
Hiks
hiks
"Nggak mungkin, ini semua pasti mimpi".
Freeya kemudian menampar wajahnya.
Plak
"Hiks tapi muka aku sakit berarti ini benar".
Freeya kemudian luruh kelantai WC.
"Aku harus gimana Tuhan, aku nggak mau anak ini".
Sekitar pukul 9 pagi ibu Hamidah datang ke kost Freeya untuk mengetahui hasilnya
Tok tok tok
"Nak Freeya, ini ibu"
"Iya Bu, masuk aja aku nggak kunci pintunya "
Ibu Hamidah kemudian masuk dan melihat Freeya yang memeluk lututnya di pinggir kasur dengan tatapan yang kosong dan air mata yang masih terus keluar.
Melihat penampilan Freeya saja ibu Hamidah sudah mengetahui hasilnya.
"Nak". Ucap ibu Hamidah sembari menepuk pundak Freeya.
Freeya kemudian menatap ke arah ibu Hamidah dan tangisannya semakin menjadi-jadi.
"Ibu, hiks hiks Freeya nggak mau anak ini. Freeya benci anak ini. Hilangin anak ini dari perut Freeya buk hiks hiks Freeya nggak mau". Ucap Freeya dengan tangan yang memeluk pinggang ibu Hamidah.
Sedangkan ibu Hamidah hanya diam dengan membalas pelukan Freeya dan menepuk halus punggung Freeya.
"Hiks ibu ini gimana, Freeya nggak mau. Freeya nggak mau dilihat rendah lagi sama orang-orang karena anak ini, hiks bantu Freeya Bu, Freeya mau bunuh anak ini"
"ASTAGHFIRULLAH FREEYA,SADAR NAK. Anak itu Anugerah untuk kamu"
"NGGAK, dia musibah untuk Freeya. Dia datang saat Freeya mau mulai hidup baru tanpa melibatkan orang-orang yang pernah menyakiti Freeya".
"Astaghfirullah nak, sadar anak ini nggak salah apa-apa "
__ADS_1
"Hiks Freeya mau gugurin anak ini Bu. Dimana ,kasih tau Freeya dimana tempat hiks?"
Plak
Ibu Hamidah menampar Freeya
"Ibu tau kamu shock tapi apabila kamu ingin membunuh darah daging kamu, maka jangan pernah mengenal ibu lagi. Karena saat itu juga ibu akan sangat kecewa dengan kamu".
Setelah mendapat tamparan Freeya diam. Apalagi setelah ia mendapat ancaman dari ibu Hamidah. Orang yang sangat berperan penting dalam hidupnya yang sekarang.
"Nak, liat ibu".Ibu Hamidah memegang kedua bahu Freeya.
"Nak, ibu tau ini berat buat kamu. Di saat kamu harus memulai hidup sendiri setelah bercerai dengan suami kamu, anak ini kemudian muncul dalam rahim kamu. Ibu tau ketakutan kmu saat ini, kamu takut dicaci karena hamil tanpa suami yang dampingi kamu. Tapi ada ibu dan keluarga ibu nak. Kamu juga pasti punya surat nikah sebagai bukti nanti untuk menutup mulut mereka yang ingin merendahkan kamu".
", Freeya nggak bisa Bu hiks"
"Kenapa nggak bisa nak, ibu tau kamu wanita yang kuat, kamu pasti bisa menjadi orang tua buat anak kamu ini".
"Nggak Bu, Freeya tetap nggak bisa. Freeya tetapi ingin gugurin anak ini"
"Dia titipan Tuhan nak, coba kamu pikir dikehidupan kamu yang sekarang seorang diri. Tuhan mengirimkan anak untuk menemani kamu untuk menjadi penyemangat kamu. Dia bukan musibah tapi jalan menuju kebahagiaan kamu nak. Ibu mohon percaya sama ibu"
"AKU NGGAK BISA BU, GIMANA AKU BISA NERIMA ANAK INI JIKA NANTI AKU LIAT WAJAHNYA AKU JUSTRU AKAN MEMBENCINYA. HIKS HIKS AYAHNYA BAHKAN YANG PALING HANCURIN HIDUP AKU. BAGAIMANA BISA AKU HIDUP DENGAN ORANG YANG SEBAGIAN DARAHNYA MENGHANCURKAN AKU BU, GIMANA HIKS. AKU NGGAK BISA"
Ibu Hamidah kembali memeluk Freeya dan membiarkan Freeya menangis sampai perasaan dan emosinya menjadi lebih baik.
30 menit kemudian Freeya sudah tidak menangis lagi. Ibu Hamidah menuju ke dapur untuk mengambil air minum untuk Freeya
"Ini nak ,minum dulu"
"Makasih Bu"
"Udah tenang?"
"Iya, maaf aku ngebentak ibu"
"Nggak papa."
"Nak ibu akan berbicara satu kali lagi, setelah ini semua tergantung keputusan kamu. Karena ibu tau terlalu banyak luka yang mungkin telah kamu lalui dan tidak mudah untuk sampai di tahap ini".
Huffft
"Nak, kamu tau banyak diluar sana yang ingin memiliki anak tapi mereka sangat sulit mendapatkannya. Kamu juga pasti tau di dunia ini terlalu banyak pembunuh, yang sangat gampang mengambil nyawa orang lain. Apa kamu ingin menjadi salah satu dari mereka. Ibu tau kamu bukan bagian dari mereka dan tidak akan pernah menjadi bagian dari mereka."
__ADS_1
"Nak, bayangkan seandainya anak kamu ini mengetahui bahwa dirinya tidak diinginkan oleh ibunya sendiri. Coba kamu bayangkan bagaimana sakitnya dia. Seorang ibu saja tidak menginginkannya bagaimana dengan orang lain. Apa kamu tega melenyapkan nyawa ini yang tidak tau apa-apa nak, bagaimana kalau dia ini adalah penyumbuh lukamu ".
Mendengar perkataan ibu Hamidah, Freeya kembali menangis. Ada satu ucapan yang membuat perasaan Freeya tercabik-cabik.
Bagaimana ia tidak mengharapkan anaknya, sedangkan ia bahkan mengalami langsung bagaimana sakitnya ketika keberadaan kita tidak diharapkan.
"Hiks Ibu, aku nggak mau anak ini lebih menderita dari aku kalau aku pertahanin. Dunia ini jahat Bu hiks"
"Bisa nak, pertahanin dia dan jadilah ibu yang memberikan kebahagiaan untuk anaknya. Sesulit apapun itu, seorang anak akan merasa baik-baik saja apabila ada Ibu disampingnya"
"Tapi anak ini bukan anak suami aku".Ucap Freeya lirih tapi masih didengar ibu Hamidah
"Maksud kamu apa nak?"
"Hiks aku malu Bu, aku kotor, aku nggak sebaik yang ibu kira. Aku hamil dari sp*rma orang lain bukan suami aku".Ucap Freeya menunduk. Ia sekarang semakin tidak punya muka dihadapan ibu Hamidah
"Ka-mu?" Bahkan ibu Hamidah tidak mampu meneruskan ucapannya.
"Iya Bu, ini anak orang lain. Maaf mengecewakan ibu. Sekarang ibu udah tau aku nggak sebaik yang ibu pikirin. Jadi terserah ibu. Kalau pun ibu ingin mengusir aku dari sini aku akan pergi Bu".
Freeya bisa saja membohongi ibu Hamidah tentang ayah dari anak yang dikandungnya, tapi ia tidak ingin menutupi apapun lagi dari ibu Hamidah.
"Jelasin ". Ucap ibu Hamidah
"Ibu nggak marah sama aku?"
"Ibu kasih kamu kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Setelah itu terserah ibu mau melakukan apapun tentang kamu".Ucap ibu Hamidah
Melihat Freeya yang terlihat gelisah ibu Hamidah kemudian merubah raut wajahnya menjadi lebih lunak .
"Ibu percaya sama kamu, apapun nanti yang akan kamu ceritakan. Jadi jangan ragu untuk bercerita"
Dengan tangan yang saling meremas, Freeya mulai bercerita tentang perjodohannya, Axel yang memiliki kekasih, keinginan Freeya untuk tetap bertahan, hingga kejadian malam itu dan kenyataan dari orang tuanya.Bu Hamidah yang mendengar Freeya bercerita dengan ketakutan membuatnya mengepalkan tangan. Dia yang mendengar Freeya bercerita saja merasa sangat sakit, bagaimana dengan Freeya yang mengalaminya langsung .
"Mereka jahat sama Freeya Bu. Freeya takut sama mereka hiks."
"Sudah nak ,sudah mereka sudah tidak ada di sini lagi. Sekarang Freeya harus bisa bangkit tunjukin kamu kuat agar mereka yang biadab itu menyesal". "Freeya nggak boleh takut lagi ada ibu, ada Jeno dan bapak yang selalu disamping Freeya. Sekarang anggap saja ibu adalah ibu kandung kamu sendiri. Kita lalui semua ini sama-sama, kita rawat anak kamu hingga dia menjadi orang yang membanggakan. Jadi jangan benci anak yang nggak bersalah itu ya. Kita akan limpahi dia kasih sayang".
"Makasih Bu, Freeya sayang ibu. Makasih udah nerima Freeya di sini. Freeya akan jaga anak ini, Freeya nggak mau dia merasa tidak diinginkan karena itu rasanya sangat sakit".
"Iya nak, ibu percaya sama kamu". Mereka kemudian kembali berpelukan
Untuk hari-hari kedepannya, Freeya akan menjalani semuanya dengan lapang dada.
__ADS_1