Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Proses perceraian


__ADS_3

...Aku hanya perlu bertahan memeluk diri seerat mungkin, meskipun hati aku sudah babak belur bahkan sudah hancur. Tapi setidaknya ragaku masih mampu bertahan...


Hiks hiks


"A-ku hiks". Freeya ingin bercerita tapi bahkan untuk mengatur nafasnya saja ia sangat kesusahan


"Hei Fre kamu kenapa? Axel ngapain kamu lagi?".Tanya Adel


Hiks


Hiks


"Aku, hiks mereka hiks".


"Udah kamu nggak usah ngomong apa-apa, kamu sekarang hanya perlu tenangin diri kamu . Nanti kalau udah siap bakal aku dengarin".


Freeya terus saja menangis dipelukan Adel, sedangkan Adel mengirim pesan kepada Lio agar segera pulang.


Setelah tenang Adel menyuruh Freeya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sembari menunggu Lio.


Tiga puluh menit kemudian Freeya sudah selesai mandi dan Lio juga telah kembali.


"Ada apa ini, Freeya kenapa mata kamu bengkak kayak gitu?" Tanya Lio


"Lio bantu aku buat cerai secepatnya dengan Axel".


"Apa Axel nyakitin kamu lagi?".


"Nggak kok, tapi aku udah pernah bilang kan mau pisah jadi aku mau secepatnya "


"Baiklah besok aku akan urus semuanya"


"Makasih Lio"


"Terus kenapa mata kamu bengkak kayak gitu?" Tanya Lio yang masih penasaran


"Hmmm orang tua Axel marah sama aku"


"Karena kamu minta pisah gitu?Emang mereka nggak sadar kelakuan anak mereka itu seperti apa".Ucap Adel


"Hmm".


Freeya belum siap menceritakan yang sebenarnya kepada mereka. Ia terlalu lemah untuk bercerita hal itu apabila itu merupakan aib baginya. Mungkin Suatu saat nanti akan ia ceritakan ketika hatinya sudah dapat menerima semua yang terjadi.


Malam harinya Freeya tidur di kamar bersama dengan Adel. Jam sudah menunjukkan pukul 1 malam tetapi Freeya belum juga bisa tidur. Akhirnya ia bangkit menuju sofa di dalam kamar Adel . Ia mengambil sesuatu yang ada didalam tasnya.


Freeya kemudian membuka pintu balkon kamar Adel dan menutupnya kembali saat ia sudah berada di luar.


Huffft


"Kok nggak ada bintang sih".


Freeya duduk di kursi dan terus memandang ke arah langit.


Huffft


"Lucu banget yah hidup kayak gini, banyak sakitnya nggak ada bahagianya. Aku ingin pergi selamanya,tapi kalaupun aku pergi nggak akan ada yang merasa kehilangan".


Freeya mengambil pisau kecil yang ia ambil ditasnya tadi.

__ADS_1


"Maaf aku pakai kamu lagi. Soalnya dada aku sakit, mungkin kalau aku pakai kamu sakitnya bisa berkurang".


Freeya tidak menggores pahanya seperti yang sering ia lakukan karena malam ini ia menggunakan celana panjang. Akhirnya ia menggores pergelangan tangan kirinya.


Hanya dua goresan dan darahnya tidak terlalu banyak.


"Tuhkan, sakitnya langsung hilang ".Ucap Freeya.


Sedangkan di sisi lain, Adel terbangun karena merasa haus. Ia melihat ke samping tapi Freeya tidak ada.


"Freeya kemana ya, kok nggak ada di sini".


Adel membuka kamar mandi tapi Freeya juga tidak ada di dalam.


"Mungkin dia juga haus kayak aku kali. Aku cari ke dapur aja deh".Ucap Adel kemudian melangkah keluar menuju dapur.


"Kok Freeya juga nggak ada di sini sih".Adel dengan cepat meminum airnya karena ia sangat khawatir dengan Freeya. Jangan-jangan Freeya pergi lagi.


Saat sampai di kamarnya ia segera menghubungi Freeya, namun ponsel Freeya bergetar di atas kasur.


"Lo, ini hpnya tapi orangnya mana sih. Bikin aku khawatir aja".


Mata Adel tidak sengaja melirik ke arah balkon, yang pintunya tidak tertutup rapat.


Ia kemudian menuju ke sana.


Deg


Penglihatannya tidak salahkan. Adel melihat pisau kecil berada di tangan Freeya. Memang disitu agak gelap namun, Adel masih bisa melihatnya dengan jelas. Terlebih tangan Freeya yang meneteskan darah ke lantai.


Freeya sendiri tidak sadar bahwa Adel sudah ada di sampingnya.


Mendengar teriakkan Adel Freeya langsung membuang pisau yang ada di tangannya tapi Adel sudah terlanjur melihatnya.


"Freeya ini maksudnya apaan. Kamu kamu gores tangan kamu sendiri". Ucap Adel dengan tatapan tidak percaya


Freeya langsung membawa tangannya kebelakang tapi Adel langsung menariknya.


"Fre"


"Hmmm nggak papa kok, nggak sengaja kegores tadi"


"Kamu kira aku anak kecil yang gampang kamu bodohi heh".


Freeya hanya diam menatap ke arah langit


"Sejak kapan?" Tanya Adel


"hmmm udah lumayan lama".


Mendengar hal itu Adel langsung terduduk kelantai. Ia menutup mulutnya. Ia kira Freeya yang terlihat kuat selama ini, tidak akan merusak fisiknya, tapi apa sekarang ia melihatnya langsung. Ia kembali gagal menjadi sahabat.


Hiks


Hiks


"Fre, kenapa bisa?"


Freeya masih terus diam

__ADS_1


"Maaf Fre, aku nggak guna jadi sahabat. Harusnya aku selalu ada di saat kamu butuh, harusnya aku selalu dengarin keluh kesah kamu, hiks hiks maaf Fre".


"Del, kamu nggak salah aku ngelakuin ini murni karena keinginan aku".


Hiks hiks


"Kenapa harus melukai diri kamu sendiri".


"Aku nggak bisa tahan sakitnya Del, kalau aku lukain diri aku setidaknya sesak di dada aku sedikit berkurang"


"HIKS FREEYA, KAMU SADAR NGGAK SIH APA YANG KAMU LAKUIN INI. UDAH CUKUP HATI KAMU AJA YANG HANCUR. KENAPA KAMU JUGA IKUT LUKAIN FISIK KAMU"


Adel mengguncang bahu Freeya


"FRE, AKU TAU KAMU SAKIT, TAPI DENGAN BEGINI KAMU JUSTRU NYAKITIN DIRI KAMU LEBIH DALAM LAGI. KENAPA KAMU HARUS NYAKITIN HATI DAN RAGA KAMU SIH. KENAPA HARUS KEDUANYA "


"TERUS AKU HARUS APA DEL, DI SAAT PERASAAN AKU DIPERMAININ, DI SAAT HARAPAN AKU DIHANCURIN, DI SAAT AKU MERASA NGGAK DIANGGAP, DI SAAT SEMUANYA LIHAT AKU SEBAGAI ORANG YANG SELALU SALAH. AKU DIPOJOKKAN DEL, NGGAK ADA TEMPAT UNTUK ORANG SEPERTI AKU. Hikks hiks Hanya ini Del, yang bisa buat aku merasa lebih baik. Hanya ini yang bisa buat aku merasakan sakit yang lain selain sakit di dalam hati aku. Hanya dengan begini aku bisa bertahan keesokan harinya Del hiks hiks. Aku bahkan udah nggak peduli sebanyak apa bekasnya Del, yang aku peduliin sakitnya berkurang "


Adel langsung memeluk erat Freeya. Sejauh mana lagi sahabatnya ini bisa bertahan.


"hiks hiks maafin aku Fre, aku nggak tau kamu sehancur ini"


"nggak Del, kamu bahkan selalu ada. Makasih karena di saat orang lain menyuruh aku pergi kalian masih meraih tangan aku".


Setelah mereka mulai tenang. Adel menatap Freeya.


"Satu rahasia kamu kebongkar malam ini, aku tau masih ada rahasia lain yang kamu sembunyiin dari aku".Ucap Adel


"Maaf Del, aku pasti akan cerita suatu saat nanti di saat aku udah bisa nerima semuanya".


"Huffft jadi kamu nangis bukan hanya karena masalah yang kamu ceritakan tadikan." Freeya hanya diam


"Baiklah aku ngerti, kamu pasti butuh waktu dan aku akan tunggu kapan pun itu saat kamu udah siap cerita".


"Makasih Del"


Mereka masuk kembali ke kamar saat jam sudah pukul 3 malam.


"Fre, sini aku obati dulu tangan kamu ".


"Nggak usah Del, nggak sakit kok"


Hati kamu sehancur apa Fre, bahkan luka seperti itu udah nggak kamu rasakan. Ucap Adel dalam hati


"Fre, aku mohon ya, jangan lakuin hal kayak gini lagi".


"Aku usahain. Jangan kasih tau Lio ya, aku nggak mau membuat semuanya kacau".


...****************...


Pagi harinya Freeya dan Adel turun ke meja makan bersikap biasa saja, luka Freeya pun tidak kelihatan karena sudah di tutupi oleh jam tangan.


"Fre hari ini aku dan pengacara aku akan urus semua perceraian kamu. Aku hanya minta berkas-berkas kamu selain itu aku yang akan urus semuanya".


"Makasih ya"


"Sama-sama. Terus bagaimana dengan orang tua kamu."


"Iye mereka sudah tau kok"

__ADS_1


"Baiklah,semoga Axel tidak membuat kesulitan selama proses perceraian kalian.


__ADS_2