
Sudah jam 7.00 pagi namun belum ada tanda-tanda Dira keluar dari kamarnya.
"ma, coba mama bangunkan Dira takutnya dia kesiangan" ucap pak kurniawan kepada mama lia. mama liapun berjalan menuju kamar Dira.
tok
tok
tok
"Dira,, apa kamu sudah bangun sayang? sudah jam 7 loh ini nanti kamu telat" namun tak ada jawaban dari dalam "ck anak ini tadi malam pulang jam berapa sih kok sampe gak bangun udah jam segini" mama lia mengulanginya Hingga 3 kali barulah Dira terbangun dari tidurnya. ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan meraih telepon di nakas
"astaghfirullah!! ini udah jam 7 lewat!! aduhh aku bisa telat" ia pun segera lari kekamar mandi. 2 menit, 5 menit ia sudah selesai mandi dan segera bersiap-siap. setelah dirasa cukup dirapun keluar dari kamarnya.
"pagi yah, ma.. maaf Dira gak sarapan karena Dira udah telat banget ini, assalamu'alaikum" ia buru-buru menyalami kedua orangtuanya tak lupa pula ia meraih roti dimeja makan dan memasukkan kemulutnya untuk mengganjal perut pagi ini, sambil memasang kaos kaki didepan rumah handphonenya pun berbunyi.
"duhh siapa sih nelepon pagi-pagi gak tau apa aku buru-buru" gerutu Dira sambil mengambil telepon kemudian mengangkatnya
"Dira kamu sudah berangkat? Serli hari ini izin dulu ya gak masuk sepertinya dia kecapean karena semalam dia tidur malem banget"
"hah?! bukannya Serli sama mbak Shela kak?" ia terkejut mendengar Serli sudah berada dirumah ilham pagi sekali.
"panjang ceritanya, kalau kamu belum Berangkat yasudah buruan berangkat gih nanti kamu telat" ilham mengingatkan Dira
"ah iya kak, maaf ya aku matiin dulu buru-buru soalnya. nanti aku kesana temuin Serli dan Rafa. yasudah kak assalamu'alaikum" Dira segera beranjak dari tempat duduknya menuju mobil, meskipun jarak rumah dan sekolah hanya butuh sekitar 20 menit tapi Dira tidak ingin telat karena dia masih tergolong guru baru disekolah itu.
sesampainya di sekolah, Dira bertemu dengan devi yang tak lain adalah kakak iparnya yang juga mengajar disekolah tersebut
"loh Dira, tumben gak bareng serli?" ucap Devi sang kakak ipar
"tadi malam serli dibawa ibu kandungnya kak, jadi hari ini serli tidak masuk"
__ADS_1
"ohh yasudah yuk masuk anak-anak sudah menunggu kita"
kegiatan belajar mengajarpun berjalan seperti biasa. sepulang dari sekolah Dira ke rumah terlebih dahulu untuk bersih-bersih karena keringat yang sudah menempel dibaju membuat badannya lengket. kemudian setelah semua terasa cukup ia pun pergi, kebetulan hari ini mama lia dan pak kurniawan sedang keluar kota jadi bisa dibilang Dira sendirian dirumah.
"assalamu'alaikum.." pintu luar terbuka jadi, Dira mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum masuk, memastikan di rumah ilham sedang ada orang atau tidak. tak lama dari itu keluarlah Bu Nining.
"waalaikum salam, eh Dira masuk. kok gak langsung masuk aja sih"
"hehe pintunya kebuka Bu, Dira kira didalam ada tamu jadi Dira gak langsung masuk"
"gak ada siapa-siapa kok, tadi Ibu lupa tutup pintunya. kamu langsung naik aja Dira sapa tau Serli sudah bangun Ibu masih beberes ini"
"iya Bu, Dira ijin keatas dulu ya" Bu Nining hanya mengangguk dan Dira langsung menuju kamar Serli dan Rafa. saat hendak memutar knop pintu, ia dikagetkan oleh suara seseorang dibelakangnya.
"ehem!! "
"astaghfirullah!! kak ilham! ngangetin aja untung Dira gak punya riwayat serangan jantung. kok kakak dirumah, gak kerja?"
"kok kakak tau kalo mama sama ayah gak dirumah?"
"tadi pagi setelah kamu berangkat kerja, kakak kesana nganterin soto buatan Ibu katanya om sama tante suka banget sama soto terus mereka bilang kalau mereka akan keluar kota dan mungkin baru besok sore nyampe rumah" Dira hanya ber Oh ria "mereka lagi tidur, mending kamu cicipin soto buatan Ibu ayo aku temenin" lanjut ilham kemudian menarik tangan Dira. Dira hanya diam mengikuti langkah ilham
"baru kali ini kak ilham megang tangan gue" batin Dira.
"Dira.. hey Dira... haloo" dirapun tersadar dari lamunannya.
"ah iya apa kak?"
"kok ngelamun? mikirin apa?"
"eeee enggak kok, ini buatan Bu Nining? aku cobain ya Bu" ternyata benar kata ilham soto itu enak dan bikin nagih.
__ADS_1
"enakkan?" tanya ilham sambil melihat Dira yang begitu lahap menyantap soto buatan Bu Nining.
"hmm enak banget, sampe aku gak bisa berkata-kata" ucap Dira sambil terus mengunyah. "oh iya kak, kak ilham punya hutang penjelasan sama Dira"
"penjelasan apa?" penjelasan apa yang dimaksud Dira, ilham tidak mengerti
"itu Serli kenapa bisa ada disini, kan tadi malem dia sama mbak Shela"
"oh itu, jadi gini, setelah kita pulang dari restoran kemarin ternyata Shela tidak langsung pulang juga, dia masih ada di restoran tersebut bersama teman-temannya hingga larut. kamu tau sendirikan Serli itu tidak biasa tidur larut malam, dia meneleponku karena bosan dan merasa tidak dipedulikan sama ibunya yasudah aku terpaksa jemput Serli kesana. bisa-bisanya anak sekecil itu dibiarin menunggu sampai larut memang sudah gila Shela tidak ada perhatian sama sekali sama anaknya kupikir dia akan berubah setelah berpisah dengan aku ternyata masih sama" Dira mencermati setiap kata yang keluar dari mulut ilham. begitu banyak cacian yang dia lontarkan kepada mantan istrinya itu. kemarahan dan kebencian terlihat jelas diwajah ilham, Dira mencoba untuk menenangkan ilham
"kak... Dira tau kakak marah banget sama mbak Shela tapi kakak harus ingat, dia itu keras kalau kakak juga keras sama dia, dia akan menjadi-jadi. kalau kakak setiap kali bertemu dengan dia selalu emosi kaya gini mungkin dia akan merasa menang karena sudah berhasil mempermainkan perasaan kakak, apa kak ilham tidak berpikir kesana? jadi kalau sewaktu-waktu kita bertemu dengan mbak Shela lagi sebaiknya kita banyak mengalah toh dia akan capek sendiri nantinya mungkin dia belum menerima perpisahan antara kalian. mau sampai kapan kalian bertengkar didepan anak-anak? akan berpengaruh pada mental anak loh kak, kakak harus pikirkan itu juga"
ilham mengingat kembali pertengkarannya dengan Shela memang beberapa kali ia sering bertengkar didepan anak-anak, terkadang Serli menangis histeris saat melihat kedua orangtuanya bertengkar. benar kata Dira mau sampai kapan mereka seperti ini toh mereka sekarang sudah bukan pasangan suami istri lagi.
"makasih Dira, kamu sudah mengingatkan aku untuk tidak bersikap seperti ini didepan anak-anak, aku memang salah. Terima kasih juga karena kamu sudah mengajarkan anak-anak sedemikian rupa sehingga mereka mengerti keadaan orangtua mereka. ternyata mereka tidak salah memilih bunda yang sangat pengertian, sabar dan juga perhatian sama mereka" ucap ilham sambil menggenggam tangan Dira, sontak membuat Dira kaget dengan perlakuan ilham saat ini namun ia berusaha tenang dan tetap tersenyum meskipun dalam hatinya sudah tidak karuan. Pipinya mulai merona mendengar penuturan ilham.
"jangan berlebihan seperti itu kak, aku takut suatu saat aku mengecewakan mereka"
"gak mungkin Dira, setelah 5 bulan mereka bersama kamu mereka tetap seperti itu kan? kamu ataupun mereka gak ada yang berubah malah kalian semakin dekat setiap harinya"
"plis jangan natap gue kaya gitu kak, ntar jantung gue copot lagi. gak usah senyum ya pliss kalau gue terbang gimana gara-gara liat senyum kak ilham, gila dia kok bisa ganteng banget kalo dari dekat kaya gini sih berasa seumuran deh padahal umur kita beda jauh" ingin rasanya berteriak didepan ilham namun ia tahan karena akan sangat memalukan jika ia melakukan itu.
"hayolooo lagi ngapain tuh pegang-pegangan" suara Rini berhasil membuat keduanya terkejut dan saling melepaskan tangan mereka
"perusak!! padahal gue lagi memastikan perasaan gue sama Dira, eh malah dateng ini orang" batin ilham
"enggak tadi aku lagi berterima kasih aja sama Dira karena sudah bantuin jaga anak-anak, ya kan dir?" ucap ilham saat berhasil sudah menetralkan hatinya.
"i_iya Rin, kita cuma lagi ngomongin anak-anak kok" jawab Dira yang masih terlihat gugup karena ke-gep oleh Rini saat sedang berpegangan tangan dengan ilham
"ohh gitu, aku juga makasih ya sahabat aku karena udah rela meluangkan waktu buat ngurusin kerucilnya kak ilham, yang aku sendiri gak bisa menghadapi mereka. kamu tau sendiri lah aku gak suka anak kecil hehehe" ucap Rini sambil nyengir kuda. merekapun akhirnya asyik mengobrol membahas sana sini, sesekali mereka tertawa bersama.
__ADS_1