Luka Yang Tak Biasa

Luka Yang Tak Biasa
Isi hati Freeya


__ADS_3

Maaf Tuhan, lelahku sudah separah ini tapi kenapa kebahagiaan itu tidak datang juga.


Adel dan Freeya masih terus saling memeluk dengan air mata yang masih terus saja keluar.


"Fre, kamu nggak lakuin hal yang bikin kamu dalam bahayakan?" Tanya Adel yang dibalas gelengan oleh Freeya.


"Hmmm, nak mungkin sebaiknya kita berbicara di dalam rumah saja. Tidak enak diliat tetangga ngumpul di sini, apalagi Freeya juga butuh duduk kasihan kandungannya" Ucap ibu Masita.


Satu persatu mereka memasuki rumah. Sedangkan KAI hanya bisa berdiam kaku di tempatnya. Ia tidak mungkin masuk, setelah tadi di suruh pulang oleh ibu Hamidah.


"Nak, silahkan pulang dulu. Saya merasa tidak enak apalagi nak Kai berdiri di luar sendiri. Ibu mohon nak "Ucap Ibu Hamidah


"Baik Bu".


Dengan perasaan yang tidak rela, Kai melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya. Ia akan mencari penginapan yang dekat dari sini sembari memantau keadaan Freeya.


"Apa sudah selesai tuan?"


",Belum. Tolong suruh anak buahmu untuk terus mengawasi Freeya dan orang-orang yang tinggal bersama dengan Freeya. Saya akan menunggu waktu yang pas untuk kembali ke rumah itu"


"Berarti tuan akan kembali ke kota J?


"Tidak, saya akan mencari penginapan terdekat dan beberapa hari ini saya akan ikut memantau Freeya dari jauh"


"Baik Tuan"


...****************...


"Del kok kamu keliatan kurus sih nggak makan ya?" Tanya Freeya setelah ia sudah tenang


"Ini semua gara-gara kamu tau nggak, pergi seenaknya nggak pamit ke aku dulu" Ucap Adel dengan wajah cemberut dan mata yang kembali berkaca-kaca


"Maaf, aku cuma nggak mau ngerepotin kalian terus menerus dan aku juga butuh suasana baru"


"Dimaafkan " Ucap Adel yang mendapat kekehan dari yang lainnya.


"oh iya Sindi kemana kok nggak ikut?"


"hmmm Sindi sebenarnya mau banget ketemu kamu, tapi saat ini ia sedang hamil muda jadi tidak bisa bepergian terlalu jauh". Ucap Lio


"Wah, jadi aku akan punya keponakan. Selamat ya Lio. Kamu harus jaga istri dan calon anakmu dengan baik"


"Pasti Fre"


"Aku juga langsung dua keponakan. Anak kamu dan Sindi".Ucap Adel dan Freeya hanya bisa tersenyum tipis


"Aku boleh ngomong berdua nggak sama Freeya?"


Tanya Adel kepada orang-orang yang ada di ruang tamu


"Silahkan, Freeya juga butuh istirahat. Untuk nak Lio juga bisa istirahat di kamar Jeno"


Freeya kemudian pergi ke kamarnya bersama Adel. Mereka berdua duduk di kasur dengan berhadap-hadapan.


Adel mengelus perut Freeya


"Calon anak kamu udah gede di dalam ya "


"Hmmm, iya sisa tiga bulan lebih aku ketemu anak aku"


Adel menatap ke arah Freeya

__ADS_1


"Freeya, are you ok?"


"Hmmm" Ucap Freeya dengan tersenyum tipis


"Mau cerita sama aku?"


"Cerita apa, aku baik-baik aja kok"


"Artinya sekarang kamu tidak baik Fre. Aku tau itu dan aku benci senyum itu jadi berhenti tersenyum "


"Kenapa? Orang senyum kok dilarang" Ucap Freeya


"Menangis Fre, bukan tersenyum kamu butuh itu sekarang. Jadi berhenti pura-pura kuat di depan aku"


"Kamu kenapa sih, nih aku jadi kelilipan kan"


Freeya mengusap kedua matanya, tapi air matanya semakin deras keluar


"Tuh kan hiks aku kelilipan "


Adel langsung memeluk Freeya .


"Kamu hebat Fre, aku tau sahabat aku ini kuat, saking kuatnya ia masih ada dihadapan aku saat ini". Ucap Adel


"Hiks hiks Del aku benci, saat aku ingin berdamai dengan keadaan, semesta seakan nggak ngizinin itu, saat aku udah mulai menata hidup aku kenyataan kembali menghancurkannya Del. Hiks aku bahkan ingin marah sama Tuhan Del"


"Keluarin semuanya Fre". Ucap Adel dengan masih memeluk Freeya.


"hiks hiks aku kurang bersyukur apa Del, saat semuanya hancur aku masih tetap bersyukur tapi semakin ke sini aku semakin dihancurkan keadaan dan kenyataan. Salah nggak sih Del kalau aku marah sama Tuhan. Hiks hiks aku kadang mikir sehancur apalagi Tuhan ,sampai ini semua berakhir. Ini nggak ada akhirnya Del aku capek hiks hiks. Aku nggak butuh apa-apa, aku hanya ingin bahagia setidaknya sekali saja tapi kenapa itu terlalu susah Del."


"Hiks hiks laki-laki itu datang Del, aku takut, aku takut mendengar suaranya hiks aku takut melihat wajahnya. Hiks hiks laki-laki itu hiks buat hidup aku semakin hancur. hiks dia bahkan ninggalin jejaknya di hidup aku Del . hiks hiks aku takut hiks aku benci sama dia"


Tanpa mereka sadari sedari tadi dua orang laki-laki mendengar ucapan Freeya. Dia Jeno dan Lio yang ingin melihat Freeya namun, justru melihat hal seperti itu.


"Aku mau jadi obat untuk kamu Fre, tapi aku bahkan sudah kamu tolak lebih dulu" Batik Jeno


"Kamu boleh benci sama keadaan, tapi jangan berhenti. Kamu percayakan akan ada pelangi setelah hujan. Kamu hanya perlu menunggu kebahagiaan itu datang menjemputmu. Kamu tau kebahagiaan itu ada di depan mata kamu sekarang ". Ucap Adel tersenyum dan kembali mengusap perut Freeya


"Ini kebahagiaan kamu dan aku yakin kamu setuju dengan itu".


"Iya ini kebahagiaan aku, ini anak aku. Aku akan menjaganya, aku akan menjadi ayah dan ibu yang memberinya kebahagiaan semampuku "


"Aku percaya itu, aku yakin kamu kuat"


"Makasih Del"


"Iya"


...****************...


Keesokan paginya ibu Masita telah bersiap-siap untuk kembali bekerja


"Saya berangkat dulu ya"


"Hati-hati " Ucap ibu Hamidah dan yang lainnya


"Ibu Masita kerja di mana Fre?" Tanya Lio


"Ibu kerja di perkebunan teh nggak jauh dari sini"


"Ohh,boleh jalan-jalan ke sana nggak sih?" Tanya Adel antusias

__ADS_1


"Hmm, sepertinya boleh karena saat aku bekerja di sana dulu. Banyak orang kota yang ke sana hanya untuk sekedar berpoto"


"Hah? Kamu pernah kerja di kebun teh?" Tanya Adel terkejut


"hehehe iya, nggak capek kok"


"hmmm Yaudah, kalau gitu kita ke sana yuk? Kamu masih kuat jalan-jalan ke sana kan Fre?"


"eh, hmm, anu kamu aja ya sama Jeno dan Lio. Aku nunggu di rumah aja"


"Kenapa?" Tanya Adel


"eh anu itu...." Belum juga Freeya selesai menjawab suara ketokan sudah terdengar dari luar


"siapa sih pagi -pagi begini bertamu" Ucap Jeno yang berdiri hendak membuka pintu


"Cari siapa ya Bu?" Tanya Jeno


"Freeyanya ada?" Tanya seseorang yang mengetok pintu tadi


Deg


Meski suaranya samar terdengar tapi Freeya mengetahui suara itu


"Ada Bu"


"Saya ingin ketemu apa bisa?"


"hmm, silahkan masuk Bu"


Sedangkan Freeya sudah menegang di tempatnya. Masalah satu belum selesai dan sekarang muncul masalah yang satu lagi


"Silahkan duduk Bu" Ucap Jeno


"Terimakasih nak". Tamu tersebut duduk di sofa kosong yang berhadapan dengan Freeya.


"Free-ya ". Panggilnya


Namun, Freeya tidak bergeming ia justru semakin menunduk


Adel kemudian menyenggol lengan Freeya.


"Fre, kamu dipanggil tuh" Ucap Adel


"eh, Del aku ke kamar dulu ya, ada urusan sebentar. Permisi "


Sedangkan Adel dan Lio yang berada di sana merasa heran dengan tingkah Freeya yang mengabaikan seseorang.


"Selamat pagi Bu, maaf ya mungkin Freeya lagi nggak enak badan" Ucap Lio


"Nggak papa nak"


"Kalau boleh tau kalian siapanya Freeya?" Tanya ibu tersebut


"Kami sahabatnya Freeya dari kota J Bu, kalau ibu sendiri apa ada urusan penting dengan Freeya ? Kalau ada nanti saya coba panggilkan" Ucap Adel kali ini


"Sa-ya neneknya Freeya "


"Maksud ibu apa?" Tanya Lio


Sedangkan Jeno yang juga di sana tampak santai karena dia sudah mengetahui sebelumnya.

__ADS_1


"Saya nenek kandung Freeya"


Deg


__ADS_2