
dira sedang mondar mandir didepan rumahnya, ia sedang mencoba menghubungi ilham namun tetap saja nomernya tidak bisa dihubungi.
"duhh kak ilham kemana siii, kok daritadi dihubungi gak bisa" dira sangat khawatir. iapun mengumpulkan keberanian untuk menelpon salah satu teman ilham dikantornya.
"Halo.." terdengar suara tegas diseberang sana.
"ee iya Halo, apa benar ini kak septian?"
" iya dengan saya sendiri, ini siapa ya? apa ada yang bisa saya bantu?"
" kak septian sebelumnya saya minta maaf, saya dira adiknya kak ilham, kalo boleh tau apa kak ilham masih ada di kantor?" dira bingung mau mengaku sebagai siapa sedangkan dia dan ilham hanya keluarga jauh
"oh dira, ilham sudah ijin pulang daritadi siang katanya ada keperluan mendadak, kenapa tidak langsung menghubungi orangnya saja, dira?"
"saya sudah menghubungi nomernya kak ilham, kak. tapi tidak aktif makanya saya tanyakan pada kak septian. emm kalo gitu makasih ya kak infonya dan maaf sudah menganggu kak septian"
"iya tidak apa-apa dira"
dirapun mematikan sambungannya.
"kak ilham.. kamu dimana sih" dira berbicara sendiri. tak lama setelah itu, mobil ilham muncul dihadapan dira.
" kak ilham, kakak darimana aja sih daritadi aku hubungi gak aktif"
" oh ya? maaf ternyata hpku lowbat dan aku lupa bawa charger ada apa dira? kok kayaknya kamu lagi cemas"
"serli tadi dijemput paksa sama kak shela tapi kak shela gak mau bawa Rafa sedangkan Rafa mau ikut katanya dia kangen sama bundanya dan sekarang Rafa didalam lagi nangis gak mau makan, gak mau minum obat. aku khawatir kak" dira menggigit jarinya.
__ADS_1
"shela kesini?! kenapa sih perempuan itu gak ada sopan santunnya, sudah kamu jangan khawatir akan aku kasih pelajaran si shela berani-beraninya dia kayak gitu" melihat mata ilham yang mulai memerah lantaran emosi dira segera menenangkan ilham
" kak... pliss jangan emosi gitu, kakak harus sabar ngadepin kak shela. kalo kakak emosi kayak gini yang ada nanti serli takut ketemu kakak. kakak harus ngomong baik-baik sama kak shela beri dia pengertian, sekarang kakak temui Rafa dan bujuk dia supaya mau makan" ilham menuruti ucapan dira, kemudian dia berjalan kearah kamar dira untuk menemui putranya.
"Rafa ini ayah nak, rafa makan ya habis itu minum obat" rafa menggelengkan kepalanya.
" nanti bunda dira sedih kalo Rafa kayak gini, Rafa mau bunda dira sedih?" Rafa kembali menggelengkan kepalanya.
"makan ya dikit aja, habis rafa makan nanti ayah jemput serli biar Rafa gak sendirian"
"ayah... kenapa bunda shela gak mau Rafa ikut sama bunda? Rafa kangen sama bunda. tadi bunda bilang kalo Rafa itu hanya bisa nyusahin bunda, apa Rafa nyusahin ayah sama bunda dira juga?" Rafa mulai berbicara pada ayahnya.
"Rafa gak pernah nyusahin ayah, rafa anak baik selalu nurut sama ayah. kalo Rafa nyusahin pasti ayah gak mau temenan sama Rafa, yakan?buktinya sekarang ayah kesini nemuin Rafa biar Rafa makan dan minum obat" ilham memeluk anaknya sembari mengusap air mata yang mulai mengalir dipipinya.
Dira masuk membawakan bubur dan obat untuk Rafa, Rafa mendongak melihat dira
"gapapa sayang, bunda gak marah kok sama Rafa, sekarang Rafa makan habis itu minum obat biar ayah jemput serli" dira menatap ilham memberi kode untuk mengiyakan ucapannya.
"yasudah ayah berangkat dulu ya.. nanti kita pulang setelah jemput serli" ucap ilham sambil mengusap kepala Rafa.
sesampainya dirumah shela..
"shela!! keluar kamu!! " ilham menggedor pintu rumah shela dengan mata yang mulai memerah, ia lupa pesan dira tadi.
"ada apa sih mas malam-malam gini teriak-teriak" ucap shela dengan tidak tau dirinya.
"iya aku tau ini sudah malam! mana serli? kamu itu punya sopan santun gak sih? datang ke rumah dira untuk mengambil serli tanpa meminta ijin dulu"
__ADS_1
"ohh waww seorang ibu yang mau menjemput anaknya harus meminta ijin dulu? apa aku gak salah dengar? apa kamu lupa siapa aku mas?"
"aku tidak lupa kalo kamu ibunya, apa pantas seorang ibu melupakan anak pertamanya? sampai hati kamu bilang Rafa hanya menyusahkan kamu dan membuat dia menangis hanya karena ucapan kamu ini!!"
shela hanya memutar bola matanya, jika sudah membahas Rafa dia akan bersikap bodo amat. itu juga salah satu alasan ilham untuk menceraikan shela.
"sekarang mana serli, akan aku bawa pulang"
"kamu lupa perjanjian kita mas? setiap akhir pekan mereka akan bersama aku, tapi apa? sudah hampir 2 bulan kamu tidak pernah mengantarkan dia kepadaku!"
"aku tidak lupa, hanya saja waktu itu Rafa sakit dan serli tidak mau meninggalkan Rafa sendirian dirumah. aku bisa apa? aku tidak seperti kamu yang bisanya cuma memaksa"
"halaah bilang aja kalo kamu dan gebetan kamu yang bernama dira itu tidak rela kalo aku bersama serli, yakan?"
"apa kamu bilang? dira? gebetan aku? hahaha jangan gila kamu shela, dira sudah aku anggap adik aku sendiri. dia yang selama ini membantu aku merawat anak-anak ketika ibu kandungnya hanya sibuk shopping"
"aku gak bodoh mas, wanita perusak rumah tangga orang itu suka sama kamu. buktinya dia mau direpotkan pake pura-pura mau merawat anak-anak bentar lagi juga bapaknya digebet"
"jaga mulut kamu shela!! dira bukan perusak dalam rumah tangga kita, kamu yang sudah merusak kepercayaan aku sama kamu. dan kalopun benar dira menyukai aku memangnya kenapa? toh aku sama kamu sudah gak ada hubungan apa-apakan? aku bebas memilih pasangan hidup aku, sudahlah aku capek debat sama kamu. serli... serli.. ini ayah nak ayo kita pulang ini sudah malam" serli yang mendengar namanya dipanggilpun segera berlari menuju arah suara.
"ayah... kok ayah lama sih jemput serli, aku gak mau disini yah ayo pulang kakak Rafa tadi nangis"
"tunggu! serli... serli gak mau tidur sama bunda, sayang?" shela memasang muka melasnya untuk membujuk serli agar tetap disana
"gak mau! bunda jahat sama kakak Rafa, serli mau sama ayah sama bunda Dira" serli melepaskan genggaman tangan shela
"dia bukan bundamu sayang, bunda nya serli itu bunda shela"
__ADS_1
"cukup shela! jangan teruskan ucapan kamu itu!!" ilham sudah muak melihat mimik wajah shela yang dibuat-buat itu. kemudian ilham dan serli meninggalkan rumah shela karena jam sudah menunjukkan pukul 9 malam dan dia harus segera menjemput Rafa sebelum Rafa tidur.