Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Biasa saja


__ADS_3

...Akhirnya rasa ini layu bahkan hampir kering...


...seandainya pohon daunnya gugur mengikuti arah angin membawanya, kemudian luruh ke bumi...


Setelah kejadian itu Freeya berdiam diri selama tiga hari dirumah karena walaupun ia memakai foundation di wajahnya yang memar itu tidak akan menutup semuanya. Dan hingga hari itu Axel bahkan tidak juga kembali. Lebih baik begini ,ia bertahan walaupun Axel tidak serumah bersamanya. Setidaknya statusnya masih membuat orang tuanya tenang.


...****************...


Drrrt drttt


"Hallo Bu".


"Hmmm , bagaimana apa kamu sudah memperbaiki hubunganmu dengan Axel?"


Huffft Freeya menghela nafas. Kata pertama yang terlontar dari mulut ibunya hanya tentang Axel, padahal Freeya berharap sekali ditanya bagaimana kabarnya.


"Hmmm, udah baik Bu"


"Baguslah. Ingat Freeya kalau ada masalah kamu sebagai istri harus mengalah, agar suami kamu bisa luluh. Jangan terlalu keras kepala. Axel itu suami yang tepat untuk kamu. Sudah kaya,baik ganteng lagi".


"Hmmm iya Bu"


"Ohh ya, ibu mau minta dikirimin uang dong. Sebentar lagi ibu mau arisan lagi".


"Tapi Freeya lagi nggak punya Bu".Cicit Freeya


"Hmmm ya sudahlah, Ibu minta saja dengan Axel. ibu udah tau dari awal pasti kamu bakalan nolak".


"Ehhh ibu...ibu nggak usah minta ke mas Axel nanti aku kirimin"


"Tuh kan kamu itu emang nggak mau bagi uang kamu sama ibu sendiri. Pasti uang dari Axel untuk ibu kamu yang pegangkan makanya kamu takut kalau ibu minta ke Axel"


"Nggak kok Bu, Freeya emang punya uang tapi ini dari kartu yang dikasih mas Axel. Tadinya nggak mau aku pake Bu".


"Alah banyak alasan kamu. Pokoknya tiap bulan kamu harus rutin kirim ke ibu uang untuk arisan ibu"


Huffft


"Freeya usahakan Bu".


"Pokoknya harus itu sudah kewajiban kamu sebagai anak pertama. Sekali-kali bahagiakan ibumu ini Freeya "


"Iya Bu"


"Ya sudah ibu tutup dulu. Ingat jangan buat masalah sama Axel"


"Hmmm"


Padahal Freeya tidak ingin menggunakan kartu yang pernah Axel berikan saat masih berbaikan dulu. Semakin dianggap tidak tau dirilah Freeya ketika Axel mengetahui bahwa Freeya menggunakannya. Apalagi jumlahnya sangat banyak bagi Freeya. Ditambah lagi jika ibunya meminta tiap bulan. Sedangkan gaji untuk tulisannya hanya cukup untuknya sendiri.


Huffft.


Akhirnya Freeya memutuskan untuk segera mandi agar segera pergi mengirimkan uang untuk ibunya sekalian sarapan yang sebenarnya sudah bisa dikatakan makan siang.


Setelah selesai mandi Freeya bersiap-siap.Ia mengenakan celana jeans dipadu dengan Hoodie tipis.


"Untung bekasnya udah pudar".


Setelah selesai mengirim uang, Freeya memutuskan untuk ke cafe yang sering di datangi untuk makan dan melanjutkan tulisannya. Satu yang selalu ia bawah ketika bepergian yakni laptop.


Ia duduk di pojok seperti biasa.

__ADS_1


Setelah ia selesai makan, Freeya akhirnya larut dalam tulisannya. Ini merupakan novel ketiganya. Ada satu persamaan di ketiga novelnya walaupun ceritanya berbeda.


Tentang trauma yang dimiliki masing-masing orang itu. Itu selalu ada disetiap novelnya.


Hampir satu jam ia mengetik tapi tangannya juga belum menyerah. Hingga seseorang menyapanya.


"Hmmm "


Freeya mendongak melihat siapa yang menyapanya


"Ehh Kai, kamu di sini lagi?" Tanya Freeya bingung karena ia selalu bertemu dengan Kai di beberapa kesempatan.


"Hmm iya , aku habis ada janjian sama teman aku disini"


"Terus teman kamu dimana?" Tanya Freeya sembari mencari seseorang dibelakang Kai.


"Udah pulang"


"Ohhh terus kamu masih ngapain di sini? Nggak balik kerja ?"


"Tadi udah mau pergi,cuma nggak sengaja liat kamu"


Yang hanya diangguki Freeya. Tanpa minta izin kau menarik kursi yang ada dihadapan Freeya dan duduk.


"Loh kok kamu duduk, kirain udah mau pergi".


"Nanti aja, lagian ini udah mau jam istirahat". Ucap Kai melihat jam tangannya


"ohh"


"Kamu ngapain?"Tanya Kai yang melihat Freeya terus fokus ke laptopnya.


"Ha, proyek apaan?"


"Hehehe nggak kok, buka. proyek apa-apa. Aku lagi nulis cerita aja"


"Kamu suka nulis cerita?"


"Hmm, udah jadi hobi sekalian nyari cuan hehehe"


"Ngapain nyari uang , kan kamu udah punya suami kaya raya".


Freeya hanya tersenyum masam


"Ohh ya Axel sibuk ya, kok nggak pernah ke club' lagi.Aku beberapa kali ke sana tapi nggak pernah ketemu dia. Padahal Brayen sering ke sana".


"Hmmm ia lagi sibuk, katanya ada proyek baru". Jawab Freeya padahal dalam hati banyak pertanyaan yang telah bercabang.


Apakah beberapa hari ini Axel terus bersama Kristal.


Apakah mereka tinggal berdua. Freeya mengingat pernah menelepon Axel dan yang mengangkatnya ialah Kristal


Bagaimana jika orang tua Axel tau. Apakah Freeya akan kembali disalahkan karena tidak mampu membuat suaminya betah dirumah.


"Ohhh ya bagaimana dengan masalahmu waktu itu?"Tanya Kai


"Kamu tidak perlu tau dan ikut campur baik itu masalah maupun urusan aku. Kita tidak sedekat itu". Balas Freeya jutek. Moodnya kembali turun ketika ia ditanya tentang hal itu.


"Aku kan cuma bertanya, sebagai teman dari suami kamu".


"Kalau begitu kamu tanya mas Axel aja. Ada masalah nggak sama aku dan dia"

__ADS_1


"Kamu lagi halangan ya?"


"Ia kenapa ada masalah?"


"Pantas kayak singa lapar. Sensi banget". Terserahku


"Kalau kamu mau sensi yang halangan juga". Ucap Freeya membuat Kaki tersedak ludahnya.


Tidak lagi ia bertanya kepada wanita-wanita yang kedatangan tamunyaSemuanya menyeramkan.


"Hmm aku udah mau balik ke kantor nih"


"Ngapain lapor ke aku"


"Bukan lapor aku cuma pamitan". Kalau lama berhadapan dengan Freeya yang lagi bertanduk bisa-bisa Kai juga ikut emosi


"Ya udah"


"Hmmm"


Tapi sebelum pergi Kai memberikan hpnya kepada Freeya


"Ngapain kasih hp kamu sama aku?. Aku nggak minat ambil hp bekas kamu".


"heh tukiyem.Aku nggak ngasih hp aku ke kamu".


"Terus?"


"Simpan nomor kamu di hp aku. Supaya kita bisa berteman. Katanya kita belum dekat"


"Aku nggak minat nambah teman".


"Ya udah kalau nggak mau. Aku cuma antisipasi. Siapa tau Axel kembali mabuk terus hp dia mati. Jadi aku bisa hubungin kamu"


Sebelum Kai menyimpan hpnya kembali. Freeya lebih dulu mengambil dan menyimpan nomornya.


"Nih udah"


"Oke aku duluan ya"


"Hmm"


Sebenarnya kalau Axel mabuk pun Axel masih punya teman yang lain untuk membantunya, namun karena tidak ingin terlihat sebagai istri yang tidak perhatian Freeya akhirnya memberikan nomornya.


"Begini amat nasib jadi istri yang luar biasa baik".


...****************...


Hampir jam 10 malam hp Freeya berbunyi menandakan ada pesan yang masuk. Freeya kemudian membukanya dan itu merupakan nomor baru.


Pesan itu berupa Poto suaminya bertelanjang dada di sebuah kamar.


Pesan kembali masuk


"Suamimu kecapean banget. Nggak ada puas-puasnya. Upsss sorry kepencet". Isi pesan itu


"Sama-sama murahan,cih".


Freeya kemudian menghapus Poto dan pesan itu tanpa membalasnya


Tidak ada lagi rasa tidak rela dari hati Freeya melihat hal itu. Yang ada ia justru jijik pernah menyukai seseorang sebajingan itu.

__ADS_1


__ADS_2