Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Rasa yang tumbuh


__ADS_3

Usia pernikahan Freeya dan Axel memasuki usia dua bulan lebih. Namun, mereka belum melakukan hubungan selayaknya suami istri. Freeya sendiri sebenarnya sudah siap, namun melihat Axel yang sibuk terus membuatnya merasa bersyukur setidaknya Axel masih memperhatikan hal-hal kecil tentangnya.


Tanpa dia duga perasaan hangat itu kian menjalar dalam hatinya. Perlahan menumbuhkan cinta untuk suaminya. Panggilan untuk Axel pun telah berubah.


"Mas pagi ini sarapan bareng ya".


"Eh iya, mas mandi dulu sebentar, mas juga mau menelpon asisten mas sebentar.Kamu tunggu aja di bawah".


Freeya yang mengerti bahwa suaminya akan membahas pekerjaan pun memilih ke dapur.


Setelah Freeya pergi Axel kemudian menelpon


"Hallo sayang"


"Udah bangun"


"Ya udah kamu tunggu di apartemen aja ya, nanti pulang kerja aku ke situ"


Seperti itulah kira-kira percakapan Axel dengan asisten yang dimaksudnya


Setelah bersiap Axel turun, terlihat Freeya sudah menunggunya dengan senyuman. Axel hanya bisa terkekeh dalam hati.


"Maaf ya,mas lambat".


"Nggak kok, ya udah mas silahkan sarapan nanti terlambat ke kantor ".


Axel pun makan bersama Freeya tidak dipungkiri masakan Freeya mulai membuatnya ketagihan.


"Mas nanti mau nggak dibawakan makan siang".


Mendengar hal itu membuat Axel tersedak. freeya mengira ia telah berbuat lancang.


"Maaf, mas kalau aku lancang".


Axel hanya tersenyum menanggapinya.


"Nggak kok, cuma mas nanti dan beberapa hari kedepannya jarang di kantor karena mas lagi ada proyek di lapangan".


Freeya hanya mengangguk mengerti.


Setelah Axel selesai dengan sarapannya Freeya kembali meminta izin tapi bukan untuk ke kantornya.


"Mas boleh nggak aku izin ke cafe nanti, aku bosan di rumah terus nggak ada temannya".


"Boleh kok, kamu pakai kartu yang masih kasih ya, pulangnya jangan terlalu malam".


"Siap komandan". Jawab Freeya disertai dengan senyuman yang semakin lebar .


***


Di sinilah Freeya sekarang sibuk dengan laptopnya untuk menyelesaikan tulisan yang deadlinenya sebentar lagi. Tadinya dia mengajak sahabat untuk gabung tapi karena kerjaan mereka belum bisa gabung. Hampir 30 menit berkutat dengan laptop, terdengar langkah kaki semakin dekat menuju mejanya. Kebetulan meja yang ia pilih berada di pojok.


"Permisi". Sapa seorang lelaki


"Iya".


"Maaf sebelumnya, kamu Freeya kan istri Axel".


Freeya bingung melihat orang di depannya yang sedang tersenyum. Wajahnya tidak asing tetapi ia lupa dimana pernah melihatnya.


"Kamu nggak ingat aku"


"Hmm maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Hahahaha perkenalkan aku Kai teman Axel, kebetulan aku juga di undang ke acara pernikahan kalian beberapa bulan yang lalu". Tutur Axel


"Astaga, eh iya aku ingat maaf ya sebelumnya aku benaran lupa".

__ADS_1


"Hahaha santai saja, oh ya Axel dimana kamu sendiri di sini?"


"Mas Axel katanya lagi sibuk, jadi aku cuma sendiri".


"Kalau begitu aku boleh gabung di sini kan, aku juga tidak terlalu suka makan sendiri". Yang diangguki Freeya.


Setelah beberapa saat setelah selesai makan, Kai masih berbincang dengan Freeya tentang Axel seakan mereka telah lama berteman.


***


Tepat jam 17:00 Freeya sampai di rumah dan Axel belum kembali. Dengan cepat ia membersihkan diri agar bisa segera membuat makan malam untuk Axel. Sekitar jam 8 malam terdengar deru mobil dihalaman rumah.


Freeya langsung ke depan menjemput suaminya. Ia menyambut suaminya dengan senyum senang dan segera mengambil alih jas dan tas suaminya. Jika dilihat sangat menggambarkan keluarga yang sangat romantis.


Meskipun tidak ada perlakuan romantis yang diperlihatkan Axel, tapi perhatian kecil semakin menjadi-jadi membuat Freeya menjadi seseorang yang serasa sangat dibutuhkan.


"Mas mandi dulu ya, aku udah siapin air hangatnya".


"Axel hanya mengangguk kemudian berjalan ke kamarnya".


Oh ya sekedar informasi mereka memang telah memutuskan untuk bersama dalam satu kamar namun, hanya sebatas tidur tanpa aktivitas lain.


Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke kamar. Sebenarnya Freeya merasa membutuhkan sedikit waktu dari Axel tapi ketika di kamar seperti sekarang Axel kembali berurusan dengan laptop. Entah sebanyak apa pekerjaannya. Axel pun lebih sering pulang telat, dengan raut wajah yang lelah tetapi ketika di rumah ia masih harus bekerja tanpa ada waktu lebih untuk istrinya.


Melihat Axel yang memangku laptopnya, tapi kadang masih sering melihat layar hp nya, membuat Freeya bertanya.


"Mas emang kerjaannya banyak banget ya?"


"Hmm iya ni banyak"


" Mau aku bantuin nggak, mas bisa ajarin aku"


"Nggak perlu ini juga udah mau aku selesain, besok baru aku lanjutin. Kamu tidur aja".


"Hmm aku belum ngantuk mas, aku temanin aja ya".


"Oh ya mas tadi di cafe aku ketemu sama teman kamu Lo".


Mendengar hal itu, Axel yang awalnya sibuk dengan hp nya langsung menatap ke arah Freeya.


" Teman? Teman aku yang mana?"


"Namanya Kai".


Kai kenapa bisa dia langsung mengenali Freeya. Kok tiba-tiba dia bisa di cafe. Bukannya ia orang yang sangat cuek. Ucap Axel dalam hatinya.


"Terus Kai ngomong apaan sama kamu?"


"Nggak ada sih cuma nanya kabar terus gabung makan di meja aku. Habis itu dia langsung pergi".


***


Hari ini Freeya berencana akan ke mall bersama dengan ibu mertuanya. Mereka sudah janjian dari tadi malam. Sebenarnya mereka jarang ketemu karena ibu Axel yang selalu ikut suaminya ke luar kota untuk pekerjaan, tapi hampir setiap hari ia selalu menanyakan kabar kedua orang tua Axel. Bukan hanya orang tua Axel, orang tuanya pun hampir tiap hari ia tanyakan kabar, namun yang merespon kadang hanya ayahnya.


Namun, itupun sudah membuat Freeya lega, setidaknya keluarganya baik-baik saja. Dan ia mendengar dari ayahnya bahwa jabatannya sekarang dinaikkan menjadi manajer keuangan. Semakin bertambah bahagialah ibu dan adeknya Jennie.


Tin tin


Mendengar suara klakson mobil di depan halaman. Freeya yang dari tadi menunggu di ruang tamu segera keluar menemui ibu Amanda.


"Assalamualaikum ma" ucap Freeya yang dibalas pelukan sang mertua


"Nggak mampir dulu ma".


"Nggak perlu sayang, kita berangkat sekarang aja, supaya bisa lama di sana mumpung mama lagi nggak keluar kota.


Mereka pun berangkat ke mall terbesar di kotanya.

__ADS_1


Mama Axel sangat bersemangat membelikan semua yang di rasa cocok untuk Freeya membuat Freeya tidak enak hati.


"Ma ini udah cukup kok nggak usah nambah lagi".


" Belum sayang, kamu belum beli sepatu sama tas, itu baru pakaian. Atau kamu pengen yang lain bilang aja sama mama".


"Nggak ada ma". Mereka kemudian lanjut membeli tas , sepatu dan masih banyak lagi yang menurut Freeya tidak terlalu penting.


Setelah capek belanja mereka menuju ke restoran di mall untuk makan siang.


"Fre coba kamu hubungi Axel, suruh ke sini makan siang".


"Hmm, apa mas Axel nggak sibuk ma".


Mendengar nama panggilan Axel dari Freeya membuat mama Axel tersenyum hangat merasa bahwa keluarga anaknya ternyata sangat harmonis. Muncullah keinginan lain dari sang mertua.


Freeya kemudian menelpon Axel sesuai permintaan mamanya.


Setelah panggilan kedua Axel baru mengangkat teleponnya.


"Hallo Mas, lagi sibuk nggak?"


"Nggak terlalu, ada apa?"


"Ini aku sama mama lagi di restoran***, kata mama mas di sini aja makan siang bareng."


"Ma kata mas Axel kita langsung pesan makanan aja, nanti dia nyusul ke sini".


Mereka berdua kemudian memesan makanan sambil menunggu Axel.


Dua puluh menit kemudian Axel telah sampai di restoran. Memang jarak antara kantor Axel dengan tempat mereka sekarang tidak terlalu jauh.


"Hai sayang".Ucap Axel yang tiba-tiba muncul di belakang Freeya dan segera mencium dahi dan salah satu pipi Freeya. Mendapat perlakuan tersebut membuat telinga dan wajahnya memerah.Tiba - tiba saja aliran darah Freeya seakan berhenti.


Melihat perlakuan romantis anaknya membuat mama Axel semakin bertambah lebar. Ia semakin yakin keinginannya sebentar lagi akan terwujud.


"Hai ma, apa sehatkan"


"Hallo sayang, sehat banget apalagi liat kalian seperti ini. Kamu mentang - mentang sudah punya istri cantik, nggak pernah lagi hubungin mama".


"Mama tetap yang pertama kok nggak ada penggantinya". Ucap Axel sembari memeluk mamanya. Bukannya marah mendengar Freeya bukan yang pertama, ia justru semakin jatuh kepada sosok Axel di depannya yang sangat menyayangi mamanya.


"Ayo duduk, makan kita sudah datang". Mereka kemudian makan tanpa ada percakapan. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menyelesaikan makan siang. Setelah selesai makan, mama Axel menatap anak dan menantunya dengan serius.


"Sayang kalian udah menikah berapa bulan?"Tanya mama Axel


"Hmm, hampir tiga bulan ma".Jawab Freeya


" Nggak kerasa ya". Jawab mama Axel dengan serius tapi raut wajahnya masih memperlihatkan keseriusan.


" Kalian nggak menundakan."


"Menunda apa ma?" Tanya Axel


"Ituloh kaliang nggak menunda kehadiran cucu untuk mama kan".


Deg deg


Seketika Freeya menjadi panas dingin. Bahkan ia langsung menunduk tidak berani menatap mertuanya. Apa memang Axel ingin menunda ya makanya nggak pernah mau nyentuh aku. Ucap Freeya dalam hati.


"Hmmm, nggak kok ma , kami nggak nunda. Tiap malam aja diproses terus". Ucap Axel dengan senyum menggoda ke mamanya membuat wajah Freeya kembali memerah.


Padahal yang diucapkan Axel tidak benar tapi membuatnya merasa sangat malu.


"Hahahaha sudah-sudah liat wajah istri kamu, sudah mirip kepiting rebus. Jadi mama hanya perlu bersabar menunggu menjadi nenek kan. Jadi kalian harus berusaha lebih giat lagi".


"Siap komandan". Jawab Axel

__ADS_1


Beberapa hari berlalu, Freeya masih memikirkan ucapan mertuanya. Pundaknya kembali merasa berat. Ada harapan dari seseorang yang sangat ingin dipanggil nenek tapi Freeya tidak berani bertanya kepada Axel, apalagi setelah perbincangan itu Axel terlihat semua tidak ada yang perlu ditakutkan. Axel seperti menganggap itu hanya permintaan lalu saja tanpa harus dipusingkan.


__ADS_2