
Setelah keluar dari hotel Freeya dan Axel langsung menuju ke mobil. Setelah masuk Axel langsung mengemudikan mobil tersebut. Namun, belum sampai pertengahan jalan ia langsung menghentikan mobilnya.
Freeya yang bingung akhirnya bertanya
"kok mobilnya berhenti?"
"Turun". Perintah Axel
"Maksudnya?
"Lo turun dari mobil gue?"
"Ha? Ngapain turun kan ini masih jauh Xel".
"Ya gue nggak mau tau pokoknya Lo turun di sini"
"nggak bisa gitu dong, kamu tadi barengan ke hotel sama aku, jadi pulangnya kamu harus nganterin aku dong sampai di rumah"
"Gue nggak mau tau pokoknya Lo, turun di sini, gue mau langsung ke apartemen Kristal "
"oke kamu ke apartemen perempuan itu atau kemanapun itu terserah, tapi kamu harus nganterin aku pulang dulu "
"Nggak bisa, pokoknya Lo turun di sini, kalau nggak gue yang bakal tarik Lo keluar dari mobil"
"nggak Xel, aku nggak mau, plis anterin aku dulu, disini gelap aku takut". Ucap Freeya dengan memohon tapi Axel tidak luluh,ia tetap menarik kadar Freeya keluar dan menjatuhkannya ke aspal.
Bruk
Axel kemudian menutup dengan keras pintu mobilnya dan langsung melaju kencang
"Hiks hiks kurang ajar, dasar laki-laki baj*ngan, Kepa*at. Bahkan sekalipun kamu segitu dendamnya sama aku, kamu nggak pantas nelantarin aku kayak gini Xel, hikks aku takut".
Freeya bangkit dan berjalan dengan memeluk erat tasnya. perlahan ia mencoba memesan taksi namun, tidak ada satupun yang menerima orderannya.
"hiks hiks aku takut". Freeya semakin berjalan. Namun, semakin gelap juga jalanan yang ia lewati.
Sebenarnya ia sangat ingin menyalahkan penerangan di hp nya, namun ia takut jika seseorang melihatnya berjalan seorang diri ia akan melakukan sesuatu hal yang buruk . Terpaksa Freeya berjalan dengan meraba dalam kegelapan. belum lagi sekarang ini, ia tidak menggunakan alas kaki, akibat kakinya yang lecet karena terlalu lama menggunakan high heels.
"Hiks hiks ini masih jauh nggak sih, perasaan nggak nyampe-nyampe".
Kering sudah membasahi tubuhnya, bukan hanya karena kelelahan, namun karena rasa takut.
Sedangkan Axel yang sudah lumayan jauh dari posisi Freeya mulai merasa khawatir.
Sebenarnya ia bisa saja mengantar Freeya sampai dirumahnya, namun ia mengingat ucapan Lio tadi. Ia pertama kali di ancam dengan orang yang sama hanya karena Freeya. Dan itu membuatnya marah hingga menelantarkan Freeya Begi saja.
"Duh gimana kalau tuh cewek kenapa-kenapa ya, pasti yang disalahin gue. tapi kalau gue jemput lagi mau ditaro dimana muka ganteng gue. Hufff.Axel menarik nafas dan memberhentikan mobilnya sejenak
"Tapi kalau gue nggak balik dan terjadi apa-apa sama dia mama sama ayah pasti bakal kecewa banget sama gue, dan nganggap gue suami yang nggak becus. Arrrh bodoh amat dia mau ngomong apa yang penting ayah dan mama nggak kecewa sama gue".
"Tuh cewek bahkan ketika dia nggak disini aja bikin gue gila"
Axel kemudian kembali memutar arah untuk menjemput Freeya.
Namun, ketika ia sampai di tempat dimana ia menurunkan Freeya tadi, Freeyanya sudah tidak lagi disan.
"Kemana tuh cewek, masa ngilang sih".Ucap Axel mulai khawatir
"Jangan sampai yang gue khawatirin terjadi".
Ia kemudian mengemudikan mobilnya dengan pelan untuk mencari keberadaan Freeya.
__ADS_1
"Masalahnya gue tadi juga nggak liat dia jalan di pinggir pas gue balik ke sini".
Flashback
Tin tin
Terdengar klakson mobil dari belakang dengan lampunya yang menyorot tubuh Freeya.
"Ya Allah lindungilah Freeya".
"Fre Fre Freeya"
"Kok dia kenal nama aku, Ya Allah mohon sekali ini beri aku kekuatan untuk lari secepat mungkin".
Ia kemudian mengambil ancang-ancang untuk berlari secepat mungkin, namun sebelum itu mobil tersebut telah sampai tepat di sampingnya
"Freeya, ini aku Kai"
Seketika Freeya menghadap ke arah mobil dan benar saja yang memanggilnya itu KAI. Freeya akhirnya bernafas lega dan rasa takut tadi seketika menghilang.
"Fre, kok kamu bisa begini, ngapain jalan sendiri, mana ditempat gelap lagi, liat tuh kaki kamu bahkan udah lecet".Ucap Kai yang seperti mengomeli temannya
"ehh itu anu, Giman sih ngomongnya".Ucap Freeya yang bingung hendak menjawab apa.
"Udahlah nanti aja dibahasnya, kamu masuk mobil dulu".
"Iya".
"Nih lap keringat kamu".Ucap Axel memberi tisu ke Freeya
"Makasih"
"hmm, kita nanti mampir dulu di tempat yang agak ramai buat ngobatin kaki kamu, kayaknya nanti di depan ada taman yang selalu ramai kalau aku nggak salah ingat"
" Aku nggak terima penolakan. Kaki kamu lecet, nanti kalau diobatinnya lama bisa infeksi Fre".
"hmmm yaudah deh kita singgah obatin dulu"
Mereka kemudian berhenti ditempat yang disebutkan Kai sebelumnya.
"Fre, kamu duduk di bangku itu aja dulu, aku mau beli minuman dulu"
"iya "
Tidak berselang lama Kai akhirnya muncul membawa Aqua botol, Betadine serta kapas . Kai kemudian duduk disamping Freeya dan tanpa aba-aba ia mengangkat kaki Freeya dan diletakkan dipahanya.
"Eh, Kai kamu mau ngapain?"
"Kamu diam deh Fre, aku mau ngobatin kaki kamu dulu".
"Aku aja Kai sini obatnya".Pinta Freeya
"Nggak kamu cuma perlu diam di situ dan semuanya beres"
"hmmm " Freeya akhirnya hanya bisa menurut
Kai kemudian membersihkan luka Freeya dengan Aqua botol tadi sebelum diolesi obat Betadine.
"Auh". Ringngis Freeya
"Fiuh fiuh".Kai dengan sigap meniupnya.
__ADS_1
Deg deg
Freeya rasanya ingin menangis, baru kali ini ada yang memperlakukannya selembut ini. Bahkan Kai hanya teman yang tak sengaja ia temui beberapa kali, namun membuat Freeya merasa sangat diperlakukan sebaik ini.
"Udah Fre".Kai kemudian menurunkan kembali kaki Freeya membuat Freeya kembali ke dunianya
"Makasih kai"
"Hmmm santai aja. Oh ya kamu belum jawab pertanyaan aku.Kenapa tadi kamu bisa jalan sendiri, mana udah gelap belum lagi kaki kamu lecet. Bukannya tadi kamu barang sama suami kamu terus sekarang dia dimana?" Tanya kai bertubi-tubi.
"Hmm itu , sebenarnya tadi aku dan Axel berantem dikit, terus aku langsung turun deh dari mobil karena emosi".
"Terus Axel ninggalin kamu gitu aja, gitu?"
Yang hanya dibalas anggukan oleh Freeya
"Astaga, suami kamu nggak make otaknya ya, aku kira cuma mabok aja dia nggak ngotak bahkan ketika sadarpun dia juga nggak pake otak. Bisa-bisanya dia ninggalin istirnya gitu aja".
Mendengar hal itu hari Freeya jadi tersentil. Bagaimana jika seandainya kai tau apa yang terjadi lebih parah dari ini, bagaimana responnya mendengar temannya memperlakukan istrinya dengan tidak layak
"Mungkin di situ Axel emosi banget jadi dia langsung pergi".Jawab Freeya
"Nggak bisa gitu dong, kamu itu tanggung jawab dia. gimana kalau aku nggak ada tadi. Gimana kalau hal yang nggak baik terjadi"
"Kan aku udah nggak papa KAI".Ucap Di yang tidak ingin permasalahan ini melebar
"Nggak bisa gitu dong, aku telpon Axel dulu de"
"Ehhh, Kai nggak usah biarin Axel tenang dulu, aku mohon".
"Hmmm yaudah, sekarang aku anterin kamu pulang"
"makasih banyak ya Kai, maaf ngerepotin kamu"
"Nggak ngerepotin kok, tapi ada syaratnya".Ucap Kai tersenyum
"Syarat? Kamu nggak iklas ya?" Tanya Freeya judes
"Ikhlas lahir batin kok, cuma emang ada syaratnya
"Apaan awas macam-macam?"Tanya Freeya
"Gampang kok, kamu cuma perlu nerima aku sebagai teman". Ucap Kai
"Itu aja ya udah sekarang kita berteman, lagian kamu juga udah dapat nomor aku, Axel juga kan teman aku otomatis kita juga udah temanan"
Setelah itu Kai kemudian mengantarkan Freeya pulang.Sekitar tiga puluh menit mereka akhirnya sampai
"Makasih ya Kai"
"Iya masuk gih udah malam banget soalnya"
"Iya kamu hati-hati ya"
Sedangkan disisi lain Axel masih terus mencari Freeya
"CK, kemana sih atau mungkin udah sampai dirumah kali ya".
Axel akhirnya memutuskan untuk mengecek kerumahnya
Setelah sampai didepan rumah ia melihat semua lampu telah menyala
__ADS_1
"Ternyata gadis nggak tau diri itu udah nyampe. Gue bahkan capek nyari dia keliling dan sekarang dia mala enak-enakan dirumah. Axel kemudian kembali mengemudikan mobilnya menuju apartemen Kristal tanpa masuk terlebih dahulu.