari Kristal.
"Freeya Lo apa -apaan, lepasin Kristal kalau Lo nggak mau hancur saat ini juga" Ancam Axel
" Ya sudah itu lebih baik aku hancur dan dia mati. Adil bukan". "Stop di situ, semakin kamu mendekat maka pecahan ini akan semakin dalam".
Axel tidak tahu harus melakukan apa. Ia kasihan melihat kekasihnya terluka. Axel bahkan kaget melihat Freeya yang sekarang.
"Oke gue akan keluar tapi lepasin Kristal dulu"
"Bukan hanya keluar, tapi jangan pernah bawah wanita tidak tau diri ini ke sini".
"Berbuatlah sesukamu diluar sana, karena tidak bisa dipungkiri sifat murahan kalian tidak akan pernah hilang".
Amarah Axel kembali setelah mendengar ucapan dari Freeya. Tapi ia tidak bisa berbuat lebih.
Kurang ajar tunggu pembalasan gue Freeya, gue hancurin Lo dan keluarga Lo sampai ke akarnya. Ucap Axel dalam hati.
Setelah Axel mengalah Freeya kemudian mendorong Kristal ke arah Axel. Axel langsung memeluk Kristal dengan sangat erat dan menatap Freeya penuh emosi.
__ADS_1
"Pergi sebelum aku mengambil pisau".
Setelah Axel dan Kristal menghilang dari balik pintu pertahanan Freeya akhirnya runtuh.
hiks hiks hiks
Kalian jahat, kalian semua nggak ada yang mengerti posisi aku.
"Nggak ada yang mengerti perasaan aku"
Perasaan yang pernah tumbuh itu kembali layu sebelum tumbuh dengan baik.
Setelah tangisnya meredah, Freeya perlahan bangkit ke kamar tanpa memperdulikan kekacauan di ruangan tersebut. Bahkan tanpa membersihkan dan mengobati tangannya yang jika dilihat baik-baik lumayan dalam, ia langsung tertidur.
Ia menutup mata tapi air mata itu kembali mengalir.
Kalian mungkin nggak rasain apa yang aku rasain. Dimana segala harap dirumah tangga Freeya sekarang hilang tidak tersisa. Bahkan dalam situasi ini Freeya sangat ingin mendapatkan pelukan tapi yang setia mendengar tangisannya hanya dinding kamar dingin dan gelap yang justru semakin membuatnya merasa tak diinginkan.
Sekitar jam 2 malam Freeya baru bisa tertidur, ia tertidur pun mungkin karena matanya yang terlalu lelah menangis. Munafik jika Freeya tidak memikirkan apa yang dilakukan Axel bersama Kristal malam ini.
...****************...
Keesokan harinya Freeya terbangun jam 6 pagi. Setelah mandi barulah ia menyadari luka yang berada di telapak tangan kirinya.
Hufff
Freeya tidak ke cafe seperti biasa, hari ini dengan berjalan kaki ia menuju ke taman yang masih berada dalam kompleks permukaannya. Sampai di sana tidak ada orang satupun, mungkin karena jam masih menunjukkan jam 10 pagi.
Ia duduk di salah satu kursi panjang berwarna putih di bawah pohon. Tanpa melakukan apa-apa. Ia hanya duduk, kemudian menghela nafas secara terus menerus untuk mengurangi bebannya.
Freeya tidak sadar, bahwa di kursi panjang yang berhadapan dengannya ada seseorang yang entah kapan datangnya terus saja memperhatikan Freeya.
Tatapan itu teduh, namun kadang tajam.
Lama memperhatikan akhirnya ia memutuskan untuk menemui Freeya.
Melihat dari tingkah Freeya yang asyik dengan dunianya sendiri membuat laki-laki itu duduk persis disebelah Freeya. Bahkan ketika laki-laki tersebut telah duduk, Freeya belum juga sadar.
"Hmm". Ucap laki-laki tersebut tapi itu belum membuat Freeya kembali dari lamunannya.
"uhuk uhuk". Laki-laki itu kembali batuk, barulah Freeya menoleh ke arahnya.
" Ehh".
"Ngelamunin apa Fre?"
__ADS_1
"Ehhh nggak kok, kamu udah dari tadi di sini?"
"Baru aja tapi kamu nggak nyadar"
"Sorry Kai".Ya laki-laki itu ialah kai teman club Axel yang beberapa kali bertemu dengan Freeya.
"Lagi ada masalah".
Freeya hanya menanggapinya dengan tersenyum. Laki - laki itu menatap mata Freeya yang masih kelihatan bengkak walaupun tidak separah ketika ia bangun, kemudian melihat tangan yang dibalut perban"
"Tangan kamu kenapa, kok luka?"
"Eh iya ini, tadi nggak sengaja kena air panas karena gelasnya pecah"
"Tapi udah di obatin kan?"
"Udah kok, ohh ya kamu ngapain disini?"
"Tadi lagi pengen cari udara segar aja, makanya ke sini".
"Emang kamu tinggal di kompleks bagian sini?" Tanya Freeya lagi
"Hmm, iya tapi aku emang jarang ke sini". Nyatanya memang Kai memiliki rumah di sini ,tapi itu bukan jawaban pertama dari pertanyaan Freeya. Yang benar tadi ketika ingin ke kantor, Kai tidak sengaja melihat Freeya yang berjalan ke arah taman. Kai kemudian mengikutinya namun, ia memilih duduk di kursi lain.
Setelah basa-basi itu, mereka kembali diam.
"Kai boleh nanya nggak?"
"Hmm"
Freeya kembali menarik nafas, sebenarnya ia tidak ingin bertanya kepada orang yang belum terlalu ia kenal. Tapi saat ini ia memang butuh masukan. Sedang untuk membicarakan hal ini kepada sahabatnya justru akan semakin memperkeruh suasana.
"Kalau misalnya kamu menyukai seseorang tapi semakin kamu menyukainya, kamu juga akan semakin sakit kamu akan bertahan sama orang yang kamu suka itu atau justru berhenti Kai?"
"Hmmm lagi bermasalah dengan Axel rupanya?"
"Nggak kok cuma emang pengen tau aja kalau hal itu terjadi"
"Kalau aku sendiri, aku akan coba pertahanin semampu aku, tapi kalau emang yang berjuang cuma aku dan timbal baliknya udah keliatan nggak ada ya udah aku lebih baik berhenti. Soalnya percuma hanya karena perasaan sedangkan hati kita justru tidak merasa bahagia.
"Gitu ya". Ucap Freeya
"Itu cuma menurut aku. Tapi semua tergantung sama orangnya. Banyak hal yang kadang berusaha kita pertahankan tapi ternyata itu justru sesuatu yang mudah lepas".
Mendengar hal tersebut niat Freeya semakin kuat untuk menjalankan keputusannya.
__ADS_1
Setelah lama berbincang, dengan Kai yang beberapa kali mencoba memancing Freeya agar bercerita tapi tidak berhasil, Kau akhirnya pamit ke kantor walaupun ini sudah siang untuk seseorang yang ingin masuk kerja .
Tak berlangsung lama, Freeya juga ikut beranjak untuk ke rumah orang tuanya.