Maaf, Aku Mencintaimu

Maaf, Aku Mencintaimu
kesalah pahaman 2


__ADS_3

"****!! kemana lagi tuh taksi! Dira ayolah sayang angkat" ucapnya sambil terus menghubungi ponsel Dira. namun tak ada jawaban.


Pov Dira.


aku tengah menikmati eskrim yang tadi mas ilham belikan sedangkan mas ilham pergi ke toilet Seorang diri.


10 menit, 20 menit namun tidak ada tanda-tanda kedatangan mas ilham. tanpa rasa curiga aku berjalan menuju toilet untuk mencari keberadaan suamiku. namun saat aku akan kembali, aku melihat dua orang yang sedang berpelukan.


aku tercengang saat melihat dua orang tersebut adalah suamiku, mas ilhambersama dengan teman sekaligus orang yang pernah ia sukai, Bella. lantas aku tak langsung menghampiri keduanya, aku masih memastikan apakah dia benar-benar suamiku? atau hanya salah lihat


pelan-pelan aku berjalan mendekati mereka. dan saat aku benar-benar ada dibelakang mereka, aku baru sadar bahwa itu benar suamiku. air mataku seketika mengalir begitu saja melihat kemesraan mas ilham dan Bella, dadaku sangat sesak perutkupun kram di saat yang bersamaan.


"tega kamu mas! kamu ninggalin aku di mobil sendirian tapi apa? kamu malah bermesraan dengan Bella, orang yang pernah kamu cintai. ya Allah sakit banget lihat mereka semesra ini" jeritku dalam hati


dengan nafas naik turun aku pun menghampiri keduanya yang masih enggan melepaskan pelukan mereka.


"MAS ILHAM!! APA-APAAN INI MAS!!" seketika mas ilham menoleh saat aku sudah berada didepan mereka


"Di_Dira?!?" jawabnya "Sayang, kamu salah paham aku.." rasanya aku tak ingin mendengarkan penjelasan apapun saat itu.


"shhh aww..." aku meringis kesakitan sambil terus memegang perutku yang sedang kram.


"nak, bantu bunda jangan sekarang ya maaf banget bunda benar-benar kecewa sama ayah kamu, plis sayang kali ini aja nak"


"sayang kamu gapapa?" mas ilham mencoba meraih tanganku namun aku tepis.


" jangan sentuh aku! aku kecewa sama kamu mas!" aku berlari meninggalkan mas ilham dan Bella yang masih syok dengan kehadiranku yang sangat tiba-tiba.


aku terus berlari sembari mencari taksi, aku benar-benar tidak ingin melihat wajah kedua manusia itu hatiku benar-benar sakit.


"maaf neng ini mau kemana ya?" tanya sopir taksi padaku. entah apa yang ada dalam pikiranku.


yang aku inginkan hanya segera pergi dari tempat itu. aku tak tau harus kemana, pulang tidak mungkin karena pastinya mama dan ayah akan bertanya kenapa aku pulang sendirian.


"Jalan aja pak, jangan sampai mobil dibelakang itu mengikuti kita"


"Baik neng"


benar saja sopir taksi itu berhasil mengecoh mobil mas ilham, setelah dirasa aman taksi tersebut kembali ke jalan raya setelah sempat melewati perkampungan untuk mengelabuhi mobil mas ilham.


saat suasana hatiku mulai tenang, aku berpikir untuk menemui kak Rio saja, karena dialah orang yang mau menerima segala bentuk keluh kesahku


"pak ke alamat ini ya"

__ADS_1


"Siap neng"


aku pergi ke cafe Rio setelah sekian lama tak pernah mengunjungi cafe kak Rio.


setelah sampai di cafe tersebut aku berjalan menuju kasir menanyakan keberadaan kak Rio pada karyawannya.


"Pak rionya ada kak?" tanyaku pada kasir itu


"Ada kak, apa sudah ada janji?"


"Bilang aja ditunggu Dira didepan"


"baik kak, silahkan ditunggu dulu ya. ada yang mau dipesan barangkali kak? "


"Oh ya aku pesan hot choconya 1 sama roti bakarnya 1 ya kak"


"Baik kak"


setelah mencatat pesananku kasir itupun pergi untuk memanggilkan kak Rio.


10 menit kemudian laki-laki tersebut datang dengan wajah yang tersenyum manis. namun berbeda denganku, saat melihat wajah kak Rio, aku sudah tidak bisa membendung air mataku yang sedari tadi sudah aku tahan.


"Loh kok nangis?!" tanya kak Rio padaku "kenapa Dira? apa terjadi sesuatu sama kamu, atau suami kamu nyakitin kamu?"


"Terakhir kali kamu nangis gara-gara si reyhan loh, sekarang kenapa Dira? cerita sama kakak"


"aku gak tau harus mulai dari mana kak? aku takut kalau misalnya aku cerita nanti aku dosa karena menceritakan masalah rumah tangga aku pada orang lain"


" kamu bisa minta saran dari kakak aja gapapa Dira "


"aku mau nanya sama kakak, kalau seandainya seseorang yang dulu pernah kakak sayang datang kembali apa kakak akan kembali menerimanya? sedangkan orang itu dulu ninggalin kakak demi orang lain yang ia sayangi"


"emm... tergantung kalau kakak sudah menemukan orang baru dan kakak sudah bahagia bersama orang tersebut mungkin lebih baik kakak menjaga jarak dengan dia, tapi kalau datang hanya untuk meminta saran atau semacamnya dengan senang hati kakak akan mendengarkannya terlebih dahulu "


"Kalau dia dateng-dateng meluk kakak? apa kakak akan membalas pelukannya?"


"ya enggaklah, kakak akan melepaskan pelukannya disaat itu juga. kakak harus menghargai perasaan pasangan kakak itu"


"kan.." aku kembali menangis mendengar penjelasan kak Rio


"loh kok malah tambah nangis, kakak ada salah ngomong ya? atau kamu lihat suami kamu pelukan sama cewek lain?" aku mengangguk "HAH!!"


"kak.. jangan keras-keras nanti diliatin orang"

__ADS_1


"Maaf kakak cuma kaget. tapi tunggu! suami kamu gak ngasi penjelasan sama kamu?"


"Aku gak mau denger penjelasannya dia, yang aku tau mereka pernah dekat"


"kamu harus dengerin dulu penjelasannya dia Dira, takutnya kamu hanya salah paham"


"Tapi mereka pelukan kak"


"cuma meluk ini hehe. yang penting enggak... " kak Rio menautkan kedua telunjuknya


"kalo sampe dia berani kayak gitu aku akan potong masa depannya itu! dasar laki-laki tua!"


"iihhh mengerikan sekali kamu ini, udah gini aja Dira kamu kasih kesempatan buat suami kamu untuk ngejelasin yang terjadi baru setelah itu kamu boleh kemana aja. kalau main kabur-kaburan kayak gini mana bisa nyelesaiin masalah, dia pria dewasa gak mungkin juga selingkuh diumur dia yang sudah setengah abad itu haha"


"Kak.. gitu-gitu dia suami aku tau. jadi aku harus pulang gitu kerumah? iihh males banget ketemu mas ilham"


"gak boleh gitu sama suami Dira.. udah deh mending kamu makan dulu habis itu pulang selesaikan dengan kepala dingin jangan pake emosi"


aku menuruti perkataan kak Rio, perlahan aku melahap roti bakar yang sudah aku pesan tadi sampai habis. ya, rasanya setelah menangis perutku ini berdemo minta di isi.


"Laper buk?"


"hehe iya kak aku laper banget habis lari-larian tadi"


"Bentar lagi maghrib pulang ya, tuh udah dijemput" ucap kak Rio sambil mengangkat dagunya.


"Kok bisa dia disini?? kakak ya yang bilang?" kak Rio hanya mengedikkan bahunya.


memang sejak aku menikah kak Rio dan mas ilham mulai dekat, tapi aku tidak pernah menyangka mereka akan sedekat itu.


"sayang ayo kita pulang" namun aku hanya diam tidak menanggapi mas ilham


"Dira.. kakak tadi bilang apa?"


"Ck iya kak Rio, aku pulang" aku berdiri dan segera melenggang pergi tanpa mengajak mas ilham. aku masih marah padanya.


"Makasih Rio, sudah menjaga Dira disini aku tadi sempat khawatir mencarinya" sayup-sayup kudengar mas ilham berterima kasih pada kak Rio.


"Gapapa kak, dia memang seperti itu. aku sudah menganggap Dira sebagai adik aku sendiri. sudah sepantasnya aku mengabari kamu sebagai suaminya Dira. pelan-pelan aja kalau mau ngomong sama Dira"


aku memelankan langkahku karena aku ingin mendengar apa saja yang mereka bicarakan


"Iya, yaudah aku pergi dulu. lain waktu kita sambung lagi"

__ADS_1


"haahhh kenapa kak Rio sama mas ilham bisa sedekat itu sih, padahal mereka kenal baru beberapa bulan" tanyaku dalam hati.


__ADS_2