
"Kurang ajar! dia ninggalin gue sama bawahannya hanya demi menemui perempuan itu, Cantikan juga gue kemana-mana" ucap Mitha dengan sangat percaya diri.
"Bu Mitha ngintipin siapa?"
"Astaga!!!! Kamu bikin kaget aja!! kamu ngapain masih disini?"
"ya saya cari Bu Mitha lah, kan tadi kita kesininya bareng. sebagai ucapan Terima kasih saya, saya mau mengantarkan Bu Mitha pulang"
"Ck Ibu, Ibu. aku masih muda jangan panggil Ibu"
"Lalu? saya panggil nona begitu?? "
"Panggil Mitha aja!"
"Oh ok Mitha, mari saya antarkan pulang"
"Tidak usah! aku masih ada urusan, kamu pulang aja sendiri"
"Baiklah, oh ya saya hanya mau ngasi tau sama anda, jangan berharap lebih sama pak ilham dia tipe laki-laki yang setia sama satu wanita. jadi, anda tidak usah repot-repot menyusun rencana untuk mengambil hati Pak ilham"
"Haahhh sok tau kamu, dimana-mana kalau kucing dikasih ikan pasti dimakan"
"tapi kalau ikannya bentukannya seperti anda sepertinya dia akan muntah lebih dulu"
"kurang ajar!! mulutmu itu dijaga ya"
"haha saya kasih tau ya, anda perempuan kan? punya harga diri? kalau iya harusnya anda tidak melakukan perbuatan yang bisa menjatuhkan harga diri anda sendiri. pikirkan baik-baik saya permisi" Septian melenggang pergi meninggalkan Mitha yang masih mematung mencerna ucapan demi ucapan yang keluar dari Mulut septian.
"Enggak, enggak! gue gak boleh dengerin ucapan manusia sialan itu, gue berhak bahagia kan? yaa aku bahagia saat melihat ilham. Aku harus memperjuangkan kebahagiaan aku" batin Mitha.
...****************...
Di Negara J tampak seorang perempuan menggunakan baju formal tengah berjalan kearah Sebuah cafe bersama dengan teman barunya.
"Kamu gak ada niatan untuk menghubungi anak-anak kamu di Indonesia?"
"Niatan sih ada tapi aku malu sama mereka, dulu aku hanya menganggap mereka sebagai beban"
"Tapi kata kamu Ibu sambungnya mengajari mereka untuk tidak melupakan kamu sebagai ibunya. aku yakin mereka akan sangat senang saat kamu menghubunginya, shella"
"Entahlah untuk saat ini aku belum siap untuk berbicara sama mereka, aku hanya bisa berdoa sama Tuhan semoga anak-anak diberikan kasih sayang yang tulus oleh Ibu sambungnya"
"kalau dari ceritamu waktu itu sepertinya Ibu baru mereka memang orang yang baik"
__ADS_1
"Ya dia memang baik, Bahkan dia meminta mas ilham untuk memaafkan semua kesalahanku. padahal kesalahanku pada keluarga mereka sangat banyak, entahlah kenapa aku bisa sejahat itu pada orang sebaik mereka"
"Karena kamu hanya memperdulikan ucapan mama kamu daripada melihat apa yang mereka lakukan untuk anak-anak kamu"
"Hmmh kamu benar Denada, Bahkan hingga detik ini aku masih Merutuki kebodohanku selama ini" ucap shella sambil menghela nafas berat
"Tidak usah terlalu memikirkannya, yang penting sekarang kamu sudah sadar dan mau berubah. kamu juga sudah menemukan laki-laki yang begitu menyayangimu dengan tulus" Denada menatap kearah luar.
disana, laki-laki yang ia maksud tengah berjalan menuju arah Shella dan juga dirinya.
" dulu mas ilham juga sangat menyayangiku hanya aku saja yang tidak pernah bersyukur memilikinya hingga aku kehilangan orang setulus mas ilham"
"dan kamu terlambat menyadarinya. jadi, untuk yang sekarang ku mohon jangan terlambat lagi Shela, Drake adalah laki-laki yang sudah mengobati luka yang disebabkan oleh diri kamu sendiri"
"Haaahh Terima kasih denada kamu sudah mengenalkanku dengan Drake, meskipun aku masih merasa tidak pantas untuk menjadi pendampingnya"
"Husstt kamu ini bicara apa Shela, 1 bulan lagi dia akan menjadi suamimu. Ayahmu juga sangat menyukai Drake Bukan? Dan satu lagi, kamu harus mengabari anak-anakmu agar mereka tau bahwa mereka akan mempunyai ayah sambung"
"Apakah harus? "
"Tentu, kamu tidak usah malu pada Ilham dan istri barunya"
"Baiklah akan aku kabari mereka nanti. Aku pulang duluan ya, sampai jumpa besok denada. Terima kasih untuk hari ini"
"Shela sahabatku, tidak mungkin kubiarkan dia duduk sendirian di cafe ini. bisa-bisa dia digoda laki-laki hidung belang seperti mereka" ucap denada sambil melirik kepada laki-laki yang memang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.
"Haha iya iya kamu memang sangat berjasa dihidupku dan hidup Shela, apa mau bareng?"
"oh tidak Terima kasih, aku dijemput suamiku kok"
"Baiklah, ayo sayang. daritadi papa Rama terus meneleponku karena takut anaknya ini hilang"
"Papa memang seperti itu Drake, terlalu berlebihan"
"No sayang, papa wajar mengkhawatirkan kamu karena kamu anak papa Rama satu-satunya"
"Iya iya terserah kalian saja, jadi pulang tidak?"
"Ah baiklah ayo" Drake menautkan jarinya pada jari Shela, mereka berjalan beriringan menuju mobil.
...****************...
Satu minggu kemudian...
__ADS_1
"Mas, nanti kamu pulang jam berapa?" tanya Dira pada ilham yang saat itu tengah bersiap-siap.
"Seperti biasa sayang, kenapa?"
"Mm... Tiba-tiba aku pengen pergi ke taman"
"Taman yang mana?"
"Itu yang pertama kali mas bilang mau mencoba membuka hati buat aku"
"haha tumben, memangnya disana ada apa? perasaan gitu-gitu aja tempatnya gak ada yang spesial"
"gak ada apa-apa sih cuma pengen aja, disana tempatnya sepi jadi enak untuk bernostalgia. itu tempat spesial sih menurut aku gak tau deh kalo katamu enggak. Boleh ya pliiss"
"Bisa-bisanya aku bilang disana gak ada yang spesial, bodoh kamu ilham. perempuan itu akan selalu mengingat sekecil apapun kejadian dimasa lalu, apalagi dulu Dira punya perasaan lebih sama kamu. kalo nolak bisa-bisa dia ngambek lagi" Batin ilham.
"Iya boleh, nanti pulang dari kantor kita kesana "
" yeeyy tapi mas gak usah ganti baju nanti lama keburu malem"
"Iya sayang, nanti aku kabari kalo aku udah mau pulang"
mendengar jawaban suaminya, Dira langsung mengecup pipi suaminya dengan sangat gembira. kemudian merangkulnya keluar dari kamar menuju meja makan.
"Pagi ayah,, pagi bunda" sapa serli pada kedua orangtuanya
"Pagi sayang, tadinya bunda mau kekamar kalian mau bantu kalian nyiapin baju"
"No bunda, Rafa sama Serli udah besar kan mau jadi kakak yakan Serli?"
"Hu'um bunda jagain dede bayi aja" Sambung Serli
"Cucu oma memang hebat, belajar dimana sih?"
"Dari ayah, oma" jawab Rafa
"Bener mas kamu bilang gitu sama anak-anak? " tanya dira pada ilham.
"Hmm hanya memberitahu, aku kira mereka tidak akan peduli ternyata mereka benar-benar melakukannya"
"Mereka sudah besar jadi mereka akan mengerti jika kalian memberitahu" sambung pak kurniawan yang sedari tadi duduk di meja makan.
Merekapun sarapan bersama dimeja makan tanpa ada obrolan lagi.
__ADS_1