
...Ayah masih tetap menjadi satu-satunya laki-laki terbaik versi anak pertamamu ini. Tapi tolong jangan juga menjadi sosok yang tidak pandai berterima kasih setelah cinta ini sepenuhnya berlabuh padamu....
Setelah mematikan hpnya Freeya kemudian mengajak sopir taksi untuk membawanya ke tempat yang mungkin tidak akan diketahui teman-temannya.Ia ingin menyendiri setelah apa yang dilaluinya hari ini.
Dan di sinilah dia sekarang, di sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota. Meskipun waktu sudah lewat magrib, Freeya tetap datang ke sini. Di sebuah danau kecil yang dikelilingi pohon-pohon besar. Tidak jauh dari sini terdapat rumah pohon, yang nampaknya sudah lama tidak terawat.
Freeya memutuskan untuk duduk dibawah disalah satu pohon dengan penerangan dari ponsel seraya memandang ke danau dengan tatapan yang sangat kosong.
Ia membayangkan bagaimana danau ini dulu pernah menjadi tempat yang mengukir kebahagiaan bagi Freeya.
Saat itu setelah Jennie selesai ulang tahun, tapi ia lupa itu ulang tahun Jennie yang keberapa, intinya saat itu Jennie masih dibawah umur 10 tahun.
Setelah acara ulang tahun itu, besoknya ayah dan ibunya mengajak Jennie untuk liburan ke sini otomatis Freeya juga ikut. Ada saat itu danau ini masih banyak yang mengunjungi tapi sekarang nampaknya sudah tidak lagi.
Flashback
"Jennie sama Freeya sekarang istirahat ya, karena besok Jennie akan dapat hadiah dari ayah. Kita besok liburan untuk satu hari". Ucap ayah
"Hore, kita akan jalan-jalan kak".Ucap Jennie melompat ke arah kakaknya
"Freeya boleh ikut yah?" Tanya Freeya
"Boleh dong, besok kita bertempat akan liburan .Jadi sekarang kalian harus cepat istirahat "
"Hore, Freeya ikut".Ucap Freeya juga ikut melompat kegirangan
"Sudah-sudah sekarang kalian istirahat, ayo Jennie ibu antar ke kamar".Ucap ibunya
Pagi-pagi sekali mereka berangkat, satu jam kemudian mereka sampai di tempat yang dimaksud ayahnya.
"Wow danau". Ucap Freeya
"Ayah, Jennie mau naik perahu itu yah".Ucap Jennie menarik baju ayahnya
"Baiklah. Ayo kita ke tempat petugasnya".
"Selamat pagi pak, apakah mau menyewa perahu"
"Iya pak , anak-anak saya mau mengelilingi danau katanya "
"Baiklah silahkan selesaikan pembayarannya dulu di sebelah sana"
Ayah mereka pun segera membayar biaya perahu.
Karena perahu hanya untuk dua orang, bertiga dengan petugasnya, maka mereka menyewa dua perahu. Ayah bersama dengan Freeya dan ibu dengan Jennie.
"Apakah Freeya suka di sini nak?"Tanya ayahnya
"Suka sekali ayah.Ini sangat indah".Ucap Freeya memandang takjub pemandangan saat mereka berada ditengah laut.
"Ayah sengaja ajak kalian ke sini sebagai hadiah untuk ulang tahun Freeya bulan depan".
"Ohh gitu yah, kenapa hadiahnya cepat sekali".
"Karena nanti ibu marah kalau hadiahnya lambat ayah kasih".
"Wahhh pasti ibu tidak mau Freeya iri dengan Jennie makanya hadiahnya dikasih duluan".Ucap Freeya yang hanya diangguki ayahnya
__ADS_1
"Pemandangannya sangat indah, seindah anak ayah ini"
"Hehehe"
Ayah menatap dalam Freeya kecil seakan ada hal yang ingin diungkapkan tapi tidak bisa. Akhirnya ia hanya mengelus kepala Freeya. Hal yang sangat jarang ia lakukan ketika di rumah.
"Freeya sayang sama ayah, makasih udah ajak Freeya ke sini"
"Ayah juga sangat menyayangi Freeya, Freeya harus jadi anak cantik yang kuat dan ingat ayah selalu ada untuk Freeya".
"Iya ayah". Freeya langsung berdiri dan melompat memeluk ayahnya karena ia sangat jarang mendapat perlakuan seperti ini.
Namun karena refleksnya melompat itu membuat perahu bergoyang dan akhirnya
BYUR
Freeya jatuh ke danau. Ayahnya dengan segera melompat dan menariknya.Untung saja danaunya tidak dalam untuk ukuran orang dewasa jadi ia bisa dengan cepat menarik Freeya. Petugas itu membantu Freeya dan ayahnya untuk naik kembali ke perahu dengan sangat pelan.
"Nak kamu tidak apa-apa?" Tanya ayahnya cemas
"Hiks hiks Freeya takut"
"Udah nggak papa kan ada ayah, sekarang kita kembali ke sana saja ya".
Freeya hanya mengangguk
Hal tadi tidak luput dari penglihatan ibunya.
Setelah ibunya sampai di daratan ia langsung menghampiri Freeya.
"Tadi perahunya nggak sengaja goyang pas Freeya berdiri Bu".Ucap suaminya
"Kamu itu Freeya, selalu ceroboh untung kalian tidak tenggelam". Freeya hanya menunduk mendengar ibunya berbicara.
"Sudah-sudah yang penting kita tidak terluka. Sekarang Freeya ganti baju dulu, nanti biar bisa lanjut mainnya".
Setelah berganti pakaian, Freeya dan Jennie pergi ke arah rumah pohon yang tidak terlalu tinggi.
"Ayah Jennie mau ke atas?"
"Jennie nggak takut jatuh?"
"Kan ada ayah yang pegangin"
"Yaudah, ayo. Freeya juga mau naik nggak nak?" Tanya ayahnya
"Mau yah"
"Yaudah ayo.Yang naik duluan Freeya ya, supaya nanti bisa pegang adeknya ke atas"
Freeya pun menaiki satu persatu tangga, setelah sampai di atas giliran Jennie.
"Ayo Jen, pegang tangan kakak"
Mereka berdua akhirnya naik ke atas
"Wow danaunya keliatan sana hutan di sana ya kak"
__ADS_1
"Iyah, anginnya juga di sini lebih kencang"
"Ayah ayo naik ,di sini bagus "
Teriak Jennie dari atas. Tersisa ibunya yang menunggu disamping danau.
"Ayah ayo Poto".Ucap Jennie
Mereka pun mengabadikan momen mereka beberapa kali.
"Kalian mau nulis nama di pohon ini nggak?"Tanya ayahnya
"Mau mau".Ucap Freeya dan Jennie semangat
Ayahnya kemudian turun kembali untuk mengambil batu dan kayu yang tajam untuk digunakan.
Ayahnya mengukir nama Freeya dan Jennie di batang pohon yang ada ditengah rumah kayu itu.
"Nanti kalau kita ke sini lagi kita cari nama kita ya kak".Ucap Jennie
"Iya Jen, semoga tidak terhapus ya"
"Ini tidak mudah terhapus kok, ayah sudah dalam menulisnya.
Sore hari mereka memutuskan untuk kembali pulang ke rumah dan melakukan rutinitas seperti biasa. Kedekatan seorang ayah dan anak kembali berjarak. Sampai Freeya dan Jennie dewasa mereka tidak pernah lagi ke sini.
...****************...
"Yah, Freeya kembali lagi".
"Ayah ingat nggak saat ayah mengatakan tempat ini adalah hadiah untuk ulang tahun Freeya"
"Saat mendengar itu Freeya sangat bahagia yah, mungkin ayah tidak sadar tapi tempat ini adalah satu-satunya hadiah ulang tahun untuk Freeya".
"Freeya masih ingat saat ayah nyelamatin Freeya yang hampir tenggelam. Freeya ingat tatapan kecemasan itu"
"Freeya bahkan ingat dengan jelas ketika ayah menyuruh Freeya untuk menjadi anak yang kuat dan ayah akan selalu ada di sisi Freeya"
Setelah mengatakan itu Freeya menatap ke arah langit yang penuh dengan bintang.
"Maaf yah, permintaan ayah tidak bisa Freeya penuhi Freeya tidak bisa terus menerus menjadi kuat saat segala masalah mendorong Freeya untuk jatuh.
Bahkan ayah tidak pernah disisi Freeya. Ayah bohong sama Freeya".
Dimalam yang gelap ini tidak ada ketakutan dalam diri Freeya tentang apapun karena kekecewaan dan sakit itu lebih mendominasi.
Dengan penerangan yang seadanya, Freeya berdiri dan melangkah ke arah rumah pohon. Ia menaiki tangga satu persatu yang kayunya agak goyang.
Setelah sampai di atas ia langsung menyingkirkan lumut yang memenuhi pohon tempat ayahnya pernah mengukir namanya dan nama adeknya.
Nama itu bahkan masih ada walau terlihat sangat samar. Freeya menyentuh pohon itu dan runtuhlah pertahanannya.
Hiks
Hiks
Ayah, Ibu
__ADS_1