
dira ayo bangun kita semua menunggu kamu, kamu lihat lah.. apa gak kasihan sama keluarga juga suami kamu, ayo kita beres kan orang orang yang sudah buat hidup kamu menderita selama ini.
"ssstt.. Dian hati hati kamu kenapa?" dian kaget lani pegang tangan nya yang nyaris saja nyungsep hidung dian ciumi lantai rumah sakit.
"lagi mikir apa.. apa ada yang tidak kami ketahui, ada sesuatu rahasia yang mau di ungkap kan sama kita tidak biasa nya seorang dian jalan gak fokus, ada yang di sembunyi kan dari kita ?" wulan terus desak mata nya tatap dian.
"dian ada masalah sama dira atau kamu sama kak vano ?, sini kita duduk dulu ya mau pesan apa biar tenang kita bicara" santi belok kan arah ngajak sahabat nya duduk di kantin rumah sakit.
"kenapa bawa bawa kak vano hubungan nya apa ?" dian tanya kesal.
"hubungan nya dian kakak ipar dira juga calon mantu nya di keluarga handoyo" santi jawab dengan enteng.
"siapa bilang dian mantu di keluarga nya handoyo jangan aneh aneh santi" ujar dian nada bicara nya agak tinggi.
"dian sudah ngebet ya ? tadi santi bilang calon mantu tapi dian yang perjelas jadi mantu.. Dian sudah lupa mami kak vano yang beri tahu setelah dira benar benar pulih mami kak vano lamar dian dan kak vano nikahin kamu"santi kedip kan mata nya seolah olah berbisik di kuping dian, lani wulan terkekeh lihat dian melotot.
"jangan gitu juga kali mata melotot kita kan ikut dengar apa yang di bilang tante mami, santi ngomong apa ada nya" lani senyum goda dian juga.
"benaran dian kami tidak bohong dian kan juga di sana ada dengar mami kak vano bilang 'mami pasti restu kamu jadi mantu mami, kamu sama vano" wulan
"sudah kita pesan dulu sekarang kalian mau pesan apa, dian kenapa tidak fokus jalan nya, apa kak vano.." santi naik kan alis nya menunggu cerita dian.
"bukan.. kak vano baik sama dian walau pun dingin orang nya, orang yang sangat tanggung jawab, kak vano antar in dian sampai rumah jumpa sama mama papa, semalam kak vano cerita sama dokter herman masalah suster yang jaga dira lagi koma" dian perhati kan sekeliling di sekitar tempat mereka duduk, takut ada yang ikut nguping apa yang dia dengar semalam waktu vano bima sama dokter dira berunding.
"pujian nya sangat manis di dengar aku senang tapi itu muka kenapa ada merah yang membahagia kan, dian sakit atau ke panasan ?" wulan kipas kipas muka dian dengan ke dua tangan nya sambil senyum goda dian.
"ayo kita ke ruangan dira ngapain duduk di sini" ujar dian posisi siap mau berdiri.
"wulan ih kamu dian kan belum cerita apa apa sama kita tapi benaran dian gak ke panasan ?" lani santi terkekeh lihat dian salah tingkah mereka ikut senang.
"sebaik nya sekarang ini kita pesan dulu terus susun rencana langkah apa yang akan kita ambil setelah dengar cerita dian" santi tepuk tangan dian.
"sebaik nya jangan di sini cerita karena kak vano bilang kita harus jaga diri kita semua, apa lagi ke selamat an dira, kita harus hati hati mau bicara apa lagi ada di luar tempat umum, banyak yang incar nyawa nya dira, dian tidak tau masalah apa yang di hadapi dira inti nya jangan bicara di sini, dian pasti cerita kan nanti semua nya" dian ngajak pergi sahabat nya dari kantin rumah sakit.
"kita cerita di rumah saja, santi gak mau dira kenapa napa sekarang kita pulang" santi berdiri bawa sahabat nya pulang.
"kenapa harus pulang sekarang kita kan belum jenguk dira santi, kita belum tau gimana keadaan dira" wulan protes lani dian juga tidak terima keputusan santi.
"dira masih belum sadar jangan kawatir kan dira sahabat kita, di sana dira aman ada kak bima suami nya dira juga ada kak vano calon suami dian lindungi dira kan adek kak vano dian, ayo kita pulang" santi tegas ngajak sahabat nya.
"jangan pada protes tadi santi sudah wa bilang kak bima kita datang jenguk dira ke rumah sakit terlambat, nih lihat bukti nya balasan wa kak bima" santi beri lihat bukti balasan dari bima.
__ADS_1
setelah mereka sampai di rumah santi minta dian cerita kan apa yang belum mereka ke tahui "sekarang kita aman untuk dengar kan cerita dian"
Dian tarik nafas panjang sebelum mulai cerita yang sudah di janji kan tadi pada sahabat nya "hidup dira terancam sudah lama semenjak dira masih kecil, banyak yang mengingin kan nyawa nya, dira dari kecil di buang tuan handoyo.." dian tidak bisa menahan air mata untuk tidak ke luar tangis nya pecah.
"maksud nya gimana dian jangan cerita yang aneh deh" wulan kaget dian nangis
"dian jangan nangis benaran cerita nya" lani pun ikut nangis peluk wulan, cepat santi peluk dian mereka semua nangis
"dian dengar cerita dari mana ? Siapa yang cerita sama dian, jangan percaya dulu belum tau ke benaran nya" santi
"kak vano yang cerita kan semua, kak vano sudah lama cari ke beradaan dira, kak bima juga cari dira selama ini" dian
"benaran dira sudah lama kenal sama kak bima semenjak kapan dira kenal kak bima, masalah nya santi sama dira dari kecil sudah kenal" santi beri penjelasan pada sahabat nya.
"iya benaran santi dira sudah lama kenal kak bima waktu dira masih smp" dian
"itu arti nya dira masih di kota sebelah, kami sudah pindah ke sini" santi
"emang santi gak tau cerita nya gimana, bang pid kan orang kepercayaan suami dira, kak bima sudah lama juga cari dira, coba kamu tanya in gimana cerita yang sebenar nya sama bang pid biar jelas jadi nanti kita tidak salah bersikap" dian
"ok santi kamu tanya sama bang david kebenaran nya, apa kak vano ada bilang kenapa dira di buang terus ibuk dira istri tuan handoyo yang ke berapa ?" wulan
"hah dira bukan anak nya buk mardiah.. dira pisah sama tante mami dari bayi ? sekarang nyawa nya pun terancam" lani
"kenapa tante mami tidak bela anak nya yang di buang, untuk apa juga sekarang di cari sudah terlambat" ujar wulan nada kesal tapi ucapan wulan di potong dian.
"wulan dira bukan anak dari tante mami dira sama kak vano beda ibu, bunda dira istri pertama tuan handoyo tapi tidak di restui sama kakek nenek kak vano lalu tuan handoyo di paksa menikahi tante mami, bunda dira sudah meninggal dira masih kecil, bunda dira sama mami kak vano dekat saling mengunjungi sebab nya kak vano dekat sama bunda dira dan kak vano sangat sayang sama dira" dian ulang apa yang di cerita kan vano.
"kita harus berhati hati bertindak dalam segala hal mulai dari sekarang untuk jaga keselamatan terutama untuk dira, kakak ipar ayo ke rumah sakit jenguk adek ipar nya" santi terkekeh lihat muka dian merah karena malu.
"santi ngapa ngomong seperti itu jangan mulai deh pancing nih si kunyuk untuk laku kan pembulyan" dian tidak terima santi sengaja pancing wulan bicara.
"ayo kita jenguk adek ipar nya kakak ipar dian eh.. tunggu kenapa tu muka merah dian apa panas lagi seperti waktu kita di kantin rumah sakit, apa perlu minta kak vano datang ke sini jemput kasian dian nanti tambah parah, apa lagi dira belum pulih, bingung gimana nanti harus rawat nya kalau kakak ipar juga ikut sakit" ujar wulan mulai lagi ganggu dian.
"kalian ya gak puas puas nya.. ish kawan yang tidak setia selalu bahagia senang lihat sahabat nya malu" dian mata nya melotot apa lagi lihat santi melani ikut wulan ngakak tertawa.
"kapan kita pergi ke rumah sakit kalau masih tertawa senang, tidak ingat sama dira yang lagi baring di rumah sakit apa lagi masih belum sadar" dian.
"wuis kakak ipar bela adek ipar.. jangan sedih kita masih seperti dulu teman jadi sahabat sekarang jadi keluarga sampai kapan pun apa lagi dian.." wulan rentang kan tangan minta peluk sahabat nya.
"jadi kakak ipar nya dira sekarang" santi sambung ucapan wulan mereka saling berpeluk kan tiba tiba lani bicara.
__ADS_1
"ayo cepat kita kapan pergi nya sambil jalan di atas mobil sambung bicara" lani
mereka langsung jalan menuju rumah sakit santi duduk di kursi penumpang di sebelah dian yang lagi nyetir "dian apa kak vano ada cerita soal perawat dira ?"
"iya ada kak vano bicara dengan dokter juga sama kak bima untuk bantu biaya pengobatan nya ke luar negeri" dian lalu cerita kan apa yang di dengar semalam.
👉~>gimana dok, apa sudah di sampai kan pada keluarga suster yang jaga dira mereka apa bisa menerima yang anda sampai kan kalau anak nya berobat ke luar negeri" vano tanya.
"hmm awal nya mereka menolak tidak mau jauh dari pasien, ibu pasien takut sang anak kenapa kenapa apa lagi kan tidak saling kenal tapi kalau ada salah satu dari keluarga ikut dampingi mereka terima dan soal biaya yang jadi masalah utama, apa lagi pasien tulang punggung keluarga" dokter herman menjelas kan
"sebaik nya besok lo bantu kita jumpa kan sama ibu korban jangan sampai ada yang tau" bima ikut tanggung jawab
"baik besok saya kabar kan sebaik nya di ruang praktek saya kita jumpa kalau sudah tidak ada lagi saya permisi dulu, kalian harus ingat tuan tuan.." dokter
"ada apa..?" bima vano tanya kompak
"kalian harus kompak yang akur jadi ipar jangan ribut kasihan pasien gue" dokter herman bicara serius dengan senyum.
Bugk..
Bugk..
Vano tepuk perut dokter herman sedang kan bima lempar kepala dokter herman dengan kotak tisu.
S×××n..
B×××t..
"memang lah kalian ipar yang sehati tapi jangan sampai belok kasihan pasien gue adek lo van.. Istri lo bim" dokter herman
bugk..
"banyak bicara lo b×××t itu mulut jangan asal bacot" bima tendang kaki dokter herman kesal.
"ha ha ha.. lo tidak ikut andil juga laku kan kdrt sama gue tuan muda vano" ujar dokter herman tertawa.
"******.. ayo gue antar lo pulang lama lama di depan dia bisa kalab gue" vano ngedumel dian senyum tidak percaya lihat ke lakuan ke tiga teman lama itu Vano ngajak dian pulang.
"gue tunggu kabar nya" vano
"ok sampai besok" jawab dokter herman bima angguk kan kepala setuju.
__ADS_1