
Suasana masih mencekam.. Gelisah, sedih juga ke cemasan terpapar di setiap wajah orang orang yang ada di depan ruangan tindak kan, semua masih menunggu kabar dira yang masih di tangani para medis yang berada di dalam ruangan operasi.
Dira yang semangat lawan rasa sakit yang ada.. Jangan menyerah ya.. Kamu harus kuat santi percaya kamu bisa kalah kan penyakit yang hampiri kamu gumam santi dengan isak tangis nya.
Dian percaya dira bisa melawan penyakit nya karena dira kuat.. Dian tunggu dira sehat kembali untuk kita kumpul buat onar lagi.. Dian membathin tangan nya usap air mata yang terus jatuh di pipi.
semangat dira kita semua sayang sama dira, nanti kita bareng bareng buat rusuh lagi.. Lani kangen dira, melani ceguk kan nangis peluk dian.
Kamu jahat dira pergi menghilang jauh tidak kabarin kita kita.. Kenapa kamu selalu hadapi sendiri setiap ada masalah, kita sodara.. Maaf kan kami tidak pernah ada di samping kamu.. Aku kangen dengan kebersamaan kita, jangan menyerah kita semua sayang sama kamu.. wulan bicara sendiri tunduk kan kepala.
Sahabat sahabat dira kirim ucapan semangat dari jauh, tuan indrawan dekati anak anak nya yang masih terdengar isak tangis nya, Santi di peluk papi tangis nya makin pecah.
"anak papi kenapa nangis terus.. papi perhati kan dari kita baru datang sampai sekarang masih nangis tidak berhenti, apa kalian gak kasihan sama mata nya ?, eee.. tunggu mata kalian taruh dimana papi tak nampak mata nya kalian ?" ucap papi santi tampil kan wajah pura pura bingung nya.
"papi.. !!!" mereka kompak keluar kan suara tukar pandang saling perhati kan wajah.. Mereka lagi lagi kompak kaget nya serentak tangan nya usap muka dan mata yang bekak.
"nah gimana ada tidak mata kalian ?, papi gak salah nanya kan mata kalian dimana ?"
"maka nya jangan cengeng dikit dikit mewek.. sodara sakit berdoa biar cepat sembuh.. Ini kompak kan paduan suara nangis" haris ikut ikut papi ejek adek sama sahabat adek nya.
"sudah sebaik nya kalian pulang sama nami juga papi istirahat nanti kakak akan.."
"gak.." mereka potong omongan haris
"kakak nanti kabarin.." lagi lagi omongan haris di potong mereka protes.
__ADS_1
"kami di sini tunggu in dira.."
"ampun.. Kompak kalau protes, dengar kakak kalian pulang istirahat nanti kakak kabar kan keadaan dira.. Gimana kalian ngerawat dira kalau kalian sakit, sekarang saja kalian belum pada makan !!" haris bicara pelan dengan penuh tekanan.
"aku makan kak.." jawab meteka barengan lagi
lalu berdiri ambil makanan yang di sedia kan vano.
"habis kan.. Jangan sampai ada sisa, setelah ada kabar dari dokter kalian ikut papi sama mami pulang untuk istirahat.. Besok baru ke sini jenguk dira.."
"ikut rawat juga jaga dira kak.." protes mereka
"iya iya tapi kalau di izin kan sama mami papi juga vano kakak.." haris mulai goda mereka.
"harus di izin kan lah kami sahabat sudah jadi sodara.. Mana boleh tidak di izin kan" wulan bicara tegas sambil suap makanan nya.
"om papi kami jangan di jauh kan dari dira lagi kami sudah terpisah sangat lama" santi
Dian jalan dekati vano dengan pandangan dingin sambil tenteng makanan yang di ambil
"kak terima kasih makanan nya.. tapi jangan coba coba halangin kami semua dampingi dira sampai sembuh dan jangan pernah ada niat untuk jauh kan dira dari kami ingat itu !!" dian bicara pelan dengan tatapan yang dingin tantang pandandan vano.
Mata Vano bulat besar mulut nya terbuka lebar dengar ancaman dian, mulut vano di suap kan makanan yang dian pegang tadi, vano lalu sentil kening dian sambil kunyah makanan yang di suap kan dian.
"hmm.. Baik aku kabul kan permohonan kamu bawa dira adek aku pergi jauh.. Dira adek aku satu satu nya tidak ada satu pun orang yang bisa halangi" vano jawab dengan suara datar pandang dian sinis.
__ADS_1
"kamu tidak akan bisa bawa dira pergi jauh dari kami karena dira juga keluarga dan milik kami" seringai dian kesal usap kening nya yang di sentil vano.
"Jangan nyesal itu akan terjadi" vano geram dengan tingkah dan ucapan dian seenak nya
"sayang nya kamu tidak akan bisa pergi jauh pisah kan dira dari aku tuan gunung es yang terhormat.. Kamu yang akan menyesal" bisik dian di kuping vano dan langsung cium pipi vano dian berlalu dari depan vano jalan santai dengan cuek sambil sendok makanan ke mulut nya tanpa melihat ke arah vano.
Vano terdiam membeku dapat kan serangan mendadak dari dian, Semua yang melihat interaksi dian dan vano kaget tidak percaya
Haris tahan ketawa nya tepuk jidad geleng kan kepala dengan kelakuan dian hmm.. Aku mau lihat apa mampu si gunung es hadapi si soplak ?, apa sudah waktu nya sekarang ini gunung es kita meleleh sodara sodara dan kamu vano.. Kamu tidak akan bisa berkutik lagi dengan adek aku. Haris senyum puas.
Mario senyum kena perangkap yang sangat membahagian lo bos !!, justru gue yang lebih bahagia sekarang, semoga secepat nya hari bahagia itu datang.
"mi.. seperti nya ke bahagian kita berlipat lipat sekarang" mario peluk mami sambil berbisik
"syukur lah tapi ada apa..?" mami tanya
"sekarang kita sudah berkumpul sama adek terus mami bakal dapat cucu tidak lama lagi" sahut mario senyum, mami bingung dengar jawaban dari mario.
"cucu dari mana mario !!" suara mami pelan tapi semua dengar apa yang di kata kan mami
Vano yang dengar omongan mami langsung pandangan horor membunuh nya di tuju kan pada mario, pura pura gak lihat vano dengan seringai licik nya mario bisik sama mami
"mami sudah lihat kan calon ipar aku calon mantu nya mami sama papi tadi, si gunung es sudah mencair mami bahagia kan ?, eits.. Mi jangan lihat nanti aku di kubur hidup hidup tu lihat pandangan horor nya aku takut mi.. mami mau anak ganteng mami hilang ?"
"iya mami sudah lihat mami bahagia.. Jangan khawatir mami pasti bela in kamu dari vano" mami ikut bisik bisik bicara nya sama mario.
__ADS_1
Mampus tanduk singa keluar sudah berasap, mami gak bisa di ajak kompromi tapi sudah aman sekarang nyawa gue, ada dua bidadari tidak bersayap jadi pelindung. Mario usap dada nya lega. Dira cepat sembuh ya, dek. Nyawa kakak terancam nih sama vano kamu jadi pelindung kakak, mario usap muka nya dengan tarik nafas kuat.