
...Pada akhirnya aku kembali kalah Tuhan. Kalah dalam melindungi diriku sendiri. Aku hampir dipukul habis keadaan dan kenyataan...
"AYO KITA MULAI HUKUMANNYA ISTRIKU".
"JANGAN XEL, HMMMM"
Tanpa ampun Axel menenggelamkan kepala Freeya kedalam bak mandi, berkali kali. Ketika dirasa Freeya sudah mulai kehilangan nafas Axel, menarik rambutnya untuk menghirup udara sejenak sebelum ditenggelamkan.
"Uhuk uhuk hiks hiks Xel udah. Ampuni aku hiks".
"Tidak semudah itu Freeya, lo yang milih untuk berumah tangga dengan gue. Dan Lo yang ngerubah gue jadi orang yang tidak berperasaan seperti sekarang ini. Jadi Lo harus menikmatinya."
"Hiks ma..maaf Xel. Aku bahkan juga nggak bisa milih. Hiks"
Axel menatap Freeya dengan berapi-api.
"Karena Lo, rencana gue untuk nikahin Kristal hancur berantakan, karena Lo orang tua gue berharap untuk gue segera memberinya cucu sedangkan gue nggak akan pernah mau punya anak dari wanita selain Kristal. Lo harusnya nggak pernah ada di dunia ini Fre, karena Lo semuanya hancur".
Deg deg
Freeya kembali mendapatkan penolakan dalam kehidupan. Apa memang ia seharusnya tidak hidup. Jika ia hidup pun hanya menjadi seonggok sampah dimata orang - orang terdekatnya. Jujur Freeya tidak sanggup. Ia tidak sanggup bertemu dunia yang lebih luas lagi. Bagaimana orang-orang diluar sana nantinya akan memperlakukan Freeya, sedangkan orang dekatnya saja membuat ia ketakutan menghadapi dunia ini. Semenyeramkan inikah untuk bisa bertahan di kaki sendiri.
"Aku bahkan nggak pernah minta untuk hidup seperti ini Xel. Udah berapa kali aku bilang AKU NGGAK BISA MILIH. NGGAK ADA KESEMPATAN BUST AKU MILIH XEL.
Plak
"Jangan pernah berteriak di depan gue".Ucap Axel kini menarik kerah baju Freeya, membuat kaki Freeya sedikit terangkat"
"Lepasin , ingat Xel suatu saat kamu akan nyesal pernah giniin aku".
"Cih, penyesalan tidak akan pernah ada di hidupku hanya karena manusia tidak berarti kayak Lo ini"
"Oke kita sudahi berbincang-bincangnya, masih ada hukuman yang menanti".
"Aku nggak mau ,lepasin aku.Kamu gila ya". Freeya semakin meronta mendengar ia akan kembali dihukum. Hukuman tadi saja sudah membuat paru-parunya merasa sesak. Apalagi yang direncanakan Axel sekarang.
Masih didalam WC, Axel menarik tangan Freeya untuk di ikat.
"Axel lepasin aku mohon"
Axel menghimpit tubuh Freeya dan mengarahkan wajah Freeya agar menghadap ke tembok. Sedangkan tangannya ditarik kebelakang. Dengan satu tangannya Axel memegang kedua tangan Freeya, dan tubuhnya digunakan untuk menghimpit Freeya agar tidak memberontak sedangkan tangan yang satunya lagi menarik dasi dari lehernya untuk digunakan sebagai pengikat tangan Freeya.
"Oke sayang,mari kita bersenang-senang".
"Kamu mau apalagi Xel, tolong berhenti aku udah capek hiks"
" Ssttt, tenang aja,gue cuma mau bantu agar otak Lo ini bisa kembali bersih. Jadi Lo diam aja biar gue yang bekerja ".
"Hiks nggak jangan gue...." belum sempat Freeya menyelesaikan ucapannya sudah terdengar suara benturan.
__ADS_1
Bug
Axel membenturkan kepala Freeya ke tembok.
"Ini salah satu cara untuk menghilangkan pikiran Lo yang mau mengambil harta keluarga gue".
Bug
"Ini agar otak Lo ini bisa berfikir sebelum menerima apa-apa"
Hiks sakit. Ucap Freeya lemah. Kepalanya pusing. Sangat sakit seperti terdengar suara dentuman ditelinganya yang sangat keras. Kepalanya tidak berdarah namun, bisa dipastikan bahwa itu akan membiru.
Setelah membenturkan kepala Freeya, Axel kemudian melepaskan ikatan tangan Freeya dan detik itu juga tubuh lemahnya luruh kelantai bersamaan dengan air mata tanda kepalanya sangat sakit sekarang.
"Ckck bisanya cuma nangis, ingat ya gue nggak akan pernah kasian walaupun Lo menangis darah sekalipun ". "Udah dong jangan nangis nanti aja soalnya ini gue udah mau ke hukuman penutup nih".Ucap Axel dengan menyeringai
Freeya sudah tidak ingin berbicara lagi, terserah Axel membunuhnya pun itu lebih baik menurut Freeya.
Krakk
"Arghhh sakit"Hiks hiks
Axel menginjak salah satu tangan Freeya dengan sepatunya.
"Tangan ini harusnya nggak memakai cincin nikah dari gue".
Bahkan tangan Freeya sudah lecet akibat kulitnya bergesekan dengan cincin nikahnya.
"BUNUH GUE SEKALIAN XEL, GUE MUAK ,GUE CAPEK TERUS LO SALAHIN SEDANGKAN YANG SALAH JUGA DISINI LO"
Plak
Sebenarnya tadi Axel sudah ingin berhenti namun setelah mendengar teriakan Freeya, tangan Axel reflek menampar wajah Freeya. Entah kenapa saat mendengar Freeya meminta dibunuh, membuat rasa sesak muncul di hati Axel. Namun, perasaan itu segera ditepisnya. Gue nampar dia karena udah berani berteriak bukan yang lain.
Setelah menampar Freeya,tanpa berkata-kata lagi,Axel pergi meninggalkan rumah.
Sedangkan Freeya yang masih terduduk di lantai berteriak dengan sisa suaranya.
"BUNUH AKU"
"BUNUH SAJA AKU AXEL"
"Tolong bunuh aku, hiks"
"Aku ingin pergi". hiks hiks
"Ini terlalu nyakitin Xel"
"Bahkan aku dengan percaya dirinya mengatakan akan bertahan untuk memulai semuanya Xel"
__ADS_1
"Aku bahkan masih lindungin kamu dari kemarahan Lio"
"Tapi apa yang aku dapat" hiks hiks
"lagi-lagi kamu cuma bisa nyakitin dan nyalahin aku"
"Lagi-lagi cuma aku yang berharap bisa nyelamatin rumah tangga kita"
"Hiks hiks ibu ayah, tolong izinin Fre untuk pergi"
"Sedari awal memang tidak ada tempat untuk Fre"
"Jennie tolong peluk kakak sekali saja"
"Jennie kan sering peluk kakak kalau kakak sedih saat kecil dulu"
"hiks hiks sekarang kakak lagi sedih, bahkan hampir hancur. Kakak butuh Jennie "
"Kenapa Jennie juga ikut pergi"
"Salah kakak apa, bahkan ketika dulu Jennie yang hilangin hp mama. Kakak yang gantiin Jennie." "Tapi kenapa Jennie sekarang nggak pernah Mandang kakak".
"Sakit tau Jen, nggak diinginkan didunia ini hiks hiks".
Freeya terus meracau, ia sangat ingin mendapat pelukan dari sang adik, tapi yang bertahan disekitarnya hanya tiga orang sahabat yang tidak mungkin ada setiap saat.
Setelah hampir satu jam menangis di WC, dan sakit dikepalanya perlahan mereda, Freeya kemudian bangkit menuju kamarnya.
Namun sebelum benar-benar ke kamar, ia kedapur untuk mencari sesuatu. Setelah mendapatkan apa yang diinginkan,ia membawanya ke kamar.
Freeya membuka pintu balkon kamarnya, padahal sekarang angin yang berhembus sangat dingin. Ini memang sudah tengah malam bahkan hampir subuh. Namun, itu tidak menyurutkan keinginan Freeya untuk duduk di balkon itu.
Huffft
"Di atas sana gelap banget,tapi bintangnya masih bisa bersinar"
"Apa dikegelapanku ini, nanti akan ada cahaya ya sebelum semuanya hancur?". Tanya Freeya pada diri sendiri sembari menatap dalam salah satu bintang yang cahayanya paling terang.
Freeya kemudian menatap benda kecil yang sempat dibawah dari dapur tadi.
"Maaf ya, kamu harus nemanin aku lagi"
Perlahan tapi pasti benda kecil itu menggores paha kiri Freeya. Ia menggoresnya hingga tiga kali.
"Ssttt, aku tambahin luka yang Axel kasih. Tapi ini beda. Lukanya sangat nyaman, bahkan tiap goresan aku merasakan dingin yang membuat aku nyaman".
Setelah melakukan itu, Freeya kemudian melipat pisau kecil itu. Ia menutup pintu balkon dan menuju ke kasur untuk tidur.
"Selamat tidur dir, semoga tidak bangun lagi ya".
__ADS_1