
Setelah meredam emosinya, Kai dan Lio akhirnya duduk di sofa. Bahkan Kai belum sempat mengobati lukanya tapi menurutnya itu tidak penting sekarang yang terpenting ia bisa bertemu dengan Freeya secepat mungkin.
"Ceritain. Gue butuh dengar seberapa brengsek Lo dan seberapa hancur sahabat gue karena Lo". Ucap Lio tanpa ingin menatap Kai.
Hufff
"Permasalahannya ada di Axel tapi yang menjadi korbannya Freeya". Mendengar itu Lio kembali tersenyum pedih. Lagi dan lagi Freeya kembali menjadi korban.
"Axel pernah perk*sa Adek gue, tapi ketika Adek gue hamil anaknya, dia nggak mau tanggung jawab. Adek gue sembunyiin itu dan nanggung semuanya sendiri hingga akhirnya Adek gue memilih mengakhiri hidupnya...."
"Dan Lo balas dendam ke Freeya karena dia ISTRI Axel gitu?".Ucap Lio yang memotong perkataan Kai.
"Iya gue balas dendam ke Istri Axel. Awalnya gue kira saat gue nyentuh istirnya Axel akan merasa hancur namun , ternyata gue salah".Ucap Kai lirih.
"Bahkan saat gue lakuin itu, paginya mertua Freeya datang ke kamar tempat gue dan Freeya nginap."
Prok prok prok
"Luar biasa banget. GUE bahkan udah nggak bisa berkata apa-apa lagi. Saking kagetnya. Sedalam itu Lo hancurin sahabat gue. Bahkan untuk mukul lo sekarang gue udah nggak sanggup ". KENAPA HARUS FREEYA BANG*AT KENAPA HARUS ORANG YANG HATINYA UDAH BABAK BELUR. KENAPA HARUS FREEYA YANG HIDUPNYA UDAH HAMPIR ROBOH". HIKS hiks kenapa harus sahabat gue bang*at, dia udah cukup menderita. Seorang Lio bahkan bisa menangis di depan orang lain hanya karena Freeya.
Kai yang melihat Lio menangis merasa semakin bersalah.
"Maaf, saat itu gue gelap mata, gue hanya ingin Axel merasa kehilangan seperti yang gue rasakan"
"Tapi dia justru bahagiakan. Ucap Lio menatap Kai.
Lio kemudian bergegas menelpon asistennya.
"Keruangan saya sekarang "
Tok tok tok
"Masuk"
"Ada yang bisa saya bantu pak?"
"Ambil alih lagi saham di perusahaan Axel, saya tidak mau tau bagaimana caranya. Kita harus punya saham yang lebih dan orang yang mendukung kita untuk menyingkirkan dia keluar dari perusahaan tersebut. Saya kasih kamu waktu satu Minggu ".Ucap Lio tajam. Dia tidak akan membiarkan Axel lolos kali ini. Dia harus merasakan kehancuran.
"Ba-ik pak"
"Lo mau ambil alih perusahaan Axel " Tanya KAI
"Hmmm"
"Gue akan bantu Lo "
"Nggak perlu "
"Gue mohon, gue juga ingin dia hancur sehancur hancurnya. Karena dia gue melakukan kesalahan yang nggak termaafkan"
"Gue akan beli saham di sana". Ucap Kai
__ADS_1
Lio tidak menjawab ia masih emosi karena ulah Kai sahabatnya pergi begitu saja.
Lio kemudian menempol seseorang.
"Hallo"
"Hallo tuan, ada yang bisa kamu bantu?"
"Hmmm, cari seseorang untuk saya. Nanti saya kirimkan potonya."
"Baik Tuan, kami akan segera mencarinya"
"Kerahkan semua anak buah kamu, suruh mereka memfokuskan pencarian di pulau lain jangan lupa cek tiket keberangkatan baik itu luar negri maupun di Indonesia".
"Baik Tuan, kami akan berusaha secepat mungkin"
"Hmmm saya tidak ingin dikecewakan, dia seseorang yang berarti untuk saya"
"Kamu usahakan Tuan"
Kai yang mendengar Lio menyuruh seseorang mencari Freeya, menepuk keningnya, saking khawatirnya ia tidak berfikir untuk menyewa seseorang mencari Freeya.
"Sekarang Lo pulang, sebelum luka Lo gue tambah"
"Gue mau bantu Lo buat nyari Freeya"
"Gue nggak butuh, seorang breng*k seperti Lo, gue bisa cari sahabat gue sendiri. Dan jangan pernah cari dia lagi".
"Gue akan tetap nyari dia, karena dia sedang mengandung anak gue"
Melihat Lio yang kembali emosi Kai memilih untuk pergi. Ia akan memberi waktu untuk Lio dan Kai sendiri akan mencari Freeya. Tapi saat Kai sudah di pintu ia kembali menemui Lio.
"Gue minta alamat orang tua Freeya, bisa saja dia sembunyi di sana".Ucap Kai dengan tampang begonya
"Hahahaha orang tuanya bahkan nggak menginginkan dia bang*at. Lo nggak tau apa-apa tentang dia tapi dengan segampang itu Lo hancurin dia. Sekarang Lo keluar karena gue benci liat muka bajin*an Lo itu
Deg deg
Freeya tidak diinginkan orang tuanya. Bagaimana bisa Kai juga ikut tidak menginginkannya. Kai keluar dari perusahaan Adelio dengan tampang lesu dan beban yang semakin bertambah
"Bagaimana bisa aku sebreng*k ini sama kamu Freeya".
"Bahkan aku nggak tau apa-apa tentang hidup kamu, tapi aku justru semakin menambah luka kamu, maaf".
"Gue harus nemuin Freeya bagaimanapun caranya. Sekarang gue hanya perlu punya saham dia perusahaan Axel agar bisa bantu Lio."
...****************...
Sedangkan disisi lain Freeya sudah kembali bersemangat. Hari ini ia kembali ke toko ibu Hamidah untuk membeli bahan untuk membuat kue
"Kamu udh baikan nak?"
__ADS_1
"Udah buk, makasih ya udah nyadarin Freeya "
"Iya nak"
Suami dan anak ibu Hamidah sudah mengetahui tentang kehamilan Freeya dan mereka justru kagum karena Freeya bisa bertahan sejauh ini.
"Jadi besok kamu udah bawah jualan kamu ke sini ya?"
"Iya Bu, nggak papakan?"
"Nggak papa kok, nanti Jeno bawakan meja dan kursi ke kos kamu agar kamu juga bisa jualan di sana ya"
"Iya Bu. Kalau gitu Freeya balik dulu ya"
"Iya nak"
"Jeno ,bapak Freeya balik dulu iya"
"Iya". Jawab Jeno
"Hati-hati" Ucap bapak Jeno
Keesokan paginya Freeya bangun sekitar jam 4 subuh. Dia langsung membuat adonan untuk membuat kue dan gorengan.
Pukul 6 pagi ia sudah siap di depan kos untuk menjual sedangkan jam 8 nanti baru ia akan membawa sebagian jualannnya ke toko ibu Hamidah.
"Wah, kamu jualan"
"Eh hehehe iya ca"
"Asyik, jadi nggak usah nyari gorengan lagi kalau lagi pengen"."Ini berapa satu Fre?"
"Ohh kue basahnya seribu satu gorengan juga gitu"
"Wah yaudah aku beli kuenya lima ribu ya, tunggu aku masuk dulu ambil uang sekalian promosi sama anak kos yang lain hehehe". Ucap Caca salah satu penghuni kos di sana"
"Hahaha makasih ya ca"
Saat Caca keluar ia bersama dengan tiga orang lainnya
"Free ini uang aku, mereka juga katanya lagi lapar jadi mau beli"
"Kenalin aku Mita, dan ini Lia kamar aku yang di sebelah Caca yang sebelahnya lagi kamar Lia"
"Aku Freeya, salam kenal ya"
"Ohhh ya aku mau beli gorengan aja de lima ribu, kamu apa Lia?" Tanya Mita
"Aku gorengan lima ribu kuenya juga Lima ribu ".
"Makasih ya udah beli"
__ADS_1
"Iya sama-sama kita ke dalam dulu ya"
Pukul 8 pagi Freeya ke toko ibu Hamidah, ia menyimpan sementara jualan yang lainnya di kost nanti setelah pulang ia akan menjualnya kembali di depan kost