
...Tuhan tidak mempertemukan kita dengan seseorang, tanpa ada tujuan di dalamnya...
Kini mereka telah duduk di sofa setelah mendapat teguran dari ayah Jeno. Namun, masih ada emosi yang belum redah terutama dari Jeno.
"Sekarang nak Freeya sudah tidak tinggal lagi di sini, ia juga berpesan kepada ibu agar kalian tidak mencarinya. Jadi ibu harap kalian bisa menghargai keputusan nak Freeya". Ucap ibu Hamidah
"Bu, teman saya sedang mengandung seorang diri, tanpa keluarga di sisinya bagaimana bisa kami tidak mencarinya ".Ucap Sindi sedangkan Adel dari tadi hanya terdiam. Jika ia bicara satu kata saja maka yang keluar hanyalah air mata.Kekecewaannya terlalu banyak karena kembali tidak bisa bertemu dengan sahabatnya.
"Ibu yang jamin nak, dia akan baik-baik saja, dia tidak sendiri. Ada orang baik yang bersamanya".
"Apakah orang yang bersama Freeya itu laki-laki Bu?" Tanya KAI yang takut bila Freeya bersama laki-laki lain"
"Emang kenapa kalau dia laki-laki, Lo juga nggak punya hak untuk melarangnya".Ucap Jeno yang masih menatap Kai penuh kebencian.
"Dia hanya seorang wanita paruh baya yang juga ingin memiliki anak. Karenanya Freeya betah bersamanya dan nak Freeya bukan perempuan yang akan tinggal bersama laki-laki sebaik apapun itu".
Deg
Ucapan ibu Hamidah memukul telak Kai yang dari pertanyaannya tadi mengandung makna ketidakpercayaan terhadap Freeya
"Saya tidak bermaksud seperti itu Bu, saya hanya takut belum sempat bertemu dan bertanggung jawab dengan Freeya tapi ternyata orang lain sudah membuatnya nyaman". Ucap Kai
"Saya mengerti".
Setelah mereka pamit pulang kepada keluarga ibu Hamidah, kini Kai yang berada di dalam mobilnya, memukul setir mobilnya sebagai pelampiasan emosinya.
"Sial*n, gue pengecut. Kenapa gue nggak bisa ketemu Lo lebih dulu Fre".Ucap Kai
Kai tidak akan mengikuti permintaan ibu Hamidah untuk membiarkan Freeya pergi. Ia akan terus mencari Freeya. Kai kemudian menelpon anak buahnya
"Hallo tuan"
"Saya mau anak buah kamu mengikuti kemanapun perginya orang ini,.saya sudah kirim potonya. Apalagi ada hal yang janggal atau ia bertemu seseorang langsung laporkan kepada saya"
"Baik tuan "
Sedangkan di mobil tempat Lio, Sindi dan Adel tidak ada yang berbicara sama sekali. Mereka sibuk dengan pemikirannya.
...****************...
Pagi ini Freeya sangat semangat untuk bekerja. Apalagi di tempat kerjanya ibu- ibu sangat menghargainya. Tidak tau kalau nanti kabar kehamilan Freeya telah sampai ditelinga mereka.
"Selamat pagi Freeya" sapa ibu Rosma pemilik perkebunan teh
"Pagi Bu Rosma"
"Wah kamu keliatan semangat sekali pagi ini"
__ADS_1
"Hehehehe iya dong Bu, harus semangat apalagi mu nyari rezeki"
"MasyaAllah, baiklah selamat bekerja ya, saya akan lanjut berjalan-jalan sebentar"
"Baik Bu"
Setelah ibu Rosma hilang dari hadapan Freeya, ia kemudian bergabung dengan ibu-ibu yang sudah siap dengan bakul dipunggung mereka.
"Selamat pagi ibu-ibu"
"Selamat pagi nak Freeya, semangat ya kerjanya masih muda gini semangatnya juga pasti masih banyak".Ucap salah satu ibu yang berada di sana
"hahahaha iya dong Bu ini semangat "
"ibu kamu kemana Freeya,kok dari tadi nggak kelihatan?"
"hmmm nggak tau Bu, padahal tadi ibu udh duluan ke sini kok"
"Kalian nyari ibunya Freeya?" Tanya salah satu ibu yang baru datang
"Iya"
"ohh tadi saya liat, dia sedang berbicara dengan bos".
Di tempat lain, memang Ibu Rosma dan ibu Masita yang merupakan ibu angkat Freeya di sini sedang berbicara
"Saya minta maaf sebelumnya, mungkin pembicaraan kita nantinya akan sedikit sensitif "
"Emang apa yang Bu Rosma mau tanyakan?"
"Tentang Freeya"
"Apa anak saya berbuat kesalahan bu?" Tanya ibu Masita yang mulai khawatir
"oh tentu tidak, dia sangat bersemangat sekali dan saya bangga melihatnya. Saya hanya ingin menanyakan bebe hal bila ibu berkenan menjawabnya" Ucap ibu Rosma
"Silahkan Bu Rosma , saya usahakan menjawabnya bila saya tau"
Bu Rosma kemudian menarik nafasnya, dan menatap ibu Masita dengan tatapan yang serius.
"Saya ingin bertanya sebelum ini Freeya tinggal di mana?"
"Dia tinggal di desa A tidak jauh dari kota J Bu, apa ada yang salah dengan itu?"
"Tidak saya hanya merasa dia mirip dengan seseorang yang menjadi bagian dari hidup saya"
"Siapa Bu"
__ADS_1
"Anak saya"
"Maksudnya? Freeya anak ibu?" Tanya ibu Masita
"Bu-kan, anak saya sudah meninggal"
"Maaf Bu Rosma saya tidak tau dan saya turut berdukacita"
"Tidak masalah"
"Terus maksud Bu Rosma tentang Freeya itu apa? Maaf saya tidak mengerti "
"Saat saya pertama kali melihat Freeya, saya tiba-tiba mengingat anak saya yang bernama Sari. Freeya sangat mirip dengannya saat seusia Freeya dulu. Bahkan caranya tertawa sangat mirip. Saya hanya merasa ia adalah cucu saya". Ucap ibu Rosma berkaca-kaca
"Bagai-mana bisa ibu mengatakan hal seperti itu tanpa bukti?"
"Saya hanya menuruti kata hati saya. Entah kenapa saat melihatnya hati saya berkata dan sedih sekaligus. Saya tidak bertemu dengan anak saya saat ia meninggal dunia. Saya ibu yang kejam yang mengusirnya dari rumah karena salah satu kesalahan yang ia buat. Hingga sampai akhir hayatnya saya belum mengatakan maaf padanya. Dan saat Freeya tiba-tiba datang, hati saya mengatakan dia adalah anak dari anak saya hiks hiks."
Ibu Masita hanya bisa mematung mendengar hal tersebut.
"Apakah ibu punya Poto anak ibu , maaf saya hanya ingin melihat semirip anak ibu dengan Freeya "
Ibu Rosma kemudian membuka satu-satunya Poto yang ia punya. Poto saat ia dan anaknya Sari menghabiskan waktu di mall sebelum kejadian itu terjadi.
Deg
deg
"Kenapa bisa sangat mirip".Ucap ibu Masita yang telah melihat Poto mudah Sari. Bahkan tanpa melakukan tes DNA pun sebagian orang pasti langsung percaya bahwa mereka adalah ibu dan anak
"Saya akan membantu ibu Rosma, nanti saya coba tanyakan kepada saudara saya yang juga dekat dengan Freeya sebelum tinggal di sini".
"Terimakasih Bu, terimakasih banyak".Ucap Bu Rosma
"Bu, saya punya sesuatu yang ingin disampaikan dan ini berkaitan dengan Freeya"
"Apa itu Bu Masita?"
"Sebenarnya Freeya sedang mengandung"
"A-PA?"Bagai-mana bisa?" Entah mengapa ibu rosma justru melihat kilas balik yang terjadi dengan anaknya Sari dulu.
"Untuk itu ada yang lebih berhak menjawabnya, saya mengatakan hal ini hanya karena berharap dengan ibu Rosma mengetahui hal ini, ibu bisa membantu saya menjaga Freeya dari tuduhan atau hinaan saat semua mengetahui keadaan Freeya nantinya "
"Saya mengerti, saya sendiri yang akan mencari waktu untuk berbicara dengan Freeya".
Jauh di dalam hatinya ibu Rosma berharap, Freeya tidak mengalami seperti apa yang Sari alami. Walaupun belum memiliki bukti tapi ini Rosma yakin Freeya adalah cucunya. Dan seandainya ibu Rosma mengetahui perjalanan hidup Freeya selama ini entah apa yang akan dia lakukan"
__ADS_1