
...Bahkan ketika aku sudah sehancur ini, kalian bahkan nggak pernah peduli. Yang tertanam hanya satu bahwa Freeya adalah kesalahan yang tidak akan pernah menjadi benar. Suatu saat nanti jika ia menjadi benar, maka ia mungkin saja telah menemui tempat yang lain....
Freeya menatap sendu Axel, sekejam inikah Axel padanya. Tidak adakah sisi kasihan dalam dirinya sedikit saja untuk Freeya.
Lantas bagaimana lagi Freeya bisa membela dirinya dihadapan wanita yang menghancurkan rumah tangganya.
"Neraka seperti apa lagi Xel yang ingin kamu berikan?". "Kalau masih ada silahkan lanjutkan aku bahkan udah kalian hancurkan sampai seperti ini. Jadi ayo lanjutkan siksa aku sepuasnya dan setelah itu lepasin aku".Ucap Freeya putus asa, rasanya sangat sesak tapi untuk menghentikannya ia tidak tau bagaimana.
Hukuman ini bahkan jauh lebih menyiksa batin Freeya dibanding hukuman fisik dari Axel. Sekarang Freeya yang manis dengan rambut hitam legam sepinggangnya sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanya Freeya dengan wajah yang dipenuhi coretan lipstik dan rambut sebatas bahu bahkan disisi kiri rambutnya lebih pendek lagi.
"Ya udah yuk yang kita ke apartemen aja, aku udah nggak minat mau nginap di sini malam ini". Ucap Kristal bergelayut di lengan Axel. Dan tanpa menjawab Axel berdiri keluar dari kamar. Menyisakan dua orang wanita yang kini saling memandang dengan tajam
Prok prok prok
"Masih berani banget Lo liatin gue kayak gitu, atau Lo mau sekalian gue botakin". Ucap Kristal menyeringai
Freeya berdiri dengan tangan yang mengepal, ia ingin sekali menusuk perut Kristal atau bahkan menonjoknya sekarang.
Plak
"Itu untuk Lo yang sangat ingin menjadi pe*acur bagi Axel sampai harus masuk ke ruangan yang nggak seharusnya Lo masukin"
"Lo...". Belum selesai Kristal bicara ia kembali mendapat tamparan
Plak
"Ini hadiah dari gue karena Lo udah berhasil jadi penghancur rumah tangga gue
"Sudah awas Lo, gue...". Freeya tidak memberi kesempatan untuk Kristal menyelesaikan ucapannya.
Saat ini ia hanya ingin melampiaskan semua emosi dan rasa sakit hatinya.
Bug
Freeya menendang perut Kristal, yang membuat Kristal seketika jatuh terduduk.
Mata Freeya melihat gunting yang merusak rambut yang selama ini dia jaga, seketika emosinya kembali muncul.
Kristal yang masih kesakitan, berteriak memanggil Axel, namun suaranya tidak akan mungkin kedengaran kelantai bawah.
Perlahan Freeya memegang gunting itu, bahkan tangannya gemetar menatap benda yang baru saja memotong rambut yang selama beberapa tahun ini selalu ia rawat.
Ia kemudian menghadap ke arah cermin
Deg
__ADS_1
Sesadis inikan kristal memberinya hukuman. Wajah dengan coretan dimana-mana, dan rambut yang seperti baju sudah compang camping.
Dengan tubuh yang semakin gemetar, Freeya menghampiri Kristal. Kristal bahkan sudah terlihat ketakutan.
"Gunting ini yang udah Lo gunain buat motong rambut gue, gimana kalau sekarang gue yang gunain gunting ini buat nusuk perut Lo atau yang lebih ringannya gue motong bibir Lo itu". Ucap Freeya
Freeya semakin mendekat ke arah Kristal membuat Kristal berkeringat bahkan sudah ingin menangis.
"Kenapa Lo takut, dimana keberanian Lo tadi?"Tanya Kristal
"Bukan cuma kalian yang bisa gue bahkan bisa lebih kejam dari ini. Gimana mau pilih perut Lo yang gue tusuk atau mulut Lo yang gue potong". Tanya Freeya lagi
Tapi sebelum ia mendekatkan gunting itu ke arah Kristal Axel terlebih dahulu datang.
***
Flashback
Setelah Axel keluar dari kamar, ia langsung menuju mobil. Lama ia memandang kosong ke arah depan , kemudian ia tersadar Kristal belum bersama. Ia kemudian menunggu Kristal lagi, namun setelah lima menit menunggu Kristal belum juga datang. Seketika wajahnya tegang. Jangan sampai mereka saling membunuh di dalam .
Axel kemudian keluar dari mobil dan berlari ke arah kamar. Dan benar saja setelah sampai di sana Kristal sudah menangis dan nampak pasrah sedangkan Freeya memegang gunting dan ingin mengarahkannya ke Kristal.
***
"Kenapa?" Tanya Freeya masih memegang gunting
"GUE NGGAK MAIN-MAIN, SEKALI LAGI LO LUKAIN KRISTAL, DETIK ITU JUGA KELUARGA LO YANG NERIMA AKIBATNYA".
"AKU JUGA NGGAK MAIN-MAIN. KENAPA? KENAPA AKU NGGAK BOLEH MEGANG GUNTING INI SEDANGKAN DIA BOLEH, KENAPA DIA BOLEH MOTONG RAMBUT AKU SEDANGKAN AKU NGGAK BOLEH? KENAPA XEL?. Ucap Freeya membanting Gunting tepar disamping kaki Kristal.
Lagi-lagi, kalau bukan di hukum ,ia diancam. Bahkan untuk melukai Kristal sedikit saja, keluarganya akan langsung hancur.
Tapi setidaknya ia sudah memberikan hadiah kepada Kristal sebelum Axel datang menjemputnya.
Mengabaikan Freeya, Axel kemudian beralih ke arah Kristal yang masih memegangi perutnya.
"Kamu nggak papa yang?"
"Hiks hiks sakit perut aku, dia hiks dia nendang perut aku"
Axel kembali menatap tajam Freeya
"hiks hiks dia nampar aku dua kali Xel, hiks aku takut, dia monster".
Axel kemudian mengangkat Kristal dan membawanya untuk pergi.
__ADS_1
"Ingat ini baik-baik, ucapin selamat tinggal kepada jabatan ayah Lo, kalau terjadi apa-apa sama Kristal".
Setelah kepergian Axel dan Kristal, Freeya akhirnya luruh ke lantai
ia membenci dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Air mata itu akhirnya jatuh juga setelah di tahan sekuat tenaga
"Hiks hiks kalian bukan manusia, hiks hiks kalian sampai kapan mau nyiksa aku.Aku bahkan udah sehancur ini, jiwa aku bahkan udah serapuh ini"
Freeya terus menjabak rambutnya untuk menyalurkan rasa sakit hatinya bahkan ia melukai tangannya karena kukunya yang terlalu mencengkeram kuat tangannya.
Setelah cukup tenang, Freeya bangkit dan menuju meja rias, setelah melihat wajahnya ia menangis kemudian tertawa. Batinnya jelas sangat tertekan
"Hiks hiks ini bukan aku, hahaha ini siapa kenapa bisa muncul di bayangan dalam cermin aku".
"Hiks hiks aku jelek, hiks mereka jahat".
Setelah puas berteriak ,menangis dan menghancurkan barang yang ada di kamar. Kini ia melangkah ke arah balkon. Ia kembali tidak tidur saat jam yang seharusnya membuat orang sangat nyenyak.
Ia duduk ditempat biasa, melihat ke arah langit
"Kok nggak ada bintang "
"Hmmm padahal lagi pengen cerita "
"Yaudah ceritanya kapan-kapan aja, aku main yang lain aja"
Perlahan Freeya mengeluarkan benda kecil berkilau seperti biasa.
"Hufff, bintang lagi nggak mau nemanin aku cerita, jadi maaf ya kamu nemanin aku lagi".
Freeya kemudian melukai paha kanannya karena goresan dipaha kirinya belum terlalu kering.
"Sssst dingin banget, tapi ngilu dikit".Ucap Freeya. Bukannya berhenti setelah berhasil menggores, ia kembali melukai pahanya dengan jumlah goresan sebanyak tiga.
"Maaf ya, tapi hanya kamu yang bisa hilangin rasa sakit di dada aku ini".
Tanpa membersihkan pisaunya ia langsung melipatnya .
Darahnya mengotori dress putih yang ia kenakan.
Setelah cukup lama di balkon , Freeya akhirnya kembali ke kamar untuk tidur tanpa mengganti pakaiannya.
"Selamat tidur, semoga mimpi aku indah hingga tidak ingin bangun lagi"
__ADS_1