
"Kamu dan pelacur kamu itu sama-sama murahan Xel". Ucap Freeya dengan tangan yang terkepal dan mata yang semakin tajam menatap Axel.
Ia merasa sangat sakit. Jika memang Axel tidak bisa melepas Kristal kenapa ia harus memberi harapan kepada Freeya.
Apa ia sebodoh itu dalam memaknai sifat seseorang. Apa ia salah memberi cela hatinya untuk dimasuki suaminya.
Apa ini lagi-lagi tentang kebahagiaan yang tak pernah bisa tersentuh.
Bukankah Freeya sudah berdoa dihari ulang tahun Jennie.
Plak
Axel kembali menamparnya, bahkan kini sudut bibirnya robek.
"Lo ngatain gue murahan. Mau gue tunjukin maksud murahan yang Lo maksud itu".
Axel kemudian mendorong dengan keras Freeya ke sofa dan perlahan memojokkannya.
Seketika Freeya dilanda ketakutan.
"Xel kamu mau ngapain, menjauh dari aku". Bukannya menjauh Axel semakin memojokkan dirinya.
"Bukankah Lo ingin melihat seberapa murahannya suami Lo ini Freeya".
Air mata Freeya perlahan jatuh, banyak ketakutan yang bermunculan dibenaknya.
Melihat Freeya yang menangis Axel justru semakin menjadi-jadi. Tangannya kini mengusap pipi Freeya,kemudian turun ke bibir tak lama tangan itu turun ke leher jenjang Freeya.
Air mata Freeya semakin deras.
Bibir Axel meniup wajah Freeya, tangan yang sedari tadi berada di leher Freeya kemudian kebelakang lehernya. Tangan Axel kemudian menarik rambut Freeya, bahkan tarikan itu lebih keras dari tarikan sebelumnya.
Bibir Axel mendekat ke telinga Freeya.
Fiuhhh. Tiupan Axel ditelinganya membuat ia semakin bergidik. Axel kemudian membisik Freeya
"Dengar baik-baik ***** semurahannya gue, gue nggak akan pernah mau nyentuh tubuh menjijikkan loh itu. Bahkan Lo nggak akan pernah bisa seperti Kristal,mengapah karena yang ****** itu Lo bukan dia, yang murahan itu Lo bukan gue. Lo cewek murahan yang berani hancurin hubungan orang hanya karena ngikutin keluarga gila harta Lo itu. Bersikap seolah gadis baik-baik dihadapan orang tua gue untuk memuluskan rencana Lo. Kenapa Lo nggak ngejual diri aja sih. Gue yakin ibu Lo itu pasti akan semakin bangga dengan anaknya".
Setelah mengucapkan hal itu Axel melepas jambakannya dan berdiri di hadapan Freeya.
"Ingat posisi Lo di sini lacur, Lo hanya gue anggap sebagai alat buat kebahagiaan orang tua gue bukan kebahagiaan gue. Selama ini gue udah baik hati seolah menjadi suami yang baik, tapi Lo justru nggak ada rasa terima kasihnya. Jadi tanam di otak dangkal Lo itu, kalau Kristal nggak akan pernah gue lepasin. Gue akan jadiin dia ratu di rumah ini suatu saat nanti. Jadi sebelum itu terjadi nikmati masa bahagia Lo di sini, sebelum Lo ngerasain neraka yang sesungguhnya.
Setelah mengatakan itu Axel benar-benar pergi entah kemana.
Sedangkan kondisi Freeya saat ini sangat memprihatikan.
__ADS_1
Hiks hiks hiks
Sakit Tuhan. Ia terus memukul dadanya berharap rasa sesak itu perlahan berkurang tapi justru ia semakin merasa sesak.
Apa memang Fre nggak bisa rasain kebahagiaan.
Bahkan rasa Freeya justru dijadikan mainan sama suami Freeya.
Arghhh. Freeya berteriak dan menjambak rambutnya sangat kuat.
Hiks hiks ayah ibu, Freeya sakit. Bawa Freeya pulang.
Hiks hiks hiks
Nggak papa kok ibu selalu marahin Freeya asalkan Freeya tidak di sini.
Hikks hiks hiks
Ayah luka Freeya semakin banyak. Freeya nggak tau mau nyembuhin yang mana dulu. Freeya nggak punya obatnya ya. Apa emang Freeya hanya ditakdirkan atas segala luka dan kecewa yang tak berkesudahan.
Apa kesempatan Freeya untuk bahagia emang nggak ada ya.
Hikss ayah Freeya mau dipeluk ayah, diusap kepalanya.
Hikss jika dari awal Freeya tau menaruh rasa justru lebih menambah luka Freeya, Freeya lebih milih buat terluka dari awal. Sekarang bahkan pondasi Freeya rubuh .
Kenapa hanya Freeya yang salah
Kenapa hanya Freeya yang disalahin
Freeya bahkan awalnya nggak ingin diposisi ini
Freeya terus meracau berharap mendapat peluk hangat dari orang-orang terdekatnya.
Ia sadar, ia memang salah telah menghancurkan hubungan seseorang. Tapi apa pantas hanya ia yang merasakan rasa sakit ini. Bahkan rasa sukanya pun tidak bernilai Dimata suaminya. Bahkan ia ****** dimata suaminya.
" Tuhan ingatkan aku untuk berhenti bila memang waktunya, tidak perlu kebahagiaan lagi, sekarang Freeya hanya ingin pergi kemanapun itu. Bahkan untuk pergi selamanya Freeya sangat siap. Hidup tanpa diharapkan siapapun nyatanya, membuat Freeya semakin terseok".
Perlahan Freeya menuju ke kamarnya untuk mengistirahatkan jiwa dan pikirannya sebelum memutuskan seperti apa kehidupan dia esok hari.
***
Keesokan harinya Freeya terbangun jam 7 pagi dengan mata bengkak. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya ketika membuka pintu balkon kamarnya. Bahkan ia tidak pulang dari tadi malam.
Tidak ingin memikirkan hal yang membuatnya sakit hati, Freeya segera pergi mandi. Ia berencana untuk mencari suasana di luar sembari mengerjakan novel barunya. Berhubung novel yang kemarin telah selesai ia kini kembali membuat novel baru.
__ADS_1
Dan disinilah ia sekarang cafe tempat ia sering bermain bersama sahabatnya. Tadi saat diperjalanan ia menghubungi Adel dan Adelio tapi kakak beradik itu tidak bisa gabung karena lagi diluar kota bersama keluarga besarnya.
Freeya terus menulis bahkan ia sudah masuk di bab 3. Entah karena suasana hatinya yang buruk Sehun imajinasinya sangat lancar atau karena semua emosinya lari kedalam tulisannya.
Masih asik dengan dunia novelnya. Ia kemudian disadarkan oleh suara hpnya .
"Mama". Hufff "Aku angkat nggak ya, tapi aku sekarang nggak bisa ketemu sama mereka"
Freeya membiarkan hpnya namun, tak lama panggilan kembali masuk bahkan ini merupakan panggilan yang ketiga kalinya.
Tidak tega dengan mertuanya ia kemudian mengangkat teleponnya .
"Hallo Assalamualaikum ma"
"Waalaikumsalam sayang, kok kamu lama ngangkat telponnya?"
"hmmm, maaf ma ini tadi Freeya lagi ke toilet jadi nggak dengar".
"Ohh yaudah, sekarang kamu ke rumah ya, temanin mama bikin kue bolu kesukaan Axel"
Deg
Freeya menggigit jarinya ingin sekali ia menolak tapi alasan apa yang kiranya bisa diterima
"Maaf ma, ta tapi Freeya hari ini udah ada janji sama teman Freeya".
"Ohh gitu ya, padahal mama udah siapin semua bahannya ". Jawab mama Axel dengan suara yang tidak bersemangat membuat Freeya tidak enak hati.
"Hmmm gimana ya ma, Ya udah de besok aja aku jalan sama teman aku. Aku ke rumah mama aja".
"Emang nggak papa sayang, teman kamu nggak akan marah?"
"Nggak kok mama, kan jalannya cuma di undur aja".
"Ya udah kamu siap-siap ya ,nanti kamu dijemput sopir mama". Ucap mama Axel dengan semangat.
"Eh nggak usah ma, aku ke sana sendiri aja , nggak papa kok"
"Benaran?"
"iya ma"
"Ya udah hati -hati ya".
Setelah menutup telpon, Freeya kemudian menutup laptopnya dan bersiap untuk pergi.
__ADS_1
Hufff nggak papa Fre, nggak ada Axel juga kok di sana. Mama juga nggak tau masalah ini. Bersikap kayak biasa aja.
Ayo semangat. Freeya menyemangati dirinya sendiri.