
...Aku pergi, dan semoga disana takdir baik memeluk erat langkahku...
Saat ini Freeya telah ada di rumah pak RT, karena saat di puskesmas tadi warga yang menunggunya di sana ingin agar Freeya ke rumah pak RT, kalau tidak Freeya akan diseret ke sana.
"Jadi apa benar nak Freeya sedang mengandung?" Tanya pak RT
Freeya menunduk dengan air mata yang mengenang di pelupuk matanya.
"Apakah laki-laki yang datang tadi, merupakan anak dari yang kamu kandung".
Freeya kemudian menggeleng.
Saat itu bisik-bisik mulai terdengar di telinganya, ada yang mengatakan Freeya mungkin saja tidak tau siapa ayah dari anaknya, bahkan ada yang mengatakan mungkin saja ia ingin menjebak laki-laki tadi agar ia mau bertanggung jawab.
"Kami di sini tidak mau tau pak RT kalau memang ayah anak yang dikandungnya tidak jelas, usir saja dia dari kampung ini"
"Iya pak RT kami tidak ingin kampung ini mengalami kesialan karena aib yang dibawah wanita itu"
"Tenang-tenang saya harap di sini kita tidak saling menghakimi, biarkan nak Freeya menjelaskan kepada kita semua untuk mengetahui keputusan seperti apa yang tepat".Ujar pak RT
Sedangkan Freeya semakin menangis, bagaimana lagi nasibnya jika ia di usir dari sini. Ia bahkan saat ini terlalu malu, bagaimana nanti jika anaknya ini mengetahui ibunya di usir karena mengandung tanpa seorang suami.
"Pak RT, apakah saya boleh menjelaskan, nak Freeya sepertinya belum siap untuk berbicara". ujar ibu Hamidah.
Di sana Jeno juga telah datang. Ia sangat emosi melihat Freeya diperlakukan seperti ini
"Silahkan ibu Hamidah"
"Nak Freeya sebenarnya telah menikah pak, tapi saat ia memutuskan tinggal di sini Freeya dan suaminya telah bercerai, dan saat itu ia tidak mengetahui telah mengandung anak dari suaminya "
Bisik -bisik kembali terdengar. Freeya rasanya ingin sekali tuli agar tidak lagi mendengar kata yang semakin menyakiti hatinya.
"Siapa yang menjamin kalau anak itu adalah anak suaminya, mungkin saja dia selingkuh sehingga suaminya menceraikannya"
"Tau apa Tante tentang kehidupan Freeya hingga berani berkata seperti itu".Ucap Jeno yang sedari tadi hanya diam
"Kalian dengan gampangnya menghakimi orang lain, tapi tidak melihat kekurangan kalian sendiri. Apa yang salah dengan kehamilannya, toh sebelum ini dia juga memiliki suami."Ujar Jeno lagi
"Kamu jangan coba melindungi wanita itu Jeno. Kami tau pasti dia telah menggoda mu kan hingga kamu membelanya, tapi apa kamu tidak jijik dengan seseorang yang hamil tanpa suami seperti itu. bisa saja ia hanya ingin memanfaatkan kebaikan keluarga kalian".Ucap ibu yang lain.
Freeya semakin menggenggam erat tangannya.
BRAK
Jeno meninju pintu yang ada di hadapannya.
"SAYA BILANG JANGAN MENGHAKIMINYA, KALAUPUN ANAKNYA TIDAK MEMILIKI AYAH, SAYA SENDIRI YANG AKAN MENIKAHINYA DAN MENJADI AYAHNYA". Ucap Jeno
__ADS_1
"TIDAK. Pak RT kami tidak terima dengan gampangnya ia akan dinikahi Jeno. Wanita ini telah membawa aib di kampung ini pak. Sebelum tidak ada hal seperti ini di kampung. Kalau pak RT tidak bertindak tegas kami sendiri yang akan menyeretnya untuk keluar dari kampung ini. Bagaimana ibu-ibu?"
"Iya kamu setuju, kami tidak ingin kampung ini mendapat soal karenanya, kami juga tidak ingin anak dan Suami kamu nantinya di goda sama wanita itu". Ucap ibu yang lain
Ibu Hamidah tidak sanggup melihat Freeya yang diperlukan seperti itu, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa saat semua warga menginginkan Freeya untuk pergi.
"Malang sekali nasibmu nak". Batin ibu Hamidah
Kini Freeya telah berada di kamar kostnya.
Air mata yang sedari tadi keluar tidak ingin berhenti.
Jeno dan keluarganya juga sedang berada di sana
Tadi ketika Jeno bersikeras ingin mempertahankan Freeya, warga lain meminta Jeno untuk ikut pergi apabila memang ingin menikah Freeya.
Seakan mata hati mereka telah tertutup. Hanya dengan alasan Freeya seorang pendatang yang membawa aib rasa kemanusiaan mereka hilang begitu saja.
"Nak Freeya maafkan ibu yang tidak bisa membantu kamu".Ucap ibu Hamidah . Saat ini Freeya dan ibu Hamidah sedang mengemas baju Freeya. Ya, sesuai dengan kesepakatan di rumah pak RT tadi, Freeya diizinkan pergi baik-baik dari kampung ini, kalau Freeya tidak ingin pergi warga sendiri yang akan menyeretnya.
"Bu, ibu Jeno dan bapak justru terlalu banyak membantu Freeya. Freeya bahkan nggak akan bisa balas semua kebaikan ibu. Makasih, karena kalian udah percaya sama Freeya saat yang lain justru mencari kesalahan Freeya "
Mereka berdua saling memeluk di dalam kamar.
"Hiks hiks Freeya sayang banget sama ibu. Semoga nanti saat kita di kasih kesempatan untuk bertemu, ibu tidak melupakan Freeya".
Saat ini Freeya dan keluarga Jeno telah berada di dalam mobil menuju terminal untuk mengantarkan Freeya
Tidak ada yang membuka pembicaraan sama sekali.
"Tuhan, Freeya rasanya ingin pergi sejauh mungkin. Kalau bisa pergi selama-lamanya. Freeya merasa lagi-lagi keberadaan Freeya tidak diinginkan. Apakah saat ditempat baru nanti, Freeya bisa diterima. Freeya takut Tuhan. Freeya hanya sendiri tapi kenapa ujiannya seberat ini". Batin Freeya
Tiga jam berlalu akhirnya mereka sampai di terminal.
"Nak ini nomor keluarga ibu. Dia hanya sendiri di rumah karena suaminya telah meninggal dan ia tidak memiliki anak. Dan ini hp untuk kamu saat sampai di sana nanti kamu hubungi dia ya"
"Nggak usah Bu, Freeya nanti minjam hp sama orang-orang di sana kalau udah nyampe"
"Nggak pokoknya kamu harus terima, ibu juga akan sering hubungi kamu. Jadi ambil ya"
"Baiklah makasih ya Bu."
"Kalau begitu ibu sama bapak ke mobil dulu ya, sepertinya Jeno ingin berbicara"
"Baik Bu, bapak sama ibu harus sehat-sehat ya"
Kini tersisa Jeno dan Freeya yang berada disitu
__ADS_1
"Hmmm Freeya". Ucap Jeno
"Iya"
"Maaf"
"Kenapa minta maaf,kamu nggak ada salah apapun sama aku Jeno"
"Aku nggak bisa bantuin kamu, sampai mereka merendahkan kamu"
Freeya tersenyum ke arah Jeno
"Nggak, kamu bahkan berani teriak karena belain aku. Jadi kamu nggak usah merasa bersalah begitu. Aku justru berterima kasih karena kamu selalu ada dan bantuin aku selama ini".
Jeno kemudian diam dan terus memandang Freeya , hingga Freeya yang terus ditatap merasa tidak nyaman.
"Fre"
"Iya Jeno"
"Perasaan aku salah nggak sih?"
"Hah?
"Hufff aku sayang sama kamu". Ucap Jeno menatap serius ke arah Jeno
"Jeno, kamu bahkan bisa dapat yang lebih baik dari aku"
"Kalau aku nyamannya sama kamu gimana Fre?"
"Jeno, aku rasa perasaan itu hanya karena rasa kasian terhadap aku. Dan aku yakin saat aku udah pergi perasaan itu juga akan ikut hilang"
"Aku serius Fre, aku sayang dan cinta sama kamu. Aku tau kita bahkan baru bertemu tapi entah kenapa aku seyakin ini sama kamu. Tapi aku ngomong gini karena ingin jujur tentang perasaan aku. Aku nggak akan memaksa kamu"
"Hufff, maaf Jeno aku nggak bisa. Aku harap perasaan itu sampai ke seseorang yang lebih baik dari aku. Aku bahkan untuk saat ini tidak ingin memiliki hubungan dengan seseorang. A-ku juga nganggap kamu sebagai teman nggak lebih"
Setelah mendengar jawaban Freeya, Jeno tersenyum walaupun ada rasa sakit di hatinya tapi ia tidak akan memaksa, terlebih ia tau bagaimana kondisi Freeya saat ini
"Iya aku mengerti, dan aku hargai apapun keputusan kamu. Kalau begitu aku pergi ya kasian ibu sama bapak nungguin. Aku usahakan akan jenguk kamu ke sana nanti". Ucap Jeno
"Aku boleh peluk nggak, aku jug ingin memastikan sesuatu hehehe". Ucap Jeno
Freeya kemudian mengangguk dan Jeno langsung memeluknya erat.
"Jaga diri kamu di sana nanti ya, aku usahakan akan sering hubungi kamu. Dan tentang pembicaraan kita tadi aku harap itu nggak membebani kamu ".
Setelah pelukan mereka usai, Jeno langsung pergi ke mobil dan kembali ke kampung. Sedangkan tidak lama Freeya juga menaiki bus untuk menuju ke tempat baru untuk kembali memulai hidupnya.
__ADS_1