Maaf, Aku Mencintaimu

Maaf, Aku Mencintaimu
PERASAAN BERSALAH


__ADS_3

"M_mas, Rafa gapapakan? apa gak sebaiknya kita panggil dokter aja mas? karena obat Rafa juga sudah habis"


"kamu sholat subuh dulu ya biar aku yang kompres Rafa, kamu yang tenang sayang jangan banyak pikiran. Nanti kita pasti bawa Rafa ke dokter"


"Aku hanya takut Rafa kenapa-kenapa mas, ini sudah kali kedua Rafa kayak gini. apa jangan-jangan ada hubungannya sama keberangkatan mereka nanti?"


"sudah gapapa sayang, nanti kita cari solusinya sama-sama. buruan gih nanti subuhnya habis"


Dira meninggalkan ilham untuk memenuhi kewajibannya sebagai umat muslim.


sementara ilham mencoba mencari solusi agar Rama dan Shella memahami keadaan mereka saat ini.


POV ILHAM


Aku merasa terlalu memaksa Rafa sehingga membuat keadaannya seperti ini, Rafa begitu menyayangi Dira sampai-sampai ia tidak ingin meninggalkan Dira barang sehari.


Bahkan perceraianku dengan shella tidak sampai membuat Rafa down, tak ada raut wajah sedih ataupun kecewa.


apakah aku harus memberitahu Papa Rama dan Shella agar mereka memberi waktu pada kami, tapi rasanya tidak mungkin yang ada mereka akan berpikir bahwa aku hanya mencari alasan untuk menjauhkan anak-anak dari Ibu Kandungnya.


"Ya Allah.. aku harus gimana"


selagi Dira melaksanakan sholat subuh, aku menghubungi Ibu untuk meminta solusi yang tepat.


Tuuutt


Tuuuttt


Tuuutt


"Halo" Suara Ibu terdengar diseberang sana


"Assalamu'alaikum Bu, Bu, Rafa sakit"


"Waalaikumsalam, astaghfirullah! terus sekarang kamu dimana ilham?"


"ilham masih di rumah Nenek Tami, Bu. rencananya ilham mau pulang nanti sore tapi sepertinya harus ditunda karena Rafa masih seperti ini"


"Apa sakitnya Rafa kambuh lagi disana? Jangan pulang dulu ilham, tunggu sampai Rafa benar-benar sembuh"


" Tapi bagaimana dengan keberangkatannya?"


"Anak lagi sakit begitu kamu malah memikirkan keberangkatan mereka, Ibu tidak setuju jika Rafa dan Serli tetap berangkat, lagian masa iya mantan mertuamu itu tidak mau mengerti keadaan kita sekarang"


"Lalu apa yang akan aku katakan sama papa Rama, Bu?"


"Kamu tinggal hubungi Pak Rama bilang kalau Rafa saat ini sakit"


"Aku hanya takut papa Rama berpikir kalau aku sedang berusaha menjauhkan Anak-anak dari Shella, Bu"


"Tidak akan ilham, percaya sama Ibu. hubungi beliau bicara Pelan-pelan, Aku yakin beliau akan mengerti"


"Baik Bu, kalau begitu ilham tutup dulu. Ibu jaga kesehatan ya selama ilham disini, Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Aku mengakhiri panggilan telepon, sejenak hatiku merasa sangat lega mendapat saran dari Ibu. Saat aku hendak menaruh ponselku, Dira memanggilku.


"Mas.."


"ya sayang?"


"Sholat dulu biar aku yang jagain Rafa. mm.. maaf mas, Aku tadi sedikit mendengar pembicaraan kamu dengan Ibu"


"Tidak apa-apa sayang lagipula itu bukan rahasia toh aku hanya minta saran dari Ibu"

__ADS_1


"Iya lanjutin nanti aja ceritanya ya"


Entah kenapa aku sangat menyayangkan kehadiran wanita ini, kenapa baru sekarang aku menemukannya, aku terlalu bodoh, saat itu yang Aku pikirkan hanya ingin mempunyai istri yang cantik tanpa melihat terlebih dahulu bagaimana isi hatinya. mungkin Allah mendengar doaku, dan mungkin juga sudah saatnya aku bahagia bersama dengan orang yang aku cintai dan juga yang mencintaiku setelah berbagai macam cobaan yang datang silih berganti dalam 12 tahun ini. Terima kasih ya allah, Terima kasih.


aku bergegas kekamar mandi untuk berwudhu kemudian melaksanakan sholat subuh.


Setelah melaksanakan 2 rakaat subuh, aku kembali menghampiri Dira yang masih setia menemani Rafa, fokusku teralihkan pada genggaman tangan Rafa yang begitu erat seakan menjelaskan bahwa Dira adalah sosok wanita yang sangat tidak ingin ia tinggalkan bahkan sedetikpun.


Baru satu tahun mereka sudah sedekat ini, layaknya Ibu dan anak kandung. aku mengalihkan pandanganku pada tubuh kecil yang masih setia memeluk guling di sebelah Rafa, Serli.


Ia seakan mengerti bahwa orangtuanya sedang sibuk merawat kakaknya yang tengah sakit, kukecup keningnya namun lagi-lagi ia tidak merasa terganggu.


"Mas" Dira kembali memanggilku


"Ya sayang??"


"Apa kamu mau menghubungi Papa Rama?"


"Iya nanti, kenapa sayang?"


" jangan khawatir, Papa Rama akan mengerti. aku tau kamu bingung kan bagaimana cara menjelaskannya, ceritakan saja apa adanya" Ucapnya sambil tersenyum padaku.


aku tercengang mendengar penuturan Dira, bahkan di usianya yang masih muda dia sudah punya pikiran sedewasa itu.


"tunggu apalagi mas? papa Ramanya ditelepon sekarang dong, malah ngelamun"


"Ah iya sayang, emm ponselku ada disitu tolong ambilkan sayang" Dira meraih ponselku diatas meja yang ada disampingnya.


"apa sopan sayang? bukannya terlalu pagi untuk menghubungi papa rama?"


" kita beda negara sayang, iya disini masih pagi kalau disana pasti udah siang mas"


"ahaha iya kamu benar juga sayang"


Akupun menghubungi Papa Rama.


tuuuttt...


Tuuttt..


"halo?


" Assalamu'alaikum Pa, maaf ilham menelepon malam-malam begini"


"Waalaikum salam, tidak terlalu malam ilham. ada apa?"


"Emm begini Pa, ilham benar-benar minta maaf sama papa dan juga Shella, kemungkinan untuk keberangkatan anak-anak akan ilham tunda beberapa hari"


"apa ada sesuatu yang terjadi sama anak-anak, ilham?"


"Rafa sakit Pa Tadi malam sakitnya kambuh dan sampai sekarang belum bangun"


"Astaghfirullah, apa sudah dibawa kerumah sakit?"


"Setelah ini ilham akan bawa rafa kerumah sakit pa karena kebetulan panasnya juga sudah mulai turun"


"Yasudah bawa rafa kerumah sakit sekarang biar papa yang bicara sama shella, semoga saja dia mau mengerti keadaan kalian disana"


"Pa, maaf sebelumnya. sebenarnya ada satu hal lagi pa"


"Satu hal lagi? apa ilham?"


"Sakitnya Rafa ini sepertinya gara-gara ilham, Pa. ilham selalu paksa dia untuk pergi bersama Rini dan Roby, pa"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Kemarin dia sempat bilang sama ilham dan Dira, kalau dia tidak mau berangkat kalau ilham dan Dira tidak ikut serta. Kami terpaksa memaksanya untuk tetap pergi karena ilham tidak enak sama papa, takutnya Papa Rama berpikir bahwa akulah yang berusaha menjauhkan kalian"


"Jadi Rafa tidak mau ikut kesini sejak awal maksudmu begitu? Ya Allah.. Setrauma itu Rafa bertemu dengan Shella, ini bukan salahmu ilham. mungkin Rafa berpikir bahwa dia tidak akan bisa kembali ke indonesia setelah sampai disini. sudahlah tidak apa-apa Jangan khawatir"


"maafkan ilham pa karena tidak bisa membujuk Rafa untuk pergi"


"Ah tidak-tidak jangan begitu ilham, papa sangat berterima kasih sama kamu karena sudah merawatnya selama ini. kalau begitu kamu cepat bawa Rafa kerumah sakit, papa tidak mau cucu papa itu kenapa-kenapa. sampaikan salam papa pada semua orang yang ada disitu ya ilham"


"Baik pa, sekali lagi maaf pa. kalau begitu ilham tutup dulu ya pa. assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam" kututup panggilanku pada papa Rama


"Bagaimana mas?" tanya Dira saat melihatku menatap nanar ponsel ditanganku


" sepertinya papa bisa memaklumi keadaan kita saat ini sayang"


Mendengar jawabanku itu, Dira memelukku erat seakan memberi kekuatan untukku.


"It's ok sayang semua akan baik-baik saja, eh btw sejak kapan pak polisi ini tidak enakan sampe mukanya ditekuk kaya gini. jadi gak keliatan garangnya kalo gini. senyum dong sayang" ucap Dira yang sedang berusaha menghiburku.


Akupun memberikan senyum terbaikku padanya agar ia juga tidak terbebani dengan apa yang sedang aku pikirkan saat ini, dia juga tengah mengandung anakku. aku tidak boleh egois.


"Ayo sayang kita bawa Rafa kerumah sakit biar dia cepat mendapat perawatan disana" ajakku pada Dira.


"Iya mas, aku mandi dulu sebentar habis itu aku beresin barang-barang yang mau dibawa kerumah sakit"


"Biar mas aja yang beres-beres, kamu mandi gih"


saat Dira hendak berdiri, Tiba-tiba tangan Rafa menarik tangan Dira.


"Sayang, Bunda kekamar mandi dulu ya habis ini kita ke dokter"


"Rafa gak mau ke dokter bunda"


"Kenapa sayang?" Rafa hanya menggelengkan kepalanya, aku dan dirapun bingung harus bagaimana menanggapinya.


"Ke dokter ya kak, biar sembuh. kakak gak kasian liat bunda khawatir?" ucapku pada Rafa.


"Kalo Rafa kedokter kasian bunda, yah. nanti Bunda kecapean, disini aja biar Bunda bisa tidur bareng Rafa sama Serli juga kalau dirumah sakit nanti tempat tidurnya kecil"


aku terkejut dan juga terharu mendengar penuturan anak sulungku ini.


"Apa sekarang Bunda boleh kekamar mandi sayang?" Rafa melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Dira pergi kekamar mandi dikamar mereka.


"Baiklah kalau kakak tidak mau kerumah sakit, Ayah akan panggil dokter saja ya" ucapku pada Rafa dan hanya dijawab anggukan oleh Rafa.


"Tidak, tidak. bunda tidak setuju, Rafa harus kerumah sakit. kalau Rafa tidak mau, bunda sedih loh. bunda kan pengen liat Rafa sembuh, adik bayi juga" ucap Dira sambil memasang wajah sedih sambil mengelus perutnya.


Melihat Ibu kesayangannya sedih, Rafa pun menyetujui permintaan Dira untuk pergi ke rumah sakit.


akupun turun menemui Mama atau siapapun yang ada di ruang keluarga.


"Ayah, Kakek"


"Ilham, bagaimana keadaan Rafa?" tanya kakek padaku


"Demamnya sudah turun, kek. tadinya Rafa tidak mau dibawa ke rumah sakit tapi Dira sudah membujuknya dan dia mau"


" Kalau begitu kakek dan nenek akan ikut kalian pulang. kakek ingin menemani cucu kakek di rumah sakit nanti "


" tapi papa juga harus menjaga kesehatan, kalau papa ikut menjaga rafa dirumah sakit yang ada nanti papa juga ikut sakit pa"


"benar kata mama, kek. kakek tidak usah khawatir, banyak yang akan menjaga Rafa, kek"


"Kalian ini Tega sekali sama kakek tua ini, apa-apa selalu tidak boleh egois sekali kalian" ucap kakek sambil melipat tangannya didepan dada layaknya anak kecil yang sedang marah

__ADS_1


" haahhhh Baiklah,, papa dan mama boleh ikut, tapi jangan terlalu capek setelah sampai disana ya pa"


__ADS_2