
Kini Freeya telah sampai di tempat dimana ia akan kembali mencoba memulai hidupnya.
"Tuhan tempat ini menjadi akhir dari segalanya".
"Silahkan masuk nak"
"Makasih Bu, maaf harus merepotkan ibu"
"Justru ibu senang sekali nak, ibu jadi punya teman di rumah. Jadi kamu nggak usah merasa tidak enak terhadap ibu ya. Anggap saja ibu ini ibu kamu sendiri"
"Makasih Bu". Ucap Freeya memeluk keluarga dari ibu Hamidah yang bernama ibu Masita.
"Maaf Tuhan aku hampir saja berburuk sangka. Ternyata Engkau mempertemukan aku dengan orang baik ini". Ucap Freeya dalam hati.
Ya, sekarang Freeya sedang berada di salah satu daerah di Bandung.
"Kalau begitu kamu istirahat dulu ya, ini sekarang sudah menjadi kamar kamu. Kamar ibu ada di sampingnya"
"Iya Bu"
Sedangkan di tempat lain, sepasang kekasih sedang adu cekcok.
"Terus gunanya kamu sebagai pacar apa kalau buat belanjain aku aja kamu nggak mampu"
"Yang, kan aku udah jelasin keuangan aku sekarang sedang nggak bagus. Aku harus menghemat, Otomatis aku juga nggak bisa belanjain kamu sekarang ini. Terlebih semua yang ingin kamu beli itu barang mahal"
"Oh sekarang kamu mulai perhitungan sama aku, yaudah nggak masalah. Tapi aku jadi ragu dengan perasaan kamu, apa benar kamu masih sayang sama aku. Atau mungkin saja kamu ada main dibelakang aku. "
"Kristal, nggak gitu. Aku bahkan rela hubunganku dan keluargaku retak karena kamu. Aku hanya memohon tolong ngertiin aku sebentar aja".
"Jadi salah aku kalau keluarga kamu berantakan. Kamu nggak lupakan semua ini terjadi karena mantan istri kamu itu".
"Kristal, Freeya nggak ada hubungannya dengan ini"
"oh sekarang kamu terang-terangan belain dia, kamu udah mulai suka sama dia. Atau jangan-jangan jal*Ng itu kembali menggoda kamu sampai kamu kayak gini sekarang "
"KRISTAL ". Teriak Axel
"Kamu bahkan udah berani bentak aku ". Ucap Kristal dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sayang, ma-af aku nggak maksud. Aku terbawah emosi. Ayo kita belanja barang yang kamu mau tadi".Ucap Axel membujuk Kristal
"Nggak usah, aku udah nggak mau lagi. Aku mau pulang aja hiks"
Axel lalu memeluk Kristal
"Sayang , aku benar-benar minta maaf , aku nggak maksud bentak kamu"
"Iya"
"Ayo, sekarang kita belanja "
"Nggak usah"
"Ayo, aku yang maksa yang".Ucap Axel
"Emang kamu nggak sibuk?"
"Nggak "
Kristal kemudian tersenyum dipelukan Axel.
Setelah Axel disiksa habis-habisan oleh Lio hari itu, ia di bawah ke RS oleh anak buah Lio untuk di rawat. Dan saat sembuh Axel kembali ke perusahaan tapi ternyata saat sampai di sana jabatannya telah diturunkan menjadi pegawai biasa. Ia harus menebalkan telinganya karena terlalu banyak bisik-bisik tentangnya yang dengan secara tidak hormat diturunkan jabatannya.
Perusahaannya sendiri telah kembali ke tangan orang tua Axel. Dengan syarat Axel harus menjadi pegawai biasa tanpa perlakuan khusus. Lio tidak tega dengan kedua orang tua Axel . Biar bagaimanapun mereka tidak tau perbuatan anaknya.
****
__ADS_1
"Bu" Panggil Freeya
"Iya nak"
"Freeya rencana ingin kerja, kira-kira Freeya bisa kerja apa ya di sini?"
"Kamu yakin ingin kerja nak, kan sekarang kamu sedang mengandung"
"Iya Bu, aku juga harus menabung buat lahiran nanti"
"Gimana ya, ibu juga nggak tau kerja apa yang cocok buat kamu . Soalnya di sini rata-rata orang menggarap tanah, dan kamu nggak mungkin kerja seperti itu"
"Kalau aku jualan gimana Bu?"
"Mau jualan apa nak?"
"Gorengan mungkin"
"Hmmm, bukannya ibu nggak setuju nak, tapi di sini udah terlalu banyak yang jual begitu"
Freeya langsung menunduk lesu.
"Atau gimana kalau kamu ikut ibu aja. Kebetulan ibu kerja di kebun teh. Nanti kamu ibu kenalkan sama bos ibu."
"Benaran Bu"
Bu Masita mengangguk
"iya-iya Freeya mau Bu"
"Baiklah besok pagi kamu ikut ibu"
****
"Sayang". Ucap Lio
"Sini deh ,mas mau ngomong ". Ucap Lio menepuk sofa di sebelahnya yang ada di dalam kamar mereka
Sindi kemudian beranjak dan duduk di samping suaminya
"Kenapa mas"
"Mas mau ngomong sesuatu "
"Hmmm"
"Kamu masih ingat tiga hari yang lalu mas minta izin untuk urusan bisnis kan?"
"Iya, emang kenapa mas. Mas nggak buat macam-macam diluar sana kan?"
"Enggaklah sayang"
"Terus kenapa sama hari itu?"
Hufff
Lio menatap istrinya
"Sebenarnya hari itu mas bertemu seseorang"
"Siapa?"
"Freeya "
"APA?" Ucap Sindi yang bangkit dari duduknya
"Sayang duduk dulu, aku belum selesai "
__ADS_1
"Mas beneran ketemu Freeya?"
Lio hanya mengangguk dan tersenyum
"Ini aku nggak mimpikan mas?"
"Nggak sayang, mas benar ketemu sama Freeya "
"Hiks hiks kenapa nggak ajak aku mas, aku kangen banget sama dia".
"Maaf sayang, hari itu mas ingin memastikan langsung kalau dia benaran Freeya sebelum membawa kamu dan Adel ke sana"
"hiks hiks terus keadaan Freeya gimana mas?"
"Dia baik sayang"
"Yaudah besok pagi kita harus ke sana , aku mau ketemu Freeya, aku mau peluk dia, hiks hiks dia pasti selama ini kesepian "
"Iya sayang,kita akan ke sana, tapi bukan besok"
"Kenapa, aku maunya besok mas"
"Sayang ,liat mas"
Sindi kemudian melihat Lio dengan mata yang sudah basah dengan air mata.
"Besok aku ada kerjaan yang nggak bisa ditunda.Aku juga udah janji sama Freeya akan mempertemukan kalian beberapa hari kedepan "
"Mas tapi itu lama banget"
"Baiklah besok kamu cerita ke Adel kalau Freeya udah ketemu. Lusa kita ke sana kalau kerjaan mas udah selesai bagaimana?"
"Hmmm baiklah "
****
Pagi ini Freeya sangat bersemangat untuk ikut bersama dengan ibu Masita.
"Semoga saja aku di terima ya Bu"
"Iya nak, ibu yakin kamu diterima, bos ibu itu sangat baik "
Freeya dan ibu Masita berjalan kaki ke kebun teh yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Kira-kira hanya memakan waktu 15 menit dengan berjalan kaki.
"Nah ini kebun tehnya nak"
"Wah luas sekali Bu". Ucap Freeya menatap takjub ke hamparan kebun teh yang sangat luas itu
"Iya nak, disinilah sumber keuangan bagi kebanyakan warga. Ya sudah ayo kita ke tempat bos ibu, biasanya jam segini,dia sedang berada di tempat penyimpanan barang"
"Assalamualaikum Bu"
Waalaikumsalam Bu Masita, ada yang bisa dibantu Bu?" Ucap bos ibu Masita
"Hmmm begini Bu, saya ingin bertanya apakah masih ada lowongan untuk bekerja dikebun ini?"
"Emang siapa yang ingin kerja?"
"Anak angkat saya Bu".
Sedangkan Freeya yang dari tadi menunduk dibelakang ibu Masita memberanikan diri untuk maju kehadapan pemilik kebun teh
"Assalamualaikum Bu, saya Freeya anak angkat ibu Masita" Ucap Freeya menatap ke arah pemilik kebun
Deg Deg
"Kamu....?"
__ADS_1