Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
pertemuan Lio dan Freeya


__ADS_3

Mungkin pergi semakin jauh menjadi sesuatu yang baik


Satu Minggu telah berlalu setelah pernikahan Lio dan Sindi.


Saat ini anak buah Lio yang bertugas mencari keberadaan Freeya sedang menghadap kepada Lio


"Jadi apa yang bisa kamu sampaikan hari ini?" Tanya Lio


"Anggota saya melihat ada seseorang yang mirip dengan orang yang kami cari Tuan. Ia bahkan masih berada di tidak jauh dari sini. Tapi anak buah saya pernah melihat beberapa orang juga mencari orang yang sama dengan yang kami cari Tuan".


"Itu pasti orang suruhan Kai". Batin Lio


"Pastikan anak buahmu mencegah orang-orang itu menemukan Freeya, kalau bisa pancing mereka untuk mencari ke tempat yang jauh dari sana".


"Baik Tuan".


"Bagaimana dengan orang yang kamu maksud, apa ia benar orang yang saya cari?" Tanya Lio


"Untuk masalah itu, anak buah saya sedang memastikan kebenarannya, kita hanya perlu menunggu beberapa menit untuk mengetahui keberadaannya "


"Semoga itu memang kamu Fre". Batin Lio


Tidak lama setelah itu terdengar panggilan dari hp anak buah Lio


"Hallo bagaimana?"


"Hallo, orang yang Tuan Lio cari benar tinggal di sini".


"Baik.Kirim alamat lengkapnya, saya akan segera menyampaikannya kepada tuan Lio.


"Bagaimana, apakah itu memang Freeya?" Tanya Lio antusias


"Benar tuan dan kami berhasil mengecoh orang-orang yang juga mencarinya".


"Alhamdulillah. Akhirnya aku menemukanmu. Sekarang kita ke sana sekarang juga".


Lio bergegas menuju tempat yang di maksud anak buahnya. Ia juga telah menghubungi Sindi yang sekarang statusnya sebagai istri bahwa Lio akan keluar kota karena pekerjaan yang tiba-tiba. Lio belum jujur tentang keberadaan Freeya saat ini, karena ia akan memastikannya terlebih dahulu.


'Pantas saja aku tidak bisa menemukanmu ternyata kamu bersembunyi sedekat ini, tapi tempatnya terlihat jauh.


Lio sampai di sana sekitar jam 5 sore, sedangkan mereka berangkat kira-kira jam 1 siang.


"Mari tuan, orang yang anda maksud tinggal di kostan itu". Tunjuk salah satu anak buahnya.


Lio segera menuju ke sana. Kebetulan iya bertemu dengan Caca salah satu penghuni kost.


"Permisi". ucap Lio


"Iya"


"Saya ingin mencari Freeya, kamarnya yang sebelah mana?"


"Anda siapanya? Tanya Caca


"Saya temannya ".Ucap Lio dengan mata yang tajam membuat Caca ketakutan.


"Di sebelah situ tuan, yang jendelanya agak terbuka "


"Hmmmm".


Lio kemudian melangkah ke arah kamar Freeya. Saat ia sudah tepat di depan pintunya, entah kenapa ia merasa takut. Ia takut kalau ternyata itu hanya mirip Freeya.

__ADS_1


"Apakah perlu saya yang panggilkan Tuan?"Tanya anak buahnya yang masih setia mengikut dibelakangnya.


"Tidak perlu. Kalian tunggu saya di mobil saja."


"Baik Tuan"


Setelah semua anak buahnya pergi, Lio memberanikan diri untuk mengetok pintu.


Tok tok tok


"Sebentar ". Ucap dari dalam kost


Deg


Itu benar suara Freeya.


Ceklek


"Siapa?"Tanya Freeya sembari membuka pintu


"Li-o". Ucap Freeya yang kaget melihat sahabatnya sekarang tepat berada di hadapannya.


Tanpa aba-aba,Lio langsung menarik Freeya ke pelukannya.


"Kamu kemana aja, kenapa susah sekali mencarimu".


"Ma-af".Ucap Freeya yang kini menangis di pelukan Lio


"Kamu tau nggak gimana khawatirnya aku, Sindi dan Adel saat kamu hilang gitu aja"


"Ma-af".


Sekarang Freeya dan Lio telah berada di ruang tamu yang sempit di kost Freeya.


Huffft


"Kenapa kamu bisa tau aku ada di sini?"


"Apa itu pertanyaan yang paling penting saat aku berhasil menemukan mu?" Tanya Lio tajam, dan Freeya hanya bisa menunduk.


Kini tatapan Lio mengarah ke perut Freeya yang terlihat sedikit menonjol.


Freeya yang merasa diperhatikan seketika melihat ke arah Lio.


Freeya melihat tatapan Lio yang melihat perutnya, membuat ia merasa tidak nyaman "


"Ada yang bisa kamu jelaskan kepada sahabat kamu ini Fre?"


Lagi-lagi Freeya hanya menunduk


Lio menghela nafas.


"Kenapa kamu memilih pergi, apa kamu sudah tidak menganggap kami lagi sebagai keluargamu?"


"Ma-af aku hanya ingin mencari ketenangan "


"Dengan cara pergi secara diam-diam?, Kamu tau nggak ,kamu egois dengan pergi seperti ini. Kamu nggak ngerti kita khawatir bagaimana keadaan kamu. Bahkan Adel hampir tiap hari menangis karena kamu Fre "


"Ma-af"


"Sekarang kita pulang. Ingat kamu masih memiliki sahabat yang akan membantu kamu"

__ADS_1


Freeya seketika menggeleng


"Nggak aku nggak mau pulang, aku masih ingin di sini "


"Terus sampai kapan ? Aku udah tau semuanya tentang keluarga kamu, tentang apa yang kamu alami. Aku nggak mungkin biarin kamu sendiri di sini, sedangkan Sindi dan Adel terus mencari kamu"


"Nanti, akan ada waktunya aku pulang "


"Aku nggak mungkin biarin kamu sendiri di sini sedangkan kamu sendiri hamil tanpa suami Freeya ".


Deg


Deg


Lihatlah Lio telah mengetahui aibnya. Bagaimana ia sanggup menanggung malu di hadapan kedua sahabatnya yang lain.


"Nggak Lio, aku bisa ,aku nggak sendiri.Di sini banyak yang menjaga aku "


"Aku mikir nggak sih Fre, ada nyawa yang kamu bawah. Sedangkan kamu harus hidup pas-pasan di sini, bagaimana dengan anak kamu nantinya, setidaknya biarin laki -laki bajin*an itu bertanggung jawab terhadap anaknya ".


"Nggak, nggak aku nggak mau ketemu dia lagi hiks hiks, Lio aku mohon biarin aku hidup tenang di sini. Aku nggak mau ketemu dia". Ucap Freeya sembari menggosok tangannya di hadapan Lio . Ada ketakutan yang teramat dalam di mata Freeya.


"Arrgh nggak bisa Fre,oke aku nggak akan pertemukan kamu dengan dia, tapi kita pulang, setidaknya ada yang jaga kamu di sana "


"Hiks Hiks nggak, aku nggak bisa tolong jangan paksa aku"


"Fre"Ucap Lio yang iba melihat Freeya yang terus memohon.


"Aku nggak bisa Adelio. BAGAIMANA BISA AKU MENGINJAKAN KAKI KE SANA LAGI. SEDANGKAN SEMUA RASA SAKITKU BERASAL DARI SANA. TIDAK ADA ALASAN UNTUK AKU KEMBALI, AKU BAHKAN ANAK YANG ASAL USULNYA TIDAK JELAS. HIKS HIKS MEREKA BUKAN ORANG TUA AKU, aku tidak bisa ke sana lagi Lio. Ini terlalu sakit, Aku mungkin akan mati bila harus kembali. Aku takut bertemu ayah dari anak ini hiks. Aku takut melihat tatapan kecewa dari orang tua Axel, aku bahkan malu bertemu dengan kalian. Hiks hiks . Aku kotor, aku nggak layak bersama kalian."


Lio kembali mendekap erat Freeya, ini pertama kalinya ia melihat bagaimana hancurnya Freeya yang dikecewakan berkali-kali.


"Aku nggak mau kembali Lio hiks, dada aku terlalu sakit untuk kembali menerima semua kenyataan itu. Biarin aku bahagia di sini bersama anak aku"


"Baiklah sembuhkan semua lukamu di sini. Dan bila saatnya tiba aku akan menjemputmu".


Setelah cukup tenang, Lio menatap Freeya.


"Hahaha kamu semakin gendut saat jauh dari kami".Ucap Lio mencairkan suasana


"Ini karena kehamilanku membuat ku selalu lapar". Ucap Freeya yang masih canggung saat Lio mengetahui kehamilannya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk pulang, tapi aku yang akan ke sini membawa Sindi dan Adel "


"Terimakasih "


"Mungkin seminggu lagi aku akan kembali ke sini, dan selama itu kamu harus jaga kesehatan, aku tidak ingin saat kalian bertemu nanti, Sindi menyalahkanku karena membuatmu hidup tidak nyaman "


"Kamu tenang saja, aku bahkan merasa hidupku lebih baik".


"Ohh ya aku ada kabar gembira untuk kamu?"


"Kabar bahagia apa?"


"Aku dan Sindi telah menikah satu Minggu yang lalu".


"Benarkah ". Ucap Freeya menutup mulutnya. Ia bahagia mendengar sahabatnua telah menikah, walaupun ada sedikit rasa sedih karena ia tidak menyaksikan langsung pernikahan mereka


"Selamat ya, aku harap kalian selalu berbahagia. Aku tau kamu sangat mencintai Sindi ,jadi kamu sudah tau bagaimana memperlakukannya. Tolong sayangi dia dan jangan biarkan dia menangis karenamu"


Setelah lama berbincang Lio kemudian kembali pulang ke kota.

__ADS_1


Tapi siapa sangka kedatangan Lio justru menjadi bumerang bagi Freeya.


__ADS_2