
Entah kebenaran seperti apa
Namun, semuanya tidak ada yang benar-benar melegakan
"Bagaimana apa sudah ada perkembangan mengenai suami anak saya?" Tanya ibu Rosma terhadap anak buahnya
"Iya nyonya, kebetulan suami anak anda sekaligus ayah Freeya, bekerja di perusahaan mantan suami nona Freeya "
"Ja-di mereka bahkan masih berhubungan baik saat Freeya sendiri luntang lantang dengan hidupnya "
"I-ya nyonya "
"Baiklah setidaknya hal ini menguntungkan kita, kita bisa menyingkirkan dua orang sekaligus. Awasi setiap pergerakan mereka, biarkan mereka merasa damai sebelum kita menghancurkan mereka satu persatu ". Ucap ibu Rosma.
"Saya tidak akan membiarkan hidup kalian tenang setelah apa yang terjadi dengan cucu saya. Terutama laki-laki bajin*an itu, yang dengan tegah menelantarkan anaknya sendiri.Batin ibu Rosma
Ya, setelah ibu Rosma membaca semua dokumen yang di kirim anak buahnya, ibu Rosma dapat menyimpulkan bagaimana tidak berdayanya Freeya selama ini ditindas oleh ibu dan adik angkatnya, tanpa mendapat perlindungan dari ayahnya.
...****************...
Tok tok tok
"Sebentar"
"I-bi Rosma"
"Assalamualaikum Bu Masita"
"Waalaikumsalam Bu, silahkan masuk"
Hari ini ibu Rosma memutuskan untuk berkunjung ke rumah ibu Masita, tempat tinggal Freeya selama di sana. Ia ingin meluruskan semuanya, ia ingin Freeya segera mengetahui bahwa Freeya masih memiliki keluarga yang asli. Ia tidak ingin Freeya merasa sendiri lagi.
"Apa Freeya ada?" Tanya ibu Rosma
"A-da Bu, saya akan panggilkan sebentar. Silahkan duduk dulu Bu"
__ADS_1
"Iya"
Sebelum ibu Masita beranjak ibu Rosma kembali berbicara
"Saya ingin mengatakan semuanya kepada Freeya"
"APA?" "A-PA ibu yakin?"
"Iya saya hanya tidak ingin Freeya merasa selalu sendiri, saya hanya ingin ia tau bahwa banyak yang menyayanginya termasuk saya dan ibu Masita sendiri"
"Tapi sekarang nak Freeya sedang mengandung, saya hanya takut janinnya kenapa-kenapa" Ucap ibu Masita. Sebenarnya ketakutan ibu Masita bukan hanya itu, tetapi ia sudah terlanjur menyayangi Freeya, ibu Masita takut jika Freeya mengetahui bahwa ia masih memiliki keluarga asli, Freeya akan memilih pergi bersama ibu Rosma dibanding tinggal bersamanya.
"Kandungan Freeya sudah hampir enam bulan bukan. Saya yakin kandungan sudah kuat"
"Huffft baiklah, ibu tunggu sebentar saya akan memanggil Freeya.
ibu Masita kemudian beranjak ke kamar Freeya.
Tok tok tok
"Belum Bu, masuk aja"
Ceklek
Ibu Masita masuk dan melihat Freeya yang lagi sibuk melipat beberapa pakaiannya yang tadi baru selesai di jemur.
"Nak, diluar ada ini Rosma ingin ketemu sama kamu"
"Ibu Rosma? Mau ngapain Bu inikan juga udah malam"
"Nggak tau, ayo kamu temuin dulu"
"Baiklah Bu"
Mereka berdua kemudian keluar kamar dan kembali ke ruangan tempat ibu Rosma menunggu.
__ADS_1
"Selamat malam Bu Rosma". Sapa Freeya dengan mencium tangan ibu Rosma yang dibalas dengan mengelus rambut Freeya.
"Malam Freeya, maaf ya ibu ganggu waktu istirahat kamu"
"Nggak kok Bu, Freeya juga belum mau tidur"
"Syukurlah "
"Hmmm, kalau boleh tau kenapa ibu nyari Freeya malam-malam begini?"
"Ibu ingin berbicara hal serius sama Freeya "
"Apa itu Bu?" Tanya Freeya yang tiba-tiba saja merasa gelisah.
Ibu Rosma memberikan dokumen ke arah Freeya
"Kamu baca dokumen ini ya, nanti ibu akan jelaskan semuanya kalau kamu sudah baca dokumennya"
Walaupun merasa bingung Freeya tetap membuka dokumen tersebut.
Deg
"I-ni mak-sudnya apa Bu?" Tanya Freeya
"Itu Poto anak saya dan cucu saya"
Deg
Deg
Freeya memegang Poto itu dengan tangan yang bergetar.
Ia tidak tahu perempuan siapa yang berada di dalam Poto tersebut tapi entah kenapa ia merasa tidak perasaan yang sesak perlahan muncul di hatinya.
"Itu Poto anak ibu yang pernah ibu ceritakan kepada kamu bernama Sari dan yang berada di gendongannya adalah cucu saya yang tidak pernah saya temui. Dan Poto itu terlepas begitu saja dari tangan Freeya.
__ADS_1