Maaf, Aku Mencintaimu

Maaf, Aku Mencintaimu
Usaha dan do'a


__ADS_3

Malam hari..


Ruangan tersebut tidak akan terasa sepi jika sikecil Sherly berasa diantara mereka.


"Bunda, sherly diundang sama ayana, katanya dia ulang tahun loh"


" kapan sayang?"


"mmmm kapan ya aku lupa, tadi pagi dia kasi undangan aku masukin tas kok bun"


mendengar penuturan sherly, Dira langsung mencari undangan tersebut untuk membacanya.


" ooohh ini masih 3 hari lagi sayang"


" aku boleh dateng bun?"


" tentu boleh sayang, besok kalo kakak Rafa boleh pulang kita beli kado ya"


"yeeyyy makasih bunda"


" Sama-sama sayang"


tok..


tok..


tok..


setelah mengetuk pintu, orang tersebut masuk.


" assalamu'alaikum "


" mama?! sendirian? Ayah gak ikut?"


" Ayah tadi ketemu temennya diluar, jadi mama masuk duluan deh. halo cucu oma, gimana keadaannya sayang?" ucapnya pada Rafa


" Baik oma, kata dokter Rafa boleh pulang loh"


"oh ya? alhamdulillah semoga terus sehat ya cucu oma. oiya oma bawa mini pizza buat Rafa, Rafa suka kan?"


"wowww suka oma" sebelum memakan pizza tersebut, Rafa melihat kearah Dira untuk meminta izin


" gapapa sayang makan aja" jawab Dira, ia mengerti arti tatapan itu.


"Sherly mau?" tanya mama lia "Ini juga buat sherly kok, nih" mama lia memberikan satu untuk sherly.


Sherly menghampiri mama lia dan mengambil pizza itu "Makasih oma" ia pun memakan pizza tersebut sambil menggoyang-goyangkan kepalanya, pertanda makanan itu sangat enak dan cocok dilidahnya.


"Dira, Ilham kalian sudah makan?"


" Belum sih ma, tadinya mas ilham mau cari makan eh keburu mama dateng"


" udah gak usah cari makan, mama udah siapin makanan untuk kalian. nah ini makan dulu sana."


"Makasih ma" ucap ilham


" kayak ke siapa aja kalian kan anak-anak mama, apa iya mama lupa sama kalian berdua"


" sayang banget deh sama mama" sambung Dira "Ayo mas, biar aku ambilin makanannya"


Dira dan ilham pun makan, sikecil sherly juga tak lupa mereka suapi.


" Kakakmu jadi kesini Dira? tadi sore dia telepon mama tapi kok jam segini belum dateng"


" mungkin masih di jalan ma"


tak lama dari itu, dimas dan juga aris datang bersama istri mereka. mereka bersalaman pada mama lia dan juga ilham tentunya


"ini dia orangnya, mama kira kalian gak jadi kesini"


" tadi masih ada acara ma jadi agak lama kesininya " jawab aris


" Ah tadi katanya macet makanya lama, kak aris bohong" celetuk dimas


" haha habisnya kamu cerewet, berisik banget"


" kebiasaan kak dimas kan emang gitu, kalo mau kemana mana pasti keburu udah kayak yang mau ditinggal aja" jawab Dira.


"Duduk dulu kak aris, dimas" kata ilham


" gimana Rafa, kak?" tanya dimas


" mungkin besok sudah bisa pulang" jawab ilham


" syukurlah kalau begitu, semoga kedepannya sehat terus. kasian dia masih kecil udah harus bolak balik rumah sakit"


"Amin amin, aku harap juga begitu, masa depannya masih panjang"


" Ayah mana, ma?" tanya aris


" tau tuh tadi ketemu temennya diluar tapi belum muncul daritadi"


tak lama kemudian pak kurniawan muncul dibalik pintu.


"nah itu dia, kok lama sih yah?" tanya mama lia


"Tadi Ayah jenguk teman ayah dulu, mama inget santi gak sih? Istrinya Iqbal itu loh yang dulu sering kerumah"

__ADS_1


" siapanya yang sakit, yah?"


"Iqbal yang sakit, ternyata selama ini dia menghilang karena sakit, Ma"


"Sakit apa memangnya?"


"Kanker otak, Udah stadium 3. bisnis mereka bangkrut karena Iqbal sakit kasian anak-anaknya masih sekolah"


" ya allah.. terus darimana mereka dapat biaya? duh ayah nih gak ngajak-ngajak aku kalau ketemu santi"


"Tadi ayah cuma mastiin dulu benar itu santi yang aku kenal apa nggak, ternyata emang iya santi"


"Dulu Iqbal itu baik banget sama keluarga kita, dia yang membantu Ayah kalian memulai bisnis hingga saat ini" Mama lia menceritakan sosok Iqbal kepada anak-anak nya.


" terus kenapa kita tidak mencoba membantu meringankan biaya mereka?" tanya dimas


" Ayo kita bantu, kita jangan melupakan orang-orang baik seperti om Iqbal, kita tidak akan seperti ini kalau tanpa bantuan beliau bukan?" ucap aris


"Apa kalian tidak keberatan membantu Om Iqbal, sayang?"


"kenapa harus keberatan Ma, Aris akan membantu semampu aris yang penting mereka bisa terus mengobati om Iqbal kalau bisa sampai benar-benar sembuh" jawab aris


"Dira setuju, Dira juga mau ikut bantu kak, yakan mas?"


"Iya Dira benar, Kak. semakin banyak bantuan maka semakin mudah pula proses pengobatan beliau"


"Dimas ada kenalan di Singapura, dia memang specialis kanker dan insyaallah sembuh"


"tapi memangnya bisa sembuh kalau sudah stadium 3,Dim?" tanya mama lia


" Kita serahkan semuanya kepada allah Ma, yang penting kita sudah berusaha. tidak mungkin kita hanya diam menunggu keajaiban kan?"


" Yasudah biar Ayah, mama dan aris pergi keruangan om Iqbal dan berbicara Langsung kepada tante Sinta. dimas, kamu hubungi teman kamu itu"


" Baik kak, Sayang aku keluar dulu mau menghubungi temanku dulu" ucap dimas pada istrinya.


"ya mas" jawab fia.


" Sayang, aku juga ikut Ayah keruangan om Iqbal ya. kamu disini sama fia dan mbak Devi "


" iya mas, Hati-hati "


ilham mengejar mertua dan juga iparnya ke ruangan dimana Iqbal dirawat.


"Santi.. " Ucap mama lia saat menemukan keberadaan santi.


" mbak lia... " mereka berpelukan.


Santi menangis dipelukan mama lia, karena selama ini dia tidak pernah terbuka pada orang lain.


" Mas Iqbal tidak mau merepotkan orang lain, mbak"


" kalian menganggap aku ini orang lain? kalian itu udah aku anggap keluargaku sendiri"


" sebenarnya aku pengen banget kesana tapi... "


" sudah.. sudah sekarang jangan berpikiran yang lebih jauh lagi. aku kesini mau mencoba membantu kamu, tolong Terima bantuan kami"


" nggak mbak, jangan. ini tidak akan sedikit, Aku sudah ikhlas apapun yang terjadi nanti"


" santi, dengar! anak kamu masih butuh Papanya, jangan bicara seperti itu kita tidak tau takdir apa yang akan terjadi pada Iqbal setidaknya kita berusaha dulu, santi pliss"


" Benar kata istri saya, santi. Terima ya bantuan kami" sambung pak kurniawan


" jawab mbak, santi. selama Iqbal sakit, bagaimana biaya anak-anak sekolah?"


" Sebenarnya sudah 2 bulan mereka nunggak mbak. karena aku tidak punya uang sama sekali, ini saja rencananya aku akan bawa pulang mas Iqbal, mbak"


" jangan gila santi, Iqbal masih perlu perawatan. udah gak ada alasan lagi kamu menolak bantuan kami"


" Tante, ini untuk biaya anak-anak. tolong dibayar uang sekolah yang sudah menunggak 2 bulan itu dan juga untuk 3 bulan kedepannya insyaallah masih cukup. sisanya untuk tante makan dan juga membeli kebutuhan tante dirumah" Ilham memberikan kartu kredit nya kepada Santi.


santi sangat ragu untuk menerima pemberian ilham. karena santi baru mengetahui lelaki yang bersama mama lia ini.


" ambil saja Santi, dia bukan orang asing dia menantuku"


ilham tersenyum saat santi menatapnya heran


" Mm maksudmu?"


" dia suami Dira, kamu masih ingat Dira kan?"


" Ingat mbak, dira yang selalu aku bawa jalan-jalan saat mbak ada kerjaan di luar kota. sekarang anak kecil itu sudah menikah, suaminya tampan pasti anak itu sangat cantik. mana dia sekarang mbak?"


" Dia ada dibawah, lagi jagain anaknya sakit"


" Dia punya anak?” mama lia mengangguk


" banyak hal yang terjadi dikeluarga kami nanti aku ceritakan semuanya sama kamu, besok kamu pergi ke sekolah anak-anak bawa Kartu ini. biar Iqbal kami yang jaga"


" biar saya yang antar. ayah, mama, kak aris tolong izinkan saya mengantar tante Sinta"


" kamu besok gak kerja ilham? " kata mama lia


" Bisa izin sebentar ma, kurasa gak bakalan lama disana"


" Baiklah, besok tolong antarkan sahabat mama ini "

__ADS_1


"siap. kalau begitu saya pergi keruangan Rafa dulu Ma"


" Aku juga ma, sudah malam kasian anak-anak dirumah" Sambung aris


" yasudah gapapa, Ayah sama mama masih pengen disini kalau kalian mau pulang gapapa jangan tunggu mama ya"


" Iya ma, dimas akan pastikan besok sudah ada kabar baik dari teman dimas. Tante kami pamit dulu ya, tante jangan khawatir pokoknya jangan banyak pikiran"


" Iya nak, Terima kasih aris, dimas, ilham kalian sudah mau membantu kami"


" Tante adalah sahabat mama, Kita keluarga harus saling membantu" jawab Aris


" Lia.. kamu hebat, bisa menjadikan mereka anak-anak yang bijaksana dan juga sopan"


" Kamu juga hebat santi, Kamu tidak meninggalkan Iqbal disaat ia jatuh seperti sekarang"


Aris, dimas dan juga ilham meninggalkan ruangan Iqbal saat itu juga, mereka sama-sama menuju ruangan Rafa.


" Gimana keadaan om Iqbal, kak?"


" Masih sama, Dia masih belum sadarkan diri. kita harus cepat-cepat memberangkatkan om Iqbal ke Singapura agar dia segera ditangani" Jawab Aris


" Besok aku kesini untuk mengurus surat rujukan om Iqbal kak, aku juga udah menghubungi temanku yang ada disana dia siap membantu segala sesuatu yang kita butuhkan disana " ucap dimas


" oiya ilham, besok jam berapa ke sekolah anak-anak tante Sinta?" tanya Aris pada ilham


" Setelah mengantarkan Rafa kerumah nanti aku langsung kesana" jawab ilham


" sama tante santi jugakan?"


"iya kak, nanti biar anak-anaknya tau kalau pembayarannya lunas supaya gak kepikiran juga kasian, mereka harusnya fokus belajar"


" Ya kamu benar. kalau begitu aku pulang dulu, Dira kakak pulang dulu ya"


" Ya kak, kak dimas juga ikut pulang?" tanyanya saat melihat dimas berdiri dibelakang Aris


" he'em kakak pulang dulu ya, takut anak-anak nyariin. kamu jangan tidur terlalu larut, inget kamu lagi hamil gak boleh tidur malem-malem"


" Iya kak dim"


Setelah bersalaman Aris, dimas dan juga istri mereka keluar dari ruangan itu. sedangkan ilham dan Dira kembali duduk disofa sambil membicarakan tentang kejadian tadi.


"Mas, kamu ngapain ke sekolahnya anak-anak om Iqbal? "


" Tante santi bilang kalau anak-anaknya sudah 2 bulan nunggak spp sekolah. jadi aku besok nganterin tante santi kesana gapapa kan? terus kartu yang satu lagi aku kasih ke tante santi sayang, bolehkan?"


" Ooo iya boleh mas, lagian insyaallah uang kita cukup kok untuk kebutuhan sehari-hari. aku juga masih ada tabungan kalau sekiranya kita membutuhkannya bisa kok dipake"


"Tabungan kamu simpen aja sayang, biar aku yang cari uang kita gak tau kan kedepannya kita gimana. apa aku duluan yang pergi atau gimana.. "


"MAS! aku gak suka Deh kamu ngomong gitu"


"loh kan iya sayang"


"iyaa tapi jangan diomongin juga" Dira memeluk suaminya itu dan melanjutkan percakapannya "Aku belum siap kehilangan siapapun, entah itu kamu, mama, ayah ataupun anak-anak"


mendengar perkataan Dira, ilham mengusap rambutnya dengan lembut.


"hh iya sayang, maaf ya. aku pengen punya perusahaan deh sayang"


"perusahaan gimana maksudnya mas, emang kamu gak capek kerja terus"


" yaa apa gitu perusahaan dibidang properti misalnya "


" apa gak butuh banyak dana? siapa yang mau tanam saham?"


" namanya dicoba dulu siapa tau nanti ada, kan lumayan untuk tabungan kita di hari tua. nanti bisa kita wariskan ke anak-anak biar mereka yang melanjutkan perusahaan itu"


" asal kamu gak capek dan selalu jaga kesehatan aku terserah kamu aja."


" Kamu gak punya cita-cita apa gitu? butik atau yang kamu suka"


" Hmm kalau fashion aku gak terlalu minat sih mas gimana kalau toko roti aja, akukan suka masak"


"eemmm boleh, restoran aja gimana?"


" ya jangan langsung restoran juga mas, kita mulai dari yang kecil. pelan-pelan aja loh. ih udah sih jangan bahas itu dulu, kita fokus ke kesehatan om Iqbal "


"iya ya, kan kita bikin rencananya dulu sayang. yaudah yuk tidur kasian Rafa sama sherly nanti mereka kebangun"


" bentar mas, sherly belum pakai selimut kasian nanti dia kedinginan "


" Tapi aku maunya tidur seperti ini sayang" ilham semakin erat memeluk sang istri


" duhh bentar aja mas nanti aku balik lagi"


" yaudah iya" Dira berjalan menuju sofa tempat sherly tidur tak lupa ia juga menaruh guling agar sherly tidak terjatuh nantinya.


" Mas aku pengen.. "


ilham langsung mencium bibir Dira sambil berkata " Tidur sayang udah malem "


"ishh aku cuma minta dicium terus perutnya dielus aja, udah nyosor duluan"


"Haha iya iya, halo anak ayah maaf ya nak beberapa hari ini tidurnya gak enak ya, besok kita pulang kerumah kok"


" its ok ayah, yang penting kakak sehat" ucap Dira dengan gaya menirukan suara bayi. Mereka pun tertidur pulas...

__ADS_1


__ADS_2